Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

School From Home: Menyenangkan atau Menyusahkan?

DI Dinda Aisya 5 years ago

online|690x400

Tak dipungkiri lagi sejak pandemi ini dimulai, pemerintah menganjurkan sekolah, perguruan tinggi, maupun banyak perusahaan untuk menerapkan kebijakan belajar dan kerja dari rumah atau biasa disebut school from home dan work from home sebagai upaya untuk mengurangi dan memutus rantai persebaran virus covid-19. Masyarakat diharuskan untuk beradaptasi dengan kondisi yang baru. Bersamaan dengan hal tersebut, teknologi dan informasi saat ini juga sudah sangat canggih sehingga hal tersebut bisa saja dapat menjadi lebih efisien dan mudah diakses meskipun sedang dirumah saja.

Menurut teman-teman, apakah dengan adanya school from home dan work from home ini menyenangkan atau justru menyusahkan?

131

Saya sendiri diawal beranggapan bahwa school from home itu menyusahkan, karena tidak bertemu secara langsung. Namun, setelah saya melanjalankan school from home selama satu tahun lebih, saya merasa bahkan school from home itu menyenangkan. Karena malah dapat membuat diri saya lebih produktif.

Menjawab pernyataan diatas, kalau menurut saya sendiri WFH memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Pada awal masa pandemik yang mengharuskan semua kegiatan di rumah saya merasa disusahkan karena seluruh kegiatan yang saya lakukan berbasis offline, sehingga membuat pekerjaan tidak optimal. Tetapi sekarang sudah setahun lebih dari awal masa pandemik dan saya setiap hari melakukan pekerjaan dari rumah, dan menurut saya WFH bisa saja menjadi menyenangkan, karena saya lebih produktif dengan waktu kerja yang fleksibel.

Menurut saya ada yang merasa menyenangkan ada juga yang menyusahkan. Tetapi menurut saya lebih banyak yang menyusahkan. Mulai dari tugas banyak, belajar bareng susah, sampai bertanya ke guru/dosen suah. Ini mengkibatkan banyak siswa atau mahasiswa yang memiliki kesadaran yang rendah dalam mengikuti pembelajaran. Rendahnya kesadaran menyebabkan siswa atau mahasiswa tidak mengikuti pembelajaran daring diikuti oleh kurangnya minat dan keraguan tentang kegunaan pembelajaran daring, kurang kehadiran, kurangnya sentuhan pribadi, dan kurangnya interaksi karena masalah konektivitas ditemukan menjadi kelemahan signifikan dari pembelajaran daring.

Menurut saya, menyenangkan atau menyusahkan itu kembali kepada pribadi masing-masing. Untuk orang yang introvert mungkin lebih menyenangkan karena dengan penerapan kebijakan WFH tersebut dapat mengurangi interaksi dengan orang lain. Sebaliknya untuk extrovert akan lebih menyusahkan karena berkurangnya interaksi dengan orang lain.
Disamping itu, dalam kegiatan WFH juga membutuhkan peralatan yang memadai seperti laptop, handphone, kuota dll. karena jika tidak, akan sangat merepotkan.

Buat aku yang memang suka berdiam diri di rumah, sampai saat ini kegiatan pembelajaran daring masih menyenangkan. Hal ini juga tentunya karena aku memiliki fasilitas yang sangat mendukung, sehingga semuanya terasa lancar dan menyenangkan. Dengan berubahnya kegiatan pembelajaran menjadi daring, dalam satu hari aku lebih bisa explore untuk belajar banyak hal diluar bidang studi yang sedang aku jalani.

Walaupun terasa menyenangkan, pastinya kegiatan pembelajaran daring ini juga menimbulkan dampak negatif. Aku pribadi jadi cenderung lebih tidak stabil secara mental. Karena saat ini waktu sendiri jauh lebih banyak dari biasanya, aku lebih mudah stress dan overthinking mengenai hal yang belum tentu terjadi. Tapi jika dibadingkan, buat aku tetap masih lebih banyak sisi positif dari pembelajaran daring sehingga selama ini aku masih merasa bahwa kegiatan ini menyenangkan.

Namun, jika dilihat lebih jauh lagi masih banyak yang merasa bahwa pembelajaran daring ini menyusahkan. Suatu penelitian mengenai permasalahan pembelajaran daring yang dilakukan kepada 54 siswa SMA menunjukkan hasil bahwa masih banyak kendala dalam pembelajaran daring. Tidak hanya kondisi budaya siswa yang belum bisa mengikuti sistem pembelajaran daring, tetapi juga masalah teknis seperti ketersediaan fasilitas pembelajaran.

Perlu dilakukan perluasan jaringan internet di daerah-daerah yang belum tersedia jaringan khususnya di pedesaan oleh pihak penyedia internet atau pemerintah, dan peningkatan kualitas jaringan untuk jaringan yang sudah ada. Siswa juga kehilangan motivasi karena merasa bahwa kegiatan pembelajaran secara konvensional lebih mudah dibandingkan pembelajaran daring. Jadi walaupun aku menganggap bahwa pembelajaran daring ini menyenangkan, realitanya masih lebih banyak yang merasa kesusahan karena keterbatasan akses pembelajaran dan menganggap bahwa sekolah secara tatap muka lebih efektif untuk dilakukan.

