Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Pengaruh Agroforestri dalam Mengatasi Masalah Lingkungan: Pemanasan Global, Gas Rumah Kaca, dan Bencana Alam Lainnya?

NU Nur Farida 6 years ago

WhatsApp Image 2020-09-07 at 03.00.42|690x578

Eksploitasi hutan dan konversi lahan saat ini telah banyak menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Hilangnya tutupan lahan hutan karena konversi hutan untuk pemukiman, perkebunan, pertanian dan kebutuhan untuk pembangunan di sektor lain, telah menyebabkan kerusakan lingkungan di berbagai tempat. Kerusakan lingkungan yang dirasakan seperti terjadinya perubahan iklim, pemanasan global, bencana alam banjir, longsor dan kekeringan.

Tuntutan menuju kelestarian alam dan lingkungan seringkali terbentur dengan tuntutan ekonomi yang dirasa jauh lebih penting, karena menyangkut pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan stabilitas ekonomi yang diiringi makin meroketnya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, adalah kenyataan pahit lainnya yang harus dihadapi dalam usaha pelestarian alam dan lingkungan.

Seharusnya ada solusi yang bersifat win-win solution sehingga mampu mengakomodir antara kepentingan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan konservasi sumberdaya alam dan lingkungan yang sama-sama krusialnya sehingga konsep “Hutan Lestari dan Masyarakat Sejahtera” dapat terwujud dalam arti yang sebenarnya. Upaya-upaya untuk mengendalikan kerusakan lingkungan dan laju pemanasan global perlu dilakukan oleh semua pihak, salah satunya melalui upaya pengelolaan hutan secara baik. Pemanasan global terjadi akibat efek pemanasan yang disebut efek rumah kaca (green house effect). Emisi gas karbon yang berlebihan, terutama yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia, merupakan salah satu faktor utama terjadinya efek rumah kaca.

Hutan berfungsi sebagai penyerap gas karbon sehingga hutan dapat berfungsi sebagai penahan lajunya pemanasan global. Dengan demikian, berkaitan dengan upaya menahan laju pemanasan global, pengelolaan hutan secara baik dan berkelanjutan merupakan suatu keharusan. Pengelolaan hutan perlu memperhatikan berbagai aspek fungsi hutan. Suatu kenyataan bahwa oleh karena dorongan faktor-faktor sosial, ekonomi dan lain-lain, kerusaan hutan terjadi dimana-mana dan alih fungsi lahan hutan untuk peruntukan lain seringkali tidak dapat dihindarkan. Karena itu diperlukan sistem pengelolaan lahan hutan yang memperhatikan berbagai aspek, baik aspek ekologi, produksi, maupun sosial ekonomi, misalnya dengan sistem agroforestri.

Sistem agroforestri merupakan sintesis sistem agronomi (pertanian) dan sistem hutan dengan penanaman tanaman pertanian diantara tegakan pohon. Oleh karena pertanian semakin terbatas, budidaya tanaman pangan dan komoditas pertanian lainnya di lahan kawasan hutan melalui sistem agroforestri merupakan suatu altematif yang perlu terus dikembangkan. Pegelolaan hutan secara agroforestri diharapkan dapat meningkatkan fungsi ekologi, fungsi produksi, maupun fungsi sosialekonomi hutan.

Benarkah agroforestri dinilai tepat sebagai solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut?

Lalu bagaimana peran agroforestri itu sendiri dalam rangka mengatasi permasalahan lingkungan yang timbul seperti pemanasan global dan bencana alam ?

Referensi bacaan 3.pdf|attachment (195.0 KB)
Referensi bacaan 1.pdf|attachment (92.2 KB)
Referensi bacaan 2.pdf|attachment (441.6 KB)

140

Agroforestry merupakan salah satu langkah mengatasi keterbatasan lahan dengan memadukan pohon berkayu dengan tanaman lain yang dianggap sesuai sehingga selain menyelamatkan hutan Indonesia juga sebagai mata pencaharian petani dan membantu perbaikan dan pencegahan bencana alam. Agroforestry membantu mempertahankan keberagaman hayati dengan memperhatikan flora atau fauna apa yang dapat mendukung kelestarian agroforestry, juga mempengaruhi sosial ekonomi lingkungan sekitar. Dalam pelaksanaan agroforestry, harus dilakukan dengan sungguh2 dan harus diawasi lembaga. Diharapkan agroforestry di Indonesia dapat berjalan dengan baik demi lingkungan sekitar dan kelangsungan hidup manusia

