
jujur, aku baru tau pernyataan seperti ini. karena sepengetahuanku, semua orang yang memiliki iman yang kuat serta memenuhi hal untuk masuk surga maka ia akan masuk surga tanpa pandang bulu mau itu kaya, miskin, pejabat, pemulung dan lainnya. karena kita semua sama di mata allah hanya sebagai makhluk ciptaannya yang diharuskan untuk beriman kepada Allah. matipun kita tidak membawa apa-apa hanya amal ibadah yang kita bawa sebagai bekal akhirat. ini berdasarkan kepercayaanku.
tapi, aku sempat baca ternyata pernyataan ini terdapat dalam alkitab yang dipercayai oleh umat kristen. matius 19:21. aku masih kurang paham penjelasannya seperti apa.
Tak peduli bagaimana cara untuk memahaminya, ini adalah suatu pernyataan yang bersifat umum. Pernyataan ini tidak sekadar berlaku atas orang yang kaya itu. Pernyataan ini menunjukkan betapa sukarnya orang yang memiliki kekayaan untuk masuk ke dalam surga. Jadi, sangatlah bodoh jika pernyataan ini dibatasi penerapannya hanya kepada satu orang saja, orang muda kaya itu. Ini adalah pernyataan yang bersifat umum. Dan jika kita tidak melihat apa yang di maksud dari pernyataan ini, maka berarti kita telah membutakan diri.
Jadi, poin pertama yang bisa kita lihat di sini adalah suatu ketidak-cocokan yang nyata, atau lebih tepat lagi adanya pertentangan antara kekayaan dengan Surga, antara pemilikan kekayaan dengan jalan masuk ke dalam Surga.
Menurut saya, pernyataan tersebut tidaklah akurat karena tidak ada yang bisa menjamin dan memastikan seseorang bisa masuk surga atau tidak. Semua tergantung niat, dan yang mengetahui niat serta isi hati seseorang itu hanyalah Allah SWT. Mungkin asumsi tersebut bisa ada dikarenakan banyak orang yang melakukan segala cara untuk mendapatkan harta yang berlimpah, sehingga muncul asumsi negatif kepada orang kaya. Tetapi, hal itu tidak menutup kemungkinan orang-orang tersebut akan insyaf dan memperbaiki diri.
Kemudian bukankah seharusnya bisa lebih mudah untuk melakukan kebaikan karena sudah dititipkan harta yang berlebih oleh Allah SWT sehingga amalan yang dilakukan bisa lebih luas lagi. Tapi kembali lagi, bahwa tidak ada yang bisa menjamin dan memastikan seseorang bisa masuk surga atau tidak apalagi hanya dilihat dari sekadar hartanya saja.
Sebenarnya malah menurutku tidak ada korelasi antara kekayaan seseorang dengan mudah susahnya dia masuk surga. Yang menentukan susah atau mudahnya seseorang untuk bisa masuk surga tentunya derajat keimanan dan ketaqwaan mereka di mata Tuhan. Karena kelak yang diukur dan ditimbang adalah amalan mereka, bukan harta mereka.
Justru kalau menurutku orang kaya bisa berpotensi lebih mudah masuk surga. Mengapa? Ya karena mereka lebih bisa berbuat kebaikan dengan harta dan fasilitas yang mereka punya, atau bisa dibilang dengan "titipan" yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka bisa berqurban, zakat mal, umroh & haji, dan masih banyak lagi. Berbeda dengan orang yang kekurangan yang memiliki keterbatasan untuk bisa melakukan amalan baik yang membutuhkan uang. Namun, kembali lagi semuanya bergantung pada individu masing-masing. Kalau orang tersebut memang beriman ya mereka tentunya akan lebih bijak dalam mengelola harta benda mereka, tapi kalau mereka memang pada dasarannya tamak, serakah, pelit, dsb. ya susah juga. Jadi, semuanya bergantung pada keimanannya, bukan pada hartanya.
Menurutku, seseorang layak masuk surga-Nya atau tidak, semua itu terhitung dari amal yang dimiliki. Apabila selama hidupnya ia menggunakan uang untuk bersedekah dan memberi makan anak yatim. Bisa saja ia layak untuk menghuni tempat dari Nya. Pernyataan orang kaya susah masuk surga ini, kelihatannya muncul dari plot sinetron yang jelas-jelas hanya untuk hiburan semata. Sinetron dengan tokoh antagonis yang kaya selalu ada tiap plotnya. Tokoh antagonis yang kaya selalu menjadi bumbu yang pas dalam sebuah plot ditambah dengan plot azab-azab yang terbukti diterima oleh masyarakat, maka seringkali plot ini diulang-ulang. Tanpa sadar pernyataan itu menjadi tertanam.
Saya akan menjawab dari segi Agama Islam bahwa umat Islam akan masuk surga tidak ditentukan dari kekayaannya didunia mungkin ada kepercayaan lain yang meyakini ini tetapi dalam agama kami tidak. Melaikan ini ditentukan seperti penjelasan dibawah ini :
Seluruh umat Nabi Muhammad SAW akan masuk surga, kecuali kelompok satu ini. Siapakah mereka?
