Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Lebih Mudah Mana? Mendengarkan Atau Berbicara?

d40cfed0ed2e92ffe78f3e95a55dadfa|600x300

Kadang kalo kita lagi sharing sama temen, suka sebel ya kalo lagi cerita terus dipotong. Kadang kalo lawan bicara kita terlalu lama bercerita, kita juga bingung harus merespon seperti apa karena malah ga paham sama ceritanya. Lantas kalau menurut kalian lebih mudah mendengarkan atau berbicara?

97

Menurut saya menjadi pendengar lebih sulit daripada berbicara. Kita bisa berbicara tentang sesuatu yang ada di pikiran kita namun kita belum tentu dapat menjadi pendengar yang baik. Terkadang memang kita sedikit kehilangan konsentrasi ketika mendengarkan orang lain berbicara sehingga bingung dengan apa yang sedang dibicarakan. Berbeda dengan berbicara kita bisa menyampaikan apa saja yang ada dalam pikiran kita dan biarkan orang lain yang merespon.

Kalau menurutku, lebih mudah mendengarkan dibanding berbicara. Karena dengan berbicara kita harus memastikan pesan yang ingin kita sampaikan dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar, dengan mengatur tata bahasa yang baik dan benar. Agar tidak terjadi miskomunikasi. Sedangkan mendengar, hanya butuh diam, memasang kuping, dan memberi perhatian saja. Dua-duanya memang tetap membutuhkan usaha dan tidak mudah, namun 'mendengar' (sepertinya) tidak terlalu membutuhkan usaha yang lebih seperti ketika kita sedang 'berbicara'.

Menurut aku, karna kita sebagai manusia diberikan 2 telinga dan 1 mulut, sehingga lebih baik untuk banyak mendengar daripada berbicara. Kenapa? karena dengan mendengar kita lebih banyak mendapatkan informasi atau pengetahuan, sementara kalau banyak berbicara yang tujuan seharusnya untuk menyampaikan sebuah kebenaran, malah berbanding terbalik dengan menyampaikan hal-hal yang tidak masuk akal atau sesat untuk orang lain seperti memfitnah, menggibah, menuduh hingga menimbulkan permusuhan.

Banyak sekali orang yang menyesal di kemudian hari hanya karena perkataan yang diucapkannya. Menarik perkataan yang belum terucap jauh lebih mudah daripada menarik perkataan yang “sudah terlanjur” diucapkan. Mengapa? Karena jika kita banyak berbicara, maka akan ada banyak sekali perkataan yang menguasai diri, baik itu benar atau tidak.

Banyak mendengar bukan berarti tidak boleh berbicara, namun perlu memilah-milah, mana waktu yang tepat untuk berbicara dan mana waktu yang tepat untuk mendengarkan.

Bagi sebagian orang, dua hal itu mampu mereka lakukan sama baiknya.

Sementara sebagian yang lain tidak. Yang satu mengaku, lebih senang berbicara daripada mendengar. Baginya ngomong berjam-jam itu gampang, tapi mendengarkan itu melelahkan dan menyiksa diri. Yang lain lebih suka mendengarkan, meski harus memiliki kesabaran tinggi. Maklum, ia selalu takut keliru bicara atau khawatir omongannya disalahartikan.

Jadi, jika di beri pilihan antara 2 tersebut. Mungkin masing-masing orang akan berbeda jawaban, sesuai dengan kemampuan yang ia miliki

Kalau saya pribadi lebih memilih yang mudah mendengarkan. Karena saya sendiri terkadang sulit untuk berbicara dan mengungkapkan. Hal lainnya juga karena saya lebih suka untuk mendengarkan hal-hal baru atau unik lainnya dari orang lain. Namun orang yang sering mendengarkan pun juga ingin didengarkan pula, namun kenyataannya kadang orang yang sudah kita dengarkan memilki respon yang kurang enak ketika kita berada di posisi mereka sebelumnya.