Agroforestry memiliki 2 fungsi, salah satunya adalah fungsi lingkungan. Fungsi lingkungan ini berupa komponen-komponen yang tidak terpisahkan dari agroforenstry sebagai sebuah sistem yang berupa fungsi hidrologi, fungsi ekologi dan fungsi konservasi. Umumnya beupa jasa, yang sebenarnya dapat juga dikuantifikasi dengan menggunakan parameter-parameter yang ada. Dalam hal ini, agroforestry berfungsi sebagai pencegah terjadinya erosi tanah melaui penutupan lahan dan strata tajuk, penyimpan cadangan air tanah, pengikat karbon sehingga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, dan sebagai habitat dalam konservasi atau perlindungan terhadap flora dan fauna tertentu
Agroforestry juga berperan dalam fungsi hidrologi terkait dengan fungsi hutan dan strata tajuknya sebagai salah satu pemegang peranan penting dalam siklus air dan pengaruh tutupan pohon dan tanaman semusim terhadap aliran air adalah dalam bentuk:
* Intersepsi air hujan: tajuk pohon dapat mengintersepsi dan menyimpan sejumlah air hujan dalam bentuk lapisan tipis air (waterfilm) pada permukaan daun dan batang yang selanjutnya akan mengalami evaporasi sebelum jatuh ke tanah. Apabila curah hujan tinggi, peran intersepsi pohon penting dalam kaitannya dengan pengurangan banjir.
* Daya pukul air hujan: Vegetasi dan lapisan seresah melindungi permukaan tanah dari pukulan langsung tetesan air hujan yang dapat menghancurkan agregat tanah, sehingga terjadi pemadatan tanah. Partikel tanah yang hancur dapat menyebabkan penyumbatan pori tanah makro sehingga dapat menghambat infiltrasi air tanah, yang dapat menyebabkan limpasan air pemukaan meningkat.
* Infiltrasi air:
* Serapan air: Serapan air oleh pohon diantara kejadian hujan akan mempengaruhi jumlah air yang dapat disimpan dari kejadian hujan berikutnya, sehingga selanjutnya akan mempengaruhi proses infiltrasi dan aliran permukaan. Serapan air pada musim kemarau, khususnya dari lapisan tanah bawah akan mempengaruhi jumlah air tersedia untuk ‘aliran lambat’ (slow flow)

Dari segi mitigasi, agroforestri memiliki peran yaitu menyimpan jumlah karbon dalam tanah lebih tinggi dari tanaman satu jenis (monokultur) . Penerapan agroforestri dapat beperan untuk mengurangi emisi karbon dilakukan pada area terdeforestrasi dengan jenis pohon dicampur dengan penaung pohon, buah2 ,dll. (Naver et al., 2010)

Sistem agroforestri harus diatur dengan baik agar dapat meningkatkan kesuburan lahan sehingga berdampak pada peningkatan kualitas tanah dengan cara pengembalian serasah bekas pangkasan tanaman kayu, daun dan batang sisa panen tanaman bawah dapat dikembalikan ke tanah agar terdekomposisi menjadi humus untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, selain itu kondisi demikian dapat memperbaiki struktur dan porositas tanah serta lebih lanjut dapat meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas menahan air sehingga dapat meminimalisir kehilangan tanah oleh air dengan demikian maka lingkungan yang diperuntukan sebagai daerah pertanian akan mampu terjaga dalam kurun waktu yang panjang.

Menurut saya, benar adanya agroforestri dapat menjadi solusi yang paling tepat untuk mendukung sosial-ekonomi negara dan kelestarian lingkungan. Karena seperti yang telah dijelaskan di atas, agroforestri merupakan gabungan antara sistem pertanian dengan sistem hutan. Kebutuhan primer manusia sendiri meliputi sandang, pangan, dan papan. Ketiga kebutuhan tersebut dapat terpenuhi dengan adanya sistem agroforestri. Di dalam agroforestri, dapat ditanami tanaman kayu seperti pohon jati, sengon, dan mahoni yang dapat digunakan sebagai bahan dasar papan alias bangunan. Selain itu, dapat pula ditanami tanaman kapas sebagai bahan dasar sandang alias pakaian. Di dalam sistem ini juga dapat ditanami tanaman pangan seperti jagung, kentang, dan lain sebagainya untuk memenuhi pangan.

Agroforestri juga dapat mengatasi pemanasan global. Hal ini karena dengan beranekaragamnya tanaman dan banyaknya tanaman pohon di dalam sistem agroforestri dapat menyerap gas karbondioksida yang menjadi salah satu pemicu utama efek rumah kaca. Selain pemanasan global, agroforestri juga dapat menjadi solusi atas permasalahan bencana alam. Hal ini karena tanaman-tanaman pohon dapat menyerap dan menahan air dalam jumlah besar sehingga banjir dan longsor dapat dicegah.

Sabarnurdin et al. (2011) menyatakan bahwa sistem agroforestri diprediksi kuat dapat menjadi solusi bagi berbagai masalah baik sosial maupun lingkungan, diantaranya isu pemanasan global, dan degradasi lingkungan.
Sistem agroforestri mampu mempertahankan kesuburan tanah, melindungi daerah tangkapan air, berkontribusi di dalam upaya penyerapan karbon dan mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati dan restorasi lansekap.