[details="Summary"]
Yuzulia, I. (2021). The Challenges of Online Learning during Pandemic: Students’ Voice. *Wanastra: Jurnal Bahasa dan Sastra* , *13* (1), 08-12.
[/details]

Menyusahkan juga dan menyenangkan juga pengalaman kuliah online selama kuliah Kalau menyenangkannya nya itu lebih banyak karena sekolah dari rumah atau kuliah dari rumah sangat memudahkan saya pertama itu dari waktu dan tempat yang fleksibel Jadi kalau waktunya kita bentrok kita bisa sesuaikan dengan dosen tersebut tempatnya juga kita bisa fleksibel bisa memilih Selain itu irit juga kalau kuliah online karena kita nggak banyak memakan biaya dari akomodasi transportasi karena kan kalau kuliah offline Biasanya kita itu banyak mengeluarkan uang kayak kita butuh fotocopy kita butuh makan atau biaya biaya tidak terduga tetapi selama kuliah online ini biaya tersebut tidak keluar banyak jadi kita bisa save money Susahnya itu saat ini saya rasakan saya dalam proses kripsi di mana harusnya saya banyak bimbingan sama dosen saya tetapi karena online dan ppkm akhirnya memperhambat skripsi saya pertama perpustakaan ditutup kedua dosen sulit untuk ditemui kalau misalkan kita konsultasi secara online itu kurang enak lebih enak kita konsultasi secara offline atau secara tatap muka karena dosen juga lebih friendly dan kita lebih bisa berkeluh kesah apa yang kita sulit skripsinya kita bisa tanyakan ke dosen

Menurut saya sebagai seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi sangat menyusahkan, yang dimana seharusnya saat berkuliah Offline bisa memperkaya praktek kita dalam berbicara didepan umum, lebih berbaur, dan langsung mempraktekkan dari komunikasi itu sendiri tanpa ada nya noise (gangguan sinyal, dll) dan sangat amat disayangkan jika terus menerus menggencarkan kegiatan daring dikarenakan kebanyakan siswa atau mahasiswa menjadi malas-malasan saat jam sekolah ataupun kuliah, dikarenakan banyak yang tidak menyalakan kamera dan malah tidur-tiduran seolah tidak ada kegiatan

Menurut ku school from home memiliki kelebihan dan kekurangnya sendiri. Pada awal Covid-19 tersebar di Indonesia aku merasa sangat disusahkan karena dengan mendadak melakukan seluruh aktivitas didalam rumah, untuk berkumpul bersama teman saja tidak bisa apalagi dengan belajar dari rumah yang sering kali terkendala dengan jaringan internet atau alat elektronik yang dipakai, bagian ini menjadi sangat menyusahkan. Tapi makin kesini setelah pandemi terus berlangsung aku pikir jauh lebih menyenangkan untuk melakukan aktifitas di dalam rumah, karena banyak memiliki waktu untuk bersantai dan bisa mencoba melakukan hal terbaru yang membuat diri lebih produktif.

School from home kalo menurut aku sih menyenangkan dan juga menyusahkan. Menyenangkannya karena dapat menghemat ongkos perjalanan ke kampus terlebih jika menjadi seorang mahasiswa rantau dimana ada biaya lain seperti biaya kos, makan dan pastinya biaya nongkrong.

Yang menyusahkan dari school from home menurut aku sih kadang sering miskomunikasi bersama teman kelompok dalam pengerjaan tugas, terbatasnya kuota internet jika tidak menggunakan WiFi, koneksi yang belum tentu selalu baik dan pastinya banyak hal yang dapat membuat seorang siswa atau mahasiswa teralihkan dalam proses pembelajaran contohnya seperti : mengikuti kelas melalui google meet dan jika sedang tidak menyalakan kamera pasti sering teralihkan dengan bermain handphone.

Sebagai seorang mahasiswi yang di tahun ini masih melaksanakan kewajiban sebagai pelajar, tentunya karena adanya pendemi ini sangat mempengaruhi kehidupan belajar-mengajar kita. Saya pribadi lebih suka belajar tatap muka secara langsung, karena materi yang diajarkan oleh dosen bisa langsung dipahami dan dapat dipraktekan atau bisa kita lihat secara langsung. Sedangkan, dengan anjuran school from home ini, kita harus menatap layar laptop terus menerus. Di samping itu, belajar dari rumah ini juga terkadang menghambat proses belajar, entah karena jaringan yang kurang bagus sehingga tidak bisa mendegarkan materi dengan jelas, dimana ujung-ujungnya bisa membuat kita merasa malas dan mengantuk. Terlebih ketika berada di rumah, suasana nya pun juga berbeda ketika berada di kelas/ruang kuliah. Suasana di rumah tentunya semakin membuat kita merasa mager untuk melakukan kegiatan, apalagi dituntut untuk sebisa mungkin memahami materi yang diberikan oleh dosen semasa situasi yang di serba online ini.