Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Konten tidak mendidik: kreator atau netizen yang harus dikontrol?

Apr-Linkpost-KickstartIGContentMarketing-1170x570|690x336

Banyaknya konten tidak mendidik terdapat pada media sosial yang semua orang dari berbagai usia dapat melihatnya. Mulai dari konten drama, sindir-sindiran, dan prank, bahkan konten-konten seperti ini ternyata memiliki penonton yang sangat banyak. Salah satu konten Youtube milik Uya Kuya yang bertengkar dengan Denise selebgram viral, dalam konten youtube tersebut Uya Kuya memanfaatkan pertengkarannya dengan denise sebagai konten di youtubenya. Banyaknya konten yang tidak mendidik berkeliaran di media sosial, menurutmu siapakah yang harus dikontrol?

32

Menurut saya kreator dan konsumen sama² penting
Ini masalah tentang kepedulian saja dan kesadaran dari masing² pihak
Saya pernah beberapa kali bikin² konten edukasi,hasil nya tidak bnyak mempengaruhi
Beda ketika saya buat hal² yg mnurut saya tidak mendidik malah banyak yg suport seperti like,komen dsb..alhasil saya rubah cara delete semua akun
Sekarang malah saya usahakan turun langsung ke lapangan berdiskusi mencari tahu bagaimana pola yg terbangun sekarang..
Rata orng indo itu malas baca,
Malas berfikir secara mendalam,jd sesuatu dilihat dari segi visual saja,ini miris
Dan hanya menguntungkan para kreator mengumpulkan pundi² saja

Saran saya buat yg masih peduli,mending kita sama² trun lngsung di samping bikin konten jg bisa
Karena sepengalaman saya sampai saat ini,dampaknya ada,walau hanya meminimalisir
Berat sih tp yaaa balik lg,kapan lg bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara ????

Menurut saya, kembali dari diri kita sendiri. Saat ini konten kreator diluar sana juga sudah banyak. Dan diluar sana tidak hanya konten yang bagus saja, ada konten yang kurang enak untuk di saksikan. Maka dari itu, lebih baik kita yang mendorong diri kita sendiri untuk memilah konten mana yang baik ditonton dan yang buruk ditonton. Intinya disini dari diri kita sendiri yang mengontrol. Yang namanya konten kreator memiliki sifat yang berbeda-beda, ada yang dikritik jika kontennya buruk dia sadar dan tidak mengulanginya. ada juga konten kreator yang mencari sensasi dan malah mendrama di sosial media. Jadi pintar-pintar lah kita dalam mengontrol sosial media kita dan diri kita sendiri.

Menurut saya hal yang mendasar dari sebuah konten adalah makna konten itu sendiri, yang mana merupakan sebuah informasi atau tontonan yang turut serta mendidik semua orang yang menikmati hasil karya kreator, sehingga hal tersebut memiliki presentasi yang cukup besar dalam sebuah didikan ataupun percontohan. Karenanya hal positif ataupun hal negatif akan mudah untuk ditiru oleh para penikmat konten tersebut (netizen). Dapat disimpulkan bahwa konten tidak mendidik adalah hasil karya yang tidak baik dari seorang kreator, untuk itu maka yang harus dikontrol adalah sang kreator itu sendiri, karena para kreator lah yang menyediakan opsi-opsi dari konten-konten yang akan dinikmati oleh netizen. Maka, para konten kreator harus mengontrol isi dari konten yang mereka buat, yang mana penikmat dari hasil konten mereka akan berasal dari berbagai usia dan tingkat pendidikan, yang kemungkinan tidak dapat secara khusus menyaring informasi yang mereka temukan.
Akan tetapi dalam dunia era globalisasi ini para netizen juga punya andil untuk menentukan konten seperti apa yang pantas untuk ditonton/ditiru apalagi untuk diviralkan. Contohnya para orang tua yang terus memantau tontonan anak-anaknya secara lebih bijak.

Menurut saya, terjadinya konten tidak mendidik yang dibuat kreator itu berasalkan dari selera pasar penonton/netizen tersebut. Kreator hanya melakukan apa yang disukai/diminta oleh netizen. Bisa kita lihat di laman trending YT Indonesia yang tak jarang ada video drama, sensasi, prank, settingan, atau sindir-sindiran dari selebriti maupun youtuber. Maka dapat dibuktikan kalau netizen Indonesia lebih menyukai konten yang kurang mendidik seperti itu. Dan menurut mereka konten seperti itu dapat menghibur mereka.
Jadi, kalau sebagian dari kita merasa konten tersebut tidak mendidik, yaa tidak usah ditonton atau diikuti. Abaikan dan pilihlah konten yang mendidik menurut kita. Dan dengan mengabaikannya, menurutku juga bisa mengurangi minat dari konten tidak mendidik tsb. Ketika peminat/penonton konten tidak mendidik tersebut sedikit, maka kreator pun jadi tidak tertarik untuk membuat konten semacam yang tidak mendidik tersebut. Dengan kata lain, jangan kasih panggung lah. Biar tidak semakin menjadi-jadi.
Jadi menurutku, mulai dari diri kita atau netizen yang harus bisa mengontrol dan memilih tontonan dengan sebijak mungkin.

