Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana dengan penerapan cashless di masa pandemi saat Ini? Memudahkan atau malah menyulitkan?

image|690x340

Masyarakat sudah mulai beralih dari pembayaran yang menggunakan uang cash menjadi cashless seperti menggunakan kartu, OVO, Gopay dan lain sebagainya. Ditambah lagi pada masa pandemi seperti sekarang, semua masyarakat dianjurkan untuk mengurangi kontak secara langsung dengan orang lain untuk mencegah penyebaran Covid-19, maka dari itu sudah ada beberapa tempat makan atau tempat tranksasi jual beli yang tidak lagi menerima uang cash.

Menurut kamu bagaimana dengan penerapan cashless di masa pandemi saat Ini? Memudahkan atau malah menyulitkan?

36

menurut saya sistem e-money ini ada kelebihan serta kekurangannya masing-masing. di satu sisi kita dipermudah dalam sistem transaksi yang tidak perlu bertemu tapi bisa di remote dari jauh dan cepat serta pencatatan sistem transaksi yang real dapat dipantau oleh kedua arah, belum lagi promo yang ditawarkan sangat banyak selain mempermudah dapat juga memperingan biaya. tetapi, dilihat dari sisi kekurangannya tidak semua e-money ini dapat diberlakukan pada seluruh daerah. ada beberpa daerah terpencil yang belum bisa menerapkkan sistem tersebut karena terkendali oleh ketidaktahuan serta tidak memumpuni daerah dengan sistem jaringan yang kuat. belum lagi adanya tangan-tangan jahil dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan keadaan ini. mereka membodohi dan mengelabui masyarakat yang kurang mengerti mengenai sistem pembayaran e-money ini melalui penipuan atau hacker yang membobol tabungan. saya berpikir sistem cashless ini sangat berguna dan efesien tetapi perlu dilihat juga bahwa banyak celah yang masih harus diperbaiki seperti perkuatnya sistem pengamanan transaksi atau menyimpan uang dalam setiap unit dan perlunya juga edukasi mengenai penggunaan sistem e-money atau cashless tersebut bagi masyarakat awam agar terhindarnya penipuan atau kejadian lain yang tidak diinginkan.

Menurut data Ipsos untuk Asia Tenggara pada September 2020 lalu, penggunaan cashless di Indonesia melonjak sebesar 44 persen selama pandemi covid-19. Istilah cashless society sendiri semakin familiar selama beberapa tahun terakhir. Secara sederhana, ini adalah sebuatan untuk masyarakat atau komunitas yang lebih banyak menggunakan transaksi non-tunai dalam keagiatan ekonomi sehari – harinya. Kecenderungan konsumen memilih transaksi digital didorong kekhawatiran uang tunai bisa menjadi sumber penularan virus corona. Sehingga, pembayaran akan menjadi cara baru saat bertransaksi di era post-Covid-19. Pada akhirnya, pembayaran digital seperti e-wallet tidak lagi dipilih konsumen karena faktor promo, tapi sudah menjadi kebutuhan lantaran dianggap memberi keamanan dan kenyamanan transaksi

Namun kita harus senantiasa mempelajari cara mengoperasikan aplikasi uang eektronik karena setiap jenis aplikasi digital memiliki cara aktivasi dan penggunaan yang berbeda. Ada yang hanya perlu melakukan transfer saldo namun ada juga yang harus melakukan scan QR kode terlebih dahulu. Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk menggunakan aplikasi digital tersebut, hendaknya mempelajari terlebih dahulu bagaimana prosedur aktivasi dan cara bertransaksinya.

menurut saya cashless memudahkan dalam bertransaksi. Apalagi jika memiliki aplikasi mobile banking di handphone kita menjadi lebih memudahkan untuk top up saldo OVO, Gopay, dan lain-lain sehingga tidak perlu pergi ke ATM.

[quote="Zaidan_Arasya, post:3, topic:160564"]
Kecenderungan konsumen memilih transaksi digital didorong kekhawatiran uang tunai bisa menjadi sumber penularan virus corona
[/quote]
Terutama saat ini, cashless juga dapat meminimalisir kemungkinan penularan virus. Namun penerapannya menurut saya belum merata, seperti warung. Kebanyakan warung saat ini masih bertransaksi menggunakan uang tunai.

Menurut saya sangat memudahkan sekali. Sebab di masa pandemi seperti ini, kita diharapkan bisa meminimalisir kontak dengan orang lain. Apalagi uang adalah benda yang paling banyak disentuh orang. Kita tidak tau orang-orang yang menyentuh uang tersebut adalah orang yang mengidap sakit atau pun tidak. Dengan cashless juga memudahkan kita untuk bertransaksi dengan orang yang jauh dari kita. Namun, mungkin penerapan cashless ini belum menyeluruh sebab tidak semua orang memiliki smartphone. Saya masih menjumpai ada sebagian orang yang memiliki hp seadanya (yang penting bisa dipakai sms dan telepon). Bahkan yang memiliki smartphone saja belum tentu mereka memiliki cashless yang disimpan dalam e-wallet. Sebab beberapa dari mereka mungkin masih nyaman bertransaksi secara langsung dengan uang tunai.

Menurutku, kalau di masa pandemi saat ini, penerapan penggunaan cashless pasti memudahkan. Selain memudahkan transaksi (tak usah repot kembalian, uang pas, bawa uang banyak di dompet, dll), itu juga dapat mengurangi penyebaran Covid-19 dan pandemi Covid-19 pun dapat segera berakhir.

