Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Ramai penganut Childfree, setuju atau tidak?

oriana1withwater-1000x762|600x350

Pernikahan memang diidentikan dengan memiliki keturunan, tetapi saat ini banyak sekali digaungkan gerakan childfree atau hidup tanpa anak setelah menikah. Walau memang hal tersebut merupakan pilihan masing - masing pasangan, tetapi banyak yang mengatakan penganut gerakan ini adalah orang yang Egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak ingin terbebani dengan adanya seorang anak.

Pasangan yang secara sengaja memutuskan tidak punya anak akan dipandang rendah oleh masyarakat dan menjadi cibiran. Hal ini dilihat dari penelitian berjudul Parenthood as a Moral Imperative? Moral Outrage and the Stigmatization of Voluntary Childfree Women and Men juga menyuarakan kesimpulan yang sama yang mengatakan bahwa orang yang sengaja tidak punya anak selalu dipandang rendah oleh masyarakat. Masa depan mereka dianggap suram dan dinilai egois karena kegiatan mereka cuma bersenang-senang.

Kalo dari pandangan Youdics apakah setuju dengan adanya gerakan ini?

159

Menurut saya tidak ada masalah dengan pernyataan di atas. Childfree merupakan pilihan sebuah pasangan tidak ingin memiliki anak setelah menikah. Berbagai alasan menjadi pemicu sebuah pasangan untuk tidak memiliki anak, contohnya faktor keuangan, tidak siap bertanggung jawab dengan sesuatu yang besar, ataupun orang yang hanya ingin fokus terhadap karirnya.

sebenarnya childfree ini ada plus minusnya sih menurutku. di satu sisi itu merupakan pilihan seseorang yang mereka miliki untuk memilih apakah ingin punya anak atau tidak jadi itu hak mereka sendiri atas hidupnya. bagusnya juga mereka yang memilih childfree itu tergantung pada alasannya jika alasannya masuk akal karena tidak memiliki biaya lebih sehingga takut tidak mampu untuk membiayai, ini bagus sudah sadar sedari awal. karena kalau memaksakan juga kesian nanti anaknya yang kurang mendapatkan perhatian dari segi materi dan juga mereka yang harus mencari biaya kesana kemari takutnya ada peristiwa meminjam uang sehinga harus tutup gali lobang nah ini yang bahaya. tapi di satu sisi mereka yang memilih childfree ini kesian juga di masa tuanya tidak ada yang mengurus bila saat tua nanti ada kejadian yang tidak diinginkan seperti sakit keras sehingga tidak ada yang mengurus dan memutuskan generasi keturunan.

jadi kesimpulan yang saya ambil, childfree ini tidak bisa disebut sebagai gerakan. karena mungkin tidak bisa semua orang dapat melakukannya. perlu pertimbangan dan melihat kedua sisi baik dari sisi positif maupun negatif. dan juga untuk di negara berkembang childfree ini bagus karena bisa menekan angka kelahiran yang melonjak yang tidak dibarengi dengan angka kemakmuaran tiap perkepala. tapi untuk di negara maju yang populasi masyakaratnya sedikit ini merupakan suatu yang bahaya karena nanti 10/20 tahun kedepan tidak ada generasi penerus bagi bangsanya.

Menurutku childfree merupakan konsep yang berat untuk diterapkan di negara kita dengan budaya masyarakatnya yang sangat peduli terhadap kehidupan orang lain disekitarnya. Pasalnya Childfree merupakan sebuah gerakan yang berani melawan standar hidup keluarga Indonesia. Yang kita ketahui semua yaitu banyak dari orangtua atau bahkan pasangannya yang memiliki tujuan menikah untuk medapatkan keturunan, bahkan jika tidak kunjung diberi kepercayaan untuk mendapatkan anak disebut terlalu fokus dengan kegiatan masing-masing atau lebih parahnya salahsatunya ada yang "sakit".

Terlepas dari peran masyarakat/ keluarga sendiri dalam stigma negatif bagi kehidupan orang. Beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut antara lain masalah personal, finansial, latar belakang keluarga, kekhawatiran akan tumbuh kembang anak, isu atau permasalahan lingkungan, hingga alasan terkait emosional atau maternal ‘instinct’. Jika hal ini ingin direalisasikan tentunya diperlukan persetujuan pra nikah dari perempuan dan laki-lakinya untuk menerapkan konsep 'child free" dalam rumah tangga yang mereka bangun. Karena keputusan memiliki anak/ tidak itu adalah hak semua orang selagi tidak merugikan banyak pihak.

