Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Ramai penganut Childfree, setuju atau tidak?

oriana1withwater-1000x762|600x350

Pernikahan memang diidentikan dengan memiliki keturunan, tetapi saat ini banyak sekali digaungkan gerakan childfree atau hidup tanpa anak setelah menikah. Walau memang hal tersebut merupakan pilihan masing - masing pasangan, tetapi banyak yang mengatakan penganut gerakan ini adalah orang yang Egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak ingin terbebani dengan adanya seorang anak.

Pasangan yang secara sengaja memutuskan tidak punya anak akan dipandang rendah oleh masyarakat dan menjadi cibiran. Hal ini dilihat dari penelitian berjudul Parenthood as a Moral Imperative? Moral Outrage and the Stigmatization of Voluntary Childfree Women and Men juga menyuarakan kesimpulan yang sama yang mengatakan bahwa orang yang sengaja tidak punya anak selalu dipandang rendah oleh masyarakat. Masa depan mereka dianggap suram dan dinilai egois karena kegiatan mereka cuma bersenang-senang.

Kalo dari pandangan Youdics apakah setuju dengan adanya gerakan ini?

160

Memiliki momongan merupakan suatu hal yang dimimpikan hampir seluruh orang, terutama bagi mereka yang sudah menikah. Namun, tidak sedikit pasangan yang memutuskan tidak punya anak, terutama generasi milenial. Beberapa pasangan sudah lama menikah yang tidak punya keturunan akibat faktor biologis, sehingga perlu melakukan dan melakukan penantian yang cukup lama untuk mendapatkan keturunan. Lalu bagaimana dengan pasangan yang lebih memutuskan tidak punya anak?
Melihat di luar sana banyak sekali yang berusaha keras medapatkan keturunan, keputusan tersebut kerap kali diangap sebagai egois. Masyarakat kerap menghakimi bahwa keputusan tersebut hanya mementingkan diri sendiri dan belum memiliki kesiapan untuk membangun sebuah keluarga.

Memutuskan tidak punya anak atau childfree jika dihubungkan dengan keegoisan, menurut para ahli tidak ada sangkut pautnya. Keduanya hal yang berbeda dan berasal dari buah pikiran dan tujuan yang jelas. Menunda memiliki anak dalam jangka waktu tertentu tidak otomatis membuat mereka lebih mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Ada banyak alasanan mengapa pasangan menikah memutuskan tidak punya anak. Mulai dari latar belakang keluarga, kesehatan, pertimbangan gaya hidup, alasan finansial, alasan emosional atau maternal insting hingga komitmen pasangan kepada sosial. Artinya mereka memiliki pandangan bahwa di luar sana masih banyak anak-anak kurang beruntung yang membutuhkan uluran tangan orang-orang seperti mereka.

Memutuskan untuk childfree ketika sudah menikah menurutku itu adalah hak bagi siapa pun. Keputusan tersebut juga pasti didasarkan oleh banyak pertimbangan atau latar belakang yang berkaitan dengan keluarga, kesehatan, gaya hidup, finansial, emosional atau bahkan masalah lingkungan, sosial, ekonomi dan keamanan yang membuat orang tua tidak tega untuk melahirkan seorang anak di tengah kondisi dunia yang semakin memburuk. Sementara, para penganut childfree juga beranggapan bahwa betapa egoisnya mereka yang memaksa untuk memiliki keturunan sedangkan kondisi finansialnya masih serba kekurangan, meningat bahwa dalam membesarkan anak banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan seperti pendidikan, kebutuhan pangan, fasilitas, dan biaya lain yang tidak sedikit jumlahnya.

Namun, banyak sebagian orang yang menganggap bahwa pasangan yang telah menikah dan memutuskan untuk childfree adalah orang yang egois karena dianggap bahwa mereka hanya ingin mempedulikan dirinya sendiri, kebahagiaan dirinya sendiri tanpa diganggu oleh orang lain.
Banyak juga orang beranggapan bahwa pasangan yang memiliki keturunan biasanya karena sering muncul berbagai pertanyaan dari kerabat hingga keluarga seperti “Kapan punya anak? Kok belum punya keturunan? Mau punya anak berapa?”, sehingga membuat mereka merasa risih.