Dalam kitab sahih Bukhari, disebutkan setiap umat Nabi Muhammad SAW akan masuk surga. Orang yang enggan masuk surga adalah mereka yang tidak taat pada Rasulullah SAW. Berikut haditsnya,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Artinya: Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, "Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga." (HR Bukhari).
Mengenai perintah taat kepada rasul telah disebutkan dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 32,
قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ
Arab latin: Qul aṭī'ullāha war-rasụl, fa in tawallau fa innallāha lā yuḥibbul-kāfirīn
Artinya: Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir."
Menurut surat Al Hasyr ayat 7, taat kepada rasul adalah mengikuti apa yang diajarkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟
Arab latin: wa mā ātākumur-rasụlu fa khużụhu wa mā nahākum 'an-hu fantahụ
Artinya: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."
Rasulullah SAW adalah pembawa kebenaran. Ia diutus oleh Allah SWT sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Hal ini diterangkan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
Menaati Rasulullah dapat dilakukan dengan menjalankan apa yang menjadi syariatnya. Dalam Islam, ada banyak ibadah yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan rasul.
Ibadah ini bisa dilakukan dalam usaha menjadi salah satu umat Nabi Muhammad yang pasti masuk surga . Tentunya saat melakukan ibadah, tiap muslim harus taat pada rukun dan syaratnya.
[details="Sumber"]
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5600350/seluruh-umat-nabi-muhammad-akan-masuk-surga-kecuali-satu-ini
[/details]
Aku pribadi baru mendengar pernyataan ini dan aku kurang setuju sama pernyataan tersebut karena menurutku ngga ada kaitannya antara kekayaan di dunia dengan susah atau mudahnya masuk surga. Dalam kepercayaan yang aku anut juga menjelaskan bahwa keimanan, ketaqwaan, dan amal ibadah lah yang menjadi perhitungan untuk bisa masuk di surga-Nya. Selain itu, aku juga setuju dengan pendapat kak @Navyani bukankah orang kaya justru lebih mudah untuk melakukan kebaikan karena memiliki harta yang berlebih, mereka bisa membantu orang-orang yang sedang kesusahan hidup di dunia. Bukankah orang kaya itu seharusnya bisa dianggap menjadi titipan tuhan untuk membantu sesamanya. Tapi aku tekankan lagi bahwa semuanya memang kembali pada kepercayaan masing-masing. Tidak ada manusia yang bisa memastikan seseorang bisa mudah atau susah masuk surga.
Izin menjawab berdasarkan agamaku yaitu agama Islam. Sejujurnya aku sedikit takut jika membahas perihal agama, salah-salah dapat menunjukkan kesesatan. Jadi jika memang ada pernyataan dibawah yang kurang berkenan, besar harapanku bisa diperbaiki dan didiskusikan kembali di forum ini :pray:
Sebenarnya tidak ada satupun yang dapat memastikan atau bahkan sampai menentukan kemana akhirnya kita akan menetap setelah kehidupan di dunia ini. Tapi sepemahamanku saat sedang belajar agama, memang ada pernyataan yang bahkan jika teman-teman ingin membacanya ada juga di dalam buku Wasiat Rasulullah SAW kepada para Sahabat karya Fitriani GS, yang menjelaskan jika orang miskin yang sabar dan tekun beribadah lebih mulia kedudukannya di sisi Allah SWT dibandingkan mereka yang kaya. Di akhirat nanti, orang kaya akan lebih lama dihisab.
Karena fakir miskin selama di dunia kerap dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang mereka dianggap sebagai gembel dan berada dalam strata terbawah kehidupan sosial masyarakat. Namun, di hadapan Allah, mereka adalah yang lebih mulia dan masuk surga lebih dulu. dan pernyataan mengenai orang kaya susah masuk surga itu tidaklah benar, mungkin yang lebih tepatnya yaitu orang kaya yang akan lebih lama dihisab. sebab mereka akan ditanya tentang hartanya, dari mana perolehannya, serta kemana harta itu digunakan. Saking banyaknya pertanyaan yang diajukan, waktu hisab mereka menjadi lama.
Meski demikian, perlu diingat jika tidak dapat dipukul rata semua mukmin yang miskin bisa masuk surga. Yang dimaksud orang miskin yang mulia adalah mereka yang beriman, sabar, dan mematuhi segala perintah dan larangan Allah SWT. apalagi di zaman sekarang banyak pula orang miskin lantas melakukan tindakan kejahatan, ahli maksiat, dan tidak beriman. Mereka yang seperti ini tidak termasuk golongan orang yang mulia dan masuk surga terlebih dulu.
Dari yang pernah saya pelajari hal ini mungkin ada benarnya, karena rejeki yang banyak bisa menjadi cobaan seseorang. Karena dialam atas sana orang yang memiliki harta banyak pasti akan dimintai pertanggung jawabannya atas hartanya, dulu dia pakai untuk apa untuk siapa, apakah dari hasil yang halal atau gimana, dll. Dan ini bisa menjebak kita karena semasa dunia harta tersebut tidak kita gunakan untuk hal baik.
Jadi ada baiknya memang jika rejeki ada banyak kita gunakan untuk hal-hal baik juga, selain mendatangkan pahala juga jika dimintai pertanggung jawaban kita sudah aman.