Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana seharusnya kita menyikapi sebuah kegagalan?

JE JEMI RAHMAWATI 5 years ago

image|690x360

Hi guys, hari ini aku mau ngajak kalian berdiskusi tentang sebuah topik yang sebenernya sudah sangat membosankan untuk didengarkan. Kegagalan itu apa sih sebenarnya? secara singkat kita dapat mengartikan bahwa kegagalan adalah suatu kondisi di mana kita tidak bisa mewujudkan apa yang kita inginkan. Kalau misalnya kita mencari pengertiannya yang lebih luas dari internet kita akan menemukan bahwa failure is the state or condition of not meeting a desirable or intended objective, and may be viewed as the opposite of success.

Tapi ya ngomong-ngomong apakah setiap orang itu pernah gagal? dan bagaimana sebaiknya kita bersikap dalam menghadapi sebuah kekagagalan?

156

kalau saya menganggap bahwa kegagalan merupakan kesukseksan yang tertunda, yang mengajarkan saya untuk lebih semangat dalam memperjuangkan sesuatu yang saya rasa memang pantas untuk saya, lagi pula ada takdir yang bisa di ubah, sehingga saya yakin dengan adanya doa, usaha, ihktiar dan juga tawakal bisa meraih hal yang awalnya gagal tersebut.

Kegagalan adalah sesuatu yang lumrah. Sebab setiap manusia, sesukses apa pun dia, pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Masalahnya adalah masih banyak dari kita yang salah dalam menghadapi kegagalan yang datang menghampiri. Aku mempunyai beberapa tips untuk menghadapi sebuah kegagalan, anyway, it is based on my experiences:

  1. Buang jauh-jauh kata kegagalan dalam kamus hidup kamu. Ganti kata tersebut dengan sesuatu yang belum berhasil kamu raih. Dengan begitu, secara gak langsung kamu sudah memberi energi positif dalam diri bahwa bakal ada kesuksesan di depan sana yang sedang menanti kamu.
  2. Saat kamu merasa gagal dalam meraih target atau apa pun yang sedang kamu harapkan, coba deh flashback lagi pada perjuangan yang sudah kamu lakukan. Perjuangan tersebut yang justru amat bernilai dan bisa jadi pengalaman berharga yang akan menemani kamu menuju perjalanan berikutnya dalam meraih keberhasilan. Kalau kamu gak gagal dulu, barangkali kamu gak bakal sadar kalau kamu sudah berjuang sedemikian keras untuk ada di titik sekarang.
  3. Kamu harus yakin bahwa kegagalan adalah bentuk rezeki juga, lho. Kamu bakal lebih menghargai keberhasilan kalau kamu sudah berkali-kali ditempa dengan bermacam kegagalan. Lewat sesuatu yang belum berhasil kamu raih, kamu punya kesempatan untuk introspeksi diri, merenung, dan gak langsung merasa cepat puas. Jadi, bersyukurlah jika kamu harus beberapa kali mengalami kegagalan.

Gagal bukan berarti kamu harus berhenti berjuang. Justru, kegagalan merupakan gerbang pembuka bagi kita untuk lebih berjuang lagi. Failure is the mother of success. Hope it'll help :)

Saya rasa kegagalan adalah hal yang wajar dalam kehidupan seseorang. Ketika mengalami kegagalan atau berada dalam situasi yang tidak sesuai dengan harapan, maka saya akan mencoba untuk menerima, berbaik hati pada diri sendiri, tidak menyalahkan diri sendiri atau orang lain, dan juga berusaha untuk tidak mengingat atau mengungkit kegagalan tersebut. Saya menerima kegagalan saya dan mencoba untuk mengevaluasi dari sudut pandang baru, mundur sedikit untuk melihat celah yang lebih memberikan saya kesempatan untuk berhasil. Menerima bukan berarti menyerah dan keluar dari lintasan perjuangan, tapi mengakui bahwa pilihan saat itu bukanlah yang terbaik. Bahwa saya masih memiliki kesempatan lain dengan berbagai macam cara untuk berhasil mendapatkan apa yang saya inginkan.

