Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Surah Al Fatihah : Tafsir Ibnu Al-Qayyim

AY Ayu Paramitha 9 years ago

Ketahuilah bahwa surat ini mencakup berbagai induk permintaan yang tinggi dan memiliki kandungan yang sempurna. Ia mencakup pengakuan terhadap sesembahan dengan tiga asma’, yang tiga asma’ ini menjadi rujukan asma’ul-husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi serta meru-
pakan intinya. Tiga asma’ ini adalah: Allah, Rabb dan Ar-Rahman.

Surat ini dilandaskan kepada Ilahiyah, Rububiyah dan rahmat

Iyyaaka na ’budu dilandaskan kepada Ilahiyah.
Iyyaaka nasta ’in di- landaskan kepada Rububiyah.

Permintaan petunjuk kepada /Ash-Shiraath Al-Mustaqiim mengacu kepada sifat rahmat. AlHamdu mengandung tiga unsur: Yang terpuji dalam Uluhiyah, Rububiyah dan rahmat-Nya, pujian dan keagungan yang menyempurnakan karuniaNya.

Surat Al-Fatihah ini mengandung penetapan hari kebangkitan, pembalasan amal hamba, yang baik dan yang buruk, kesendirian Allah dalam pengadilan di antara makhluk pada saat itu, dan pengadilan Allah adalah adil. Semua ini tercakup dalam kalimat maaliki yaumiddiin.

Surat Al-Fatihah juga mencakup berbagai nubuwah, yang bisa dilihat dari beberapa sisi:

1. Keberadaan Allah sebagai Rabbul- ’aalamin,

sehingga tidak tepat jika Dia membiarkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sia-sia dan terlantar, tidak memberitahukan kepada mereka apa yang bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka, serta apa yang membahayakan mereka di dua tempat tinggal itu. Yang demikian ini mengurangi Rububiyah dan menisbatkan sesuatu yang tidak sesuai kepada Allah. Apa yang telah ditetapkan dengan ketetapan yang sebenarnya hanya bisa dilakukan orang yang punya penisbatan dengan Allah.

2. Pengertian dari kata “Allah”, yang berarti sesembahan.

Tidak ada cara bagi hamba untuk bisa mengetahui cara menyembah-Nya kecuali lewat para rasul.

3. Pengertian dari asma’-Nya, Ar-Rahman.

Rahmat Allah mencegah pengabaian terhadap hamba-hamba-Nya, tanpa memberitahukan kepada mereka apa yang akan mereka peroleh dari puncak kesempurnaan diri mereka. Siapa yang diberi nama Ar-Rahman sesuai dengan hak-Nya, tentu akan menjamin pengutusan para rasul dan diturunkannya kitab-kitab.

Hal ini lebih besar nilainya daripada jaminan untuk menurunkan air hujan, menumbuhkan tanaman dan mengeluarkan benih. Keharusan sifat rahmat yang menghasilkan kehidupan hati dan roh, lebih besar nilainya daripada keharusannya menghasilkan kehidupan fisik dan hal-hal yang tampak. Tapi orang yang pandangannya tertutup, tentu hanya melihat seperti yang dilihat binatang dari asma’ ini. Sedangkan apa yang dilihat orang-orang yang berpikir adalah sesuatu di balik semua yang tampak itu.

4. Pengertian dari kalimat yaumid-diin,

Yaumid-diin adalah hari ketika Allah mengadili hamba-hamba berdasarkan amal mereka, lalu memberikan pahala atas kebaikan dan menyiksa atas kedurhakaan dan keburukan. Allah tidak akan menyiksa seseorang sebelum menegakkan hujjah atas dirinya. Hujjah ini hanya bisa tegak lewat para rasul dan kitabkitab-Nya.

Dengan adanya para rasul itulah berhak ada pahala dan siksa. Dengan adanya para rasul itulah ada pasar yaumid-din. Orang-orang yang baik digiring ke surga yang penuh kenikmatan, dan orang-orang yang jahat digiring ke neraka Jahannam.

5. Pengertian dari iyyaka na’budu.

Cara beribadah kepada-Nya tidak bisa dilakukan kecuali menurut cara yang diridhai dan disukai Nya. Beribadah kepada Allah ialah bersyukur, mencintai dan takut kepada-Nya, sesuai dengan fitrah dan akal yang sehat. Tapi cara ibadah dan tata pelaksanaannya tidak bisa diketahui kecuali lewat para rasul Allah. Maka di sini terkandung keterangan bahwa pengutusan para rasul merupakan masalah yang logis dan mustahil ditolak orang yang berakal seperti kemustahilan menolak keberadaan Pencipta. Siapa yang mengingkari para rasul berarti mengingkari yang mengutus mereka dan tidak beriman kepada-Nya. Karena itu Allah menganggap kufur kepada rasul sama dengan kufur kepada-Nya.

6. Pengertian dari ihdinash-shiraathal-mustaqiim (tunjukilah kami jalan yang lurus).

Petunjuk adalah keterangan dan penjelasan, kemudian taufik dan ilham, yang datang setelah keterangan dan penjelasan. Tidak ada jalan untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan kecuali lewat para rasul. Jika keterangan dan penjelasan sudah didapatkan, tentu akan datang petunjuk dan taufik.

Sementara iman dijadikan di dalam hati, menjadi hiasannya di dalam hati, mempengaruhinya, membuatnya ridha dan senang. Ini merupakan dua macam petunjuk yang berdiri sendiri, dan keberuntungan tidak akan didapatkan kecuali dengan keduanya, petunjuk dan iman. Keduanya menjamin pengenalan apa yang belum kita ketahui, yaitu kebenaran, yang terinci maupun yang global. Keduanya pula yang menjadikan kita menjadi pengikut-Nya secara zhahir dan batin, lalu kita diberi kemampuan untuk melaksanakan petunjuk, dengan perkataan, perbuatan dan kemauan, lalu kita diteguhkan padanya hingga meninggal dunia.

Dari sini bisa diketahui keterpaksaan hamba untuk memanjatkan doa ini di atas segala kebutuhan yang mendesak, begitu pula kebatilan perkataan orang yang mengatakan, “Kalau kami sudah mendapat petunjuk, bagaimana mungkin kami masih meminta petunjuk itu?”

Kebenaran yang ada di luar pengetahuan kita jauh lebih banyak dari yang kita ketahui. Apa yang tidak ingin kita lakukan karena meremehkan atau karena malas banyak yang serupa dengan apa yang kita ingin lakukan atau bahkan lebih banyak atau lebih sedikit, begitu pula apa yang tidak sanggup kita lakukan padahal kita menginginkannya. Atau terkadang kita mengetahui sesuatu yang global dan kita tidak mengetahui rincian-rinciannya, karena permasalahannya terlalu luas untuk dibatasi.

Kita membutuhkan petunjuk yang sempurna. Kalaupun semua itu benar-benar sudah sempurna, maka permintaan petunjuk merupakan permintaan untuk meneguhkan dan kelangsungannya.

Petunjuk itu mempunyai martabat lain atau merupakan martabatnya yang terakhir, yaitu petunjuk pada hari kiamat ke jalan yang menuju surga, yaitu jalan yang menghantarkan ke sana. Siapa yang mendapat petunjuk ke jalan Allah yang lurus pada hari itu, yang karenanya para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan, berarti dia telah diberi petunjuk ke ash-shiraath al-mustaqiim, yang menghantarkannya ke surga, tempat tinggalnya yang abadi. Seberapa jauh kemantapan hamba ketika meniti ash-shiraath yang dipancangkan Allah pada hari itu, maka sejauh itu pula keteguhannya berada di atas ash-shiraath yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Seberapa jauh kemampuannya berjalan di atasnya, maka sejauh itu pula dia mampu melewatinya.

Di antara mereka ada yang melewatinya layaknya kilat, ada yang melewatinya sekilas mata saja, ada yang melewatinya seperti hembusan angin, ada yang melewatinya seperti lajunya kendaraan, ada yang melewatinya dengan berlari, ada yang melewatinya dengan berjalan kaki, ada yang melewatinya dengan merangkak, ada yang melewatinya seperti seekor kucing yang memanjat, ada yang melewatinya seperti jalannya seekor kuda di kerumunan orang banyak.

Hendaklah setiap hamba melihat bagaimana jalannya nanti di atas ash-shiraath itu, seperti apa dia melewatinya dari beberapa gambaran di atas? Itu semua merupakan balasan yang setimpal baginya.

“Kalian tidak diberi balasan melainkan dengan apayang telah kalian kerjakan. "(QS. Yunus: 52).

Periksalah berbagai macam syubhat dan syahwat yang menghambat perjalananmu di atas ash-shiraath ini. Di sana besi-besi yang bengkok di kedua sisi ash-shiraath yang bisa engkau jadikan pegangan ketika melewatinya. Jika engkau mempersiapkan dan menguatkannya semenjak sekarang di dunia ini, maka pegangan itu pun juga akan kuat di akhirat.

“Dan, sekali-kali Rabbmu tidak menganiaya hamba-hamba(Nya).” (QS. Fushshilat: 46).

Memohon petunjuk atau hidayah mencakup segala kebaikan yang diinginkan dan keselamatan dari segala keburukan.

7. Dapat diketahui dari apa yang diminta, yaitu jalan yang lurus.

Suatu jalan tidak bisa disebut lurus kecuali mencakup lima hal:

  • Istiqamah (lurus).
  • Menghantarkan ke tujuan.
  • Jaraknya yang dekat.
  • Keluasannya untuk dilalui orang-orang yang melewatinya.
  • Kejelasannya sebagai jalan yang memang menuju ke tujuan.

Sifat jalan itu yang istiqamah atau lurus mengandung pengertian jarak yang dekat. Sebab sebuah garis lurus adalah jarak yang paling dekat di antara dua titiknya. Selagi garis itu bengkok, maka jarak antara dua titik itu semakin jauh. Kelurusannya juga berarti menghantarkannya ke tujuan.

Kemampuannya menampung orang-orang yang melewatinya mengharuskan keluasannya. Pengaitannya dengan jalan orang-orang yang dilimpahi nikmat dan pensifatannya yang berbeda dengan jalan orangorang yang mendapat murka dan sesat, mengharuskan kejelasannya sebagai jalan yang menghantarkan ke tujuan.

Terkadang ash-shiraath ini dikaitkan dengan Allah, karena Dialah yang menetapkan dan memancangkannya, seperti firman-Nya,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus. ” (Al-An’am: 153).

“Dan, sesungguhnya kamu benar-benar memberipetunjuk kepada jalan yang lurus, (yaitu jalan Allah). "(Asy-Syura: 52-53).

Terkadang dikaitkan dengan hamba, seperti yang disebutkan di dalam surat Al-Fatihah, karena merekalah yang akan melewatinya, karena itu ia dinisbatkan kepada mereka.

8. Diketahui lewat penyebutan orang-orang yang diberi nikmat dan perbedaan mereka dengan dua golongan yang dimurkai dan sesat.

Dilihat dari pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, maka manusia dibagi menjadi tiga golongan ini. Inilah macam-macam orang mukallaf dan tidak ada yang keluar dari penggolongan ini.

  • Orang yang mengetahui kebenaran dan melaksanakannya adalah orang yang mendapat nikmat, orang yang mensucikan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Dialah orang yang beruntung, sebagaimana firman-Nya,

“Telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya. ” (Asy-Syams: 9).

  • Sementara ada pula orang yang mengetahui kebenaran namun dia lebih suka mengikuti hawa nafsunya. Dialah orang yang dimurkai.

  • Kemudian ada orang yang tidak mengetahui kebenaran, maka jadilah dia orang yang sesat. Orang yang mendapat murka adalah orang yang tersesat dan tidak mendapat petunjuk amal. Sedangkan orang yang tersesat ialah yang juga mendapat murka karena kesesatannya dari ilmu yang mengharuskannya beramal, maka jadilah ia sesat dan mendapat murka. Tapi orang yang
    meninggalkan pelaksanaan kebenaran setelah dia mengetahuinya, lebih layak mendapat murka. Karena itulah orang-orang Yahudi lebih layak mendapat kemurkaan itu dan kalau perlu dilipatgandakan, sebagaimana firman Allah tentang keadaan mereka,

“Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki, bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. ” (QS. Al-Baqarah: 90).

“Katakanlah, Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut? ’Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat darijalan yang lurus. ”(QS. Al-Maidah: 60).

Sementara orang yang tidak mengetahui kebenaran lebih tepat disebut orang yang sesat. Karena itulah orang-orang Nasrani disifati sebagai orang-orang yang sesat, sebagaimana firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan, janganlah kalian mengikutihawa nafsu orang-orangyang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangkan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus ’. ” (QS. Al-Maidah: 77).

Yang pertama merupakan seruan yang ditujukan kepada orangorang Yahudi dan yang kedua ditujukan kepada orang-orang Nasrani. Dalam riwayat At-Tirmidzy dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Ady bin Hatim, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang tersesat.”

Dalam penyebutan orang-orang yang dianugerahi nikmat, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, yang kemudian disusul dengan penyebutan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun mengikuti hawa nafsunya, kemudian disusul orang-orang yang sesat, karena mereka tidak mengetahui kebenaran, terkandung penetapan risalah dan nubuwah. Sebab pembagian manusia menjadi kelompok-kelompok itu, memang dapat disaksikan.

Pembagian ini terjadi karena ada penetapan nubuwah, lalu ditambah lagi dengan nikmat yang dianugerahkan. Tidak disebutkannya subyek yang murka, didasarkan beberapa pertimbangan, di antaranya:

a. Nikmat merupakan cerminan kebaikan dan rincian, sedangkan kemurkaan merupakan pembalasan dan keadilan.

Sementara rahmat mengalahkan kemurkaan. Allah menyertakan kepada Diri-Nya sesuatu yang lebih sempurna dari dua hal ini, yang lebih dahulu ada dan yang lebih kuat. Inilah cara Al-Qur’an dalam menyandarkan kebaikan-kebaikan dan nikmat kepadanya, serta meniadakan subyek pelaku yang bertentangan dengan keduanya, seperti perkataan jinjin
yang beriman,

“Dan, sesungguhnya Kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka?” (QS. Al-Jinn: 10).

Begitu pula perkataan Al-Khidhir tentang perkara dinding rumah dan dua anak yatim,

“Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu. ”(QS. Al-Kahfi: 82).

