Menurut saya disini yang sebenarnya harus disalahkan dalam banyaknya konten tidak mendidik atau sampah adalah si kreator konten itu sendiri. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa si kreator konten harus disalahkan. Pertama - tama, Kebanyakan dari konten sampah dan tidak mendidik yang beredar di Indonesia berasal dari Youtube. Youtube sendiri merupakan salah satu platform terkenal bagi kreator konten untuk mengupload karyanya dan juga di masa kini juga, pekerjaan sebagai youtuber adalah salah satu pekerjaan yang banyak diminati oleh orang - orang karena prospek keuntungannya. Sebetulnya, ada banyak kreator konten yang kreatif dan memberikan konten yang mendidik dan inspiratif.
Tetapi ada juga konten - konten tidak mendidik seperti prank, sindir - sindiran, toxic content, dan lain sebagainya seperti yang lazim kita temui di channel - channel youtuber terkenal seperti Atta Halilintar, Uya Kuya, dan lain sebagainya. Menurut beberapa referensi yang saya baca, ada sebuah simbiosis mutualisme antara kreator/influencer dengan konten sampah/tidak mendidik. Pertama, tentu saja dengan adanya konten sampah dan tidak mendidik (biasanya yang tengah viral) seperti ini, influencer/kreator konten mendapatkan banyak sekali adsense, endorse, sponsor, dll. kedua, konten sampah dan tidak mendidik itu (entah alay, bodoh, kontroversi, drama, dll) akan menjadi semakin viral karena mendapat eksposure dari para influencer dan kreator konten tadi, dan yang terakhir, netizen yang sebagaian besar hobi nyinyir, akan semakin meramaikan dan ikut campur.
Poin ketiga dalam simbiosis mutualisme tersebut juga menunjukan jika netizen juga menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam penyebaran konten - konten tidak mendidik atau sampah tersebut. karena memang, menurut saya sebagian besar netizen Indonesia memiliki hobi berghibah dan nyinyir di media sosial sehingga cenderung menyukai konten - konten yang berisikan bumbu - bumbu kontroversi, sindir - sindiran, prank, dan lain sebagainya yang sebenarnya merupakan bentuk pembodohan. Lagipula di perspektif para kreator konten atau Influencer tersebut, membuat konten - konten seperti itu tentu akan mendatangkan keuntungan lebih banyak jika melihat dari fenomena netizen Indonesia dan kecenderungan mereka dalam memilih konten ketimbang membuat konten - konten yang mendidik dan bermanfaat.
Berarti intinya disini yang sebenarnya salah dan harus di kontrol adalah kreator konten dan netizen itu sendiri. caranya adalah dengan edukasi sejak dini, terutama mengenai penggunaan internet agar mereka dapat menggunakannya secara positif.