Bagiku pribadi, memiliki keturunan adalah sebuah kebahagiaan yang luarbiasa yang dititipkan untuk kami dan keluarga nantinya. dengan adanya kehadiran anak di kehidupan pasca nikah akan menambah keramaian serta kebahagiaan. Jadi, gerakan childfree tidak ku rencanakan untuk kehidupan berkeluarga yang akan ku jalani nanti.

Aku pribadi berencana untuk childfree kalau nantinya aku memutuskan untuk menikah. Menurut aku childfree bukan pilihan yang egois. Selama ini banyak juga pasangan yang memutuskan untuk punya anak hanya karena tuntutan sosial, lingkungan sekitar kita selalu membatasi pasangan harus punya anak di umur tertentu. Akhirnya banyak pasangan yang punya anak tanpa persiapan yang sangat matang. Atau bahkan ada juga yang mau punya anak supaya saat mereka tua ada yang merawatnya. Menurut aku justru itu yang namanya egois karena akhirnya anak yang jadi korban dari semuanya. Lagi pula aku lebih merasa iba kalau anak yang gak berdosa dan gak ngerti apa-apa harus hidup di keadaan dunia yang semakin hari semakin kacau, pastinya akan berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Jadi aku sepenuhnya dukung pasangan yang nantinya lebih memilih untuk childfree, demi kebaikan bersama.

Menurut aku semua orang bebas untuk memilih atas hidupnya, selama tidak merugikan dan membahayakan orang lain. Pasangan yang memilih untuk childfree ya menurutku gak masalah, pastinya banyak pertimbangan dan mereka sudah pikir matang-matang sampai bisa membuat keputusan tersebut. Aku setuju dengan pernyataan dari @andinalarasati, dimana pastinya terdapat pasangan yang memilih untuk childfree karena mereka tidak mau nantinya malah membebankan atau menyulitkan anaknya, melihat keadaan bumi yang semakin memburuk.

MENURUT SUDUT PANDANG SAYA TERKAIT "RAMAI PENGANUT CHILDFREE."?

gambar|640x360

1. PEMAHAMAN TERKAIT CHILDFREE.

  • Pasangan muda tersebut membuat kesepakatan yang mungkin tidak biasa bagi kebanyakan orang: Childfree alias tidak memiliki anak. Semua bermula dari keputusan Iistri dan suaminya menunda punya momongan. Di awal pernikahan, mereka merencanakan baru akan memiliki anak dua tahun kemudian. Tapi, kemudian waktu mengubah pikiran mereka. Istri tersebut dijalanin, jadi lebih H appy saja tanpa anak. Berasa baik-baik saja tanpa kekurangan. Di luar urusan Happy-Happy tadi, Istri tersebut rupanya punya segudang alasan lain untuk tidak memiliki anak. Lahir di keluarga yang kaku, ia besar dengan lingkungan yang kurang bisa mengungkapkan kasih sayang. Istri tersebut bercerita kepada keluarga keluarga yang dingin tidak memberinya contoh komunikasi antara orang tua dan anak. Dia tidak mau pengalaman itu terulang bila memiliki anak. Di keluarganya juga ada anggapan, anak sebagai bentuk investasi. Bila anak sudah dewasa, mereka harus membalas budi kepada orang tua. Caranya dengan menghidupi orang tua di masa tua. Istri tersebut menolak tegas pandangan semacam itu. Baginya, ketika dewasa anak punya kehidupan sendiri yang lepas dari orang tua

2. CARA MENGATASI PANDANGAN TERKAIT CHILDFREE.

  • Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi ., mengatakan banyak alasan pasangan memilih jalan childfree. Sebuah penelitian pada 2019 lalu mengidentifikasi beberapa faktornya. Setidaknya ada tiga alasan utama pasangan memilih childfree : pemikiran pasangan yang berbeda dari orang kebanyakan; faktor finansial; pasangan belum merasa mampu menjadi sosok orangtua. Di atas itu semua, masing-masing orang punya alasan sendiri. Ikhsan menampik anggapan pasangan yang memilih childfree sebagai orang yang egois. Sejumlah riset menunjukkan mereka juga punya kemampuan memberikan afeksi. Mereka yang memilih childfree pun bukan berarti tidak menyukai anak.

