Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Konten tidak mendidik: kreator atau netizen yang harus dikontrol?

Apr-Linkpost-KickstartIGContentMarketing-1170x570|690x336

Banyaknya konten tidak mendidik terdapat pada media sosial yang semua orang dari berbagai usia dapat melihatnya. Mulai dari konten drama, sindir-sindiran, dan prank, bahkan konten-konten seperti ini ternyata memiliki penonton yang sangat banyak. Salah satu konten Youtube milik Uya Kuya yang bertengkar dengan Denise selebgram viral, dalam konten youtube tersebut Uya Kuya memanfaatkan pertengkarannya dengan denise sebagai konten di youtubenya. Banyaknya konten yang tidak mendidik berkeliaran di media sosial, menurutmu siapakah yang harus dikontrol?

31

Menurut saya yang harus dikontrol ya konten kreatornya. Karena dalam konteks ini adalah masyarakat sebagai konsumennya, dan para konten kreator merupakan produsennya. Nah, maka sudah seharusnya sebagai produsen, mereka harus memiliki prinsip untuk memberikan "produk" yang berkualitas, informatif dan edukatif. Namun, saat ini algoritma youtube memang sangat masif, bahkan tidak jarang semakin banyak "artis TV" yang mulai hijrah ke youtube untuk mendapatkan tambahan pundi-pundi uang dari youtube adsense. Pada mulanya youtube digunakan sebagai sarana mengekspresikan diri. Harapannya, sebagai konten yang mudah dibuat dan bebas untuk berekspresi, Vlog atau konten yang sejenisnya menjadi sarana yang kreatif bagi para Vlogger maupun penontonnya. Namun, kenyataannya, muncul tren-tren kontroversial yang berpotensi menjadi pengaruh buruk bagi penonton.
Kembali pada pernyataan saya di awal, bahwa konten kreator adalah produsen, masyarakat hanyalah receiver atau penerima. Para konten kretaor memiliki kendali penuh atas apa yang akan mereka suguhkan untuk masyarakat, ibarat kata "tidak ada asap kalo tidak ada api" disini jelas bahwa jika tidak ingin kontenya dianggap tidak mendidik, maka dari hulu juga harus memberikan konten yang berkualitas juga agar asap atau hilirnya menerima dampak positif

Menurut saya, sebenarnya keduanya harus sama-sama dikontrol, penonton harus pandai memilih jenis tontonan yang setidaknya baik untuk ditonton, syukur-syukur yang memang memiliki dampak dan manfaat yang baik bagi yang menonton, akan tetapi, di Indonesia kuantitas penonton jauh lebih banyak (bahkan mulai usia anak-anak) dibandingkan dengan konten kreatornya, kemudian minimnya edukasi kepada mereka mengenai jenis tontonan yang harus dipilih, maka saya rasa untuk lebih mengoptimalkan itu semua, saat ini yang harus dikontrol jelas kreatornya agar lebih efektif dan efisien.

Seharusnya peraturan-peraturan yang ditujukan kepada seluruh konten kreator pada berbagi platform media sosial lebih diketatkan dan diperjelas lagi, mengenai apa saja yang seharusnya layak dijadikan ‘konten’ dan tidak, karena mungkin saja, sang konten kreator juga tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengetahui apa saja hal-hal yang di kategorikan mendidik dan tidak, atau sederhananya apa saja sih yang lebih baik diberikan kepada orang lain dan tidak, karena saat inipun mulai banyak bermunculan konten kreator yang memang hanya mementingkan pendapatan dan hanya mengetahui kebijakan boleh dan tidaknya sebuah tayangan tontonan secara garis besar, misalnya yang penting tidak mengandung unsur pornografi dan lainnya.

Maka intinya, menurut saya, kebijakan-kebijakan secara tertulis harus lebih diperjelas dan diketatkan kepada para konten krator, mengingat juga pada situasi pandemi seperti saat ini, intensitas masyarakat menggunakan media sosial lebih banyak daripada sebelumnya.

Menurutku keduanya memiliki peran penting untuk mengontrol diri mereka masing-masing. Seorang konten creator seharusnya perlu mempertimbangkan konten yang ia akan buat terlebih dahulu sebelum di publish melalui media sosial mereka. Apakah konten tersebut pantas untuk dipublish atau tidak. Terlebih jika mereka adalah seorang influencer ataupun orang yang memiliki status penting dan dikenal oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Untuk itu, sepatutnya pun mereka perlu memberikan konten-konten yang baik dan bermanfaat bagi para penontonnya. Sebab yang aku perhatikan belakangan ini, semakin banyak muncul berbagai konten yang tidak mengedukasi atau bahkan kurang pantas untuk dipublish. Terlebih juga, di era digital ini semakin banyak anak-anak usia dini yang sudah memiliki gadget pribadi sehingga mereka dapat mudah untuk melihat dan mengetahui berbagai aktivitas atau fenomena diluar lingkungan mereka. Dimana hal ini tentunya secara tidak langsung dapat menjadi sebuah contoh bagi mereka.