Begitu pula tentang pembakaran bahtera yang dikatakannya,

"Dan, aku bertujuan merusakkan bahtera itu. ” (QS. Al-Kahfi: 79).

Lalu Al-Khidhir berkata setelah itu,

“Dan, bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. ” (QS. Al-Kahfi: 82).

Perhatikan pula firman Allah,

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian. ”(QS. Al Baqarah: 187).
“Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah dan daging babi.... ”(QS. Al-Maidah: 3).
“Diharamkan atas kalian (mengawini)ibu-ibukalian.... "hingga, “Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian (QS. An-Nisa’ : 23-24).

Pengkhususan nikmat yang diberikan Allah kepada orang-orang yang mengikuti ash-shiraath al-mustaqiim, menunjukkan bahwa nikmat yang tak terbatas merupakan faktor yang mendatangkan keberuntungan yang abadi. Sedangkan ketidakterbatasan nikmat diperuntukkan bagi orang Mukmin dan kafir. Setiap makhluk ada di bawah nikmat Allah. Inilah cara untuk menuntaskan perselisihan tentang masalah, apakah Allah memberikan nikmat kepada orang kafir ataukah tidak?

Nikmat yang tak terbatas hanya bagi orang Mukmin, sedangkan ketidakterbatasan nikmat itu sendiri bagi orang Mukmin dan juga bagi orang kafir, sebagaimana firman Allah,

“Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). "(Ibrahim: 34).

Nikmat termasuk jenis kemurahan hati dan kebajikan. Kemurahan Allah dilimpahkan kepada orang yang baik dan buruk; orang Mukmin dan kafir. Sedangkan kemurahan yang tak terbatas hanya bagi orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik.

b. Hanya Allah-lah satu-satunya pemberi nikmat.

Firman Allah,

“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya). "(QS.An-NahI: 53).

Nikmat ini dinisbatkan kepada Allah, dan Dialah satu-satunya yang memberikan nikmat itu. Kalaupun dikaitkan kepada selain-Nya, maka itu hanya sekedar sebagai jalan dan saluran nikmat.
Kemurkaan terhadap musuh-musuh-Nya tidak khusus datang dari Allah, tapi juga para malaikat, nabi, rasul dan wali-wali-Nya, yang semuanya murka kepada mereka.

Di dalam Iafazh al-maghdhub ‘alaihim, yang juga mendapat kemurkaan dari para wali-Nya, yang berarti selaras dengan kemurkaan Allah, merupakan dalil kesendirian Allah dalam melimpahkan rezki, bahwa nikmat yang tak terbatas hanya datang dari Allah, yang tidak ada dalam Iafazh al-mun ’am ‘alaihim.

c. Tidak disebutkannya pelaku kemurkaan mendatangkan pengertian tentang kehinaan orang yang mendapat murka dan kerendahan kedudukannya.

Pengertian ini tidak ada jika disebutkan pelaku (pemberi) nikmat, yang berarti merupakan kehormatan bagi orang yang mendapat nikmat dan kemuliaannya serta ketinggian derajatnya. Pemberi nikmat ini tidak dihapuskan. Jika engkau melihat orang yang dimuliakan seorang raja atau pemimpin dan yang dihormatinya, tentu engkau akan berkata, “Inilah orang yang dihormati pemimpin dan apa pun yang dimintanya pasti dikabulkan.” Yang demikian ini lebih mendatangkan pujian dan pengagungan daripada engkau berkata, “Inilah orang yang dimuliakan, dihormati dan
dipenuhi semua permintaannya.”

Perhatikan baik-baik rahasia yang menakjubkan tentang disebutkannya sebab dan balasan yang diberikan kepada tiga golongan manusia ini, yang digambarkan dalam lafazh yang ringkas dan simpel. Jika mereka diberi nikmat, berarti mereka juga diberi nikmat hidayah, yang berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, atau berupa petunjuk dan agama yang haq, yang juga mencakup pahala yang baik dan balasan. Ini merupakan kesempurnaan nikmat.

Lafazh an ’amta ‘alaihim mengandung dua perkara, dan disebutkannya kemurkaan Allah atas orang-orang yang mendapat murka juga mengandung dua perkara:

  • Balasan yang disertai kemurkaan, yang mendatangkan siksaan dan kehinaan.
  • Sebab yang karenanya mereka layak mendapat murka Allah.

Allah terlalu pengasih dan penyayang untuk murka tanpa ada kejahatan dan kesesatan yang dilakukan hamba. Seakan-akan orang-orang yang dimurkai dipastikan kesesatannya. Sedangkan penyebutan orang-orang yang sesat mengharuskan kemurkaan dan siksa yang ditimpakan Allah kepada mereka. Orang yang sesat layak mendapat siksa, yang berarti ada kepastian penyesatan dan kemurkaan Allah atas dirinya. Sifat masing-masing dari tiga golongan ini selaras dengan sebab dan balasan dalam suatu gambaran yang amat jelas, yang tertuang dalam kalimat yang jelas dan singkat.

Ada penyebutan pelaku untuk orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan, dan dihapuskannya pelaku bagi orang-orang yang mendapat murka, serta penyandaran perbuatan kepada sebab untuk orang-orang yang sesat. Perhatikan perbedaan antara hidayah dan nikmat, dengan murka dan kesesatan, disebutkannya orang-orang yang dimurkai dan yang sesat dalam posisi yang berseberangan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mendapat nikmat. Gambaran seperti ini banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an, ada penggandengan antara kesesatan dengan kesengsaraan, petunjuk dengan keberuntungan.

Bagian yang kedua seperti firman Allah

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orangyang beruntung. ”(QS. Al-Baqarah: 5).

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. "(QS. Al-An’am: 82).

Sedangkan bagian yang pertama seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. ”(QS. Al-Qamar: 47).

“Allah telah mengunci mata hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang pedih. ’’ (QS. Al-Baqarah: 7).

Allah menghimpun empat perkara ini dalam firman-Nya,

“Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. "(QS. Thaha: 123).

Di sini lebih ditekankan pada petunjuk dan kebahagiaan. Sementara firman Allah setelah itu lebih menekankan kesesatan dan kesengsaraan,

“Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Rabbi, mengapa engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahalakudahulunya adalah seorangyangmelihat?’ Allah befirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan ’. ” (QS. Thaha: 124- 125).

Petunjuk dan kebahagiaan merupakan pasangan, seperti halnya kesesatan dan kesengsaraan yang juga merupakan pasangan tersendiri.

82

Penyebutan Ash-Shiraath Al-Mustaqiim dengan Bilangan Tunggal dan Ma’rifat

Lafazh ash-shiraath al-mustaqiim disebutkan dengan bilangan tunggal dan berbentuk ma'rifat dengan dua jenis: Ma'rifat dengan alif lam dan ma'rifat dengan idhafah (kata keterangan). Hal ini menunjukkan kejelasan dan spesifikasinya, bahwa jalan itu adalah satu. Sedangkan jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat dibuat banyak, seperti firman Nya,

“Dan bahwa (yang kamiperintahkan) ini adalahjalan-Kuyanglurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikutijalan-jalan (yang lain), karenajalan-jalan itu menceraiberaikan kalian darijalan-Nya.” (Al-An’am: 153).

Allah menunggalkan lafazh ash-shiraath dan sabit-Nya, serta menjama’kan berbagai jalan yang bertentangan dengan jalan Allah itu. Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat sebuah garis bagi kami, seraya bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah ’. Kemudian beliau membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kiri beliau, seraya bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang lain)'.

Di atas setiap jalan ada syetan yang mengajak ke jalan itu’. Kemudian beliau membaca firman Allah,

‘Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu men-ceraiberai-kan kalian dari jalan-Nya ’.”

Hal ini terjadi karena jalan yang menghantarkan kepada Allah memang hanya ada satu. Itulah jalan yang karenanya para rasul diutus dan kitab-kitab-Nya diturunkan. Tak seorang pun sampai kepada Allah kecuali melewati jalan ini. Sekiranya manusia datang dari setiap jalan yang ada dan mereka membuka setiap pintu, maka sesungguhnya jalan itu buntu dan semua pintu tertutup, kecuali dari jalan yang satu ini. Itulah jalan yang berhubungan dengan Allah dan yang menghantarkan kepada Allah. Firman Allah,

“Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Akulah (untuk menjaganya). ” (QS. Al-Hijr: 41).

Al-Hasan berkata tentang maknanya, “Jalan yang lurus, yang menghantarkan kepada-Ku.” Ada dua kemungkinan tentang hal ini.

  • Pertama, dimaksudkan sebagai penggantian fungsi antarkata sambung. Kata sambung ‘alaa menggantikan kedudukan ilaa.
  • Kedua, dimaksudkan sebagai penafsiran terhadap makna itu. Hal ini lebih dekat dengan cara yang dilakuka orang-orang salaf. Artinya: Jalan yang menghubungkan kepada-Ku.

Menurut Mujahid, kebenaran itu kembali kepada Allah dan Dialah yang bertanggung jawab terhadap jalan itu, yang tidak dibentangkan di atas sesuatu. Hal ini tak berbeda jauh dengan perkataan Al-Hasan dan bahkan lebih jelas lagi. Inilah pendapat yang lebih benar tentang makna ayat ini. Ada yang berpendapat, kata ‘alaa di sini menunjukkan kewajiban. Artinya, Aku berkewajiban menjelaskan dan memperkenalkannya. Dua pendapat ini mirip dengan dua pendapat lain tentang firman Allah,

“'Dan, hak bagi Allah (menerangkan) Jalan yang lurus. ” (An-Nahl: 9).

Pendapat yang benar ini sama dengan pendapat tentang ayat di dalam surat Al-Hijr, bahwa jalan yang menghantarkan ialah jalan yang lurus, yang kembali kepada Allah dan menghantarkan kepada-Nya. Thufail Al-Ghanawy berkata dalam syairnya,

Semenjak lama mereka berlalu mengikuti jalan
menembus lembah dengan kaki yang terus mengayun

Ada yang berpendapat, kalau memang yang dimaksudkan adalah makna ini, tentunya lebih tepat jika digunakan kata ilaa yang menggambarkan kesudahan tujuan, bukan kata alaa yang berarti merupakan kewajiban. Simak bagaimana firman Allah ketika perjalanan hampir tiba kepada-Nya,

“'Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali , kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka. ”(QS. Al-Ghasyiyah: 25- 26).

“Hanya kepada Kamilah mereka kembali. ”(QS. Luqman: 23).
“Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka. ”(QS. Al-An’am: 60).

Kemudian ketika menghendaki pelaksanaan kewajiban, Allah befirman,

“Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka. ” (QS. Al-Ghasyiyah: 26).

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya. ”(QS. Al- Qiyamah: 17).

“Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya. ”(QS.Hud: 6).

Ayat-ayat lain yang serupa dengan ini cukup banyak, yang semuanya menggunakan kata sambung alaa. Ada yang berpendapat, digunakan kata sambung ‘alaa ini terkandung rahasia yang amat lembut, yaitu menggugah perasaan tentang keadaan orang yang berjalan di atas ash-shiraath berdasarkan petunjuk, dan itulah yang benar, sebagaimana firman Allah tentang keadaan orang-orang Mukmin,

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk.... ”(QS. Al-Baqarah: 5).

Allah befirman kepada Rasul-Nya,

“Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata. ”(QS. An-Naml: 79).

Allah adalah haq, jalan-Nya haq dan agama-Nya haq. Siapa yang istiqamah di atas jalan-Nya, maka dia berada di atas haq dan petunjuk. Jadi kata sambung ‘alaa dengan kandungan pengertian semacam ini tidak terdapat dalam kata sambung ilaa. Perhatikanlah secara seksama rahasia yang mengagumkan ini. Jika engkau bertanya, “Apa faidah digunakannya kata sambung ‘alaa dalam masalah itu, dan bagaimana agar orang Mukmin tetap unggul dengan kebenaran dan petunjuk?”

Dapat kami jawab sebagai berikut:

Karena di dalamnya terkandung ketinggian dan keunggulan orang Mukmin yang disebabkan oleh kebenaran dan petunjuk, yang disertai keteguhan hati dan istiqamahnya. Maka digunakannya kata sambung alaa justru menunjukkan ketinggian dan keteguhan serta istiqamahnya.

Hal ini berbeda dengan kesesatan dan keraguan, yang menggunakan kata sambung 'fii, yang menunjukkan tindakan pelakunya yang tenggelam di dalam kesesatan itu, seperti firman Allah,

“Karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan. ” (QS. AtTaubah: 45).

“Dan, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. ”(QS. Al-An’am: 39).

"... benar-benar berada dalam keraguan yang mengguncangkan tentang kitab itu. ”(QS. Asy-Syura: 14).

“Dan sesungguhnya kami atau kalian (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatanyangnyata. ”(QS. Saba’ : 24).

Jalan kebenaran mengambil jalan yang menanjak, membawa pelakunya kepada Dzat Yang Mahatinggi dan Mahabesar. Sedangkan jalan kesesatan turun ke bawah, membawa orangnya ke tingkatan yang paling bawah.

Tentang firman Allah, “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Akulah (menjaganya)”, ada pendapat ketiga, yaitu perkataan Al-Kasa’y, yang di dalamnya terkandung ancaman dan peringatan, sebagaimana firman-Nya yang lain,

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi. ” (Al-Fajr: 14).

Hal ini sama jika engkau katakan, Thariiquka ‘alayya, mamarruka ‘alayya ”(kamu harus mengikuti jalanku), yang engkau katakan kepada seseorang yang tidak bisa lepas darimu. Namun makna kalimatnya tidak pas dengan pengertian ini dan tidak tepat bagi orang yang memperhatikan dengan seksama. Sebab Allah befirman seperti itu sebagai jawaban terhadap Iblis yang berkata,

“Ya Rabbi, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. "(Al-Hijr : 39)

Tidak ada alasan bagi-Ku untuk menyesatkan mereka dan tidak ada jalan untuk itu bagi-Ku. Inilah yang telah ditetapkan Allah. Lalu Dia mengabarkan bahwa ikhlas merupakan jalan yang lurus dan Dia akan menjaganya. Sehingga kamu tidak kuasa untuk mempengaruhi hambahamba-Ku yang mengikuti jalan ini, karena jalan itu Aku jaga. Tidak ada cara bagi Iblis untuk mendekati jalan itu atau pun berada di sekitarnya, karena jalan itu ada dalam penjagaan Allah yang tidak akan dicapai musuhNya.

