Hasil dari RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 berdasarkan wawancara dengan Mini International Neuropsychiatric Interview, rata-rata tingkat depresi masyarakat Indonesia yang berusia sama dengan-lebih dari 15 tahun mecapai titik 6,1 dengan catatan hanya 9% yang berobat ke profesional (psikolog atau psikiater).
Kemunculan depresi disebabkan kejadian fisik dan psikologis yang beragam, salah satunya bermula dari stress yang tidak ditangani ataupun diatasi dengan benar sehingga lama-kelamaan menjadi stress berat dan merujuk pada depresi. Oleh karena itu disini penulis akan membahas lebih banyak mengenai stress dan cara coping stress.
- Pengertian Stress
Stress adalah konsep yang banyak dipelajari dalam psikologi, umumnya mengacu pada reaksi psikologis terhadap kondisi lingkungan (stressor) yang menghasilkan berbagai efek termasuk gairah fisik dan ancaman terhadap kesejahteraan (Lazarus, 1996; 2006, MacIntyre et al., 2020). Cannon (1932) dalam penelitiannya mengani stress, berpendapat bahwa ketika individu merasa ada ancaman, maka tubuh akan terangsang dan termotivasi melalui system syaraf simpatetik dan endokrin. Respon ini lah yang mendorong individu apakah akan menyerang (fight) atau melarikan diri (flight) dari ancaman tersebut.
- Pendekatan-pendekatan Stress
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Shuterland & Cooper (1990) maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penilaian Kognitif : Stress adalah pengalaman subyektif yang (mungkin) didasarkan atas persepsi terhadap situasi yang tidak tampak semata pada lingkungan.
2. Pengalaman : Sebuah situasi dimana individu tersebut ‘akrab’ atau tidak dengan situasi yang ada, keterbukaan semula (previous exposure), kemampuan yang nyata, dan reinforcement.
3. Tuntutan : Tekanan, tuntutan, keinginan, atau rangsangan yang sifatnya memengaruhi cara-cara tuntutan yang dapat diterima.
4. Pengaruh Interpersonal : Kehadiran individu, faktor situasional, dan latar belakang memengaruhi pengalaman subjektif, respon, dan perilaku coping.
5. Keadaan Stress : ketidakseimbangan antara tuntutan yang dirasakan dengan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tuntutan tersebut.
- Penilaian Psikologis Terhadap Stress
Faktor psikososial yaitu ‘representasi’ atau ‘penilaian’ terhadap ancaman yang diperkenalkan oleh Lazarus. Dia mengatakan bahwa ketika individu berhadapan dengan lingkungan (atau pengalaman) yang baru ataupun berubah, maka individu melakukan proses penilaian awal (primary appraisal) untuk menentukan arti dari kejadian tersebut. Setelah penilaian awal terhadap hal yang berpotensi terjadinya stress, maka penilaian sekunder akan muncul. Penilaian sekunder (secondary appraisal) adalah pengukuran terhadap kemampuan coping dan sumber-sumbernya, serta apakah coping ini dapat atau tidak menghadapi kerusakan/kesalahan, ancaman, dan tantangan terhadap kejadian.
- Sumber-sumber stress
Sumber stress dapat berubah-ubah sejalan dengan perkembangan manusia tetapi kondisi stress juga dapat terjadi di setiap saat sepanjang kehidupan. Sarafino (1990) membedakan sumber-sumber stress yaitu dalam diri individu, keluarga, komunitas, dan masyarakat.
1. Sumber Stress dalam Diri Seseorang
Stress muncul dalam diri seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, bila seseorang mengalami konflik.
2. Sumber Stress didalam Keluarga
Stress disini dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti: perselisihan, perasaan acuh— tak acuh, tujuan yang berbeda, dll.
3. Sumber Stress didalam Komunitas dan Lingkungan
Interaksi subjek di luar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress.
4. Pekerjaan dan Stress
Faktor yang membuat suatu perkerjaan menjadi ‘stressful’ yaitu tuntutan pekerjaan, entah itu pekerjaan yang terlalu banyak ataupun jenis pekerjaan yang lebih stressful daripada jenis pekerjaan lain. Menurut Sarafino (1990) terdapat aspek yang dapat meningkatkan stress pekerja, yaitu lingkungan fisik yang terlalu menekan, kurangnya kontrol yang dirasakan, kurangnya hubungan interpersonal, dan kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja.
5. Stress yang berasal dari lingkungan : Lingkungan yang dimaksudkan disini adalah seperti lingkungan fisik, seperti : kebisingan, suhu yang terlalu panas, kesesakan, dan angin badai (tornado, tsunami).
- Model Stress-Kesehatan
Taylor (1991) menggambarkan beberapa jalan (route) untuk menjelaskan bagaimana stress mempengaruhi sehat dan sakit.
1. The direct route : Stress menghasilkan perubahan fisiologis dan psikologis yang mengakibatkan berkembangnya suatu penyakit. Sarafino (1990) menyatakan stress menimbulkan perubahan pada sistem fisik tubuh yang memengaruhi kesehatan. Ditandai dengan pelepasan hormon catecholamines dan cortiocsteroids yang dilepas oleh rangsangan system kardiovaskuler. Stress dapat menyebabkan penyimpangan fisiologis seperti penyakit kepala kronis, hipertensi, jantung kronis, bahkan kanker.
2. The personality route : Presdiposisi kepribadian memengaruhi individu untuk mengalami stress yang akan memengaruhi kesakitan.
3. The interactive route : Menekankan pentingnya kekebalan psikologis maupun fisiologis dalam hubungan stress dan sakit. Model ini menyatakan bahwa stress dapat mengarah pada kesakitan bagi orang yang mudah terserang (penyakit).
4. The health behavior route : Stress secara tidak langsung memengaruhi kesakitan dengan merubah pola perilaku individu. Contoh, peningkatan asumsi alkohol saat sedang stress.
5. The illness behavior route : Stress memengaruhi perilaku sakit tanpa menyebabkan penyakit. Contoh, orang yang menganggap gejala stress sebagai penyakit tertenu maka akan berobat ke dokter.
referensi :
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2018. http://www.depkes.go.id/resources/download/infoterkini/materi_rakorpop_20 18/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf – Diakses September 2020.
Smet, Bart. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta : PT. Grasindo.