Kalau saya sendiri lebih membutuhkan teman yang bisa selalu siap ketika saya membutuhkan dia juga karakter teman yang bisa terbuka dengan saya. Keterbukaan seseorang kepada orang lain bisa diindikasikan bahwa seseorang tersebut telah percaya kepada orang lain. Bercerita tentang dirinya atau pengalamannya atau perasaannya kepada kita menandakan bahwa mereka merasa nyaman ketika berbagi cerita dengan kita. Saya juga berharap memiliki teman-teman yang demikian, bukan hanya teman yang berkeluh kesah, tapi juga teman yang bisa mendengar saya berkeluh kesah juga. Saya seringkali dijadikan sebagai tempat curhatan oleh banyak teman saya, namun ketika saya butuh untuk bercerita saya malah bingung harus curhat ke siapa.
Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa mencari teman yang sefrekuensi itu ternyata penting juga. Mereka yang sefrekuensi biasanya justru lebih memahami karena karakter dirinya tidak jauh beda. Berangkat dari hal tersebut, mereka bisa dengan cepat memberikan masukan dan saran yang mungkin cocok dengan karakter masing-masing. Kalau untuk jujur, saya pribadi tidak terlalu condong bahwa seorang teman harus jujur. Nyatanya tidak semua bisa disampaikan secara gamblang. Hubungannya dengan keterbukaan, saya lebih suka ketika seorang teman bilang, "Aku lagi ada masalah nih, cuma aku belum bisa cerita" dengan begini, saya jadi paham harus memposisikan diri seperti apa.