Rasa bosan yang timbul dalam sebuah hubungan itu menurutku sangat wajar, namun tidak boleh kita biarkan saja karena membutuhkan cara untuk mengatasinya agar tidak sampai berujung ke pertengkaran atau bahkan perpisahan. Hubungan yang dijalani dengan orang yang sama dan dalam waktu yang lama akan lebih rawan menimbulkan rasa bosan, terutama hubungan dalam pernikahan yang dapat berjalan selama puluhan tahun.
Menurut Lars Svendsen pada bukunya “A Philosophy of Boredom” dalam Rochman (2012), dikemukakan bahwa konsep “menarik” (interesting) muncul kurang lebih saat yang bersamaan dengan berkembangnya konsep “individualisme”. Manusia mulai memilah-milah dan mencari apa yang menarik, menyenangkan, dan enak bagi mereka. Dengan konsep yang seperti ini, mereka memperjuangkan hak memperoleh kebahagiaan dan hak untuk terus dipenuhi kebutuhannya. Berdasarkan konsep tersebut, kebosanan pun terjadi ketika hal-hal yang ada tidak lagi memuaskan mereka.
Rasa bosan pada sebuah hubungan itu menurutku dapat dianggap wajar karena pada dasarnya memang tidak ada manusia yang sempurna, termasuk kita dan pasangan kita. Rasa bosan dapat timbul dari berbagai penyebab, seperti rutinitas yang selalu diulang-ulang yang diperparah dengan sedikitnya variasi, adanya penetapan standar dan harapan yang terlalu tinggi pada pasangan kita, adanya ketidakpuasan seksual dan emosional, adanya faktor pemicu eksternal, rendahnya komitmen, dan masih banyak lagi.
Jadi kesimpulannya, setiap orang yang telah menjalin hubungan pasti pernah merasakan bosan dengan pasangannya terutama bagi orang yang sudah menikah. Menurutku, solusi kebosanan yang paling tepat adalah menjaga komitmen cinta yang telah kita ambil sejak akan menjalin hubungan. Dengan cinta yang tulus, masing-masing pribadi akan mampu selalu memberikan yang terbaik bagi pasangannya. Cinta merupakan pekerjaan hati yang perlu terus dipupuk dan dirawat agar tetap hidup. Merawat cinta harus ada keinginan dari dua pihak sehingga dibutuhkan komitmen yang sama antara pihak laki-laki dan perempuan.
[details="Sumber"]
Rochman, K. L. (2012). Mengemas Kebosanan dalam Rumah Tangga. Komunika, 6(1), 1-12.
[/details]