Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

School From Home: Menyenangkan atau Menyusahkan?

DI Dinda Aisya 5 years ago

online|690x400

Tak dipungkiri lagi sejak pandemi ini dimulai, pemerintah menganjurkan sekolah, perguruan tinggi, maupun banyak perusahaan untuk menerapkan kebijakan belajar dan kerja dari rumah atau biasa disebut school from home dan work from home sebagai upaya untuk mengurangi dan memutus rantai persebaran virus covid-19. Masyarakat diharuskan untuk beradaptasi dengan kondisi yang baru. Bersamaan dengan hal tersebut, teknologi dan informasi saat ini juga sudah sangat canggih sehingga hal tersebut bisa saja dapat menjadi lebih efisien dan mudah diakses meskipun sedang dirumah saja.

Menurut teman-teman, apakah dengan adanya school from home dan work from home ini menyenangkan atau justru menyusahkan?

132

Keduanya!!!
Menyenangkan jika suasana dan kondiri rumah kondusif, jaringan internet memadai, dan dengan school from home memacu saya sendiri untuk produktif dan fleksibel akan kegiatan tertentu. Sebaliknya, akan terasa sangat menyusahkan jika jaringan internet tidak stabil, apalagi saat musim hujan, tugas yang diberikan saat sekolah online juga lebih banyak dibandingkan sekolah tatap muka. So, menurutku keduanya ada sisi baik buruknya.

Bagi saya ada senang dan susahnya, Jadi untuk senangnya adalah merasa lebih bebas, tidak terburu-buru untuk siap siap berangkat ke kampus, hemat uang ongkos, lebih rileks. Untuk Susahnya pembelajaran lebih tidak efektif, di kampus saya waktu pemberian materi secara lisan sangat pendek, Dosen juga serasa terburu-buru karena waktunya sudah dibatasi. Jika ingin bertanya secara langsung ke dosen susah jika sudah diluar sesi video meeting. Alhasil harus bertanya secara tulisan dan tidak jarang informasi yang diberikan masih membuat bingung. Selain itu tak jarang lama dibalesnya.

Di rumah saya merasa bosan dan sepi karena saya terbiasa mendengar keramaian suasana kampus, bisa bercengkrama dengan teman, Nugas bareng ataupun mengisi kekosongan waktu saat menunggu waktu peralihan mata kuliah. Untuk membuat projek bersama juga kurang efektif, tidak bisa berdiskusi secara langsung.

Saya pribadi merasa bahwa adanya school from home dan juga work from home itu menyenangkan. Namun tidak menutup fakta bahwa di beberapa titik saya kesulitan untuk menjalaninya. Saya lebih nyaman dengan kegiatan dari rumah karena tidak perlu menghabiskan waktu dan uang di perjalanan. Saya bisa menghadiri dua kelas secara bersamaan. Selain itu dengan adanya work from home, saya bisa belajar untuk mengatur waktu dan skala prioritas dengan lebih baik. Kegiatan dalam dilakukan dengan fleksibel dan tingkat produktivitas pun saya rasa cukup bertambah. Jadi, saya merasa adanya work from home ini menyenangkan untuk dilakukan.

menurut saya school from home itu menyenangkan sekaligus menyusahkan. menyusahkannya ketika kita mendapat tugas kelompok yang hanya bisa dikerjakan dengan keluar rumah bersama dengan teman kelompok sedangkan kita dihimbau untuk tetap di rumah saja, atau saat koneksi yang kita gunakan tidak stabil menjadi kesusahan untuk menerrima materi yang diberikan. menyenangkannya kita bisa menjadi lebih produktif karena tidak menghabiskan waktu diperjalanan, belajar mengatur waktu, bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan

Bagi kita golongan mahasiswa atau pekerja kantoran yang merupakan generasi dewasa muda, bekerja dan belajar dari rumah, menyenangkan atau tidak bisa relatif dan bergantung pada banyak faktor.

