Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam", melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.
Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.
Menjelang NU berdiri, Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan menjelaskan bahwa ulama-ulama di Haromain berkumpul termasuk KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang saat itu juga berada di Mekkah dan berusaha menyampaikan maksud pendirian NU kepada para gurunya itu. Mereka sepakat menyarankan KH Hasyim Asy’ari pulang ke Indonesia untuk menemui 2 ulama besar.
Pelajari sejarah dengan tuntas
Dalam kesempatan diskusi dengan tim Anjangsana Islam Nudantara tersebut, Habib Luthfi bin Yahya juga berpesan, mempelajari sejarah masa lalu adalah sebuah keharusan. Terlebih bagi para generasi pemuda saat ini. Menurutnya, sejarah bisa dijadikan ibrah dan marajiul hayat (parameter kehidupan) hari ini dan masa mendatang.
Di samping itu, katanya, mempelajari sejarah harus tuntas. Tidak sepenggal-sepenggal. Data-data yang digunakan juga harus valid. Hal ini penting, terlebih di tengah munculnya orang-orang yang mempertanyakan keotentikan sejarah Walisongo.
Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Tharoqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini menerangkan, konsep Walisongo adalah periodik. Setiap wali menggantikan posisi wali yang lain. Di era Sunan Ampel dan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Geseng, Sunan Tembayat adalah bagian dari Walisongo. Jadi, nama-nama Walisongo yang makamnya sering diziarahi tidak semuanya hidup dalam satu periode.
Atas saran Habib Luhtfi terkait peran Habib Hasyim dalam pendirian Nahdlatul Ulama, tim Anjangsana Islam Nusantara yang terdiri dari 17 orang itu meluncur ke makam leluhur Habib Luhtfi tersebut yang terletak tidak jauh di komplek Makam Sapuro Pekalongan
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-bin/content.cgi/artikel/kilas_sejarah_pendirian_nu.single
http://www.nu.or.id/post/read/75115/habib-luthfi-ungkap-2-ulama-penting-dalam-penentuan-berdirinya-nu