Untuk menghadapi konten-konten yang tidak mendidik menurut saya kitalah yang harus pandai atau mengontrol tontonan kita. Karena platform media yang menyediakan tontonan itu sepertinya sangat membebaskan siapapun untuk membuat media hiburan atau video. Terkecuali unsur sara dan teman-temannya. Selain itu diperbolehkan, dan itu terserah si creator tujuannya untuk mendidik atau hanya untuk penghasilan saja.

Dengan demikian berarti kitalah yang harus bisa mengontrol diri kita untuk bisa memilah tontonan yang menurut kita baik. Lalu untuk mengurangi creator yang membuat konten tidak mendidik menurut saya itu tanggung jawabnya penyiar atau pemilik platform dan atau pemerintah, adapun kita bisa ikut andil dengan cara mengontrol anak didik atau teman, saudara untuk mengurangi menonton karya yang kurang mendidik dan menyadarkannya. Sehingga lama kelamaan creator yang kurang mendidik akan lenyap juga karena tidak ada peminatnya lagi.

Menurut saya disini yang sebenarnya harus disalahkan dalam banyaknya konten tidak mendidik atau sampah adalah si kreator konten itu sendiri. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa si kreator konten harus disalahkan. Pertama - tama, Kebanyakan dari konten sampah dan tidak mendidik yang beredar di Indonesia berasal dari Youtube. Youtube sendiri merupakan salah satu platform terkenal bagi kreator konten untuk mengupload karyanya dan juga di masa kini juga, pekerjaan sebagai youtuber adalah salah satu pekerjaan yang banyak diminati oleh orang - orang karena prospek keuntungannya. Sebetulnya, ada banyak kreator konten yang kreatif dan memberikan konten yang mendidik dan inspiratif.

Tetapi ada juga konten - konten tidak mendidik seperti prank, sindir - sindiran, toxic content, dan lain sebagainya seperti yang lazim kita temui di channel - channel youtuber terkenal seperti Atta Halilintar, Uya Kuya, dan lain sebagainya. Menurut beberapa referensi yang saya baca, ada sebuah simbiosis mutualisme antara kreator/influencer dengan konten sampah/tidak mendidik. Pertama, tentu saja dengan adanya konten sampah dan tidak mendidik (biasanya yang tengah viral) seperti ini, influencer/kreator konten mendapatkan banyak sekali adsense, endorse, sponsor, dll. kedua, konten sampah dan tidak mendidik itu (entah alay, bodoh, kontroversi, drama, dll) akan menjadi semakin viral karena mendapat eksposure dari para influencer dan kreator konten tadi, dan yang terakhir, netizen yang sebagaian besar hobi nyinyir, akan semakin meramaikan dan ikut campur.

Poin ketiga dalam simbiosis mutualisme tersebut juga menunjukan jika netizen juga menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam penyebaran konten - konten tidak mendidik atau sampah tersebut. karena memang, menurut saya sebagian besar netizen Indonesia memiliki hobi berghibah dan nyinyir di media sosial sehingga cenderung menyukai konten - konten yang berisikan bumbu - bumbu kontroversi, sindir - sindiran, prank, dan lain sebagainya yang sebenarnya merupakan bentuk pembodohan. Lagipula di perspektif para kreator konten atau Influencer tersebut, membuat konten - konten seperti itu tentu akan mendatangkan keuntungan lebih banyak jika melihat dari fenomena netizen Indonesia dan kecenderungan mereka dalam memilih konten ketimbang membuat konten - konten yang mendidik dan bermanfaat.

Berarti intinya disini yang sebenarnya salah dan harus di kontrol adalah kreator konten dan netizen itu sendiri. caranya adalah dengan edukasi sejak dini, terutama mengenai penggunaan internet agar mereka dapat menggunakannya secara positif.