Namun, keputusan untuk childfree memang sangat bersebrangan dengan pola pikir masyarakat Indonesia, sehingga tidak jarang pasangan yang telah menikah namun tidak mempunyai keturunan banyak mendapat cibiran, stigma negatif dan nasihat dari orang lain. Sebab tidak semua orang dapat memahami dan mengetahui latar belakang mereka untuk memutuskan childfree. Saya pribadi ketika telah menikah, tidak ingin menganut childfree namun mungkin hanya ingin menunda dengan alasan untuk mempersiapkan berbagai hal seperti mental, finansial, ilmu dalam mendidik anak, dan hal-hal lainnya. Sebab, untuk mendidik anak dengan baik agar menjadi orang yang sukses maka dibutuhkan persiapan yang matang dalam mendidiknya.

Ada sebuah pepatah yang pernah saya dengar "Anak tidak dapat memilih siapa orang tuanya, sejak lahir mereka menerima kondisi orang tua mereka tanpa diminta"
Dari pepatah tersebut dapat dilihat bahwa anak benar-benar anugrah, mereka tidak dapat memilih siap orang tuanya, jika dapat memilih, anak akan memilih orang tua yang mapan baik secara emosional dan finansial. Dari pepatah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa orang tualah yang menarik anak ke dunia, dan mereka tidak minta dilahirkan bahkan memilih siapa orang tuanya. Oleh karena itu sebagai orang tua seharusnya menyiapkan yang terbaik untuk anak jika dirasa belum cukup mampu dengan mengambil keputusan untuk child free adalah keputusan yang tepat.
Keputusan untuk child free adalah hak semua pasangan, Keputusan ini sangat tepat apabila pasangan dirasa kurang cukup mampu secara finansial dan emosional. Jangan sampai hanya keinginan tanpa beralasan untuk memiliki anak namun setelah itu enggan untuk merawat dan membesarkan anak.

Aku ga bisa bilang setuju atau ga. Di satu sisi, aku adalah orang yang jelas ingin punya anak ketika menikah, tetapi di sisi lain, keputusan untuk tidak punya anak itu adalah hak mereka (penganut childfree), pilihan hidup mereka yang seharusnya ga boleh diintervensi. Jadi, aku ga bisa mendukung gerakan ini, tapi aku juga ga menyalahkannya.

Pun mungkin, keputusan untuk ga memiliki anak ini dibuat berdasarkan pertimbangan yang udah matang. Mungkin penganutnya merasa ga cukup mampu menjadi orang tua, entah secara mental dan/atau materiel. Ataupun mungkin mereka ga merasa bisa membagi kasih sayangnya untuk anak (yang justru bisa melukai anak itu nanti). Bagaimanapum, itu adalah hak masing-masing individu.

Kalo dari sudut pandang saya pribadi, tidak ada yang salah dengan 'gerakan' childfree ini. "if she want kids, we have kids. But if she dosen't want kids, we don't have kids" Kalimat ini mengandung arti penting bahwa mempunyai anak pasca menikah itu bukan merupakan beban moral yang harus dibebankan kepada seorang perempuan. Dia bersedia menikah, bukan berarti dia juga bersedia/siap untuk memiliki anak secara psikis. Jadi, para pasangan utamanya para suami harus benar benar make sure bahwa pasangannya benar-benar ingin memiliki anak atau tidak.

Punya anak atau tidak bukan menjadi tolak ukur personality seseorang. Justru akan lebih egois jika mereka mengetahui bahwa ia dan pasangannya tidak bisa menjamin kebahagiaan anak di masa depan tetapi 'nekat' memiliki anak banyak. Kebahagiaan anak dipertaruhkan, akhirnya anak tumbuh dengan serba kekurangan dan membebani anak dengan masa tuanya. Semua pasangan sempurna, semua perempuan sempurna dengan atau tanpa anak.

*Disc: saya berpendapat dengan tidak mengaitkan kodrat perempuan dalam agama ya...