Hendaklah seseorang memperhatikan sisi dan makna ini serta membandingkannya dengan pendapat-pendapat lain, sehingga dia bisa mengetahui mana yang lebih pas dengan dua ayat itu dan mana yang dekat dengan maksud Al-Qur’an serta perkataan orang-orang salaf. Penyerupaan yang dilakukan Al-Kasa’y dengan firman Allah, “Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi", tidak mampu menyembunyikan perbedaan di antara keduanya, baik makna kalimat maupun pembuktiannya. Maka hendaklah hal ini diperhatikan. Tidak bisa dikatakan sebagai ancaman jika dikatakan: “Ini jalan yang lurus dan Aku berkewajiban menjaganya”, yang ditujukan kepada orang yang tidak mengikuti jalan Allah. Jalan yang diancamkan tidak lurus dan tidak pula disebutkan ancaman dengan jalan Allah yang lurus. Jadi pendapat ini tidak benar.

Sedangkan orang yang menafsirinya sebagai kewajiban, dengan makna: “Aku wajib menjelaskan kelurusan dan pembuktiannya”, benar dari sisi maknanya. Tapi jika ini yang dimaksudkan dari ayat itu, maka perlu dipertimbangkan lagi. Sebab hal itu merupakan hadzf (peniadaan penyebutan kata atau kalimat) yang bukan pada tempat pembuktiannya. Hadzf ini tidak bisa diterima, agar menjadi sesuatu yang dibuktikan jika ada hadzf. Berbeda dengan faktor keterangan jika menjadi sifat, yang merupakan hadzf yang bisa diterima, sehingga tidak perlu ada penyebutan sama sekali.

Jika engkau katakan, “Dia mempunyai hak satu dirham atas diriku”, maka hadzf bisa diketahui secara pasti. Jika yang engkau maksudkan dengan perkataan itu, “Aku harus membayarnya” atau yang serupa dengan ini, namun engkau menghapus yang seperti ini, maka hal itu tidak menjadi masalah. Yang semisal dengan perkataan ini ialah, “Aku harus menjelaskannya”, yang terkandung di dalam ayat di atas. Apa yang dikatakan orang-orang salaf lebih tepat tentang hubungan kalimatnya dan merupakan makna yang lebih pas.

Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang demikian itu serupa dengan firman Allah,

‘Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesung- guhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia ”(A1-Lail: 12-13).

Lalu dia berkata lagi, “Jadi makna yang sama ada di tiga tempat dalam Al-Qur’an.”

Saya katakan, mayoritas mufasir tidak menyinggung ayat di surat Al-Lail ini selain dari makna wajib. Artinya, Kami berkewajiban menjelaskan petunjuk dari kesesatan. Di antara mereka juga tidak menyebutkan ayat dalam surat An-Nahl kecuali makna ini saja, seperti yang dilakukan Al-Baghawy. Namun dia menyebutkan tiga pendapat di dalam Al-Hijr. Al- Wahidy menyebutkan di dalam Basith-riya, dua makna di dalam surat An-Nahl. Sementara syaikh kami memilih pendapat Mujahid dan Al-Hasan di tiga surat.

Ash-Shiraath Al-Mustaqiim Merupakan Jalan Allah

Ash-Shiraath Al-Mustaqiim merupakan jalan Allah. Allah mengabarkan bahwa jalan itu ada pada-Nya seperti yang sudah kami sebutkan. Dia juga mengabarkan bahwa Dia berada di atas ash-shiraath al-mustaqiim, yang ada di dua tempat dalam Al-Qur’an, di surat Hud dan An-Nahl,

“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku diatas jalan yang lurus. ”(Hud: 56)

“Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus? ” ( An-Nahl 76).

Ini merupakan perumpamaan yang diberikan Allah tentang berhala yang sama sekali tidak bisa mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak bisa berpikir, yang menjadi beban di atas pundak orang yang menyembahnya. Berhala itu membutuhkan pertolongan orang yang menyembahnya, sehingga dia harus menggotongnya, lalu meletakkannya, mem- buatnya berdiri tegak dan layanan lain yang harus dilakukannya. Lalu bagaimana mungkin mereka menyamakannya dalam ibadah dengan Allah, yang menyuruh melaksanakan keadilan dan tauhid, yang Maha Berkuasa, Berbicara dan Mahakaya, Dia yang berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim dalam perkataan dan perbuatan-Nya? Firman Allah merupakan kebenaran, petunjuk, nasihat dan hidayah. Perbuatan-Nya merupakan hikmah, keadilan, rahmat dan maslahat. Inilah pendapat yang paling benar tentang ayat selain Ibnu Taimiyah. Kalau pun ada orang lain yang menyebutkannya, toh Ibnu Taimiyah lebih dahulu menyebutkannya.

Kemudian orang-orang sesudahnya mengisahkannya, seperti yang dilakukan Al-Baghawy, itu dan menjadikannya sebagai penafsiran yang juga menetapkan seperti ayat ini. Lalu setelah itu dia berkata, “Menurut Al-Kalby, Dia menunjuki kepada ash-shiraath al-Mustaqiim."

Saya katakan, Allah menunjuki kita kepada ash-shiraath al-Mustaqiim merupakan kewajiban Allah yang memang berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim. Penunjukan itu dilakukan dengan perbuatan dan perkataan- Nya, dan Dia berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim dalam perbuatan dan perkataan-Nya, sehingga hal ini tidak bertentangan dengan perkataan seseorang, “Allah berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim.”

Ada yang berpendapat, yang dimaksudkan di sini adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
menyuruh kepada keadilan, dan beliau berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim. Kami tanggapi, pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat pertama. Sebab Allah berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim, begitu pula Rasul-Nya. Beliau tidak menyuruh dan tidak berbuat kecuali menurut ketentuan Allah. Atas dasar inilah dibuat perumpamaan tentang pemimpin orang-orang kafir, yang bisu dan tuli, yang tidak mampu mendatangkan petunjuk dan kebaikan.

Sementara pemimpin orang-orang yang berbuat kebaikan ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang menyuruh berbuat adil dan beliau berada di atas ash-shiraath ai-Mustaqiim. Pendapat yang pertama menjadi perumpamaan bagi sesembahan orang-orang kafir dan sesembahan orang-orang yang berbuat baik. Dua pendapat di atas saling kait-mengait. Sebagian di antara mereka ada yang menyebutkan pendapat yang ini dan yang lain menyebutkan pendapat yang satunya lagi. Tapi kedua-duanya merupakan maksud dari ayat di atas. Ada yang berpendapat, kedua-duanya bagi orang Mukmin dan or- ang kafir. Pendapat ini diriwayatkan Athiyah dari Ibnu Abbas.

Menurut Atha’, yang dimaksud orang yang bisu di sini ialah Ubay bin Khalaf. Sedangkan orang yang menyuruh kepada keadilan adalah Hamzah,Utsman bin Affan dan Utsman bin Mazh’un.

Saya katakan, ayat ini bisa ditafsiri seperti itu, yang tidak bertentangan dengan dua pendapat sebelumnya. Allah berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim, begitu pula Rasul-Nya dan para pengikut Rasul. Kebalikannya adalah sesembahan orang-orang kafir dan para penuntun mereka. Orang kafir bisa menjadi pengikut, yang diikuti dan juga yang disembah. Sebagian salaf ada yang menyebutkan berbagai macam yang lebih tinggi tingkatannya. Sebagian lagi ada yang menyebutkan penuntun. Ada pula yang menyebutkan pihak yang mengabulkan dan yang menerima. Sehingga ayat ini dimungkinkan untuk dimaknai dengan makna-makna itu. Banyak ayat lain dalam Al-Qur’an yang serupa dengan ini.

Adapun ayat dalam surat Hud, sudah jelas dan tidak bisa dimaknai kecuali dengan satu makna saja, bahwa Allah berada di atas ash-shiraath aI-Mustaqiim (jalan yang lurus), dan memang Dia lebih layak untuk berada di atasnya. Semua perkataan Allah adalah kebenaran, petunjuk, hidayah, keadilan dan hikmah.

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. ”(QS. Al-An’am: 115).

Semua perbuatan Allah adalah kemaslahatan, hikmah, rahmat, keadilan dan kebaikan. Keburukan sama sekali tidak masuk dalam perbuatan dan perkataan Allah, karena keburukan keluar dari ash-shiraath al-Mustaqiim. Bagaimana mungkin keburukan masuk dalam perbuatan Dzat yang berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim atau perkataan-Nya?

Keburukan hanya masuk ke dalam perbuatan dan perkataan orang yang keluar dari ash-shiraath al-Mustaqiim. Dalam sebuah doa beliau disebutkan,

“Aku mendengar panggilan-Mu dan keberuntungan dari-Mu. Semua kebaikan ada pada-Mu dan keburukan tidak kembali kepada-Mu.”

Tidak ada gunanya menengok ke penafsiran orang yang menaf- sirinya, yang berkata, “Keburukan tidak didekatkan kepada-Mu atau tidak bisa naik kepada-Mu”. Maknanya lebih tinggi dan lebih besar dari sekedar penafsiran ini. Dzat yang semua asma’-Nya adalah husna (baik), yang semua sifat-Nya adalah kesempurnaan, yang semua perbuatan-Nya adalah hikmah, yang semua perkataan-Nya adalah benar dan adil, mustahil ada keburukan yang masuk ke dalam asma’ dan sifat-sifat-Nya, perbuatan atau perkataan-Nya. Jadi, makna ini pas dengan makna firman Allah,

“...Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus. "(QS. Hud: 56).

Perhatikan penggalan firman-Nya ini setelah firman-Nya,

“Sesungguhnya Aku bertawakal kepada Allah, Rabbku dan Rabb kalian.... "(QS. Hud: 56).

Dengan kata lain, Dia adalah Rabb-ku, yang tidak menelantarkan dan menyia-nyiakan aku, dan Dia adalah Rabb kalian yang tidak akan memberikan kepada kalian untuk mengalahkan aku, yang tidak akan menghalangi kalian dari aku. Sesungguhnya ubun-ubun kalian ada di Tangan-Nya. Kalian tidak melakukan sesuatu pun tanpa kehendak-Nya. Sesungguhnya ubun-ubun setiap binatang melata ada di Tangan-Nya. Tidak ada yang bisa bergerak kecuali dengan izin-Nya. Dialah yang membolak-balik yang ada pada diri binatang melata itu. Di samping perbuatan-Nya yang menggerakkan mereka, kekuasaan dan ketetapan-Nya, Dia pun berada di atas jalan yang lurus. Dia tidak melakukan apa yang dilakukan-Nya kecuali berdasarkan hikmah, keadilan dan kemaslahatan.

Kalaupun Dia memberikan kekuasaan kepada kalian atas diriku, itu pun ada hikmahnya dan segala pujian atas-Nya. Karena itu merupakan kekuasaan dari Dzat yang berada di atas ash-shiraath al-Mustaqiim, yang tidak berbuat zhalim dan tidak melakukan sesuatu secara sia-sia dan tanpa hikmah.

Beginilah seharusnya makrifat tentang Allah dan bukan makrifat qadariyah model Majusi dan qadariyah model Jabariyah, yang menafikan hikmah, kemaslahatan dan ketetapan berdasarkan alasan. Sesungguhnya Allahlah yang memberikan taufik.

Teman pada Ash-shiraath al-Mustaqiim Bisa Menghilangkan Ketakutan karena Sendirian

Karena orang yang mencari ash-shiraath al-Mustaqiim juga harus mencari sesuatu, maka banyak orang yang justru menyimpang darinya. Orang yang hendak menempuh suatu jalan menginginkan teman baik yang mendampinginya. Sementara itu, jiwa manusia diciptakan takut jika mengalami perpisahan. Sebaliknya, dia senang berada bersama teman yang setia mendampinginya. Karena itulah Allah mengingatkan tentang teman-teman dalam perjalanan ini, yaitu,

"... orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. ” (An- Nisa’: 69).

Jalan ini disertakan dengan teman orang-orang yang menitinya, dan mereka adalah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, agar orang yang mencari hidayah dan meniti jalan itu tidak lagi takut terhadap kesendiriannya ketika hidup di tengah manusia sezamannya, dan agar dia mengetahui bahwa temannya ketika meniti jalan itu adalah mereka yang mendapat nikmat dari Allah. Dengan begitu dia tidak risau karena harus bertentangan dengan orang-orang yang menyimpang dari jalan itu. Pada hakikatnya orang-orang yang menyimpang dari jalan itu merupakan kelompok minoritas dari segi kualitasnya, meskipun mereka mayoritas dari segi kuantitasnya.

Sebagian salaf berkata, “Hendaklah engkau melalui jalan kebenaran dan janganlah khawatir karena minimnya orang-orang yang melalui jalan itu. Jauhilah kebatilan, dan jangan terkecoh karena banyaknya orang yang rusak. Selagi engkau takut karena sendirian, lihatlah teman-teman di masa mendatang dan berminatlah untuk bersua dengan mereka, tundukkan pandangan mata dari selain mereka, karena sedikit pun mereka tidak dapat menolongmu di hadapan Allah. Jika mereka berteriak ketika engkau sedang meniti jalan, tak perlu engkau menengok ke arah mereka. Sebab jika engkau menengok ke arah mereka, maka mereka akan menyambarmu dan menghalang-halangimu.

Saya membuat dua perumpamaan tentang hal ini, dan ada baiknya jika engkau mencermatinya:

Pertama: Seseorang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat di masjid dan dia tidak punya niat yang lain. Di tengah perjalanan ada syetan berupa manusia yang menghadangnya, dengan cara melontarkan kata-kata yang menyakiti hatinya. Maka dia pun berhenti untuk meladeninya. Boleh jadi syetan yang berupa manusia itu lebih kuat dari dirinya, dapat memaksanya dan menghambat kepergiannya ke masjid, sehingga dia ketinggalan ikut shalat. Atau boleh jadi dia lebih kuat dari orang yang menghalang-halanginya itu. Tapi karena perbuatannya itu dia tidak mendapatkan shaff pertama dan ikut shalat jama’ah secara sempurna.

