Survey yang didanai oleh Renfrew Center Foundation, nasional non-profit yang didekasikan untuk edukasi dan pencegahan gangguan makan, menemukan bahwa 44% wanita mengalami perasaan negatif saat tidak memakai makeup. Artinya nyaris setengah wanita di Amerika merasa tidak nyaman dengan kulit mereka sendiri dan terpaksa memakai 'topeng'. Banyak yang menanyakan ketergantungan dunia pada makeup.
Sebuah gerakan yang dipelopori oleh penyanyi Alicia Keys mempromosikan #NoMakeup dan mendorong wanita agar merasa nyaman dalam kulit mereka sendiri, tanpa makeup.
Diantara kedua sisi tersebut, sekelompok awnita jurnalis, blogger, dan pengguna media sisial menyuarakan ketidaksetujuan pada opini tersebut. Dibandingkan tuntutan sosial, wanita-wanita itu menekankan bahwa menggunakan makeup utu menyenangkan dan merupakan ekspresi dari kepribadian. Seperti seorang pelukis dengan canvas baru dan kosong setiap hari.
Nancy Etcoff, seorang profesor psikologi di Universitas Hardward, mengatakan bahwa dua puluh atau tiga puluh tahun lalu, makeup hanya ditujukan untuk memuaskan lelaki atau karena tuntutan dari kehidupan sosial. Namun, wanita saat ini menggunakan makeup menurut pilihan mereka sendiri dan juga sebagai alat untuk kreatifitas. Hal itu membuat mereka bukan hanya lebih menarik namun juga mengontrol.
Saya juga setuju pada pendapat tersebut bahwa makeup, bukan hanya untuk memuaskan orang lain tapi justru untuk memuaskan diri sendiri dan dorongan kreativitas. Hal ini berhubungan dengan self-love dimana makeup menjadi salah satu alat untuk mengungkapkan kepribadian dan sekaligus bisa merasakan kepuasan karena telah mencapai apa yang diinginkan dengan makeup.
[details="Summary"]
* https://mejo457.web.unc.edu/2017/02/a-new-norm-of-perfection-women-find-meaning-in-makeup/
[/details]