Indonesia adalah salah satu negara yang terdapat prevalensi stunting cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Kondisi ini jika tidak diantisipasi mampu mempengaruhi kinerja pembangunan Indonesia yang mencakup pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan. Bagaimana tanggapan dan solusi Anda dalam menyikapi permasalahan tersebut?
Saya setuju dengan pendapat bahwa prevalensi stunting yang tinggi dapat mempengaruhi kinerja pembangunan Indonesia. Berdasarkan hasil riset yang saya baca di laman WHO, stunting berkorelasi dengan penurunan kemampuan anak anak di sekolah dan pendapatan pekerjaan ketika mereka dewasa. Hal ini dikarenakan stunting tidak hanya berdampak pada tubuh yang lebih pendek, tetapi juga kemampuan kognitif. Solusi dari masalah ini dari saya sendiri sebagai mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian yaitu terus melakukan penelitian dan inovasi agar nantinya dapat menciptakan produk makanan yang lebih tinggi nutrisi dan dapat menggantikan produk pangan saat ini yang kurang memiliki nilai gizi. Diharapkan kerjasama dari pihak pendukung seperti pemerintah untuk menyisihkan dana untuk penelitian inovasi pangan. Solusi lain yaitu dengan melakukan kampanye agar lebih banyak masyarakat yang peduli dengan stunting sekaligus memberikan pengetahuan tentang gizi seimbang kepada masyarakat.
Saya sangat mengapresiasi jawaban kakak, tapi ada hal yg masih saya pertanyakan. Biasanya, para mahasiswa melakukan inovasi2 produk pangan itu cuma sampai pada tingkat akademik, lets say buat KTI untuk lomba atau untuk skripsi. Nah, gimana solusi 'nyata' dan rencana kakak agar produk inovasi itu sampai di tangan yg tepat (pengidap stunting)? Karena yg saya lihat, malah kebanyakan mahasiswa menjual produk2 inovasi mereka untuk bussiness plan mereka sendiri. Dan marketingnya pun lewat socmed seperti insta****.????Apa mungkin bisa menjangkau orang-orang yg memiliki anak stunting yg kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan gitu lho.
Menurut saya, ada beberapa kendala yang menyebabkan hasil karya penelitian 'stuck' disitu situ saja. Kendala utama yaitu kurangnya support baik dari segi keuangan maupun dari antusiasme masyarakat. Untuk memulai penelitian ini tentu kami perlu modal, maka dari itu kami perlu mencari modal kami sendiri yaitu dengan mengikuti kompetisi dan pendanaan atau juga mengembangkan business plan kami. Untuk marketing, tentu kami perlu melakukan secara bertahap. Rasanya agak sulit kalau kami disuruh melakukan kampanye secara real (bukan di sosmed) sedangkan kami masih memiliki banyak tanggung jawab akademik. Bagi saya, marketing di sosmed bukan hanya untuk penjualan produk, namun juga sebagai bentuk online campaign, misalnya tentang bahaya stunting. Harapannya, agar orang lain semakin teredukasi dan peduli dengan hal tersebut. Hal ini juga untuk membangkitkan kesadaran teman-teman sepantaran kami (sesama mahasiswa) untuk lebih tergerak dalam menangani kasus stunting di Indonesia. Jadi jangan dilihat kalau kita ikut kompetisi inovasi produk itu cuma mau menangnya saja hehe. Tentu kami juga ingin inovasi kami berguna untuk masyarakat Indonesia. Lalu, bagaimana menjangkau anak stunting yang kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan? Pertama, kami menggunakan bahan-bahan alami dan murah. Jadi sebisa mungkin kami menciptakan produk pangan yang sehat namun dengan harga terjangkau. Contoh: kulit buah naga, kelor, kawis, dll. Kedua, sosialisasi kepada masyarakat baik secara online maupun offline. Ketiga, harapannya kami dapat bekerja sama dengan pihak-pihak lain seperti pemerintah dan perguruan tinggi untuk memfasilitasi kami dalam keperluan penelitian, kegiatan sosialisasi, dan pameran produk. Saya rasa juga mahasiswa perlu konsisten dan persisten dalam melakukan inovasi produk. Jadi, tidak berpindah pindah ide. Lalu ketika menemukan ide baru, kemudian ide lama ditinggalkan begitu saja.