Jika dia menengok kepada orang itu, dia telah memberi peluang untuk menggodanya dan boleh jadi keinginannya untuk shalat berjama’ah menjadi lemah. Jika dia mempunyai makrifat dan ilmu, tentu dia akan berusaha untuk mempercepat langkah kakinya. Semua diukur dari sedikit banyaknya dia menengok ke arah orang itu. Jika dia berpaling darinya dan menyibukkan diri dengan tujuannya serta takut ketinggalan shalat, maka musuh pun tidak mempunyai kesempatan untuk melaksanakan apa yang diinginkannya.

Kedua: Kijang lebih gesit daripada anjing. Tapi jika dia merasakan kehadiran anjing, justru dia menengok ke arahnya sehingga dia pun kalah gesit, sehingga anjing bisa menerkamnya. Maksudnya, dengan adanya seorang teman bisa menghilangkan ketakutan karena sendirian dan teman itu bisa menganjurkannya untuk terus berjalan dan bersua dengan mereka.

Inilah di antara faidah doa qunut,

  1. “Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk”. Artinya, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan jadikanlah aku sebagai teman bagi mereka dan bersama mereka. Ini merupakan faidah pertama.

  2. Adapun faidah kedua, hal itu merupakan tawasul kepada Allah dengan nikmat Allah dan kebaikan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang diberi-Nya nikmat, yaitu nikmat hidayah yang diberikan kepada orang-orang yang mendapat hidayah. Maka jadikanlah bagiku bagian dari nikmat ini dan jadikanlah aku salah seorang di antara mereka yang mendapat nikmat. Ini merupakan tawasul kepadan Allah dengan kebaikan-Nya.

  3. Adapun faidah ketiga, sebagaimana yang dikatakan peminta-minta kepada orang yang dermawan, “Berilah aku shadaqah sebanyak shadaqah yang engkau berikan kepada orang-orang lain. Ajarkanlah kepadaku seperti yang engkau ajarkan kepada orang lain, dan berbuat baiklah kepadaku seperti kebaikanmu kepada orang lain."

Memohon Petunjuk ke Ash-shlraath al-Mustaqiim Merupakan Permohonan Yang Paling Agung

Memohon petunjuk ke ash-shiraath al-Mustaqiim kepada Allah merupakan permohonan yang paling agung dan mendapatkannya merupakan pemberian yang paling mulia. Karena itulah Allah mengajari hamba-hamba-Nya, bagaimana cara memohon hal ini dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan pujian dan pengagungan di hadapan-Nya, lalu menyebutkan ubudiyah dan tauhid kepada mereka.

Inilah dua macam tawasul untuk mendapatkan apa yang mereka pinta, yaitu: Tawasul dengan asma’ dan sifat-sifat-Nya, dan tawasul kepada-Nya dengan beribadah atau menyembah-Nya. Jika dua tawasul ini menyertai doa, maka hampir-hampir doa itu tidak tertolak. Dua tawasul ini menguatkan dua hadits tentang al- ismul-a’zham (asma yang paling agung), yang diriwayatkan Ibnu Hibban di dalam Shahlh-nya, Al-Imam Ahmad dan At-Tirmidzy.

Pertama: Hadits Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata,

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa, seraya mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa aku bersaksi, Engkau adalah Allah yang tiada Ilah selain Engkau, Yang Esa dan Yang menjadi tempat meminta segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan yang tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya Maka beliau bersabda, ‘Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, dia telah memohon kepada Allah dengan asma ’-Nya Yang paling agung, yang apabila dipanjatkan doa dengannya, maka Dia akan mengabulkan dan apabila dipinta dengannya, maka Dia akan memberi’. ”

Menurut At-Tirmidzy, ini adalah hadits shahih. Ini merupakan tawasul kepada Allah dengan mengesakan-Nya dan kesaksian orang yang berdoa kepada-Nya dengan wahdaniyah serta penetapan sifat-Nya yang ditunjukkan dengan asma’ Ash-Shamad, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, “Yaitu orang berilmu yang sempurna ilmunya dan orang berkuasa yang sempurna kekuasaannya.”

Dalam sebuah riwayat darinya disebutkan, “Artinya adalah tuan yang memiliki kesempurnaan dalam segala kedu-
dukan. ” Menurut Abu Wa’il, artinya adalah tuan yang tinggi kedudukannya. Menurut Sa’id bin Jubair, artinya orang yang sempurna dalam segala sifat, perbuatan dan perkataannya. Permisalan dan keserupaan dinafikan dari-Nya dengan perkataannya, “Yang tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya”. Seperti inilah terjemah aqidah Ahlus-Sunnah dan tawasul dengan iman dan kesaksian dengannya merupakan asma’ yang paling agung.

Kedua: Hadits Anas,

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa segala puji bagi-Mu, tiada llah melainkan Engkau, Yang banyak karunianya, Yang menciptakan langit dan bumi, Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai
Yang Maha hidup lagi Maha Berdiri sendiri’. Maka beliau bersabda, ‘Dia telah memohon kepada Allah dengan asma ’-Nya yang paling agung.”

Jadi ini merupakan tawasul kepada Allah dengan asma’ dan sifat- sifat-Nya. Surat Al-Fatihah telah mengombinasikan dua macam tawasul, yaitu tawasul dengan pujian dan pengagungan-Nya, serta tawasul kepada-Nya dengan ubudiyah dan mengesakan-Nya. Kemudian disusul permohonan yang paling penting dan hasrat yang paling mendatangkan keberuntungan, yaitu hidayah, setelah dua tawasul itu. Maka orang yang memanjatkan doa dengannya layak dikabulkan.

Serupa dengan hal ini ialah doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang biasa beliau panjatkan ketika beliau dalam keadaan berdiri untuk shalat malam, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhary di dalam Shahih-nya, dari hadits Ibnu Abbas,

Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta siapa pun yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah yang menegakkan langit dan bumi dan siapa pun yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Yang Maha benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, hari kiamat itu benar dan Muhammad itu benar. Ya Allah, aku berserah diri kepada Mu, kepada-Mu aku beriman dan bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku bermusuhan dan kepada-Mu aku mengadu. Maka ampunilah bagiku apa yang kumajukan dan apa yang kuakhirkan, apa yang kurahasiakan dan apa yang kunyatakan. Engkau adalah Ilahku yang tiada Ilah melainkan Engkau.

Pencakupan Surat Al-Fatihah atas Tiga Jenis Tauhid

Surat Al-Fatihah mencakup tiga macam tauhid sebagaimana yang sudah disepakati para rasul. Tauhid itu sendiri ada dua jenis:

  • Tauhid al-ilmy. Satu jenis tauhid dalam ilmu dan keyakinan, berkaitan dengan pengabaran dan makrifat
  • Tauhid al-qashdy al-irady. satu jenis lagi dalam kehendak dan tujuan. berkaitan dengan tujuan dan kehendak.

Tauhid yang kedua ini juga ada dua macam: Tauhid dalam Rububiyah dan tauhid dalam Uluhiyah. Jadi inilah tiga macam itu. Inti tauhid ilmu pada penetapan sifat-sifat kesempurnaan dan penafian penyerupaan dan permisalan, pembebasan dari aib dan kekurangan. Yang demikian ini dapat dibuktikan dengan dua hal: Yang global dan yang rinci. Yang global ialah penetapan pujian bagi-Nya. Sedangkan yang rinci ialah penyebutan sifat Ilahiyah dan Rububiyah, rahmat dan kekuasaan.

Inti asma’ dan sifat berkisar pada empat hal ini. Adapun cakupan pujian berdasarkan hal itu ialah mencakup pujian Dzat yang dipuji dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya, disertai kecintaan, keridhaan dan ketundukan kepada-Nya. Selagi sifat-sifat kesempurnaan yang dipuji semakin banyak, maka pujian kepadanya semakin sempurna.

Selagi sifat- sifat kesempurnaannya berkurang, maka pujian kepadanya juga semakin berkurang selaras dengan kadarnya. Karena itulah segala puji bagi Allah dengan pujian yang tidak bisa dibilang oleh selain-Nya, karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan karena banyaknya. Atas dasar inilah tak seorang pun di antara makhluk-Nya bisa membilang pujian kepada-Nya, karena Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan yang tidak bisa dibilang selain-Nya. Karena itu Allah mencela sesembahan orang-orang kafir, dengan cara meniadakan sifat-sifat kesempurnaan dari sesembahan itu. Allah mencelanya bahwa sesembahan itu tidak bisa mendengar dan melihat, tidak bisa bicara dan memberi petunjuk, tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat.

Semacam ini pula sesembahan golongan Jahmiyah, sama seperti celaan terhadap patung-patung, yang kemudian mereka nisbatkan kepada-Nya. Tapi Allah Mahatinggi dari apa yang dikatakan orang-orang zhalim dan ingkar, dengan ketinggian yang besar. Allah befirman mengisahkan kekasih-Nya, Ibrahim AJaihis-SaJam, saat mendebat ayahnya,

“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”(Maryam: 42).

Sekiranya Ilah Ibrahim seperti sesembahan ayahnya dan serupa dengannya, tentu Azar, ayahnya akan berkata,

“Sesembahanmu pun seperti itu pula. Maka bagaimana mungkin kamu mengingkari aku?”

Tapi meskipun ayah Ibrahim musyrik, toh dia lebih tahu tentang Allah daripada golongan Jahmiyah. Begitu pula orang-orang kafir Quraisy. Meskipun mereka musyrik, toh mereka mengakui sifat-sifat Allah Yang Maha Pencipta dan ketinggian-Nya atas makhluk. Firman-Nya,

“Dan, kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anaklembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkanjalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. ” (QS. Al-A’raf: 148).

Sekiranya Allah yang menjadi Ilah makhluk seperti keadaan sesembahan itu, maka tidak ada gunanya mengingkari perbuatan mereka dan menunjukkan bukti kebatilan sesembahan mereka. Jika ada yang berkata, “Toh Allah tidak berbicara dengan hamba-hamba-Nya.”

Maka dapat ditanggapi sebagai berikut: Allah berbicara dengan mereka. Di antara mereka ada yang diajak bicara oleh Allah dari balik tabir. Ada pula yang tanpa perantara. Ada pula yang Allah berbicara dengan sebagian di antara mereka lewat lisan utusan-Nya dari jenis malaikat, yaitu para nabi. Sementara Allah berbicara dengan seluruh manusia lewat lisan rasul-rasul-Nya. Allah menurunkan kalam-Nya kepada mereka, yang disampaikan para rasul dari-Nya. Para rasul itu mengatakan, “Ini adalah kalam Allah yang difirmankan-Nya dan Dia memerintahkan kami untuk menyampaikannya kepada kalian.”

Berangkat dari sinilah orang-orang salaf berkata, “Siapa yang mengingkari Allah berbicara, berarti dia telah mengingkari risalah semua rasul. Sebab hakikat dari risalah itu ialah menyampaikan kalam Allah yang disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Ketiadaan kalam-Nya adalah ketiadaan risalah.”

Allah befirman di dalam surat Thaha tentang As-Samiry,

“Kemudian Samiry mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata, ‘Inilah tuhan kalian dan tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?” (QS. Thaha: 88-89).

Jawaban dari pertanyaan ini ialah, bahwa Dia berbicara dan juga berbicara dengan pihak lain. Firman Allah,

“Dan, Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban ataspenanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan dan dia berada pula di atasjalan yang lurus?” (An-Nahl: 76).

Al-Qur’an menjadikan penafian sifat kalam sebagai kepastian kebatilan Ilahiyah. Hal ini logis menurut pertimbangan fitrah dan akal yang sehat serta kitab-kitab samawi, bahwa orang yang tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan tidak bisa menjadi Ilah, pengatur dan Rabb. Bahkan dia tercela dan kurang, tidak layak mendapat pujian, tidak di dunia dan tidak pula di akhirat. Pujian di dunia dan di akhirat hanya layak diberikan kepada Dzat yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, yang karena itu dia layak dipuji. Oleh karena itulah orang-orang salaf menamakan kitab-kitab yang mereka susun tentang As-Sunnah dan penetapan sifat-sifat Allah, ketinggian-Nya atas makhluk-Nya, kalam dan pembicaraan-Nya, dengan “Kitab Tauhid”. Penafian sifat-sifat itu, pengingkaran dan pengufurannya merupakan pengingkaran terhadap Allah Yang Maha Pencipta. Tauhid-Nya ialah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan dan membebaskan-Nya dari penyerupaan dan kekurangan.

Sementara golongan Mu’thilah menjadikan pengingkaran sifat dan pengguguran penciptanya sebagai tauhid. Mereka juga menjadikan penetapannya bagi Allah sebagai penyerupaan dan penitisan. Mereka menamakan sesuatu yang batil dengan sebutan kebenaran, karena kesenangan kepadanya dan sebagai hiasan yang mereka buat-buat. Mereka menyebut kebenaran dengan nama kebatilan, untuk menghindar darinya.

Sementara mayoritas manusia tidak memiliki kritikan orang yang biasa mengritik, meskipun jalan sudah jelas.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.’’ (Al-Kahfi : 17).

Orang yang layak dipuji tidak akan dipuji karena sesuatu yang tidak ada pada dirinya dan sikap diamnya, kecuali kalau memang peniadaan aib dan kekurangan menjamin adanya penetapan kebalikannya, yang berupa sifat-sifat kesempurnaan yang tetap dan pasti. Jika tidak, maka itu hanya sekedar peniadaan yang memang tidak layak untuk dipuji dan juga bukan merupakan kesempurnaan.

Begitu pula pujian Allah terhadap Diri-Nya sendiri yang tidak mempunyai anak. Hal ini menjamin kesempurnaan sifat shamad-Nya, kekayaan-Nya dan kerajaan-Nya dan bahwa segala sesuatu menyembah-Nya. Jika dia mempunyai anak, berarti menafikan kesempurnaan itu, sebagaimana firman-Nya,

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, Allah mempunyai anak’. MahasuciAllah; Dialah Yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. "(Yunus: 68).

Pujian Allah terhadap Diri-Nya sendiri tentang tidak adanya sekutu, menjamin kesendirian-Nya dalam Rububiyah, dan llahiyah, keesaan-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan, yang selain-Nya tidak disifati dengan sifat-sifat itu, hingga dia menjadi sekutu bagi-Nya. Sekiranya tidak ada sifat-sifat kesempurnaan itu, maka segala wujud bisa lebih sempurna dari- Nya. Sebab yang wujud lebih sempurna daripada yang tidak wujud.

