Antara percaya dan tidak percaya, sih. Aku kasih contoh dengan pengalaman teman kali, ya. (Sudah izin, dan menurutku ini unik sekali karena aku belum pernah dengar atau alami.) Jadi temanku pernah punya hubungan yang cukup lama (tahunan). Dia peduli sama pacarnya (sekarang mantan)? Jelas. Dia sayang sama pacarnya? Iya. Tapi kalau sampai bisa bilang "cinta"? Nah katanya, dulu waktu menjalankan hubungannya, secara otomatis dia bilang iya. Tapi anehnya, waktu putus, dia merasa biasa saja. Malah katanya dia merasa ringan, mungkin karena hubungan yang tahunan itu bikin lelah kali, ya. Dan kalau dia mencoba flashback, dia mengiyakan kata "cinta" tersebut tidak pernah secara inisiatif, katanya pasti si pacar yang memulainya--tapi bukan berarti dulu temanku ini tidak peduli sama sekali.
Nah, dari situ dia mengambil keputusan sendiri, kalau mungkin hubungan tersebut hanya bikin dia nyaman. Temanku nyaman sama pacarnya (sekarang mantan) karena dia selalu ada, nyaman karena mereka saling tolong, dan lain-lain. Katanya, temanku menyesal putus pun bukan karena dia patah hati, tapi karena dia merasa kehilangan sahabat dan orang yang selalu ada. Aku nggak tahu kalian paham atau tidak, tapi memang setelah putus, temanku baru sadar kalau "cinta" yang sebelumnya "dipamerkan" itu tidak pernah benar-benar terasa. Dan anehnya, ini pertama kalinya terjadi. Sebelumnya dengan pacar yang lain, dia selalu yakin dengan perasaannya sendiri.
Jadi, kesimpulan yang bisa aku ambil adalah terkadang sayang dan nyaman berbeda dengan cinta. Aku sendiri kurang tahu apa "cinta" itu, tapi yang aku tahu, "cinta" seharusnya begitu kompleks dan intens yang membuat si perasa "kewalahan" sendiri, ibaratnya si perasa ini "jatuh" banget. Pernah nggak kalian merasa suka, sayang, atau apapun itu dengan orang sampai merasa "sakit"? Tapi tipe sakit yang bikin terharu, dan malah merasa tidak mau kehilangan? Nah menurutku, itu baru cinta. It's too intense and deep it hurts.