Anak adalah masa depan sebuah bangsa sehingga semua pihak terutama pemerintah harus memperhatikan kebutuhan anak agar semua hak mereka dapat terpenuhi termasuk terhindar dari stunting. Akibat yang ditimbulkan oleh stunting bukan hanya mempengaruhi pertumbuhan fisik (bertubuh pendek/kerdil) saja, namun juga mempengaruhi perkembangan otak anak yang tentunya akan mempengaruhi kemampuan & prestasi disekolah dan produktivitas dan kreativitas di usia produktif (source: RSUP Sardjito). Salah satu pilar strategi percepatan dan pencegahan angka stunting adalah ketahanan pangan dan gizi yaitu dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi dan mendorong ketahanan pangan. Pemerintah akan mendorong penguatan kebijakan pemenuhan kebutuhan gizi dan pangan masyarakat, mencakup pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, pemberian bantuan pangan dan makanan tambahan, investasi dan inovasi pengembangan produk, dan keamanan pangan sejalan dengan amanat Undang-Undang No 36/2009 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No.18/2012 tentang Pangan.
Sumber: https://m.mediaindonesia.com/read/detail/255633-pemerintah-siapkan-lima-strategi-untuk-atasi-stunting
Upaya pemerintah untuk mengatasi stunting juga akan memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan di masa depan, karena kualitas generasi yang menjadi lebih baik.
Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi tidak dominan
mempengaruhi kejadian stunting di Indonesia. Ada faktor-faktor lain yang
berpengaruh lebih besar menjadi penyebab prevalensi stunting. Dengan demikian,
upaya pembangunan ekonomi tidaklah dapat dijadikan sebagai kebijakan utama
yang secara langsung dapat untuk menurunkan kejadian stunting di Indonesia.
Kajian mengenai pengaruh transformasi struktural terhadap kejadian
stunting dapat diperdalam dengan melihat pengaruh per sektor usaha dengan
menggunakan nilai nominal (Rupiah) masing-masing.
Solusi dari permasalahn stunting yang terjadi di indonesia adalah memberikan arahan pembelajaran ataupun edukasi seputar stunting, dampaknya, dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan pola pikir keberlanjutan.
Saya setuju bahwa prevalensi stunting dapat mempengaruhi kinerja pembangunan Indonesia. Stunting itu mengurangi kemampuan aritmatik dan abstraksi, itu adalah kemampuan dasar berpikir. Artinya, dia tidak bisa membayangkan hal-hal lebih kompleks, dia terjebak pada teknologi simpel.
Saat dewasa, mereka yang mengalami kondisi stunting berpeluang mendapatkan penghasilan 20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting.
Penderita stunting dalam angkatan kerja Indonesia tidak akan mampu menguasai teknologi yang lebih canggih, sehingga terjebak pada kerja-kerja kasar yang semakin sedikit serapannya.
Efeknya, saat Indonesia memiliki angkatan kerja tinggi pada 2030, pendapatan per kapita Indonesia tidak naik signifikan akibat pemasukan pekerjanya yang tidak tinggi.
Oleh karena itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, pemerintah memfokuskan pengentasan stunting melalui bantuan sosial. "Karena itu adalah soal gizi dan soal lingkungan, dikaitkan dengan bantuan sosial."
Menurut kakak salah satu bantuan sosial yang efektif untuk masyarakat seperti apa contohnya yang dapat membawa perubahan?
Menurut saya salah satu bantuan sosial yang efektif adalah adanya Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan prevalensi kasus stunting di Indonesia. Sasaran PKH salah satunya keluarga miskin dan rentan yang terdaftar di Data Terpadu Program Penanganan Fakir miskin yang memiliki komponen kesehatan dengan kriteria ibu hamil atau menyusui,anak berusia nol sampai dengan enam tahun. Penerima bantuan PKH diistilahkan sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Adapun kewajiban KPM PKH di bidang kesehatan meliputi pemeriksaan kandungan bagi ibu hamil, pemberian asupan gizi dan imunisasi serta timbang badan anak balita. Selain KPM, pendamping PKH juga memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan dan mengedukasi KPM terkait pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, gizi ibu hamil dan pemeriksaan kehamilan, mengatasi kesakitan dan kesehatan lingkungan (CTPS, kebersihan jamban, Penyediaan Air Bersih dll), aksesibilitas pada Program Indonesia Sehat/Kartu Indonesia Sehat, pemberian makanan tambahan.