Karena itulah Allah tidak memuji Diri-Nya dengan sesuatu yang tidak ada, kecuali jika menjamin penetapan kesempurnaan, sebagaimana Dia memuji Diri- Nya dengan keberadaan-Nya yang tidak mati. Hal ini menjamin kesempurnaan hidup-Nya. Allah memuji Diri-Nya sebagai Dzat Yang tidak mengantuk dan tidak pula tidur, untuk menjamin perbuatan-Nya yang mengurus (hamba) secara terus-menerus. Allah memuji Diri-Nya bahwa tidak ada yang tersembunyi dari-Nya meskipun hanya seberat dzarrah di langit maupun di bumi, tidak pula yang lebih kecil maupun yang lebih dari dzarrah itu, karena kesempurnaan ilmu-Nya dan peliputan-Nya. Allah memuji Diri-Nya bahwa Dia tidak menzhalimi siapa pun, karena kesempurnaan keadilan dan kemurahan-Nya. Allah memuji Diri-Nya bahwa Dia tidak dapat dilihat pandangan mata, karena kesempurnaan keagungan-Nya, yang dapat melihat namun tidak dapat dilihat, sebagaimana Dia yang bisa diketahui namun tidak ada ilmu yang meliputi-Nya. Jika tidak, maka penafian pandangan bukan merupakan kesempurnaan.

Sebab sesuatu yang tidak ada tidak dapat dilihat, sehingga keberadaan sesuatu yang tidak dapat dilihat bukan kesempurnaan sedikit pun. Kesempurnaan hanya ada pada keberadaannya yang tidak bisa dilihat pandangan mata, karena keagungan di dalam Diri-Nya dan ketinggian-Nya untuk diketahui makhluk. Begitu pula Allah yang memuji Diri-Nya yang tidak lalai dan tidak lupa, karena kesempurnaan ilmu-Nya.

Setiap peniadaan di dalam Al-Qur’an, sehingga Allah tidak memuji Diri-Nya, maka itu merupakan kontradiksi penetapan kebalikannya dan karena untuk menjamin kesempurnaan penetapan kebalikannya. Maka dapat diketahui bahwa hakikat pujian itu mengikuti penetapan sifat-sifat kesempurnaan, dan peniadaannya merupakan penafian pujian, dan penafian pujian mengharuskan penetapan kebalikannya.

Lima Sifat di dalam Al-Fatihah Yang Menunjukkan Tauhid Asma’ dan Sifat

Pembuktian lima asma’ ini ialah asma’ Allah, Rabb, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik.

Hal ini didasarkan kepada dua hal: Dasar Pertama: Asma’ ini menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan- Nya. Asma’ ini juga merupakan sifat-sifat. Atas dasar inilah semuanya menjadi husna (baik). Sebab sekiranya itu hanya sekedar lafazh yang tidak ada maknanya, maka itu tidak bisa disebut husna dan tidak pula menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan, sifat mendendam dan marah lebih dominan daripada sifat rahmat dan ihsan serta yang menjadi keba-
likannya, sehingga akan diucapkan dalam doa,

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena Engkau Maha Pembalas. Ya Allah, berilah aku, karena Engkau Maha Pemberi mudharat dan yang menahan”, atau lain-lainnya.

Penafi'an makna-makna Al-Asma’ Al-Husna bagi Allah merupakan pengingkaran yang paling besar. Allah befirman,

“Dan, tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. ”(QS. Al-A’raf: 180).

Sekiranya asma’ itu tidak menunjukkan kepada makna dan sifat- sifat, maka Dia tidak boleh mengabarkannya berdasarkan sumber-sumbernya. Tapi Allah mengabarkan tentang Diri-Nya beserta sumber-sumbernya dan menetapkannya bagi Diri-Nya serta menetapkannya bagi Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberirezki Yangmempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh. ”(Adz-Dzarivat: 58).

Dengan begitu dapat diketahui bahwa Al-Qawy itu termasuk asma’-Nya, yang berarti Dia disifati dengan kekuatan. Begitu pula firman Allah,

“Maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. "(Fathir: 10).

Yang mulia ialah yang memiliki kemuliaan. Sekiranya tidak ada penetapan kekuatan dan kemuliaan, maka Dia tidak akan memiliki asma’ yang kuat dan yang mulia. Begitu pula firman-Nya,

“Maka ketethuileth sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu”. (Hud: 14).

“Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya. ”(An-Nisa’: 166).

“Dan, mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah.”(Al- Baqarah: 255).

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia menurunkan neraca dan meninggikannya, mengangkat kepada-Nya amal malam hari sebelum siang hari dan amal siang hari sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya, yang sekiranya Dia membukanya, maka keagungan Wajah-Nya akan membakar apa pun pandangan dari makhluk-Nya atau yang tertuju kepada-Nya.”

Beliau menyebutkan sumber pengambilan asma’ Al-Bashir. Di dalam Shahih Al-Bukhary disebutkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha,

“Segala puji bagi Allah gang pendengaran-Nya meliputi segala suara.”

Di dalam Ash-Shahih disebutkan hadits istikharah,

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuasaan dengan kekuasaan-Mu.”

Allah berkuasa dengan kekuasaan-Nya. Allah befirman kepada Musa,

“Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” (Al-A’raf: 144).

Jadi Allah berbicara dan juga berbicara dengan pihak lain dengan suatu perkataan. Dia adalah Mahaagung yang mempunyai keagungan. Di dalam Ash-Shahih disebutkan,

“Allah befirman, ‘Keagungan adalah jubahku dan kekuasaan adalah selendangku.”

Allah adalah Maha Bijaksana yang memiliki ketetapan hukum.

Firman-Nya,

“Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha tinggi lagi Maha besar. ” (Al-Mukmin; 12).

Kaum Muslimin sudah sepakat bahwa siapa yang bersumpah dengan hidup Allah, pendengaran, penglihatan, pandangan, kekuatan, kemuliaan, keagungan-Nya, maka sumpahnya itu sah dan menjadi jaminan. Sebab ini merupakan sifat-sifat kesempurnaan yang bersumber dari asma’-Nya. Di samping itu, sekiranya asma’-Nya tidak meliputi makna dan sifat-
sifat, maka tidak ada artinya ada pengabaran dengan perbuatan-perbuatannya, sehingga tidak bisa dikatakan, “Dia mendengar, melihat, mengetahui, berkuasa dan berkehendak.” Sesungguhnya penetapan hukum-hukum sifat merupakan cabang dari penetapannya. Jika tidak ada asal sifat, mustahil ada penetapan hukumnya.

Di samping itu, sekiranya asma’-Nya tidak memiliki makna dan sifat-sifat, tentunya asma’ itu menjadi benda mati seperti halnya bendera semata, yang tidak diletakkan untuk sesuatu yang diberi nama itu dengan pertimbangan suatu makna yang menyertainya. Semua itu sama dan tidak ada perbedaan antara hal-hal yang ditunjukkan. Yang demikian ini merupakan isapan jempol semata dan kebohongan yang nyata.

Siapa yang menjadikan makna nama “Yang berkuasa” sama dengan makna nama “Yang mendengar dan melihat”, begitu pula makna nama “Yang Maha Pemberi taubat” sama dengan makna nama “Yang membalas”, makna nama “Yang memberi” sama dengan makna nama “Yang Menahan”, berarti dia telah membohongi akal, bahasa dan fitrah. Penafian makna asma’ Allah merupakan penyimpangan yang paling besar.

Penyimpangan itu sendiri ada dua macam. Salah satu di antaranya ialah penyimpangan di atas. Sedangkan satunya lagi ialah memberi nama patung-patung dengan asma’ itu sebagaimana mereka menyebut patung-patung itu sebagai sesembahan. Ibnu Abbas dan Mujahid berkata, “Mereka menyimpangkan asma’ Allah dari makna yang semestinya lalu mereka menamakan patung-patung mereka dengan asma’ itu, lalu mereka menambahi dan mengurangi. Mereka mengambil nama Lata dari nama Allah, Uzza dari Al-Aziz, Manat dari Mannan.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna “ Yul-hiduuna fi asma ’ihi”, menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama- nama-Nya, artinya berbuat dusta kepada-Nya.

Ini merupakan tafsir berdasarkan makna. Namun hakikat itiJi /ilhaad di sini ialah menyimpangkannya dari kebenaran yang terkandung di dalamnya dan memasukkan ke dalamnya apa yang bukan merupakan bagian darinya serta mengeluarkan darinya hakikat-hakikat maknanya. Inilah hakikat ilhaad.

Siapa yang melakukannya, berarti dia telah berbuat dusta terhadap Allah. Ibnu Abbas menafsiri ilhaad di sini dengan dusta, atau itu merupakan tujuan orang yang berbuat ilhaaddalam asma’ Allah. Jadi, jika seseorang memasukkan ke dalam makna-makna asma’ itu sesuatu yang bukan bagian darinya, mengeluarkan makna dari hakikatnya atau sebagian di antaranya, berarti dia telah menyimpang dari kebenaran. Inilah hakikat ilhaad. Ilhaad juga berarti menentang atau mengingkarinya, entah dengan menentang maknanya dan meniadakannya, entah dengan menyimpangannya dari kebenaran dan mengeluarkannya dari kebenaran dengan berbagai takwil yang batil, atau entah dengan menjadikannya sebagai nama makhluk yang diciptakan, seperti ilhaadorang-orang yang berpaham penitisan.

Mereka menjadikan asma’ Allah sebagai nama benda-benda alam ini, baik yang tercela atau yang terpuji. Sampai-sampai pemimpin mereka, ( Dia adalah Abu Sa’id Al-Kharrraz, yang berkata tentang Rabb-nya, “Dialah yang diberi nama Abu Sa’id Al-Kharraz.”)’ berkata,

“Dia (Allah) yang diberi nama dengan segala nama yang terpuji menurut akal, syariat dan kebiasaan, dengan segala nama yang tercela menurut akal, syariat dan kebiasaan.”

Allah Mahatinggi dari apa yang dikatakan orang-orang yang menyimpang dengan ketinggian yang besar.

Dasar Kedua: Satu nama dari asma’ Allah, sebagaimana ia me nunjukkan kepada dzat dan sifat yang diambilkan darinya secara persis, maka ia juga menunjukkan dua makna lain yang menjadi kandungan dan keharusannya, sehingga ia menunjukkan kepada sifat itu sendiri sebagai kandungannya, juga menunjukkan kepada dzat yang terlepas dari sifat itu, dan juga menunjukkan sifat lain yang menjadi keharusannya.

Nama As-Samii ’ menunjukkan kepada Dzat Rabb dan pendengaran-Nya secara persis, kepada Dzat itu sendiri dan kepada pendengaran itu sendiri sebagai kandungan, juga menunjukkan kepada nama Al-Hayyu (Yang Maha hidup) dan sifat hidup sebagai keharusan. Begitu pula yang terjadi dengan seluruh asma’ dan sifat Allah. Tetapi manusia saling berbeda dalam mengetahui keharusan dan ketiadaannya. Dari sinilah acap kali terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dalam sekian banyak asma’ dan sifat serta hukum. Siapa yang mengetahui bahwa perbuatan berdasarkan pilihan merupakan keharusan kehidupan, dan bahwa pendengaran dan penglihatan merupakan keharusan kehidupan yang sempurna, dan bahwa semua kesempurnaan merupakan keharusan kehidupan yang sempurna pula, tentu akan menetapkan asma’ dan sifat Allah serta perbuatan-Nya, yang justru diingkari orang yang tidak mengetahui keharusan hal itu dan tidak mengetahui hakikat kehidupan dan keharusannya.

Begitu pula untuk semua sifat Allah. Nama Al- Azhiim (Maha agung) bagi Allah merupakan keharusan yang diingkari orang yang tidak mengetahui keagungan Allah dan keharusannya. Begitu pula nama Al-Aly, Al-Hakiim dan semua asma’-Nya. Di antara keharusan nama Al-Aly ialah ketinggian yang mutlak dan segala ungkapannya. Dia memiliki ketinggian yang mutlak dari segala wujud, ketinggian kekuasaan, ketinggian penundukan dan ketinggian Dzat. Siapa yang mengingkari ketinggian Dzat, berarti telah mengingkari keharusan nama-Nya, AI-AIy.

Begitu nama Azh-Zhaahir, yang di antara keharusannya ialah tidak ada sesuatu pundi atas-Nya, sebagaimana yang disebutkan di dalam Ash-Shahih, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Dan Engkau adalah Yang Zhaahir, yang tiada sesuatupun di atas- Mu.’’ Bahkan Allah berada di atas segala sesuatu. Siapa yang mengingkari keunggulan Allah ini berarti telah mengingkari keharusan nama-Nya, Azh-Zhaahir.

Tidak benar jika yang Azh-Zhaahir hanya sekedar memiliki keunggulan kekuasaan, seperti jika dikatakan, “Emas mengungguli perak dan mutiara mengungguli kaca.” Sebab keunggulan ini tidak berhubungan dengan penampakan, tetapi boleh jadi yang diungguli justru lebih tampak dari apa yang mengungguli. Tidak benar pula jika itu hanya sekedar penampakan penundukan dan kemenangan semata. Allah adalah Azh-Zhaahir dengan penundukan dan kemenangan, karena Azh-Zhaahir kebalikan dari Al-Baathin, yang tidak ada sesuatu yang menandinginya, sebagaimana Al-Awwalu yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, kebalikan dari Al-Aakhiru, yang tiada sesuatu pun sesudah-Nya.

Begitu pula nama Al-Hakiim, yang di antara keharusannya ialah penetapan tujuan-tujuan yang terpuji dan terarah berkat perbuatan-perbuatan-Nya, peletakan-Nya terhadap segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkannya pada sisi yang paling baik. Pengingkaran terhadap hal ini sama dengan pengingkaran terhadap nama ini dan keharusan- keharusannya. Begitu pula yang terjadi dengan seluruh Al-Asma’ Al-Husna Allah.

Nama Allah Menunjukkan kepada Seluruh Asma’ dan Sifat

Jika dua dasar ini sudah ditetapkan, maka nama Allah menunjukkan kepada seluruh Al-Asma’ Al-Husna dan sifat-sifat yang tinggi berkat tiga bukti. Nama ini menunjukkan Hahiyah-Nya yang mencakup penetapan sifat-sifat llahiyah bagi-Nya, disertai penafian terhadap kebalikan-kebalikannya.