Namun untuk adik-adik usia sekolah kita, jelas 'school from home; itu benar-benar menyebalkan dan menyusahkan. Proses belajar mengajar sendiri menurut saya hanyalah salahsatu bagian dari sekolah bagi adik adik kita; banyak sekali hal yang membuat anak sekolah semangat untuk bersekolah tiap pagi, teman main atau mengobrol, aktivitas fisik, jajan, dan hal-hal non akademik lainnya. Di sekolah anak-anak bukan hanya belajar dari sisi akademik namun juga sisi non-akademik.

Sementara belajar dari rumah hanya menyisakan belajar dan tugasnya saja dari proses bersekolah, sementara hal-hal menyenangkan lainnya hilang.

Mungkin saya bisa saja salah karena di zaman modern ini anak-anak sekolah bisa saja mendapatkan hiburan dari game atau internet di rumah, namun saya yakin rasanya berbeda dengan benar-benar datang bersekolah dan bercanda ria di dalam kelas, lorong, dan lapangan.

Saya pribadi menyikapi School from home ini sebagai sesuatu yang menyusahkan. Bagaimana tidak, sebagai seorang yang hidup di tempat dengan kecepatan internet yang sangat lambat, ini bagitu menghambat saya dalam menjalani sekolah online dan mencari materi melalui internet. Selain itu, jika terlalu lama sekolah dari rumah akan menyulitkan diri dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Menurut saya menyenangkan sekaligus membosankan, bukan menyusahkan.
Tugas yang diberikan ketika sekolah daring mungkin lebih banyak, tetapi tidak sama sekali menyusahkan menurut saya. Akan tetapi yang saya khawatirkan yaitu pembelajaran praktek, itu merupakan salah satu yang harus melakukan kontak fisik langsung, tidak bisa dilakukan secara online. Praktek, kerja lapangan, workshop itu merupakan ilmu yang sama pentingnya dengan teori, malah kemungkinan lebih penting. Hanya mengetahui teori saja tidak cukup untuk terjun di dunia kerja.

Kalau membahas berdasarkan pengalaman yang saya rasakan selama ini maka saya akan mengatakan bahwa SFH dan WFH ini tidak ada masalah bagi saya karena untungnya tidak banyak kendala yang saya alami. Namun, kalau membahas fenomena ini secara umum pasti ada saja orang-orang yang merasa bahwa kegiatan ini menyusahkan. Kita ambil contoh anak usia dini yang terpaksa harus sekolah daring, tentu output belajar yang ia dapatkan akan berbeda dengan output ketika ia belajar di sekolah karena usia-usia segitu masih butuh banyak bimbingan dari pihak sekolahnya. Ketika di rumah, belum tentu orang tua akan seratus persen berperan selayaknya gurunya di sekolah. Jadi, kadar senang atau susahnya SFH dan WFH ini akan berbeda bagi tiap individu.

Sebagai mahasiswa DKV saya menerimanya sebagai kabar baik, karena sebagian besar waktu menyelesaikan tugas di rumah dikampus hanya menerima materi dan mebuat tugas yang akan nanti diselesaikan dirumah. Saya merasa pengeluaran lebih sedikit karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk transport ke kampus, cetak tugas tinggal mengumpulkan lewat online, dan belajar bisa sambil rebahan dan makan.

[date=2021-09-24 time=12:23:00 timezone="Asia/Jakarta"]
KK Sosmed Podcast - Elisabeth Maranatha

Menurut aku itu baik tapi membosankan. Cukup stay depan meja belajar dan didalam kamar seharian selama proses pembelajaran seperti ini setahun lebih, hal yang membosankan.

tapi, dengan situasi seperti ini juga menambah pengetahuan dan wawasan. Banyak acara yang dapat dilakukan secara online, magang sambil mengikuti webinar, atau pengalaman yang gabisa dirasakan saat offline. Seperti mengikuti 2 atau lebih acara dengan waktu yang berdekatan, kalau offline tidak bisa karena jarak dan waktu juga.