Meskipun metode transaksi cashless memudahkan bagi masyrakat di kondisi pandemi, bagi sebagian orang khususnya di usia 50 tahun ke atas kesulitan untuk menggunakan metode ini karena butuh waktu yang lama untuk mempelajari dan memahami caa penggunaannya. Apalagi banyak para orang tua yang tidak memiliki media yang memadahi. Kebanyakan mereka lebih nyaman menggunakan metode yang konvensional yaitu menggunakan uang kertas atau koin. Karena lebih mudah dan bisa dibawa kemanapun. Namun, mau tidak mau memang masyarakat sudah seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Dengan adanya uang elektronik akan membuat pekerjaan lebih cepat dan efektif. Mungkin yang sebelumnya harus pergi ke bank untuk transfer, sekarang kita bisa langsung transfer menggunakan m-banking dengan sekali pencet di handphone yang kita punya.

Setuju sekali dengan pendapat teman-teman diatas yang menyebutkan bahwa penerapan cashless memang lebih efisien, lebih banyak keuntungan karena diskon / promo dan sesuai dengan kebutuhan di zaman sekarang.

Terkadang saya membayangkan, ketika pandemi gini, bagaimana ya jika saat ini belum ada yang membuat aplikasi e-wallet seperti ovo, gopay, dana, dll ? Apakah kita tetap menggunakan uang untuk bertransaksi di masa covid-19 ini? yaa walaupun sebenarnya ada kartu debit / kredit, tetapi dengan kartu tersebut juga masih rentan terkena virusnya.

Jadi penerapan cashless ini memang sangat memudahkan dan amat sangat dibutuhkan di era pandemi ini

Tren cashless saat ini mulai diminati di Indonesia. Apalagi, selama masa pandemi Covid-19, banyak tempat yang mensyaratkan hanya dapat bertransaksi cashless. Alhasil, transaksi cashless pun semakin meningkat. Meski transaksi cashless memudahkan banyak orang, hal ini juga memiliki dampak yang negatif bagi orang yang sulit mengontrol konsumsinya. Bisa jadi kita menjadi orang yang boros dan suka membeli ini itu tanpa pertimbangan yang matang, apalagi untuk melakukan transaksi tinggal membuka aplikasi di handphone dan sekali klik. Maka kita harus tahu batasan dalam melakukan pembelian. Belum lagi yang menggunakan kartu kredit, jika kita tidak membatasi diri dalam mengonsumsi barang yang kita mau,lama kelamaan tagihan kita akan menumpuk plus bunga yang harus dibayarkan.

Penerapan cashless menurut saya sangat bagus. Masalahnya, ada beberapa elemen yang belum siap untuk menerapkan sistem cashless.

Kalau dilihat di lapangan, beberapa elemen seperti kaum tua (bukan bermaksud merendahkan) sudah minta ampun jika diminta menerapkan sistem yang menggunakan smartphone dan teknologi canggih. Pada intinya, cashless adalah sistem yang memudahkan tergantung subyek dan penerapan secara global.

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa virus Covid-19 yang sedang mewabah hingga saat ini dapat menular melalui droplet dan kontak fisik, sehingga kita harus selalu berhati-hati dengan menjaga protocol kesehatan dimanapun kita berada. Untuk itu, WHO dan pemerintah menghimbau masyarakat mulai beralih pada pembayaran non-tunai atau menerapkan gaya hidup cashless. Hal ini karena pada sebuah penelitian menunjukkan bahwa virus Corona mampu bertahan hidup pada kertas tisu selama 3 jam, kayu dan kain selama 2 – 3 hari, uang kertas selama 4 hari, serta plastik dan stainless steel selama 7 hari. Sehingga disimpulkan bahwa penggunaan uang kertas dapat memberikan resiko penularan virus Covid-19 (Woodward & Gal, 2020) dalam (Rahmawati dan Maika, 2021).

Jika ditanya menyulitkan atau memudahkan dalam menggunakan pembayaran cashless, menurut saya ini memudahkan karena kita cukup membawa gadget untuk melakukan transaksi kemudian juga lebih aman dan praktis sehingga kita tidak perlu repot-repot membawa dompet yang rawan untuk dicuri. Tidak hanya memudahkan, transaksi cashless pada beberapa gerai tertentu juga seringkali memberikan bonus berupa cashback, diskon atau potongan harga yang sangat menguntungkan bagi penggunanya.

Namun, transaksi secara cashless ini menurut sebagian banyak orang menyulitkan karena tidak semua orang paham dalam menggunakan sistem cashless terutama para orang tua yang harus menyesuaikan diri sehingga mereka kemungkinan akan lebih memilih untuk membayar dengan uang tunai berupa fisik. Bukan hanya itu, tidak semua gerai memiliki fasilitas transaksi dengan sistem cashless, contohnya seperti warung kecil, pasar tradisional, dll sehingga kita harus menyiapkan uang tunai secara fisik. Selain itu, biasanya sistem cashless tersebut juga terdapat biaya administrasi yang ditanggung oleh pengguna dengan nominal yang berbeda-beda. Jadi, kesimpulannya sulit atau mudahnya pembayaran dengan sistem cashless ini tergantung dari penggunanya.

[details="Sumber"]
Rahmawati, Rizka Elisa. Maika, M. Ruslianor. 2021. Penerapan Model UTAUT terkait akseptasi mahasiswa terhadap Cashless Payment di masa Pandemi COVID-19. 17(1): 1-14
[/details]