Sifat-sifat llahiyah ialah sifat-sifat kesempurnaan yang terlepas dari penyerupaan dan permisalan, dari aib dan kekurangan. Karena itulah Allah menambahkan seluruh Al-Asma’ Al-Husna ke nama yang agung ini, sebagaimana firman-Nya,

“Hanya milik Allah Al-Asma ’ Al-Husna. "(Al-A’raf: 180).

Ada yang berpendapat, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Quddus, As- Salam, Al-Aziz, Al-Hakim adalah asma’ Allah, dan tidak dikatakan, bahwa Allah adalah termasuk asma’ Ar-Rahman dan tidak termasuk asma’ Al- Aziz dan lain-lainnya.

Maka dapat diketahui bahwa nama Allah mencakup seluruh makna Al-Asma’ Al-Husna, menunjukkan kepadanya secara global. Al-Asma’ Al-Husna merupakan rincian dan penjelasan dari sifat-sifat llahiyah, yang dari sinilah terbentuk nama Allah. Nama Allah menunjukkan keberadaan-Nya sebagai Dzat yang disembah. Makhluk menyembah-Nya karena cinta, pengagungan dan ketundukan, kembali kepada-Nya ketika didesak kebutuhan dan kepasrahan. Yang demikian ini mengharuskan kesempurnaan Rububiyah dan rahmat-Nya, yang keduanya mencakup kesempurnaan kekuasaan.

Pujian, llahiyah, Rububiyah, rahmat dan kekuasaan-Nya mengharuskan seluruh sifat kesempurnaan-Nya. Sebab mustahil ada penetapan semua itu bagi orang yang tidak hidup, tidak mendengar, tidak melihat, berkuasa, tidak berbicara, tidak dapat berbuat apa yang dikehendakinya serta tidak bijaksana dalam perbuatan-perbuatannya. Sifat keagungan dan keindahan lebih khusus daripada nama Allah. Sedangkan sifat perbuatan, kekuasaan, kesendirian dalam memberi manfaat dan mudharat, memberi dan menahan, berkehendak, kesempur- naan kekuatan serta menangani urusan makhluk, lebih khusus daripada nama Rabb.

Sifat ihsan, kemurahan hati, kebajikan, belas kasih, karunia dan santun, lebih khusus daripada nama Ar-Rahman. Hal ini diulang pemberitaannya dengan ketetapan sifat, adanya pengaruh dan kaitan sebab-akibat.

Ar-Rahman adalah Dzat yang sifatnya rahmat. Ar-Rahim adalah Dzat yang menyayangi hamba-hamba-Nya. Karena itu Allah befirman,

"Dan, adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. "(Al-Ahzab: 43).

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. ”(At-Taubah: 117).

Di sini tidak disebutkan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya dan tidak pula Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin, meskipun di dalam nama /Ar-Rahman, dengan bentuk kata fa ’lan, ada keluasan sifat ini dan penetapan seluruh maknanya yang disifatkan.

Tidakkah engkau tahu orang-orang mengatakan ghadhban untuk orang yang marah besar, atau nadman, hairan, sakran, lahfan, bagi seseorang yang mengalami keadaan seperti masing-masing kata ini? Jadi bentuk fa ’lan menunjukkan keluasan dan pencakupan. Karena itu Allah seringkali menggabungkan istiwa :Nya di atas ‘Arsy dengan nama ini, seperti firman-Nya,

"(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy. ” (Thaha: 5). “

"Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah. ”(A1-Furqan: 59).

Allah bersemayam di atas ‘Arsy dengan nama Ar-Rahman. Sebab

‘Arsy itu dikelilingi makhluk dan yang dibuat luas membentang. Rahmat juga mengelilingi makhluk, yang luas bagi mereka, sebagaimana firman-Nya, “Dan, rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. ”(A1-A’raf: 156).

Allah bersemayam di atas makhluk yang paling luas, dengan sifat yang amat luas. Karena itu rahmat-Nya juga meliputi segala sesuatu. Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abu Hurairah RadhiyallahuAnhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tatkala Allah menetapkan takdir makhluk, Dia menulis di dalam Kitab, yangada di sisi-Nya dan diletakkan di atas Arsy: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.”

Dalam suatu lafazh disebutkan,

“Ia diletakkan di sisi-Nya di atas Arsy.”

Perhatikan kekhususan Al-Kitab ini dengan penyebutan rahmat dan yang diletakkan di sisi-Nya di atas ‘Arsy. Hal ini sejalan dengan firman-Nya,

“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy.” (Thaha: 5).

Dan firman-Nya,

“Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah. ”(Al-Furqan: 59).

Pintu yang lebar sudah dibukakan di hadapanmu untuk mengetahui Rabb, selagi pintu itu tidak ditutup karena kemalasan dan kelemahan. Sifat adil, menyempitkan, membentangkan, merendahkan, meninggikan, memberi, menahan, memuliakan, menghinakan, menundukkan, menghukumi dan lain sebagainya, lebih khusus dengan nama Al-Maliku, yang dikhususkan-Nya dengan hari pembalasan (kiamat), yaitu pembalasan dengan adil. Karena hanya Aliahlah yang memutuskan perkara pada hari itu, dan hari itu adalah hari yang pasti terjadi, begitu pula saat- saat sebelumnya seperti hari berbangkit. Saat itulah puncaknya, dan hari-hari di dunia mempunyai beberapa tahapan untuk sampai ke sana. Perhatikan kaitan penciptaan dan perintah dengan tiga asma’ ini: Allah, Rabb dan Ar-Rahmarr, bagaimana dari tiga asma’ ini muncul penciptaan, perintah, pahala dan siksa? Bagaimana pula makhluk di- himpunkan dan dibeda-bedakan? Jadi makhluk itu memiliki himpunan dan perbedaan.

Nama Rabb memiliki himpunan yang mencakup seluruh makhluk.Dia adalah Rabb segala sesuatu dan Penciptanya, yang berkuasa ter- hadapnya dan tak ada sesuatu pun yang keluar dari Rububiyah-Nya. Apapun yang ada di langit dan di bumi menjadi hamba bagi-Nya, ada dalam genggaman-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya. Mereka berhimpun dengan sifat Rububiyah dan berbeda-beda dengan sifat Uluhiyah. Yang menyembah Dia semata adalah orang-orang yang berbahagia, yang menetapkan ketaatan bagi-Nya, bahwa Allah adalah yang tiada Ilah selain Dia. Ibadah, tawakal, berharap, takut, mencintai, kembali, bersandar, merendah dan tunduk tidak layak dilakukan kecuali bagi-Nya.

Di sinilah manusia berbeda-beda dan mereka terpisah menjadi dua golongan:

  • Satu golongan adalah orang-orang musyrik yang berada di neraka, dan
  • Satu golongan lagi adalah orang-orang yang mengesakan, yang berada di surga.

llahiyahlah yang membeda-bedakan mereka, sebagaimana Rububiyah telah menghimpunkan mereka.

  • Agama, syariat, perintah dan larangan termasuk sifat llahiyah.
  • Penciptaan, pengadaan, pengurusan dan perbuatan termasuk sifat Rububiyah.
  • Pahala dan siksa, surga dan neraka termasuk sifat kekuasaan.

Dialah yang menguasai hari pembalasan. Allah memerintahkan mereka dengan llahiyah-Nya. Allah menolong, memberi taufiq, memberi petunjuk dan menyesatkan dengan Rububiyah-Nya. Allah memberi pahala dan menyiksa dengan kekuasaan dan keadilan-Nya. Masing-masing dari perkara-perkara ini tidak terlepas dari yang lain. Sedangkan rahmat merupakan keterkaitan dan sebab yang ada antara Allah dengan hamba-Nya. llahiyah berasal dari mereka bagi-Nya, sedangkan Rububiyah berasal dari-Nya bagi mereka. Rahmat merupakan sebab yang menghubungkan antara Allah dengan hamba-Nya.

Dengan rahmat itu Dia mengutus para rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab-Nya kepada mereka, menunjuki mereka dengannya, menempatkan mereka di tempat tinggal yang diisi pahala-Nya, melimpahkan rezki, afiat dan nikmat kepada mereka. Antara mereka dan Dia ada sebab ubudiyah, dan antara Dia dengan mereka ada sebab rahmat. Penyertaan Rububiyah-Nya dengan rahmat-Nya seperti penyertaan bersemayamnya di atas ‘Arsy dengan rahmat-Nya.

Jadi firman-Nya, “(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy”, sesuai dengan firman-Nya, “Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’’ Cakupan dan keluasan Rububiyah Allah, yang membuat apa pun tak ada yang keluar dari Rububiyah-Nya, lebih maksimal daripada cakupan dan keluasan rahmat. Rahmat dan Rububiyah-Nya meliputi segala sesuatu. Keberadaan Allah sebagai Rabb bagi semesta alam menunjukkan ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, keberadaan-Nya di atas segala sesuatu, yang insya Allah akan dijelaskan di bagian mendatang.

Disebutkannya Nama-nama Ini Setelah Al-Hamdu

Disebutkannya nama-nama ini setelah al-hamdu (pujian) dan keberadaan al-hamdu dengan segala kandungan dan konsekuensinya, menunjukkan bahwa Allah adalah yang terpuji dalam llahiyah-Nya, terpuji dalam Rububiyah-Nya, terpuji dalam rahmat-Nya, terpuji dalam kekuasaan-Nya, dan Dia adalah Ilah yang terpuji, Rabb yang terpuji, Maha Pemurah yang terpuji dan penguasa yang terpuji. Dengan begitu Dia mempunyai semua bagian-bagian kesempurnaan: Kesempurnaan dari segi nama ini sendiri, kesempurnaan dari nama lain, dan kesempurnaan dari pengaitan yang satu dengan yang lain.

Sebagai misal adalah firman Allah, “Dan Allah Maha kaya lagi Maha Terpuji”, atau, “Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”, atau, “Dan Allah Mahakuasa ”, atau, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Kaya merupakan sifat kesempurnaan. Pujian merupakan sifat kesempurnaan. Penyertaan kekayaan-Nya dengan pujian-Nya merupakan kesempurnaan pula. llmu-Nya merupakan kesempurnaan.

Penyertaan ilmu dengan bijaksana merupakan kesempurnaan pula. Kekuasaan-Nya merupakan kesempurnaan. Ampunan-Nya merupakan kesempurnaan. Penyertaan kekuasaan dengan ampunan merupakan kesempurnaan. Begitu pula ampunan setelah kekuasaan, “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Mahakuasa ”, atau penyertaan ilmu dengan kelemahlembutan, ‘Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”

Para malaikat penyangga ‘Arsy ada empat: Dua malaikat yang mengucapkan, “Mahasuci engkauya Allah dan dengan puji-Mu, bagi-Mu segala pujian atas kesantunan-Mu setelah ilmu-Mu”, dan dua malaikat yang mengucapkan, “Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan puji-Mu, bagi-Mu segala puji atas ampunan-Mu setelah kekuasaan-Mu. ”

Tidak semua orang yang berkuasa mau memaafkan dan tidak setiap orang yang bisa memaafkan mau memaafkan berdasarkan kekuasaan. Tidak orang yang mengetahui adalah penyantun dan tidak setiap penyantun adalah mengetahui. Tidak ada sesuatu yang disertakan kepada yang lain, yang lebih bagus daripada penyertaan kesantunan kepada ilmu, penyertaan ampunan kepada kekuasaan, penyertaan kekuasaan kepada pujian, penyertaan keperkasaan kepada rahmat.

“Dan, sesungguhnya Rabbmu benar-benarDialah YangMaha Perkasa lagi Maha Penyayang. ”(Asy-Syu’ara’: 9).

Dari sinilah muncul perkataan Al-Masih Alaihis-Salam,

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118).

Perkataan yang demikian ini lebih baik daripada perkataan, “Jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Atau perkataan, “Jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya sumber ampunan-Mu adalah dari keperkasaan”.

Yang demikian itu mencerminkan kesempurnaan kekua- saan dan yang berasal dari hikmah, yang juga merupakan kesempurnaan ilmu. Orang yang mengampuni karena lemah dan bodoh tentang kejahatan pelaku tindak kejahatan, bukan orang yang berkuasa, bijaksana dan mengetahui. Yang demikian itu tidak terjadi melainkan karena kelemahan. Engkau tidak mengampuni kecuali melainkan karena kekuasaan yang sempurna dan ilmu yang sempurna serta hikmah, yang dengan hikmah itu Engkau meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Hal ini lebih baik daripada penyebutan Al-Ghafuur Ar-Rahiim dalam keadaan seperti ini, karena menunjukkan kepada penyebutan pemaparan per-
mintaan ampunan pada saat yang tepat.

Sekiranya Al-Masih berkata, “Jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, maka yang demikian ini termasuk memohon belas kasihan dan pemaparan permintaan ampunan bagi or- ang yang tidak layak menerimanya. Hal ini tidak berlaku bagi orang yang kedudukannya semacam Al-Masih, apalagi ada kedudukan pengagungan, kedudukan pembalasan dari orang yang mengangkat putra bagi Allah atau menjadikan sesembahan selain-Nya. Jadi disebutkannya keperkasaan dan kebijaksanaan di sini lebih tepat daripada disebutkan rahmat dan ampunan.

Hal ini berbeda dengan perkataan Al-Khalil, Ibrahim Alaihis-Salam,

“Dan, jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasukgolonganku, dan barangsiapa mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "(Ibrahim: 35-36).

Ibrahim tidak mengatakan, “Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Sebab kedudukannya adalah kedudukan memohon belas kasihan dan pemaparan doa. Dengan kata lain, jika Engkau mengampuni dan merahmatinya, dengan memberikan taufik untuk kembali dari syirik ke tauhid, dari kedurhakaan ke ketaatan, seperti yang disebutkan dalam hadits,

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Di sini terkandung bukti yang akurat bahwa asma’ Allah diambilkan dari beberapa sifat dan makna yang menunjangnya, dan bahwa setiap asma’ selaras dengan apa yang disebutkan bersamanya dan yang menyertainya, baik dari perbuatan maupun perintah-Nya. Hanya Aliahlah yang memberikan taufik kepada kebenaran.