Agroforestri dinilai bisa membantu beberapa fungsi hutan, sehingga
bermanfaat untuk konservasi tanah dan air daerah aliran sungai (DAS). Tindakan terpenting adalah mempertahankan pohon di lansekap, baik pohon yang sudah ada secara alami, pohon yang ditanam oleh masyarakat maupun yang tumbuh sendiri, sehingga membentuk “agroforest” (lahan pertanian yang rapat dengan aneka macam tanaman, dengan kondisi dan lingkungan yang menyerupai hutan alami).

Agroforestri merupakan sistem kombinasi dalam bidang pertanian yang telah dikembangkan di daerah beriklim tropis maupun sub-tropis. Agroforestri memiliki banyak keunggulan, contohnya dalam mengurangi gas rumah kaca, karena dalam sistem agroforestri tentunya terdapat banyak jenis pepohonan atau tanaman yang dapat meningkatkan cadangan karbon. Hal tersebut menyebabkan efek gas rumah kaca akan berkurang. Selain itu, sistem agroforestri dapat menurunkan tekanan dan memperbaiki keadaan ekosistem, khususnya tanah.

  1. Peran Agroforestri sebagai Fungsi lingkungan, berupa komponen-komponen yang tidak terpisahkan dari i sebuah sistem yang berupa fungsi hidrologi, fungsi ekologi dan fungsi konservasi. Umumnya beupa jasa, yang sebenarnya dapat juga dikuantifikasi dengan menggunakan parameter-parameter yang ada. Dalam hal ini, agroforestry berfungsi sebagai pencegah terjadinya erosi tanah melalui penutupan lahan dan strata tajuk, penyimpan cadangan air tanah, pengikat karbon sehingga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, dan sebagai habitat dalam konservasi atau perlindungan terhadap flora dan fauna tertentu.
    Sumber:
    (Ary Widyanto Agroforestry dan Peranannya dalam Mempertahankan Fungsi Hidrologi dan Konservasi 2013
  2. Potensi ekosistem daratan dalam mengurangi CO2 di udara tergantung dari
    macam ekosistem, komposisi spesies, struktur dan distribusi umur tanaman
    (terutama untuk hutan). Faktor lain yang cukup mempengaruhi adalah kondisi
    setempat seperti iklim, kondisi tanah, adanya gangguan alam dan macam
    pengelolaan lahan.
    Sebagai dampak dari adanya penebangan, kebakaran dan gangguan lainnya, di
    dalam ekosistem muda setiap tahun terjadi penyerapan CO2 dari atmosfer,
    misalnya hutan industri atau hutan regenerasi (hutan sekunder). Sedang pada
    hutan tua di daerah tropika basah akumulasi biomasa terus berlangsung
    sehingga diperoleh akumulasi biomasa yang sangat tinggi. Dengan demikian
    disimpulkan bahwa hutan umumnya dapat mengurangi emisi gas CO2 di
    atmosfer. Hal ini benar terjadi bila hanya diperhatikan pada tingkat pohon, tetapi tidak pada skala sistem hutan karena tingkat dekomposisi bahan organik
    di hutan kurang lebih kurang sama dengan tingkat penyerapan CO2 .
    Perkecualian terjadi pada hutan gambut di mana akumulasi CO2 justru terjadi
    di dalam lapisan organik tanah dan proses dekomposisi bahan organik tanah
    berlangsung sangat lambat.
    Banyak hasil penelitian telah dilaporkan bahwa alih-guna lahan hutan menjadi
    lahan pertanian menurunkan cadangan C. Penurunan tersebut antara lain
    disebabkan oleh: (a) Hilangnya atau berkurangnya jumlah tegakan pohon per
    luasan; (b) Perbedaan komponen penyusun sistem penggunaan lahan yang
    baru; (c) Pengelolaan residu panen
    Sumber:
    Widianto, Kurniatun Hairiah, Didik Suharjito
    dan Mustofa Agung Sardjono Fungsi dan Peran
    Agroforestri Maret 2003

Jose (2009) menjelaskan bahwa agroforestri
memiliki empat manfaat utama bagi ekosistem dan
lingkungan, yaitu penyerapan karbon, menjaga dan
meningkatkan kesuburan tanah, konservasi
keanekaragaman hayati, serta menjaga dan
meningkatkan kualitas udara dan air. Smith
(2008) dan Dresner (2008) juga
mengungkapkan bahwa lahan dengan tanaman
berkayu memiliki peran penting dalam menjaga
sumberdaya alam karena mampu mencegah atau
mengurangi bahaya banjir, serta mengontrol erosi
tanah. Peran-peran tersebut selama ini kurang
disadari oleh masyarakat, terutama di daerah-daerah
dimana akses informasi dan transportasi masih
cukup rendah. Akan tetapi dengan semakin
gencarnya issue pemanasan global dan perubahan
iklim yang banyak ditayangkan dan dimuat di
berbagai media massa seperti televisi dan surat
kabar, membuat masyarakat sedikit demi sedikit
mulai mengerti bahwa dampak negatif dari
pemanasan global ini telah mereka rasakan. Mereka
mulai sadar akan pentingnya menjaga kelestarian
lingkungan dengan cara menanam pohon.