Selain itu, netizen atau seseorang pengguna internet pun perlu membatasi dan mengontrol diri mereka dalam mengonsumsi berbagai konten yang ada. Sebab yang aku amati, banyak sekali netizen yang melontarkan komentar tidak pantas hingga membuat sakit hati orang yang membuat konten tersebut. Bahkan tidak jarak pula banyak orang yang membully ataupun memfitnah seorang konten creator. Untuk itu, jika dirasa konten tersebut tidak pantas untuk ditonton maka sebaiknya kita hindari. Hal ini guna untuk menghindari kita melontarkan komentar-komentar negative.

[quote="dinarizki, post:2, topic:161244, full:true"]
Menurut saya yang harus dikontrol ya konten kreatornya. Karena dalam konteks ini adalah masyarakat sebagai konsumennya , dan para konten kreator merupakan produsennya . Nah, maka sudah seharusnya sebagai produsen, mereka harus memiliki prinsip untuk memberikan “produk” yang berkualitas, informatif dan edukatif.
[/quote]

Saya setuju dengan pendapat @dinarizki , saya rasa yang harus pertama dikontrol adalah para konten kreator. meningkatnya popularitas para konten kreatif, khususnya untuk platform media sosal dan youtube, banyak orang berlomba menciptakan konten yang dapat menarik banyak penonton. apalagi banyak anak-anak muda bahkan anak dibawah umur yang kini telah dibebaskan menggunakan smartphone membuat mereka telah dapat mengakses konten-konten dengan mudah. Sunyoto Usman, sosiolog dari UGM menyatakan, munculnya YouTubers dengan konten tidak mendidik sebagai bentuk tidak kuatnya mental dan pondasi anak muda di Indonesia. Termasuk hilangnya sosok idola yang patut dijadikan panutan. Sehingga ketika melihat sosok yang dianggap “berbeda”, banyak anak muda terpengaruh serta menjiplak gaya sang idola. konten-koten tersebut itu dianggap memberikan pengaruh negatif kepada anak bangsa. Wacana pemblokiran pun diserukan karena tak sesuai dengan kaidah bangsa Indonesia. namun. [emerintah tetap tidak bisa menyaring konten-konten tersebut karena belum ada payung hukum yang menaunginya.

[details="Sumber"]
https://tirto.id/yang-negatif-yang-diminati-bL9D
[/details]

Menurut saya yang seharusnya dikontrol adalah penontonnya. Seorang konten kreator, mereka bisa membuat sebuah konten dengan berbagai banyak jenisnya itu adalah sebuah permintaan dari penontonnya sendiri. Seperti prinsip dasar ekonomi, ada permintaan maka ada penawaran. Mereka melihat itu dari sebuah statistik akun dan konten-konten mereka tersendiri. Terkadang, masyarakat Indonesia tetap menonton sebuah konsen tidak mendidik seperti itu untuk menjadi bahan bercandaan dengan teman-temannya, dan konten kreator tersebut tidak peduli apapun tujuan dari penonton untuk menyaksikan kontennya, selama kontennya menghasilkan banyak views dan banyak dikenal maka ia berhasil. Jadi menurut saya, selama masih ada masyarakat Indonesia yang menonton tontonan yang tidak mendidik maka konten-konten seperti itu akan ada terus. Penting untuk kita, para penonton yang memilih apa yang pantas dan layak untuk kita konsumsi.

https://www.dictio.id/t/konten-tidak-mendidik-kreator-atau-netizen-yang-harus-dikontrol/161244/2?u=navyani

Saya juga sependapat dengan @dinarizki , menurut saya hal pertama yang perlu dibenahi adalah kreatornya, walaupun konten yang kurang mendidik banyak digemari oleh masyarakat yang menjadikan banyak para kreator yang mengikuti pasar sehingga membuat konten yang hanya didasari hiburan semata dan tidak terdapat nilai edukatif.

Hal tersebut seperti memakan junkfood, walaupun banyak digemari, tetapi kita tidak boleh untuk mengkonsumsinya setiap hari karena akan berdampak buruk untuk kedepannya. Salah satu contoh yang sudah terjadi kepada anak-anak di Tangerang yang terlindas truk hanya untuk membuat konten. Jika konten yang mendidik banyak diberikan kepada netizen, maka para pengikutnya pun akan menyesuaikan dan dapat memberikan contoh yang baik pula.

Disamping itu, pemerintah harus ikut andil dalam hal ini, seperti yang dikatakan ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti bahwa literasi digital dibutuhkan sebelum permasalahan tersebut semakin meluas pada ranah lainnya.

"Literasi digital dapat masuk kurikulum muatan lokal. Namun, tentunya hal ini pun harus dipahami oleh guru dan orang tua. Keterlibatan kedua komponen ini merupakan faktor terpenting," ujarnya.