Beberapa Tingkatan Hidayah Yang Khusus dan Umum

Tingkatan Pertama:

Tingkatan pembicaraan Allah kepada hamba- Nya tanpa perantara, bahkan juga pembicaraan dari manusia dengan Allah. Ini merupakan tingkatan hidayah yang paling tinggi, sebagaimana Allah telah berbicara kepada Musa bin Imran Alaihis-Salam, yang memiliki tingkatan lebih tinggi daripada nabi kita. Allah befirman,

"Dan, Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. ”(An- Nisa’: 164).

Di awal ayat ini Allah menyebutkan wahyu-Nya kepada Nuh dan beberapa nabi sesudahnya. Kemudian mengkhususkan Musa di antara mereka dengan suatu pengabaran bahwa Allah berbicara kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa pembicaraan ini lebih khusus daripada kemutlakan wahyu yang disebutkan di awal ayat ini. Kemudian hal ini dikuatkan lagi dengan penggunaan mashdar yang hakiki dari kallama, yaitu taklim. Hal ini untuk menyanggah anggapan yang mengada-ada dari golongan Jahmiyah, Mu’tazilah dan lain-lainnya, bahwa yang dimaksud dengan pembicaraan ini adalah ilham atau isyarat atau definisi untuk suatu makna kejiwaan dengan sesuatu yang langsung. Penguatan dengan mashdar ini dimaksudkan untuk mewujudkan penisbatan dan menghilangkan kiasan.

Al-Farra’ berkata, “Orang-orang Arab menyebut sesuatu yang sampai kepada manusia dengan sebutan perkataan, entah dengan cara bagaimana pun perkataan itu sampai. Tapi hal itu tidak dikuatkan dengan mashdar. Jika dikuatkan dengan mashdar, maka tiada lain itu adalah hakikat perkataan, seperti kata iraadah. Jika dikatakan, Fulan araada iraadatan” artinya dia benar-benar menghendaki hakikat kehendak. Jika dikatakan, “Araada al-jidaar”, tak perlu kata iraadah, karena perkataan ini dimaksudkan sebagai kiasan dan bukan hakikat. Jadi itu memang perkataan Allah. Firman-Nya,

“Dan, tatkala Musa datang untuk (munajatdengan Kami)pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah befirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, ‘Ya Rabbku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau’.” (Al' A’raf: 143).

Pembicaraan ini berbeda dengan pembicaraan pertama yang saat itu Allah mengutusnya kepada Fir’aun. Dalam pembicaraan yang kedua ini Musa meminta untuk dapat melihat Allah dan bukan pada pembicaraan yang pertama, yang pada saat itu Musa diberi lembar-lembar Al-Kitab.

Pembicaraan yang kedua ini berasal dari janji Allah kepadanya. Sedangkan pembicaraan yang pertama tidak diawali dengan perjanjian. Saat itu Allah befirman,

“Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (dimasamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. ”(A1-A’raf: 144).

Artinya menurut ijma’ ulama, Aku berbicara langsung denganmu. Allah juga telah mengabarkan di dalam Kitab-Nya bahwa Musa berseru dan bermunajat kepada-Nya. Berseru dari jarak yang jauh, sedangkan bermunajat dari jarak yang dekat. Orang-orang Arab berkata, “Jika lingkarannya besar, maka itu namanya seruan.”

Bapaknya, Adam berkata saat berdebat dengannya, “Engkau adalah Musa yang dipilih Allah dengan perkataan-Nya dan yang menulis Taurat bagimu dengan Tangan-Nya.” Ini pula yang biasa diucapkan orang-orang yang mencari syafaat darinya kepada Allah. Begitu pula yang disebutkan di dalam hadits Isra’ tentang riwayat Musa di langit keenam atau ketujuh, karena ada perbedaan riwayat, “Yang demikian itu merupakan karunianya karena perkataan Allah.” Sekiranya pembicaraan ini terjadi seperti yang dialami para nabi yang lain, maka pengkhususan bagi Musa yang disebutkan di dalam berbagai hadits ini tidak punya makna apa pun, dan Musa tidak akan disebut /Kaliimu Ar-Rahman (Orang yang berbicara langsung dengan Allah Yang Maha Pemurah). Firman Allah,

“Dan, tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yangDia kehendaki. ”(Asy-Syura: 51).

Jadi ada perbedaan antara berbicara dengan perantaraan wahyu, berbicara dengan cara mengirim seorang utusan dan berbicara dari belakang tabir.

Tingkatan Kedua:

Tingkatan wahyu yang dikhususkan bagi para nabi. Frrman Allah,

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya. ”(An-Nisa’: 163).

“Dan, tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir... ”(Asy-Syura: 51).

Allah menjadikan wahyu di dalam ayat ini sebagai bagian dari bagian-bagian pembicaraan, sementara menjadikan wahyu di surat An-Nisa’ hanya satu macam pembicaraan. Hal ini atas dua pertimbangan:

  • Itu merupakan satu-satunya bagian pembicaraan yang khusus, tanpa perantaraan.
  • Merupakan bagian dari pembicaraan yang bersifat umum, yang maksudnya adalah penyampaian makna dengan beberapa cara.

Wahyu itu sendiri menurut pengertian bahasa ialah pemberitahuan yang cepat dan tersembunyi. Kata kerjanya ialah wahaa auhaa.

Tingkatan Ketiga:

Pengiriman utusan dari jenis malaikat kepada utusan dari jenis manusia, lalu ia mewahyukan kepadanya dari Allah menurut apa yang diperintahkan-Nya untuk disampaikan kepadanya.

Tiga tingkatan ini khusus bagi para nabi dan bukan bagi selain mereka. Utusan dari jenis malaikat ini bisa berwujud seorang laki-laki di hadapan utusan dari jenis manusia, sehingga utusan dari jenis manusia dapat melihatnya secara nyata dan juga berdialog dengannya. Adakalanya dia melihatnya dalam bentuk asli sebagaimana ia diciptakan. Adakalanya malaikat masuk ke dalam dirinya dan mewahyukan kepadanya apa yang harus diwahyukan, kemudian keluar berlepas diri darinya. Ketiga cara ini pernah dialami nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tingkatan Keempat:

Tingkatan tahdits (pengabaran). Hal ini berbeda dengan tingkatan wahyu yang khusus dan juga berbeda de-
ngan tingkatan para shiddiqin, seperti yang terjadi pada diri Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu Anhu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya ada orang-orang di umat-umat sebelum kalianyang mendapatpengabaran. Sekiranyayangdemikian itu terjadidi tengah umat ini, maka dia adalah Umar bin Al-Khaththab.”

Aku pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,

“ Sudah ada ketetapan bahwa mereka itu adalah orang-orang di tengah umat-umat sebelum kita. Keberadaan mereka di tengah umat ini diberi catatan dengan huruf in yang menggambarkan kalimat bersyarat. Padahal umat ini merupakan umat yang paling baik, karena kebutuhan berbagai umat sebelum kita kepada umat kita, sementara umat ini tidak membutuhkan mereka karena kesempurnaan nabi dan risalahnya. Allah tidak membuat umat ini, sepeninggal beliau membutuhkan muhaddats (seseorang yang mendapat pengabaran atau mulham (orang yang diberi ilham), tidak pula orang yang pandai mengungkap rahasia dan tabir mimpi. Pemberian catatan ini terjadi karena kesempurnaan umat ini dan kecukupannya dan bukan karena kekurangannya.”

Muhaddats adalah orang yang diberitahu tentang sesuatu di dalam hatinya, sehingga kejadiannya persis seperti apa yang diberitakannya.

Syaikh kami berkata, “Shiddiq lebih sempurna daripada muhaddats, karena dengan kesempurnaan shiddiqiyah dan keikutsertaannya dia tidak membutuhkan pemberitahuan, ilham dan pengungkapan. Dia telah menyerahkan segenap hati, rahasia, zhahir dan batinnya kepada Rasul, sehingga dia tidak membutuhkan selain beliau.”

Tingkatan Kelima:

Tingkatan pemberian pemahaman. Allah befirman,

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan, adalah Kami menyaksikan keputusanyang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikanpengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masingmereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. ”(A1-Anbiya’: 78-79).

Allah menyebutkan dua nabi yang mulia ini dan memuji keduanya

dengan ilmu dan hikmah. Sementara Sulaiman dikhususkan dengan pemahaman dalam peristiwa ini. Ali bin Abu Thalib pernah ditanya, “Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengkhususkan kamu sekalian dengan sesuatu tanpa manusia yang lain?” Maka dia menjawab,

“Tidak. Tapi demi yang menumbuhkan butir tanaman dan yang menghembuskan angin, melainkan hanya pemahaman yang diberikan Allah kepada seorang hamba tentang Kitab-Nya dan apa yang ada di alam Mushaf ini. Di dalamnya ada akal, yaitu diyat, pembebasan tawanan dan seorang Muslim tidak boleh dibunuh karena membela orang kafir.”

Dalam surat yang dikirimkan Umar bin Al-Khaththab kepada Abu Musa Al-Asy’ary, tercantum perkataannya,

“Dan pemahaman yang kusampaikan kepadamu.”

Pemahaman merupakan nikmat Allah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya dan merupakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam hatinya, yang dengan cahaya itu dia bisa mengetahui dan mengenal apa yang tidak dikenali orang lain, dapat memahami nash yang tidak dipahami orang lain, padahal keduanya sama-sama menghapalnya dan memahami dasar maknanya.

Pemahaman tentang Allah dan Rasul-Nya merupakan tema shiddi-qiyah dan maklumat perwalian kenabian. Karena pemahaman ini pula terjadi keragaman tingkatan-tingkatan ulama, hingga seribu orang disetarakan dengan satu orang. Perhatikan pemahaman Ibnu Abbas, saat dia ditanya Umar dan orang-orang yang hadir ketika itu dari kalangan orang-orang yang pernah ikut perang Badr dan juga lain-lainnya, tentang surat An-Nashr, karena hanya dialah yang memahami surat ini, bahwa surat ini merupakan pemberitahuan Allah kepada Nabi-Nya tentang kematian dirinya dan pengabaran tentang kedatangan ajalnya.

Umar menerima jawaban Ibnu Abbas ini, karena dia dan sahabat lain memang tidak mengetahuinya. Padahal saat itu Ibnu Abbas adalah orang yang paling muda di antara mereka. Di mana letak pengabaran ajal beliau di dalam surat ini kalau bukan karena pemahaman yang khusus? Masalah ini menyusut hingga beberapa tingkatan yang mencerminkan kesempitan pemahaman mayoritas manusia, sehingga meskipun sudah ada nash, orang membutuhkan yang selainnya dan tidak menggunakan nash menurut haknya. Adapun menurut hak orang yang paham, maka dia tidak membutuhkan selain nash kalau memang sudah ada nash.

Tingkatan Keenam:

Tingkatan penjelasan yang bersifat umum, yaitu penjelasan kebenaran dan membedakannya dari yang batil berdasarkan dalil-dalil, saksi-saksi dan tanda-tandanya, sehingga kebenaran itu seakan menjadi sesuatu yang bisa disaksikan hati, seperti mata yang dapat melihat obyek benda yang dapat dilihat. Tingkatan ini merupakan hujjah Allah atas makhluk-Nya. Allah tidak mengadzab atau menyesatkan seseorang melainkan setelah kebenaran ini sampai ke hatinya. Firman Allah,

"Dan, Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatukaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka Nngga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus merekajauhi. ”(At-Taubah: 115).

Penyesatan ini merupakan hukuman bagi mereka dari Allah, setelah Allah memberi penjelasan kepada mereka, namun mereka tidak mau menerima penjelasan itu dan tidak mau mengamalkannya. Karena itulah Allah menyiksa mereka dengan cara menyesatkan mereka dari petunjuk. Sekali-kali Allah tidak menyesatkan seorang pun kecuali setelah adanya penjelasan ini. Jika engkau sudah mengetahui hal ini, tentu engkau bisa mengetahui rahasia qadar. Berbagai macam keraguan dan syubhat mengenai masalah ini bisa sirna dari pikiranmu dan engkau bisa mengetahui hikmah Allah, mengapa Dia menyesatkan orang yang disesatkan-Nya dari hamba-hamba-Nya. Allah mengungkap masalah ini tidak hanya di satu tempat saja, seperti firman-Nya,

"Maka tatkala mereka berpaling (detri kebenaran), Allah mema- lingkan hati mereka. ”(Ash-Shaff: 5).

“Dan mereka mengatakan, ‘Hati kami tertutup ’. Bahkan sebenar- nya Allah telah menguncimati hati mereka karena kekafirannya. ” (An-Nisa’: 155).

Pada ayat yang pertama disebut kufur ‘inaad, dan pada ayat yang kedua disebut kufur thab’. Firman Allah yang lain,

“Dan (begitupula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. ”(A1-An’am: 110).

Allah menyiksa mereka dengan cara meninggalkan keimanan kepada Al-Qur’an pada saat seharusnya mereka meyakininya. Caranya, Allah memalingkan hati dan penglihatan mereka, sehingga mereka tidak mengikuti petunjuknya. Perhatikan secara seksama masalah ini, karena itu merupakan masalah yang sangat besar. Firman Allah,

“Dan, adapun kaum Tsamudmaka mereka telah Kami beripetunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. ” (Fushshilat: 17).

Ini merupakan petunjuk setelah ada penjelasan dan bukti. Penjelasan ini merupakan syarat dan bukan sekedar alasan. Sebab jika tidak disertai petunjuk lain bersamanya, tidak akan terjadi kesempurnaan petunjuk, yaitu petunjuk taufiq dan ilham.

Penjelasan ini ada dua macam: Penjelasan dengan ayat-ayat yang didengar dan dibaca, penjelasan dengan ayat-ayat yang disaksikan dan dilihat. Kedua-duanya merupakan dalil dan ayat-ayat (bukti kekuasaan) tentang tauhid Allah, asma’, sifat dan kesempurnaan-Nya serta kebenaran apa yang dikabarkan dari-Nya. Karena itulah Allah menyeru hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat-Nya yang bisa dibaca, agar mereka memikirkan ayat-ayat-Nya yang dapat disaksikan. Allah juga menganjurkan agar mereka memikirkan yang ini dan yang itu. Karena penjelasan inilah Allah mengutus para rasul, menyampaikannya kepada mereka dan kepada para ulama sesudah mereka. Setelah itu Allah menyesatkan siapa pun yang dikehendaki-Nya. Allah befirman,

“Dan, Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Dialah Yang Mahakuasa lagi Maha Bijaksana. "(Ibrahim: 4).