Saya team netral jika membahas topik ini. Banyak faktor yang dapat menyebabkan pasangan memutuskan untuk meganut childfree ini, diantaranya adalah faktor financial, ketidaksiapan mental dan batin, trauma masa lalu, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, tentu kita tidak bisa menghakimi dan memandang sebagian orang yang menganut childfree ini sebagai konteks yang buruk. Ada banyak pertimbangan yang kemudian meyakinkan mereka untuk menganut childfree ini. Namun yang perlu diingat adalah sesungguhnya keputusan untuk memiliki anak atau tidak merupakan keputusan yang sifatnya sangat personal, sehingga orang lain tidak bisa mencampuri urusan yang satu ini bahkan orang terdekat kita sekalipun. Tetapi harus kita ketahui, keputusan menempuh jalan childfree jelas tidak mudah. Pasalnya, pandangan ini masih asing dan cenderung bertentangan dengan anggapan umum sehingga harus dipertimbangkan dengan baik.

Menganut childfree atau tidak itu hak setiap orang. Dibalik itu mungkin mereka memiliki alasan untuk memutuskan mempunyai anak atau tidak, setiap orang kan mempunyai permasalahan tersendiri yang tidak diketahui oleh orang-orang. Bagi orang-orang yang menganut childfree bisa jadi mereka ada masalah dengan ekonomi, seperti tidak mau memiliki anak saat kondisi finansialnya buruk. Ada juga pasangan yang hobi nya travelling ataupun mendaki sehingga mereka memutuskan untuk tidak mempunyai anak, ataupun sekarang ini wanita-wanita karir yang fokus terhadap jabatan maupun karirnya tidak ingin mempunyai anak karena nantinya akan mengganggu pekerjaannya, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya.
Menurut aku sih setuju tidaknya dengan gerakan ini ya pasti tidak setuju, gerakan ini mempunyai dampak positif maupun negatif. Positifnya adalah tidak akan krisis penduduk usia muda seperti yang terjadi di korea maupun jepang saat ini. Dampak negatifnya adalah jika tidak terkendali akan terjadi ledakan penduduk yang nantinya menyebabkan tingkat pengangguran, ataupun hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Untuk mengantisipasinya adalah dengan program keluarga berencana agar tidak krisis penduduk usia muda maupun kelebihan penduduk.

Menurut saya menganut chilldfree itu tidak masala, itu hak setiap orang. Karena kita tidak dapat menyamakan alasan melakukan pernikahan itu apa. Kan orang ada yang menikah memang bukan ingin memiliki anak dan ada yang memang ingin memilikki anak, masing-masing pasti memiliki alasannya sendiri. Jadi jika ditanya setuju atau tidak saya sendiri sih setuju saja dengan penganut Childfree. Karena jika kita tidak setuju sama aja kita tidak memberikan kebebasan untuk orang. Karena itu hak masing-masing.

Saya setuju jika pilihan childfree menjadi daftar kehidupan pasangan cinta. Saya sendiri pun memiliki angan-angan kalau tidak memiliki anak setelah menikah. Bukan karena egois, melainkan ada beberapa sebab yang tidak bisa dikemukakan secara umum. Masalah privasi terkadang menjadi faktor tak terduga.

Kalau aku tim netral, antara setuju dan ngga setuju. Menurutku, ngga masalah jika ada yang menganut gerakan childfree tersebut. Mungkin mereka memang memiliki banyak alasan yang menyebabkan mereka menganut gerakan tersebut karena sebagai orangtua tentu harus memiliki kesiapan jiwa dan raga untuk mengurus anak dan itu tidak mudah, mungkin mereka juga memiliki alasan pribadi lainnya. Aku setuju juga dengan pendapat kak Ayu

[quote="ayushintyadewi, post:17, topic:160736"]
keputusan untuk memiliki anak atau tidak merupakan keputusan yang sifatnya sangat personal, sehingga orang lain tidak bisa mencampuri urusan yang satu ini bahkan orang terdekat kita sekalipun.
[/quote]

Tapi kalau pandanganku sendiri, punya anak ketika udah menikah itu perlu karena menurutku anak tuh bisa jadi sumber kebahagiaan, kita jadi punya temen berbagi cerita jadi ngga feeling lonely dimasa tua.