Menurut saya pribadi dan beberapa pengalaman saya, lebih mudah mendengarkan, karena berbicara kita harus bisa lebih memilih kosa kata dan beberapa kata harus sudah matang jika ingin diucapkan agar pendengar tidak merasa tersinggung atau bahkan sakit hati karena omongan kita, dan menurut saya membuat pembicaraan yang enak didengar dan tidak menyakiti hati itu susah

Menurut saya, mendengarkan dan berbicara ini keduanya sama-sama sulit. Ketika berbicara kita harus pastikan bahwa pesan yang tersampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik. Dan ketika mendengarkan pun, kita harus menyimak dan memahami dengan baik juga. Keduanya membutuhkan keahlian. Kita tidak dapat sembarangan berbicara karena ditakutkan seorang yang mendengarkan cerita kita bisa saja terginggung dengan ucapan kita. Dan kita juga tidak dapat diam saja mendengarkan tanpa benar-benar paham akan pesan yang sedang disampaikannya dan tidak dapat memposisikan diri pada mereka yang berbicara. Keduanya dibutuhkan keahlian untuk saling menghargai satu sama lain. Keduanya akan lebih mudah jika keduanya juga sama-sama berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Based on my self, jujur enak mendengarkan daripada berbicara. Mungkin kalo dari sisi psikologis sebenarnya memang ada karakteristik manusia yang lebih sensitifnya mendengarkan daripada mencurahkan apa yang ingin dia sampaikan. Karena alasan lebih nyaman mendengarkan lama-kelamaan sisi sensifitas terhadap mendengarkan lebih terbilang gampang daripada berbicara yang jarang dilakukan. Tapi sebenarnya pastinya setiap manusia punya kelebihan ini, baik dia pandai ngomong atau dia pandai berbicara bahkan ada yang bisa keduanya. Mungkin kata ‘gampang’ itu dipengaruhi karena dia lebih sering dan terbiasa melakukan itu. Misal, kita yang lebih sering mendengarkan curhat temen, kita jadi terbiasa mendengarkan orang lain. Dan menurutku caraku berbicara ya dari memahami orang tanpa harus mengeluarkan suara. Tapi yang ga enaknya karena lebih sering mendengarkan kalo mau beropini apa-apa jadi males buat bersuara hehe. Tapi lebih baik tingkat kepekaannya diasah keduanya sih. Bayangin kalo jago mendengarkan plus bisa menyuarakan apa yang kita dengarkan dengan tujuan positif, itu oke banget kan?

Menurut argumentasi saya dan didukung juga oleh beberapa sumber yang saya baca, akan jauh lebih mudah berbicara dibandingkan mendengarkan. Mengaka demikian, menurut Leslie H. Farber, psikolog terkenal dari AS yang bukunya menjadi kajian dunia ilmu psikologi terapan selama puluhan tahun, mendengar itu tidak hanya berarti mengunci mulut, lantaran menyimak obyek yang didengarkan. Mendengar menuntut sesuatu yang lebih. Yakni kemampuan untuk mengikuti secara imaginatif sekaligus mengenal adanya ”bahasa” lain. Sesungguhnya dalam aktivitas mendengar itu kita bicara dalam kata-kata yang lain. Bagaimana kita bisa mengartikan, ”makan” tapi bukan karena ”lapar”; ”going to bed” tapi bukan ”sleeping”; ”membaca” tapi tidak untuk ”memahami”; ”religius” tapi bukan ”agama”. Apabila kita memperhatikan omongan seseorang dengan seksama, maka kita tidak hanya mendengar kata dan kalimat yang terucap melainkan juga perasaan dan pesan yang dibawa lewat kalimat-kalimat tersebut.

Saya pribadi sempat berpikiran bahwa lebih mudah mendegarkan dibanding berbicara. Karena mendengarkan hanya tinggal diam saja sedangkan berbicara kita harus mempersiapkan hal apa yang harus dibicarakan. Namun makin kesini, ternyata mendengarkan itu tidak semudah berbicara. Kalau berbicara kita hanya tinggal mempersiapkan hal apa yang ingin dibicarakan. Nmaun kalo mendengarkan, terkadang saya harus menahan diri untuk teteap diam menunggu sampai orang lain yang berbicara itu selesai bercerita atau menjelaskan suatu hal. Dan terkadang saya kalau hanya mendegarkan saja mudah kehilangan fokus, karena tadi itu saya kalau mendengarkan kita hanya diam saja. Jad intinya menurut saya lebih mudah berbicara