Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Setujukah kamu dengan statement "tidak masalah mulut kotor asal hati baik"?

MA Magda Laura 5 years ago

image|690x350

Saat ini sepertinya ucapan kasar, makian dan umpatan lebih bebas digunakan, baik di media sosial maupun di pergaulan sehari-hari. Kata-kata yang dulunya dianggap kasar atau bahkan jorok banyak yang dinormalisasi, jadi meskipun tetap tergolong kasar atupun jorok, tapi orang sudah lebih memaklumi. Para influencer dari berbagai daerah juga ikut mengenalkan umpatan dari daerahnya masing-masing, sehingga nggak jarang ditemui contoh semacam bocah Jawa ikut menggunakan umpatan ala Jakarta (yang hampir setiap kalimat diselingi penyebutan hewan tertentu hehe).

Kata orang "nggak masalah mulutnya kotor asal hatinya baik". Tapi, in contrast, kemarin saya dapat ceramah kalau lisan adalah cerminan hati. Otomatis dalam pendapat kedua, kalau mulutnya kotor, hatinya terindikasi kotor juga. Apalagi terdapat sebuah hadits yang kurang lebih menganjurkan seseorang untuk berkata baik atau diam. Bahkan dalam ceramah tersebut dikatakan kalau lisan juga mempengaruhi kualitas iman. Nah, bagaimana menutmu mengenai hal ini?

93

Saya tidak terlalu setuju dengan statement tersebut karena dari ucapan buruk yang keluar dari mulut seseorang bisa saja menyakiti hati orang lain. Jadi menurut saya orang yang berhati baik haruslah bisa menjaga lisannya juga.

Gak bisa gitu dong. Tingkah laku dan tutur kata seseorang itu kan yang mencerminkan kepribadiannya. Kalau tutur katanya buruk, otomatis kepribadiannya juga buruk. Kepribadian buruk tapi hati baik? Jelas gak mungkin, mana mungkin kepribadian tidak selaras dengan hati

statement "tidak masalah mulut kotor asal hati baik" menurut ku ini ga bisa dibenarkan, karena apa yang keluar dari mulut itu berasal dari hati. jadi menurut aku statement ini keluar hanya sebagai pembelaan terhadap diri sendiri.

aku izin berpendapat ya kak, aku kurang setuju mengenai statement "nggak masalah mulutnya kotor asal hatinya baik” karena first impresion seseorang selain dilihat dari penampilan ia akan diliaht dari caranya bertutur kata. mungkin iya penggunaan kata kotornya hanya di lakukan kepada teman terdekatnya, tapi tidak ada yang tau kan ketika ia sedang ngobrol dengan temannya menggunakan kata kata yang kotor mungkin saja ada orang lain yang mendengar. maka penilaian orang lain terhadap dirinya ya buruk. dan dengan kita menggunakan kata-kata kotor/ buruk lambat laun akan menutup value diri kita yang sebenarnya baik.

Nope. Perkataan kotor tapi hati baik? Manusia terlahir suci dan bersih. Berbuat baik sudah menjadi keharusan. Dan perkataan kotor biasanya terjadi karena pergaulan. Lingkungan yang biasa menyebut kata kotor akan membuat kita terbawa arus, untuk itu penting memilih circle pergaulan.

[quote="magdalaura, post:1, topic:159376, full:true"]
image|690x350

Saat ini sepertinya ucapan kasar, makian dan umpatan lebih bebas digunakan, baik di media sosial maupun di pergaulan sehari-hari. Kata-kata yang dulunya dianggap kasar atau bahkan jorok banyak yang dinormalisasi, jadi meskipun tetap tergolong kasar atupun jorok, tapi orang sudah lebih memaklumi. Para influencer dari berbagai daerah juga ikut mengenalkan umpatan dari daerahnya masing-masing, sehingga nggak jarang ditemui contoh semacam bocah Jawa ikut menggunakan umpatan ala Jakarta (yang hampir setiap kalimat diselingi penyebutan hewan tertentu hehe).

Kata orang "nggak masalah mulutnya kotor asal hatinya baik". Tapi, in contrast, kemarin saya dapat ceramah kalau lisan adalah cerminan hati. Otomatis dalam pendapat kedua, kalau mulutnya kotor, hatinya terindikasi kotor juga. Apalagi terdapat sebuah hadits yang kurang lebih menganjurkan seseorang untuk berkata baik atau diam. Bahkan dalam ceramah tersebut dikatakan kalau lisan juga mempengaruhi kualitas iman. Nah, bagaimana menutmu mengenai hal ini?
[/quote]

Halo, izin berpendapat.
Memang, sebagai manusia kita tidak bisa mengatur cara orang lain berbicara sehingga menurut saya kita harus lebih fokus kepada tutur kata diri sendiri. Berbicara lah menggunakan bahasa yang baik ketika sedang berbicara, dengan begitu orang lain akan melihat kita sebagai pribadi yang baik.

