
Pengambilan keputusan petani dalam pengusahaan agroforestri tidak selalu didasarkan kepada pertimbangan finansial saja tetapi ada aspek sosial budaya yang lebih dominan. Sistem penggunaan lahan yang diterapkan secara agroforestri harus selaras dengan budaya setempat dan visi masyarakat terhadap kedudukan dan hubungan mereka dengan alam. Bentuk bentang lahan penggunaan lahan dan perkembangannya merupakan bagian dari identitas masyarakat yang hidup di dalamnya. Petani biasanya memiliki kebutuhan yang kuat untuk memihak pada budaya setempat. Sejarah dan tradisi memainkan peranan penting dalam kehidupan, cara dan sistem penggunaan lahan mereka. Perubahan yang tidak selaras dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual mereka, bisa menyebabkan stress dan menciptakan kekuatan yang berlawanan.
Pariwisata dalam agroforestri dapat dimasukkan pada kategori agrowisata. Agrowisata dapat dikelompokkan ke dalam wisata ekologi (*eco-tourism*), yaitu kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau mencemari alam dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam, hewan atau tumbuhan liar di lingkungan alaminya serta sebagai sarana pendidikan (Deptan, 2005). Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal *(indigenous knowledge)* yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya.
Untuk menjaga keterkaitan tersebut maka dibutuhkan adanya kelembagaan yang mampu mengontrol masing-masing aspek agar selalu tercipta keselarasan di dalamnya. Pengembangan model kelembagaan agroforestri yang dapat diterima oleh *stakeholder* sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan bersifat spesifik lokasi diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengoptimalkan keuntungan usaha tani agroforestri baik secara sosial ekonomi maupun ekologi. Kelembagaan didefinisikan sebagai suatu aturan main (*rule of the game*) sistem norma kebiasaan dan tata hubungan di antara orang-orang atau lembaga yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam yang ditunjukkan untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang dianggap penting.
**Lantas bagaimana sebenarnya keterkaitan antara aspek-aspek tersebut mulai dari aspek budaya, adat, pariwisata dan kelembagaan dalam Agroforestry menurut anda?**
**Apakah jika salah satu aspek tersebut kurang optimal maka agroforestry yang diterapkan juga menjadi kurang baik?**
**Bahan bacaan:**
[faktor-kunci-dalam-pengembangan-kelembagaan-agroforestry.pdf|attachment](upload://gSExxlcei2xLhmIocg4PyEOFKML.pdf) (3.1 MB)
[agrowisata pdf.pdf|attachment](upload://2gPUgrbYIixRuudwmo1i5YfFGhX.pdf) (289.9 KB)
[BK0175-14-1.pdf|attachment](upload://wGrUU7mVZwTYXNthNNxGNVrSCKf.pdf) (2.3 MB)