Para rasul yang menjelaskan dan Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya dengan kekuasaan dan hikmah-Nya.

Tingkatan Ketujuh:

Penjelasan bersifat khusus, yaitu penjelasan yang mendatangkan petunjuk khusus, atau penjelasan yang disertai pertolongan, taufiq dan pilihan, pemutusan sebab-sebab kehinaan dan materinya dari hati, sehingga tidak ada petunjuk yang lolos darinya sama sekali. Allah befirman tentang tingkatan ini,

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya. ”(An-Nahl: 37).

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberipetunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. ”(Al-Qashash: 56).

Penjelasan yang pertama disebut syarat dan yang kedua disebut alasan.

Tingkatan Kedelapan:

Tingkatan pendengaran. Allah befirman,

‘Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan, jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). "(Al-Anfal: 23).

“Dan, tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yangpanas, dan tidak (pula) sama orang orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapayang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. "(Fathir: 19-23).

Mendengar semacam ini lebih khusus daripada mendengar hujjah dan apa yang disampaikan. Sebab yang demikian itu dapat terjadi pada diri mereka dan karenanya ditegakkan hujjah atas mereka. Tetapi itu hanya sekedar membuat telinga bisa mendengar. Yang dimaksud di sini ialah membuat hati bisa mendengar. Perkataan mempunyai lafazh dan makna.

Perkataan itu mempunyai hubungan ke telinga dan hati serta terkait dengan keduanya. Mendengar lafazhnya merupakan bagian telinga dan mendengar hakikat makna dan maksudnya merupakan bagian hati. Allah meniadakan pendengaran maksud dan tujuan yang menjadi bagian hati dari diri or- ang-orang kafir, dan hanya menetapkan pendengaran lafazh yang menjadi bagian telinga, dalam firman-Nya,

Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main. ”(Al-Anbiya’: 2).

Mendengar semacam ini tidak mendatangkan manfaat apa pun kecuali penegakan hujjah atas pendengarnya atau pengaruh yang diterima darinya. Adapun maksud pendengaran dan hasilnya serta apa yang dituntut darinya tidak akan terwujud jika disertai canda hati, kelalaian dan keberpalingannya. Bahkan pendengarnya bisa keluar seraya mengatakan kepada orang lain yang hadir bersamanya,

‘“Apakah yang dikatakannya tadi?’ Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah. "(Muhammad: 16).

Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan pemahaman, bahwa tingkatan ini hanya bisa memperoleh hasil lewat telinga. Sedangkan tingkatan pemahaman sifatnya lebih umum. Jadi tingkatan ini lebih khusus daripada tingkatan pemahaman jika dilihat dari sisi ini. Tapi tingkatan pemahaman bisa lebih khusus daripada tingkatan ini jika dilihat dari sisi lain, yaitu jika ia berkaitan dengan makna yang dimaksudkan, keharusan, kontekstual dan isyarat-isyaratnya. Inti tingkatan pendengaran ialah menyampaikan maksud dengan seruan ke hati. Pendengaran ini disusuli dengan pendengaran penerimaan.

Jadi di sana ada tiga tingkatan: Pendengaran telinga, pendengaran hati dan pendengaran penerimaan serta pemenuhan.

Tingkatan Kesembilan:

Tingkatan Ilham. Allah befirman,

“Dan, jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepadajiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.’’ (Asy-Syams: 7-8).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Hushain bin Al Khuza’y ketika dia masuk Islam,

“Ucapkanlah, ‘Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku petunjukku dan lindungilah aku dari kejahatan diriku’.”

Pengarang Al-Manazil menjadikan ilham merupakan kedudukan muhaddatsin (orang-orang yang mendapat pengabaran). Menurutnya, ilham di atas kedudukan firasat, karena boleh jadi firasat itu terjadi hanya sesekali waktu dan pelakunya sulit memilih waktu tertentu dan firasat itu pun tidak bisa ditundukkan. Sementara ilham tidak terjadi kecuali dalam kedudukan yang agung.

Saya katakan, tahdits (pengabaran) lebih khusus daripada ilham. Sebab ilham bersifat umum bagi orang-orang Mukmin, tergantung dari iman mereka. Setiap orang Mukmin diilhami petunjuk Allah, yang dengan ilham itu dia memperoleh iman. Adapun tentang pengabaran, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

“Sekiranya yang demikian itu terjadi di tengah umat ini, maka dia adalah Umar bin Al-Khaththab.”

Artinya, dia termasuk orang-orang yang mendapat pengabaran. Pengabaran ini merupakan ilham khusus, semacam wahyu yang diberikan kepada selain para nabi. Hal ini bisa terjadi terhadap orang-orang mukallaf, seperti firman Allah,

“Dan, Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah ia’. ”(A1-Qashash: 7).

“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, ‘Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku ’. ”(A1-Maidah: 111).

Juga bisa terjadi terhadap selain yang mukallaf, seperti firman-Nya,

‘‘Dan, Rabbmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, dipohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’. ”(An-Nahl: 68).

Semua ini merupakan wahyu ilham. Adapun tentang pengarang Al-Manazil yang menjadikan ilham di atas kedudukan firasat, maka dia berhujjah bahwa boleh jadi firasat itu sesekali waktu seperti yang telah di- sampaikan di atas. Sesuatu yang terjadi sesekali waktu tidak mempunyai hukum. Boleh jadi pelakunya juga kesulitan mengendalikan firasat ini dan tidak bisa menundukkannya. Sementara ilham tidak terjadi kecuali dalam kedudukan yang agung, yakni dalam kedudukan yang dekat dengan Allah.

Yang pasti dalam masalah ini, bahwa masing-masing di antara firasat dan ilham dibagi menjadi umum dan khusus, dan masing-masing di antara keduanya bisa di atas keumuman yang lain. Keumuman masing-masing seringkali terjadi. Sementara yang khusus terjadi sesekali waktu. Tetapi perbedaan yang benar, bahwa firasat bisa berkait dengan satu jenis usaha dan hasil. Sedangkan ilham merupakan anugerah yang murni, yang tidak bisa diperoleh dengan usaha sama sekali.

Tingkatan Kesepuluh:

Tingkatan mimpi yang menjadi kenyataan. Hal ini termasuk bagian-bagian nubuwah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Mimpi yang benar merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwah. ”

Ada yang berpendapat tentang sebab hal ini, yang menjadi sebab pengkhususan apa yang disebutkan di sini, bahwa permulaan wahyu ialah berupa mimpi yang benar. Hal ini terjadi selama setengah tahun. Kemudian beralih ke wahyu yang nyata selama dua puluh tiga tahun, semenjak beliau diutus sebagai rasul hingga wafat. Karena itulah penisbatan rentang waktu wahyu yang diturunkan dalam mimpi merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian. Pendapat ini bisa diterima sekiranya tidak ada riwayat lain yang shahih, yang menyebutkan bahwa mimpi yang benar ini merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian.

Al-Fatihah Mencakup Dua Macam Kesembuhan: Kesembuhan Hati dan Kesembuhan Badan

Cakupan surat Al-Fatihah terhadap kesembuhan hati merupakan cakupan yang paling sempurna. Sementara inti penyakit hati dan deritanya terfokus pada dua pokok: Kerusakan ilmu dan kerusakan maksud. Penyakit ini disusul dengan dua penyakit mematikan, yaitu kesesatan dan amarah.

Kesesatan merupakan akibat dari kerusakan ilmu dan amarah merupakan akibat dari kerusakan maksud.

Dua penyakit ini merupakan induk seluruh penyakit hati. Petunjuk ash-shiraath al-mustaqiim menjamin kesembuhan dari penyakit kesesatan. Karena itu memohon petunjuk ini merupakan doa yang paling wajib dipanjatkan setiap hamba dan harus dia lakukan setiap siang dan malam serta pada setiap shalat, mengingat urgensi dan kebutuhannya kepada petunjuk yang memang harus dicarinya.

Tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan permohonan ini. Mewujudkan iyyaaka na ’budu wa iyyaaka nasta ’iin dari segi ilmu, ma’rifat, amal dan keadaan menjamin kesembuhan dari penyakit kerusakan hati dan maksud. Kerusakan maksud berkaitan dengan tujuan dan sarana. Siapa yang mencari tujuan yang terputus, yang lemah dan fana, meng-
gapainya dengan berbagai macam sarana yang menghantarkan kepadanya, maka masing-masing dari dua jenis maksudnya itu sama-sama rusak.

Inilah keadaan setiap orang yang maksudnya adalah selain Allah dan menyembahnya dari kalangan orang-orang musyrik dan yang mengikuti hawa nafsunya, yaitu mereka yang tidak mempunyai maksud di belakang itu. Yang juga termasuk golongan ini ialah para penguasa dan pemimpin yang menjadi panutan, yang menegakkan kekuasaannya dengan cara apa pun, yang benar atau batil. Jika datang kebenaran yang menghadang jalan kekuasaannya, maka dia melindasnya dan menendang dengan kedua kakinya.

Jika mereka tidak mampu melakukannya, maka mereka mengenyahkannya seperti binatang jalang yang suka menerkam. Jika mereka tidak mampu melakukannya, maka mereka menahannya di tengah jalan lalu meniti jalan lain. Mereka selalu siap untuk mengenyahkan kebenaran itu menurut kesanggupan. Jika tidak ada lagi kesanggupan itu, mereka siap menyodorkan uang kepadanya dan kesempatan untuk berpidato, mereka menjauhkannya dari hukum dan penerapannya.

Jika datang kebenaran yang mendukung mereka, maka seketika itu pula mereka meloncat ke arahnya dan mendatanginya dengan patuh, bukan karena kebenaran itu merupakan kebenaran, tetapi karena kesesuaian maksud dan hawa nafsu mereka dengan kebenaran itu. Firman Allah,

"Dan, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka?
sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zhalim. ”(An-Nur: 48-50).

Dengan kata lain, maksud mereka itu rusak, baik tujuan maupun sarananya. Jika tujuan yang mereka cari itu gagal, melemah dan bahkan kemudian berakhir, berarti mereka hanya mendapatkan kerugian yang amat besar. Mereka adalah orang-orang yang amat menyesal dan merugi jika yang benar menjadi benar dan yang batil menjadi batil, jika faktor-
faktor yang menunjang pencapaian tujuan terputus dan mereka pun yakin akan ketinggalan dari prosesi keberuntungan dan kebahagiaan.

Yang demikian ini seringkali terjadi di dunia. Yang tampak lebih jelas ialah pada diri seseorang yang melalui jalan ini dan ketika menghadap Allah. Kedatangan dan kehadirannya di Barzakh menjadi keras. Semuanya akan terungkap pada hari kiamat, karena semua hakikat akan tersibak. Saat itulah orang-orang yang benar akan beruntung dan orang-orang yang batil akan merugi. Saat itulah mereka baru menyadari bahwa ternyata mereka adalah para pendusta, mereka adalah orang-orang yang tertipu dan terkecoh.

Tapi orang yang mengetahuinya saat itu, tidak lagi dapat terbantu oleh ilmunya, begitu pula keyakinannya. Begitu pula keadaan orang yang mencari tujuan tertinggi dan puncak obyek pencarian, tetapi dia tidak dapat mencapainya dengan sarana yang menghantarkannya ke tujuan itu, namun dia menggunakan sarana yang dikiranya dapat menghantarkan dirinya. Ini juga termasuk pemutus tujuan yang paling besar. Keadaannya tak berbeda jauh dengan keadaan di atas. Tujuan keduanya sama-sama rusak. Tidak ada kesembuhan dari penyakit ini kecuali dengan obat iyyaaka na 'budu wa iyyaaka nasta ’iin.

Komposisi obat ini ada enam macam:

  1. Ibadah kepada Allah bukan kepada selain-Nya.
  2. Dengan perintah dan syariat-Nya.
  3. Bukan dengan hawa nafsu.
  4. Bukan dengan pendapat, konsep, gambaran dan pemikiran manusia.
  5. Dengan memohon pertolongan untuk beribadah kepada-Nya.
  6. Bukan dengan diri hamba, kekuatan dan keadaannya, juga bukan dengan selain-Nya.

Inilah partikel-partikel iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Jika seorang dokter yang lemah lembut dan bisa mendeteksi jenis penyakit, meramunya serta menyerahkannya kepada pasien, tentu dia akan sembuh total. Kalau pun tidak sembuh total, berarti ada salah satu atau lebih dari komposisinya yang ketinggalan.

Hati bisa terjangkiti dua macam penyakit ganas, yang jika keduanya tidak dideteksi, tentu akan melemparkannya ke kebinasaan, dan itu pasti, yaitu riya’ dan terkabur. Adapun obat riya’ ialah iyyaaka na ’budu dan obat terkabur ialah iyyaaka nasta ’iin. Seringkah saya mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata,

"Iyyaaka na ’budu menghilangkan riya’ dan iyyaaka nasta ’iin menghilangkan terkabur.”

Jika seseorang bisa disembuhkan dari penyakit riya’ dengan iyyaaka na ’budu, dari penyakit takabur dan ujub dengan iyyaaka nasta ’iin, dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan ihdinaa ash-shiraath al- mustaqiim, berarti dia sembuh dari segala penyakit dan derita, berarti dia berada dalam pahala afiat, mendapatkan kenikmatan yang sempurna, dia termasuk orang-orang yang dianugerahi nikmat dan bukan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang tujuannya rusak, yang mengetahui kebenaran namun menyimpang darinya, serta orang-orang yang sesat, yaitu mereka yang ilmunya rusak, yang tidak mengetahui kebenaran dan tidak mengenalnya.

Sudah selayaknya jika suatu surat yang mencakup dua kesembuhan ini mampu menyembuhkan setiap penyakit. Karena itu ketika Al-Fatihah mencakup kesembuhan ini, yang lebih besar dari dua macam kesembuhan maka ia lebih layak untuk menyembuhkan penyakit yang lebih ringan.

Hal ini akan saya jelaskan di bagian mendatang. Tidak ada sesuatu yang lebih dapat menyembuhkan hati yang memikirkan Allah dan kalam-Nya, yang memahami tentang Allah dengan pemahaman yang khusus, selain dari memahami makna-makna surat ini.