Saling berkaitan satu sama lain dimana masalah stunting yang cukup tinggi di Indonesia sangat berpengaruh pada kinerja pembangunan Indonesia. Pada dasarnya stunting banyak diakibatkan karena kemiskinan, kemiskinan ini mengakibatkan pemenuhan gizi, dan higienitas makanan menjadi dihiraukan oleh sebagian besar masyarakat. Kemudian, karena adanya stunting tidak hanya membatasi pertumbuhan fisik namun juga perkembangan kinerja otak. Kecerdasan yang menurun ini juga dapat menimbulkan kemiskinan. Lingkaran ini akan terus berjalan jika tanpa adanya usaha yang dilakukan baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Banyaknya keluarga miskin memengaruhi pendapatan negara dan kinerja pembangunan Indonesia. Menurut saya untuk menyikapi masalah ini solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia, dan mengedepankan pemenuhan gizi seimbang bagi masyarakat. Sehingga stunting dapat diminimalisir dan pembangunan negara dapat berjalan dengan baik.
Bagi saya, stunting yang melanda indonesia ini dapat dicegah dengan cara kita anak muda yang paham akan masalah ini mengajak masyarakat indonesia khususnya para orangtua dan anak untuk tetap menjaga pola makan agar nutrisi dan gizi mencukupi. Karenastunting berkaitan dengan rendahnya kemampuan kognitif anak dan performa mereka di sekolah, jika masalah ini tetap berlanjut dan tidak ditangani secara cepat, maka akan sangat berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia.
Membangun Indonesia dengan mengurangi angka kelajuan stunting sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Diperlukan adanya kesadaran masing-masing untuk memenuhi istilah 4 sehat 5 sempurna dan di iringi dengan olahraga rutin, tetapi bagi masyarakat miskin akan susah dengan hal itu, oleh karenanya semua kalangan masyarakat perlu melakukan gerakan menanam dari rumah, mengingat teknik metode penanaman sekarang sudah banyak tanpa menggunakan tanah. Jadi, sekiranya dapat memberikan asupan gizi pada tanaman yang ditanam sendiri.
Contoh lainnya, para atlet Indonesia mempunyai fisik yang mumpuni dalam berlomba karena asupan gizi yang ia konsumsi selalu dijaga agar unggul dalam pertandingan yang dapat mengharumkan nama Indonesia di Kancah Internasional dalam mendukung pembangunan Indonesia ke yang lebih baik.
Dengan cara melakukan pendekatan di komunitas desa hal yang dapat dilakukan adalah pendekatan intervensi gizi spesifik dilakukan dalam beberapa fokus, termasuk melakukan pelatihan (training) kepada tenaga kesehatan dan kader posyandu, mengembangkan sistem rujukan berjenjang untuk balita stunting dan berisiko stunting, dan implementasi tata laksana stunting oleh dokter spesialis anak dengan pengawasan yang dibantu oleh dokter puskesmas, tenaga gizi puskesmas dan bidan desa.
Saya sangat setuju bahwa stunting dapat menurunkan kinerja pembangunan indonesia di masa mendatang. Hal ini disebabkan karena kualitas sumber daya manusia yang menurun diakibatkan oleh stunting itu sendiri. Untuk mengatasi maslaah ini, diperlukan sinergitas dari seluruh pihak baik pemerintah, swasta, lembaga kesehatan, dan masyarakat. Stunting merupakan masalah kesehatan yang sangat kompleks penyebabnya tak hanya penyebab langsung seperti asupan nutrisi, tetapi juga karna penyebab mendasar seperti faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh karena itu diperlukan regulasi, koordinasi, pelaksanaan program-program di masyarakat dengan baik disusul dengan adanya monitoring dan evaluasi yang terstruktur
stunting memang merupakan suatu hal yang harus diselesaikan. anak harus memiliki gizi yang cukup dan seimbang supaya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dengan begitu anak akan tumbuh besar dan menjadi manusia yang berkualitas, yang akan mempengaruhi pembangunan indonesia. edukasi dan komunikasi mengenai gizi, yang mengarah pada perubahan perilaku sangatlah penting dalam hal ini karena masyarakat harus tau pentingnya gizi bagi tubuh yang akan berdampak terhadap banyak hal. ketahanan pangan juga penting dalam hal ini karena masyarakat dan negara harus mampu memenuhi gizi melalui pangan. dengan demikian, diharapkan pembangunan di Indonesia akan berjalan ke arah yang lebih baik.