Ya, saya rasa semua orang pernah merasakan kegagalan. Bahkan, jika kita mendengar atau membaca kisah-kisah inspiratif dari tokoh-tokoh yang sukses besar dalam hidupnya sekalipun pernah mengalami kegagalan. Jujur saja, saya orang yang takut gagal, namun saya berusaha mengatasi hal tersebut. Biasanya, sebelum saya mencoba sesuatu, saya berusaha menanamkan ke diri saya bahwa "lebih baik gagal karena mencoba daripada tidak pernah mencoba." Dengan prinsip itu, saya mencoba mengendalikan ekspetasi saya agar tidak terlalu kecewa jika menghadapi kegagalan. Selain itu, ada satu pepatah yang diberikan oleh guru saya semasa SMA yang saya pegang hingga saat ini: "Jika gagal, coba lagi. Jika salah, perbaiki. Jika menyerah, semua tak berarti lagi" sedikit banyak membuat saya merasa kegagalan memang hal yang biasa dihadapi manusia, namun yang terpenting adalah untuk tidak menyerah atau putus asa.

setiap orang pasti pernah mengalami sebuah kegagalan, tergantung orang tersebut bagaimana menyikapi kegagalan itu, ada yang bisa lebih berkembang berkat kegagalan, karena kegagalan juga merupakan pemeblajan untuk kita dan bisa membuat kita lebih berkembang. namun ada yang menjadi terpuruk karena kegagalan tersebut biasanya akrena tidak sesuai dengan ekspetasi mereka sendiri

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan dan menurut aku itu merupakan hal yang lumrah. Gagal adalah kondisi dimana seseorang belum berhasil untuk mencapai tujuannya atau apa yang telah ditargetkan. Gimana caranya menyikapi kegagalan tersebut? Jangan mudah menyerah. Jangan jadikan kegagalan itu sebagai penghambat kita dalam mencapai tujuan yang telah diimpikan. Untuk menyikapi kegagalan, jangan mudah untuk frustasi, putus asa, dan berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Bagaimana ingin mencapai tujuan jika sudah mulai menyerah duluan? Lebih baik bijak dalam menanggapi kegagalan. Dengan kegagalan, seharusnya kita bisa mempertimbangkan kedepannya lebih baik lagi dari sebelumnya. Kegagalan juga merupakan bagian dari proses dan bukan untuk menurunkan semangat kita untuk mencapai tujuan. Malah dengan adanya kegagalan, kita harus lebih semangat dalam melakukan sesuatu. Selalu ingat bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.

Kegagalan adalah langkah awal untuk menuju kesuksesan. sangat wajar jika kita gagal dalam hal tertentu, tidak semuanya selalu berhasil dalam hidup ini. sebaiknya kegagalan tidak perlu terlalu kita pikirkan. jika memang kita mengalami kegagalan, jangan berlarut - larut dalam kegagalan tersebu. sebaiknya semangat kembali, dan berusaha kembali semaksimal mungkin agar kegagalan tersebut berubah menjadi sebuah kesuksesan

Kalau habis mengalami kegagalan aku biasanya sedih dan nangis, dan itu manusiawi kok. Cuma dari kesedihan itu aku perlahan-lahan mulai menata hati dan diri lagi biar bisa bangkit. Kegagalan yang udah pernah dialami sebaiknya jadi pembelajaran aja, ga usah terlalu di ratapi. Toh, di masa yang akan datang juga kita pasti akan menghadapi kegagalan-kegagalan yang selanjutnya. Hidup memang begitu kok, jadi siapapun yang saat ini mengalami kegagalan, tetep semangat ya.

Menurut saya, sebagai manusia biasa kita wajib untuk bersedih ketika mendapati kegagalan. Namun, tidak baik untuk selalu berlarut dalam kesedihan tersebut.

Bagaimana dapat membentuk sikap terhadap diri sendiri melalui kegagalan. Dalam teori sikap dapat merekomendasikan empat pendekatan (Baron, 2003).
1. Pendekatan Pembelajaran
Dalam pendekatan ini, sikap dipandang sebagai kebiasaan, sesuatu yang dipelajari. Dalam penelitian ini, orang hidup dengan rasa sakit, bukan kegagalan. Jika individu dapat mempelajari sesuatu yang dilakukan dengan pola tertentu yang ingin dicapainya, maka itu adalah kegagalan dan keberhasilan.
2. Pendekatan Motivasi
Pendekatan ini menjelaskan prinsip-prinsip koherensi, yang menyatakan bahwa seseorang menemukan koherensi antara sikap dan antara sikap dan perilaku. Dalam hal ini, rasa sakit yang dirasakan seseorang dapat dijelaskan dengan apakah seseorang dapat konsisten dalam kemampuan kognitifnya untuk bertahan dan berhenti melakukan sesuatu.
3. Pendekatan harapan pribadi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa mungkin ada manfaat untuk menerima tujuan-tujuan ini. Harapan nilai akan mengambil sikap yang lebih egois. Dalam studi ini, harapan dimunculkan ketika mengevaluasi kegagalan. Banyak orang lebih cenderung mengatakan bahwa kegagalan yang diterima bukan hanya karena diri mereka sendiri, tetapi lebih karena faktor luar.

Referensi
Harmaini, Hidayat. (2012). Mengapa Kegagalan Menyakitkan?. Jurnal Psikologi , Volume 8 Nomor 2, Desember 2012