Aku lebih memilih mengerjakan tugas dengan dicicil.
Alasannya kurang lebih sama seperti teman-teman di atas, yaitu karena kita akan lebih memiliki banyak waktu untuk menganalisis, mengidentifikasi, memahami sebuah tugas yang diberikan oleh guru ataupun dosen. Disamping itu kita juga memiliki banyak kesempatan untuk melakukan koreksi terhadap tugas yang telah kita kerjakan sedikit demi sedikit, sehingga peluang terjadinya kesalahan pun kemungkinan akan lebih sedikit dibandingkan mengerjakan tugas secara terburu-buru karena dikejar oleh waktu. Terlebih aku adalah tipe orang yang tidak suka mengerjakan tugas dalam waktu yang mepet dengan deadline, karena aku tidak punya waktu lebih untuk berpikir secara matang sebab waktu yang terbatas. Selain itu, aku adalah tipe orang yang mudah panik sehingga rasanya akan semakin menyiksa diri ketika aku dengan sengaja mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam.
Tidak hanya itu, kebiasaan mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam atau yang disebut SKS merupakan perilaku yang buruk, karena kita secara sengaja menumpuk tugas atau tanggung jawab kita sebagai mahasiswa dimana hal tersebut sangat tidak baik khususnya ketika memasuki dunia kerja. Terkecuali, memang kita sebelumnya tidak memiliki waktu luang untuk mengerjakan tugas, sehingga terpaksa tugas tersebut dikerjakan dengan sistem kebut semalam. Namun, budaya SKS ini masih banyak diterapkan oleh mahasiswa dengan sengaja. Sebagian besar dari mereka menganggap bahwa ketika mengerjakan tugas dengan kepepet maka mereka akan lebih mudah memperoleh inspirasi atau seringkali didengar “The power of kepepet”. Namun, aku pribadi tidak menyarankan untuk mengerjakan tugas dengan SKS.