Kecemasan dalam komunikasi tidak muncul dengan begitu saja, asal mula munculnya kecemasan komunikasi interpersonal pada individu disebabkan oleh beberapa faktor. Secara garis besar dijelaskan dalam Encyclopedia of Communication and Information (2002) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal yaitu:
Situasi yang baru dapat menjadi situasi yang sulit untuk membangun sebuah hubungan. Situasi yang seperti inilah yang dapat menyebabkan kecemasan dalam menghadapi suatu hal yang baru. Situasi baru dapat menghalangi seseorang untuk nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Situasi formal berhubungan dengan perilaku yang sangat ditentukan. Pada situasi ini perilaku yang ditentukan dianggap sesuai dan ada sedikit kebebasan untuk penyimpangan dari mereka.
Subordinate status terjadi ketika individu merasa bahwa orang lain memilki kemampuan komunikasi yang lebih baik daripada dirinya, sehingga kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami individu tersebut semakin meningkat.
Individu yang “menonjol” memiliki kecemasan komunikasi yang tinggi. Istilah “menonjol” merupakan individu yang memiliki ciri khas tertentu misalnya, orang yang berpidato di depan orang banyak akan merasa lebih cemas dibandingkan ketika berbicara di sebuah kelompok kecil.
Unfamiliarity merupakan situasi ketika individu menghadiri sebuah pertemuan dan hanya mengetahui satu atau dua orang saja, semakin banyak orang asing dan situasi disekitar, maka semakin seseorang merasa khawatir.
Dissimilarity terjadi ketika individu memiliki ketidaksamaan dengan lawan bicaranya. Munculnya ketidaksamaan dapat memicu meningkatnya kecemasan pada individu. Sebagian besar berbicara dengan orang yang memiliki kesamaan akan lebih mudah daripada berbicara dengan orang yang berbeda.
Sebagian besar orang tidak menyukai orang lain memperhatikan dirinya. Perhatian yang berlebihan, seperti menatap individu atau menggali pikiran pribadi individu dapat menyebabkan kecemasan komunikasi meningkat tajam.
Semakin tinggi individu merasa sedang dievaluasi, maka kecemasan akan semakin meningkat.
Selain itu, McCroskey menambahkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal pada individu, yaitu :
- Kurangnya kemampuan dan keterampilan komunikasi
Individu akan sulit berkomunikasi dengan efektif apabila keterampilan komunikasi yang dimilikinya kurang, apabila individu kurang berpengalaman dalam menjalin komunikasi interpersonal, individu tersebut akan lebih mudah cemas ketika menghadapi situasi yang sama.
Sifat komunikasi yang evaluatif cenderung membuat seseorang lebih cemas, misalnya saat wawancara melamar pekerjaan. Semakin besar perasaan dievaluasi, maka kecemasan akan semakin meningkat.
Individu merasa bahwa orang lain merupakan komunikator yang lebih baik dan tahu lebih banyak daripada diri sendiri, hal tersebut dapat meningkatkan kecemasan. Berpikir positif tentang diri sendiri dan meningkatkan keterampilan dapat membantu mengurangi perasaan cemas.
Tingkat kepastian berkaitan dengan tidak teramalkan suatu situasi yang memungkinkan individu untuk merasa cemas, misalnya dalam situasi yang baru atau berbicara dengan orang yang tidak dikenal.
Perbedaan yang muncul ketika berbicara dengan teman bicara cenderung menimbulkan kecemasan, dengan memberikan perhatian pada kesamaan yang dimiliki maka tingkat kecemasan akan menurun.
Individu cenderung merasa lebih cemas apabila berbicara dalam kelompok besar daripada kelompok kecil karena adanya perasaan yang membebani bahwa lebih banyak orang yang memperhatikan dirinya.
- Pengalaman kegagalan dan kesuksesan
Pengalaman masa lalu akan mempengaruhi respon seseorang apabila menghadapi situasi yang sama. Pengalaman keberhasilan seseorang dalam menjalin komunikasi akan menolong dalam memberikan respon yang tepat saat menjalin komunikasi di waku berikutnya, sedangkan pengalaman kegagalan akan menimbulkan rasa pesimis dan cemas dalam menjalin komunikasi dengan orang lain.
Pendapat yang sama diungkapkan oleh McCroskey, yang menyebutkan beberapa penelitian pembentukkan tingkat kecemasan komunikasi pada individu dipengaruhi oleh jabatan atau pekerjaan seseorang, kedudukan atau pilihan sekelompok orang, kedudukan seseorang dikelasnya, rendahnya interaksi, sebaik apa tingkat penghargaan diri seseorang (self-esteem), dan penyingkapan diri.
Menurut Heider, kemampuan individu termasuk kemampuan komunikasi, tidak hanya ditentukan oleh masalah fisik dan keterampilan semata, akan tetapi dapat pula dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Menurut Bandura, ada keterkaitan antara kecemasan dengan kepercayaan diri. Pendapat lain dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat (2007) bahwa salah satu faktor individu mengalami kecemasan komunikasi interpersonal adalah kepercayaan diri yang rendah. Sejalan dengan hal tersebut, Laxermenyatakan bahwa rendahnya kepercayaan diri pada individu menyebabkan individu cenderung untuk melihat kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan menganggap sesuatu yang mengganggu.