Creator ada dan membuat konten tentunya tidak jauh dari permintaan penontonnya, sehingga kedua hal tersebut sangat berhubungan erat. Menurutku keduanya harus sama-sama dikontrol. Sebagai seorang content creator seharusnya sangat perlu dan penting dalam mempertimbangkan segala konten yang mereka buat sebelum pada akhirnya di publish untuk jadi konsumsi publik. Terlebih lagi sebagai content creator biasanya memiliki insight yang sangat besar sehingga cenderung akan memberikan dampak pada penontonnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya content creator wajib memilah-milah konten apa yang sebaiknya di publish . Selain itu, sebagai netizen atau penonton pun harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Jika melihat atau menemukan konten yang tidak mendidik sebaiknya tindakan yang perlu dilakukan adalah dengan me- report konten tersebut supaya dapat ditindak lanjuti dan bukankah seluruh platform media sosial sudah memiliki fitur report ? jadi sudah seharusnya bagi creator maupun netizen atau penontonnya harus sama sama membatasi diri atau mengontrol dalam bermedia sosial.

Menurut saya netizen atau publik yang harus bisa dengan bijak menyikapi beragamnya konten yang ada. Para pembuat konten tidak memiliki kewajiban untuk mendidik, mereka hanya membuat konten dengan salah satu tujuannya yaitu menghibur. Jika publik merasa ada salah satu konten yang tidak mendidik dan menarik, salah satu cara menyikapinya yaitu tidak perlu ditonton. Konten seperti Uya Kuya tersebut hingga kini masih ada menurut saya karena masih banyak yang menonton dan Uya Kuya pun mungkin dapat keuntungan dari konten yang ia buat. Kurang lebih saya setuju dengan pendapat ini:

[quote="ayushintyadewi, post:11, topic:161244"]
Sehingga dalam kasus di atas, khalayak atau netizenlah yang memegang peran atas maraknya konten yang tidak mendidik. Yang sepatutnya khalayak atau netizen lakukan adalah memilih tontonan apa yang seharusnya mereka konsumsi sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.
[/quote]
Menurut saya, para pembuat konten hanya membuat konten untuk ditonton dengan kreativitas masing-masing sehingga untuk masalah mendidik atau tidaknya konten tersebut bukan tanggung jawab mereka. Jika merasa konten yang dibuat kurang mendidik dan tidak bisa mengambil makna dari konten tersebut, lebih baik ditinggalkan saja.

Konten. Dari situ saja sebenarnya sudah jelas siapa yang harus bertanggung jawab, tentu saja si pembuat konten atau yang biasa disebut dengan kreator. Seorang kreator harusnya paham kalau kontennya yang tersebar luas di internet dapat diakses oleh siapa saja, bahkan berpotensi diakses oleh anak dibawah umur. Seyogyanya ia mempertimbangkan terlebih dahulu konten yang akan ia sebarluaskan. Tidak hanya itu, seorang kreator lazimnya memiliki pengikut, maka ia sudah bisa dikategorikan sebagai public figure yang dapat memberikan pengaruh bagi pengikutnya. Seharusnya dia jauh lebih bijaksana sebelum membuat konten karena secara tidak langsung, mau dia menyadarinya atau tidak, dia memiliki potensi untuk mempengaruhi pengikutnya melalui konten-konten yang dia sajikan.

Dalam dunia komunikasi terdapat sebut teori bernama teori Uses and Gratification. Teori ini mengatakan bahwa pengguna media adalah khalayak aktif. Dimana mereka menggunakan media karena memiliki tujuan tertentu dan karena mereka memiliki sumber lain untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka bebas memilih media apa yang ingin mereka gunakan dan konten apa yang mereka tonton. Mereka secara sadar bertanggung jawab atas apa yang mereka akses pada media. Beginilah seharusnya khalayak atau netizen bersikap.

Sehingga dalam kasus di atas, khalayak atau netizenlah yang memegang peran atas maraknya konten yang tidak mendidik. Yang sepatutnya khalayak atau netizen lakukan adalah memilih tontonan apa yang seharusnya mereka konsumsi sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Jika mayoritas netizen telah bersikap bijak dalam hal ini, maka konten-konten yang sifatnya tidak mendidik perlahan akan lenyap dari sorotan media karena khalayak atau netizen sudah beralih ke konten yang memang bermutu dan mendidik.

Setuju dengan pendapat kak @ayushintyadewi , dalam komunikasi tepatnya pada teori agenda setting juga ada yang dinamakan "selection exposure". Penonton bukan khalayak pasif, mereka berhak memilih tontonan mana yang layak. Penonton adalah bagian yang menentukan apa yang akan ditonton. Melalui literasi, upaya untuk menciptakan tujuan itu dapat diwujudkan dengan pembekalan kemampuan dalam menggunakan media dengan baik dan menyeleksi konten media. Dengan emngurangi tontonan yang kurang baik, maka kreator tersebut perlahan lahan akan berhenti memproduksi konten yang kurang bermanfaat dan mendidik.