[details="Referensi"]
https://www.tribunnews.com/dpd-ri/2021/03/30/ketua-dpd-ri-sorot-maraknya-konten-yang-tidak-mendidik
[/details]

Dari pertanyaan diatas, ya sudah sangat jelas sang content creator. Bagus atau tidaknya sebuah tayangan yang ditampilkan, ya semua tergantung pada sang contect creator. Sebagai konsumen, masyarakat “hanya” bisa memilah mana konten yang layak untuk dilihat mana yang tidak. Apalagi dengan perkembangan pesat dunia teknologi masa kini, seakan akan membuat dunia tanpa batas. Seakan segala yang tayang dimedia sosial tidak terfilter dengan baik. Banyak content creator yang seakan “menghalalkan” segala cara untuk meraih popularitas dan mengabaikan moralitas untuk membuat konten yang mendidik. Lucunya, content creator yang seperti ini malah “digandrungi” masyarakat ketimbang content creator yang jelas jelas mendidik. Ya, kembali lagi, sebagai konsumen, masyarakat harus pandai memilah mana konten yang benar benar mendidik mana yang tidak. Takutnya, hal hal yang buruk tersebut malah ditiru dan diikuti di dunia nyata yang dikhawatirkan membuat moralitas semakin rendah.

Media Sosial memiliki kekuatan tersendiri yang mampu menyihir dan menghipnotis penontonnya. Konten-konten hiburan, edukasi, traveling, hingga sejarah di kanal seperti YouTube tidak sedikit mampu mempengaruhi cara berpikir dan pandangan terhadap suatu hal.

Konten yang kini beredar di media sosial seperti YouTube, TikTok, Facebook Live, dan sebagainya merupakan salah satu bagian dari dinamika dan realitas faktual masa kini. Dinamika ini juga bagian yang tak terhindarkan dan terpisahkan dari pekembangan tren, pesatnya teknologi, dan digitalisasi yang kian meluas.

Dengan demikian, seorang konten kreator yang berkecimpung di dalamnya, memiliki tugas dan tanggung jawab besar mendidik penonton, mendorongnya untuk maju, sehingga memacu cara dan sikap positif dan membangun. Ini harus dimanifestasikan dalam karya cipta dan produk konten yang akan diungggah di media sosial tersebut. Namun demikian, tak semuanya konten yang bersliweran di YouTube dan semacamnya memiliki kualitas seperti ini. Tidak sedikit yang justru yang mengandung konten negatif dan tidak mendidik.

Demi menciptakan sebuah kreasi dan ciptaan konten membangun dan bermanfaat seperti itu, sudah semestinya para konten kreator merancang dan menciptakan aturan atau kaidah yang disepakati, agar isi konten tetap berjalan dalam relnya. Jangan sampai ini dibiarkan bebas hingga tidak memberi manfaat sama sekali bagi penonton.

Menurut saya perama yang harus di kontrol kreatornya. Karena mereka yang memberikan tayangan dan netizen hanya mengkonsumsi. Namun netizen disini juga harus mengontrol, karena biasanya kreator itu membuat konten tentu yang disukai oleh netizen. Dan nyatanya sekarang netizen malah lebih menyukaikonten yang tidak mendidik. Jadi intinya, kembali lagi ke kedua nya sih,dari kreator atau netizen harus sama-sama mengontrol.

Dalam dunia komunikasi terdapat sebut teori bernama teori Uses and Gratification. Teori ini mengatakan bahwa pengguna media adalah khalayak aktif. Dimana mereka menggunakan media karena memiliki tujuan tertentu dan karena mereka memiliki sumber lain untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka bebas memilih media apa yang ingin mereka gunakan dan konten apa yang mereka tonton. Mereka secara sadar bertanggung jawab atas apa yang mereka akses pada media. Beginilah seharusnya khalayak atau netizen bersikap.

Sehingga dalam kasus di atas, khalayak atau netizenlah yang memegang peran atas maraknya konten yang tidak mendidik. Yang sepatutnya khalayak atau netizen lakukan adalah memilih tontonan apa yang seharusnya mereka konsumsi sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Jika mayoritas netizen telah bersikap bijak dalam hal ini, maka konten-konten yang sifatnya tidak mendidik perlahan akan lenyap dari sorotan media karena khalayak atau netizen sudah beralih ke konten yang memang bermutu dan mendidik.

Setuju dengan pendapat kak @ayushintyadewi , dalam komunikasi tepatnya pada teori agenda setting juga ada yang dinamakan "selection exposure". Penonton bukan khalayak pasif, mereka berhak memilih tontonan mana yang layak. Penonton adalah bagian yang menentukan apa yang akan ditonton. Melalui literasi, upaya untuk menciptakan tujuan itu dapat diwujudkan dengan pembekalan kemampuan dalam menggunakan media dengan baik dan menyeleksi konten media. Dengan emngurangi tontonan yang kurang baik, maka kreator tersebut perlahan lahan akan berhenti memproduksi konten yang kurang bermanfaat dan mendidik.