Namun menurut saya kita tidak bisa menggeneralisasi pribadi seseorang dari cara orang berbicara. Memang ucapan seseorang adalah cerminan dirinya, tapi tidak semua ucapannya menggambarkan pribadinya secara keseluruhan. Saya percaya bahwa setiap orang pernah berkata buruk karena setiap orang pernah melakukan kesalahan.

Jadi menurut saya tutur kata seseorang tidak dapat digeneralisasi pribadinya. Berbicara dengan baik memang penting untuk saling berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk dapat melihat pribadi seseorang secara keseluruhan dapat dilihat dari perilakunya, bukan hanya dari ucapannya.

[quote="magdalaura, post:1, topic:159376"]
Kata orang “nggak masalah mulutnya kotor asal hatinya baik”.
[/quote]

Izin berpendapat ya kak.
Saya tidak setuju dengan statement ini karena perkataan yang kotor/buruk dapat menyakiti perasaan orang lain, tentunya bagi orang yang dapat menerimanya sebagai bercandaan biasa mungkin tidak masalah. Tetapi, bagi orang yang tidak dapat menerimanya pasti akan sakit hati.

Saya setuju dengan tanggapan2 diatas bahwa pada saat ini apa yang keluar dari mulut sesorang belum tentu menggambarkan perasaan orang itu yang sesungguhnya, bisa saja sebaliknya. Seseorang yang sering mengeluarkan kata2 kotor tapi hatinya baik atau seseorang yang selalu berkata baik tapi hatinya kotor. Namun, kita harus tetap menjaga lisan kita. Tentunya dimulai dari diri kita sendiri.

Saya termasuk orang yang dulunya sangat anti mendengar kata kotor, anggapan saya orang yang mudah memaki berarti bukan orang baik bahkan tidak layak didekati. Tetapi anggapan itu sekarang perlahan-lahan mulai luntur, mungkin pengaruh normalisasi tersebut. Kata-kata kotor sekarang lebih mudah di dengar, bahkan anak-anak kecilpun kerap kali mengucapkannya.

Tetapi saya tetap tidak membenarkan perilaku tersebut. Ada beberapa hal yang harus digarisbawahi, pertama kata-kata kasar bisa diucapkan bukan dengan tujuan mengutuk seseorang atau digunakan saat kita mencaci orang lain dalam keadaan marah. Kata kotor yang dapat saya maklumi adalah kata yang digunakan sebagai candaan sesama teman dan tidak ada ketersinggungan diantara keduanya. Orang yang berkata kotor juga harus bisa menempatkan diri dengan lawan bicara.

Sebagai bangsa yang berbudaya dan menjaga etika, saya rasa kata kotor tidak seharusnya diucapkan kepada mereka yang berusia lebih tua (orang tua) apapun keadaannya. Sekalipun kita benar-benar emosi dibuatnya, sebisa mungkin tidak mengatakan hal-hal yang buruk.

Juga sebaliknya orang yang lebih tua juga tidak boleh semena-mena mengatakan hal-hal kotor kepada anak-anak karena emosi. Kembali pada poin diatas bahwa kata-kata kotor sebaiknya hanya digunakan untuk bahasa tongkrongan saja dengan teman-teman sepermainan.

Saya juga kurang setuju jika ada yang beranggapan bahwa suka berkata kasar otomatis hatinya tidak baik, tetapi saya juga tidak bisa membenarkan anggapan "tidak masalah mulut kotor asal hati baik". Kalau bisa keduanya dijadikan baik, kenapa mesti milih satu?

Benar, orang yang kerap bicara kasar belum tentu hatinya buruk. Namun, bukankah lebih mudah meyakini bahwa orang yang sungguh-sungguh berhati baik akan berbicara dengan baik juga? Jika hati benar-benar baik, tutur dan tindak pun otomatis akan baik, santun.

Jadi, berhentilah menormalisasi sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dianggap wajar. Kebiasaan menganggap wajar sesuatu yang buruk—meskipun memang sudah banyak kejadiannya—hanya akan menambah rusak moral bangsa.

menurut saya berkta kotor sudah termasuk dari bad attitude karena tidak sopan apabilaperkataan tsb dilontarkan di depan umum. Walaupun dia memang baik hatinya, berkata kotor juga tidak bisa dibenarkan. Tidak berkata kotor juga salah satu dari menghargai orang lain, apabila mulutnya saja tidak bisa dijaga ya bisa dikatakan dia tidak bisa menghagai orang lain, karena tidak semua orang nyaman mendengar perkataan kotor.