Memutuskan untuk childfree ketika sudah menikah menurutku itu adalah hak bagi siapa pun. Keputusan tersebut juga pasti didasarkan oleh banyak pertimbangan atau latar belakang yang berkaitan dengan keluarga, kesehatan, gaya hidup, finansial, emosional atau bahkan masalah lingkungan, sosial, ekonomi dan keamanan yang membuat orang tua tidak tega untuk melahirkan seorang anak di tengah kondisi dunia yang semakin memburuk. Sementara, para penganut childfree juga beranggapan bahwa betapa egoisnya mereka yang memaksa untuk memiliki keturunan sedangkan kondisi finansialnya masih serba kekurangan, meningat bahwa dalam membesarkan anak banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan seperti pendidikan, kebutuhan pangan, fasilitas, dan biaya lain yang tidak sedikit jumlahnya.
Namun, banyak sebagian orang yang menganggap bahwa pasangan yang telah menikah dan memutuskan untuk childfree adalah orang yang egois karena dianggap bahwa mereka hanya ingin mempedulikan dirinya sendiri, kebahagiaan dirinya sendiri tanpa diganggu oleh orang lain.
Banyak juga orang beranggapan bahwa pasangan yang memiliki keturunan biasanya karena sering muncul berbagai pertanyaan dari kerabat hingga keluarga seperti “Kapan punya anak? Kok belum punya keturunan? Mau punya anak berapa?”, sehingga membuat mereka merasa risih.
Namun, keputusan untuk childfree memang sangat bersebrangan dengan pola pikir masyarakat Indonesia, sehingga tidak jarang pasangan yang telah menikah namun tidak mempunyai keturunan banyak mendapat cibiran, stigma negatif dan nasihat dari orang lain. Sebab tidak semua orang dapat memahami dan mengetahui latar belakang mereka untuk memutuskan childfree. Saya pribadi ketika telah menikah, tidak ingin menganut childfree namun mungkin hanya ingin menunda dengan alasan untuk mempersiapkan berbagai hal seperti mental, finansial, ilmu dalam mendidik anak, dan hal-hal lainnya. Sebab, untuk mendidik anak dengan baik agar menjadi orang yang sukses maka dibutuhkan persiapan yang matang dalam mendidiknya.