  • "Jadi, sah saja jika ada pasangan yang memutuskan untuk childfree ," kata Ikhsan.
    Ia menyarankan pasangan yang memilih jalan childfree fokus pada komitmennya. Sebab, kata Ikhsan, mereka berdua yang tahu alasannya. Mereka boleh saja menjelaskan alasannya kepada orang lain. Yang perlu dicatat, menurut Ikhsan, perlu juga memahami norma dan budaya lingkungan sekitar, “Dengan memahaminya ini bisa bantu kita untuk mempersiapkan diri ketika ada orang yang tidak setuju dengan keputusan childfree ,” Ikhsan berujar.

REFERENSI

Apriastuti, D.A. (2013). Analisis Tingkat Pendidikan dan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembangan Anak Usia 48-60 Bulan. JurnalIlmiah Kebidanan.Vol. 4. No. 1Juni 2013, hal 1-14.

Saunders, Doug (2007-09-29). "I really regret it. I really regret having children". The Globe and Mail . Toronto.

Bener banget kalau dibilaing pernikahan itu identik banget dengan keturunan, ini hal yang tidak lepas dari pemikiran orang biasa, termasuk saya, tapi itu sebelum mendengar seseorang yang saya kagumi mengenai childfree.

Seseorang ini menjelaskan apa itu childfree dan kenapa ia memilih hal tersebut secara perlahan dan rinci, sehingga bagi orang yang pertama mendengar mudah untuk dimengerti. Dari situ saya mendapat pandangan baru, dan merasa bahwa keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang oleh kedua pasangan ini, gak semata-mata mengikuti trend. Dan saya rasa tidak ada alasan untuk tidak setuju dengan pandangan ini, karena ini bisa menjadi keputusan paling baik bagi mereka.

Bener banget kalau dibilaing pernikahan itu identik banget dengan keturunan, ini hal yang tidak lepas dari pemikiran orang biasa, termasuk saya, tapi itu sebelum mendengar seseorang yang saya kagumi mengenai childfree .

Seseorang ini menjelaskan apa itu childfree dan kenapa ia memilih hal tersebut secara perlahan dan rinci, sehingga bagi orang yang pertama mendengar mudah untuk dimengerti. Dari situ saya mendapat pandangan baru, dan merasa bahwa keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang oleh kedua pasangan ini, gak semata-mata mengikuti trend. Dan saya rasa tidak ada alasan untuk tidak setuju dengan pandangan ini, karena ini bisa menjadi keputusan paling baik bagi mereka.

Keputusan untuk memiliki anak bagi setiap pasangan itu adalah hak pribadi mereka. Bagi saya tidak ada yang salah jika mereka tidak menginginkan keturunan. Hanya saja hal ini masih kurang umum di Indonesia, dimana orang-orang menganggap anak adalah buah utama dari pernikahan. Hal ini didorong dari adanya anggapan 'banyak anak banyak rezeki' serta tuntunan dan ekspektasi dari lingkungan sekitar.

Sebelum berencana mempunyai anak, semuanya harus dipikirkan matang-matang. Gerakan child free menjadi solusi bagi mereka yang percaya dengan kehidupannya sendiri bersama pasangan dan tidak menganggap anak adalah tujuan utama dari pernikahan. Mungkin beberapa orang tidak menyukai dan membutuhkan anak sebagai keturunan mereka ataupun alasan pribadi lainnya. Menurut saya, itu sudah mulai lumrah pada zaman sekarang dimana tuntutan hidup semakin banyak. Orang lain juga tidak seharusnya mencibir keputusan tersebut. Hal ini adalah hak dan pilihan mutlak bagi yang bersangkutan.

Saya rasa ini adalah hak setiap pasangan apakah ingin mempunyai anak atau tidak. Setiap pasangan saya yakin pasti punya perimbangannya masing-masing, apakah karena alasan finansial, belum siap mental atau hanya tidak ingin saja.

Pernikahan sendiri merupakan konstruksi sosial. Ia mengikat dua insan yang berlainan jenis kelamin untuk hidup bersama, disahkan oleh agama dan masyarakat, lalu bereproduksi untuk menghasilkan keturunan dan membentuk keluarga. Demikian juga keharusan bahwa menikah itu harus punya anak. Itu juga konstruksi sosial. Masalah pasangan ingin mengikutinya atau tidak itu terserah mereka, yang penting mereka paham dengan segala kelebihan dan konsekuensinya sesuai dengan budaya tempat tinggal mereka.