Baca pertanyaan ini jadi ingat ayat terakhir surat Al Baqarah,
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya*. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Al Baqarah : 286*)
Ayat ini merupakan janji Allah swt bahwa Allah swt tidak akan membebani manusia diluar kesanggupannya. Dan kita harus yakin akan janji Allah swt tersebut. Hanya keyakinan mutlak (iman) atas apa yang disampaikan Allah swt sajalah yang membuat manusia dapat bertahan atas segala beban yang harus ditanggungnya dalam kehidupan ini.
Selain itu, Allah swt juga telah memberikan petunjuk dan solusi apabila kita mendapatkan masalah dalam kehidupan kita. Semuanya tertulis dalam lanjutan ayat tersebut,
... Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya....
Menurut pendapat saya terkait dengan lanjutan ayat tersebut, apabila ada masalah dalam kehidupan kita, maka lebih baik kita intropeksi diri. Pasti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Mengakui bahwa kita salah adalah cara terbaik menerima masalah yang ada. Daripada kita disibukkan dengan menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan atau bahkan yang lebih buruk lagi adalah menyalahkan takdir, lebih baik kita berlapang dada bahwa semua masalah yang ada adalah akibat dari kesalahan kita sendiri.
Bukankah manusia adalah tempatnya salah ? Bukankah tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan ? Itulah hidup. Kita akan lebih banyak belajar dari kesalahan yang kita lakukan dibandingkan dengan kesuksesan yang telah kita raih. Hanya dengan mengakui kesalahan kita sendiri, maka kita akan dapat belajar dari masalah yang ada.
Dari situlah sebetulnya kita harus selalu bersyukur kepada Allah swt, karena kita sudah diingatkan oleh Allah swt atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat dan berharap bahwa kita akan menjadi orang yang "berbeda" ketika kita sanggup melewati masalah tersebut.
Setelah mengakui bahwa kita telah banyak melakukan kesalahan, maka memohon ampun kepada Allah swt adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Allah-lah yang memiliki kita dan hanya kepada Allah-lah tempat kita kembali. Oleh karena itu, ayat tersebut diteruskan dengan kalimat-kalimat permohonan ampun dan permohonan untuk melepaskan/mengurangi beban kita kepada Allah swt.
... "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya....
Setelah memohon ampunan dari Allah swt, maka hal terpenting yang dapat kita lakukan adalah memohon untuk mendapatkan rahmat Allah swt.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
So, terkait pertanyaan mengapa masih ada manusia yang mengalami depresi, gila bahkan sampai memilih untuk bunuh diri ketika menghadapi masalah dalam hidupnya ? Apakah Allah swt memberikan beban diluar batas kemampuannya ?
Bagi saya jelas bukan itu masalahnya. Balik lagi, kita harus yakin dengan janji Allah swt di awal ayat tersebut bahwa Allah tidak akan membebani manusia dilaur kesanggupannya. Dan Allah swt juga sudah memberikan petunjuk dan solusinya.
Kemungkinan terbesar mengapa hal itu terjadi adalah mereka sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalahnya atau bahkan "memaksakan diri" untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa mengikutsertakan Allah swt dalam masalah yang dihadapinya.
Mungkin mereka belum bisa menerima bahwa mereka harus mendapatkan masalah sebesar itu. Penolakan terhadap sesuatu yang terjadi malah akan membuat dirinya semakin tertekan, yang ujung-ujungnya malah membuat beban yang lebih besar lagi.
Mungkin mereka lupa bahwa sejatinya manusia itu adalah makhluk yang lemah. Mungkin mereka lupa kalimat Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi (Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung) dan kalimat Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Mungkin mereka juga lupa bahwa Allah adalah Ar Rahmaan (Maha Pengasih) dan Ar Rahiim (Maha Penyayang). Mereka mungkin lupa bahwa Allah adalah Al Ghaffar (Maha Pengampun). Mereka mungkin lupa bahwa Allah adalah Al Fattaah (Yang Maha Pembuka Rahmat) dan Al Wahhaab (Yang Maha Pemberi Karunia). Mereka mungkin lupa bahwa Allah adalah Al Qaadir (Yang Maha Menentukan) dan Al Muqtadir (Yang Maha Berkuasa).
Sebagai penutup, firman Allah berikut bisa menjadi bahan renungan bahwa adalah hal yang sangat manusiawi kalau manusia melakukan banyak kesalahan sehingga kita mengalami stres atau depresi. Selama kita tidak berputus asa dari rahmat Allah swt, maka Insya Allah semua akan baik-baik saja.
Katakanlah (wahai Rasul): "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar : 53)
Wallahu'alam bissawab