Ada satu momen yang cukup sering muncul dalam perjalanan karier: sebuah ajakan yang terdengar menjanjikan, tetapi juga samar. Bukan perusahaan besar dengan struktur yang jelas, bukan pula pekerjaan dengan jalur karier yang pasti. Ini adalah startup—masih kecil, masih mencari bentuk, dan jujur saja, masa depannya belum jelas.
Di titik seperti ini, biasanya yang muncul bukan sekadar pertanyaan “ini bagus atau tidak?”, tetapi sesuatu yang lebih dalam: apakah ini layak dipertaruhkan?
Dulu, pernah ada fase di mana ajakan seperti ini langsung terasa menarik. Ada semacam romantisasi tentang “membangun sesuatu dari nol”, menjadi bagian dari perjalanan besar sejak awal. Namun seiring waktu, kita mulai melihat sisi lain yang lebih realistis—bahwa tidak semua perjalanan berakhir seperti cerita sukses di media.
Bukan Soal Berani atau Tidak, Tapi Soal Sadar Risiko
Banyak orang melihat keputusan ini sebagai pilihan antara “berani ambil risiko” atau “main aman”. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Masalahnya bukan pada keberanian, tetapi pada kesadaran terhadap risiko yang diambil.
Startup yang belum jelas arahnya biasanya bukan hanya soal kemungkinan gagal, tetapi juga soal ketidakjelasan peran, ekspektasi yang berubah-ubah, dan ritme kerja yang sulit diprediksi. Dalam kondisi seperti ini, seseorang yang tidak memiliki anchor internal seringkali mudah terdorong ke dalam kondisi stres yang berkepanjangan.
Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow pernah menjelaskan bagaimana manusia cenderung bias terhadap potensi reward besar, meskipun probabilitasnya kecil. Ini sering terjadi dalam konteks startup: kita terlalu fokus pada kemungkinan “kalau berhasil”, dan mengabaikan realitas “kalau tidak”.
Yang Sering Tidak Disadari: Kita Tidak Hanya Menilai Startup, Tapi Juga Diri Sendiri
Keputusan untuk join startup sebenarnya bukan hanya tentang startup itu sendiri. Lebih dari itu, ini adalah tentang posisi diri saat ini.
Apakah sedang berada di fase eksplorasi atau stabilisasi? Apakah ada tanggungan yang membuat risiko menjadi lebih berat? Apakah secara mental siap menghadapi ketidakpastian jangka panjang?
Menariknya, banyak orang melewatkan pertanyaan ini. Mereka sibuk menganalisis pitch deck, market size, atau produk, tetapi lupa mengevaluasi kondisi internalnya sendiri.
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan kecenderungan apatis terhadap diri sendiri—bukan dalam arti tidak peduli, tetapi dalam arti tidak benar-benar jujur melihat kapasitas dan batasan pribadi.
Padahal, keputusan yang sama bisa sangat tepat bagi satu orang, tetapi sangat merugikan bagi orang lain, hanya karena konteks hidupnya berbeda.
Insight yang Jarang Dibicarakan: Startup Tidak Selalu Butuh Orang Paling Pintar, Tapi Paling Stabil
Ada satu pola menarik yang sering terlihat di startup tahap awal: mereka cenderung mencari orang yang “hebat”—skill tinggi, cepat belajar, penuh ide. Namun yang sering mereka butuhkan justru adalah orang yang cukup stabil untuk bertahan dalam kekacauan.
Karena di fase awal, arah bisa berubah kapan saja. Strategi hari ini bisa tidak relevan minggu depan. Produk bisa pivot berkali-kali. Dalam kondisi seperti ini, orang yang terlalu idealis justru sering cepat kecewa.
Hal ini mengingatkan pada konsep “emotional regulation” yang banyak dibahas oleh Daniel Siegel, bahwa kemampuan mengelola emosi jauh lebih menentukan keberlangsungan seseorang dalam sistem yang tidak stabil dibanding sekadar kecerdasan kognitif.
Jadi, sebelum memutuskan join, pertanyaannya bukan hanya “apakah startup ini menjanjikan?”, tetapi juga “apakah diri ini cukup stabil untuk berada di lingkungan yang tidak pasti?”
Antara Growth dan Eksploitasi yang Tersamar
Ada satu sisi yang jarang dibicarakan secara jujur: tidak semua pengalaman di startup adalah “learning experience”. Beberapa di antaranya adalah eksploitasi yang dibungkus dengan narasi growth.
Jam kerja panjang disebut passion. Ketidakjelasan peran disebut fleksibilitas. Ketidakpastian gaji disebut investasi masa depan.
Di titik ini, penting untuk membedakan mana yang benar-benar peluang berkembang, dan mana yang hanya rasionalisasi dari sistem yang belum matang.
Jika tidak hati-hati, seseorang bisa terjebak dalam kondisi depresi ringan hingga berat—bukan karena pekerjaannya sulit, tetapi karena ekspektasi dan realitas yang terlalu jauh berbeda.
Jadi, Apa yang Akan Dilakukan?
Jika berada dalam posisi tersebut, mungkin pendekatannya tidak lagi hitam-putih.
Bukan langsung menolak karena takut, bukan juga langsung menerima karena tergoda.
Yang lebih realistis adalah memperlakukan ini sebagai eksperimen yang terukur.
Melihat siapa founder-nya, bukan hanya dari visinya, tetapi dari cara berpikir dan integritasnya. Mengamati bagaimana mereka mengambil keputusan kecil—karena di situlah pola sebenarnya terlihat.
Memastikan ada batasan yang jelas untuk diri sendiri: sampai kapan akan bertahan jika tidak ada progres? Apa indikator bahwa ini masih layak dilanjutkan?
Karena pada akhirnya, keputusan ini bukan tentang benar atau salah, tetapi tentang seberapa sadar kita terhadap konsekuensi yang mungkin terjadi.
Penutup: Tidak Semua Kesempatan Harus Diambil
Ada satu pemikiran yang dulu cukup sulit diterima: bahwa tidak semua kesempatan adalah peluang.
Beberapa di antaranya adalah distraksi yang terlihat seperti peluang.
Startup yang belum jelas masa depannya bisa menjadi batu loncatan yang luar biasa, tetapi juga bisa menjadi jalan memutar yang melelahkan. Dan tidak ada cara pasti untuk mengetahui hasilnya di awal.
Namun setidaknya, dengan kesadaran yang lebih jernih—tentang risiko, tentang diri sendiri, dan tentang realitas lapangan—keputusan yang diambil tidak lagi sekadar impulsif, tetapi reflektif.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan apakah keputusan itu membawa kita ke tempat terbaik, tetapi apakah keputusan itu diambil dengan kesadaran penuh.
Daftar Pustaka
Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux, 2011.
Siegel, Daniel J. The Developing Mind. Guilford Press, 2012.