Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang membuat kalian tidak mau membuka hati untuk orang lain?

KR Krisna Suzana 5 years ago

image|275x183

Hubungan spesial dengan lawan jenis tentunya hal yang selalu diinginkan oleh semua orang, apalagi para jomblo nih ya. Namun apakah semua hubungan spesial atau percintaan itu selalu baik? tentu tidak, bukan. Banyak sekali kejadian yang tidak mengenakkan dalam suatu hubungan yang bahkan sampai menjadi toxic relationship. Banyak sekali yang sampai trauma loh dengan hubungan seperti itu sampai-sampai tidak mau lagi membuka hati untuk orang lain ya karena takut hal tersebut terjadi lagi.

Kira-kira, menurut kalian kenapa sih orang gak mau buka hati lagi untuk yang lain? apakah kalian pernah mengalami hal itu?

158

Sebenernya bukan tidak mau, tapi mungkin belum mau. Aku setuju sama pendapat teman-teman diatas, memang terdapat berbagai alasan seseorang mengapa belum mau membuka hati seperti karena kekecewaan, trauma, memiliki trust issue, dan lain lain. Kalo aku sendiri, jujur punya trauma untuk suka sama lawan jenis. setuju dengan pendapat kak @Iasha_Zahara

[quote="Iasha_Zahara, post:12, topic:160965"]
untuk menghilangkan rasa trauma ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar
[/quote]

butuh waktu lama untuk benar-benar bangkit dari trauma itu sampai pada akhirnya jadi ngebuat aku nyaman untuk sendiri dulu. Selain itu, lebih pingin fokus sama diri sendiri dulu karena aku merasa aku belum mengenal diriku dengan baik bahkan untuk percaya sama diri sendiri aja kadang masih susah jadi aku ngga mau memaksakan untuk membuka hati untuk seseorang karena hal itu juga bisa jadi menyakitkan bagi aku maupun orang lain. aku juga berfikir kalau hal seperti ini itu let it flow aja jadi biarkan waktu yang menjawab hehe

Menurut ku alasan kenapa seseorang ngga bisa membuka hati untuk orang lain itu berbeda-beda, seperti yang sudah banyak temen-temen tuliskan di atas, aku setuju akan hal tersebut.
Setiap permasalahan yang menyangkut hati pasti akan lama untuk di pulihkan, khususnya untuk wanita. Seperti yang kita tau wanita lebih mengarah kepada perasaan (hati) bukan logika, jadi jika seorang wanita sudah pernah mengalami suatu kejadian yang menyakiti hati mereka, mereka akan sulit bangkit dan butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka tersebut terlebih dalam soal pasangan lawan jenis.
Tapi kalo aku sendiri alasan gamau buka hati untuk orang lain sebetulnya bukan ngga mau tapi belum mau, karna aku berpikir "buat apa punya pasangan klo gua aja udh seneng dengan teman-temen dan aktivitas lainnya” (menganut paham young, free and chill) LOL, jadi urusan untuk membuka hati ga pernah kepikiran.

Menurut saya, hal ini terjadi karena adanya peran pola asuh orang tua. Masa kecil adalah masa dimana pengalaman anak untuk mengenal dunia dan menjadi pondasi baginya untuk kehidupan dalam masa perkembangan selanjutnya.

Perlakuan orang tua kepada anak-anaknya sejak masa kecil akan berdampak pada perkembangan sosial moralnya dimasa dewasa nya. Perkembangan sosial moral inilah yang akan membentuk watak sifat dan sikap anak kelak meskipun ada beberapa faktor lain yang berpengaruh dalam pembentukan sikap anak yang tercermin dalam karakter yang dimilikinya (Ayun, 2017). Beberapa bentuk dari pola asuh diantaranya, :

  1. Pola Asuh Otoriter, merupakan cara mendidik anak dengan menggunakan kepemimpinan otoriter, kepemimpinan otoriter yaitu pemimpin menentukan semua kebijakan, langkah dan tugas yang harus dijalankan. Sebagaimana diketahui pola asuh otoriter mencerminkan sikap orang tua yang bertindak keras dan cenderung diskriminatif. Hal ini ditandai dengan tekanan anak untuk patuh kepada semua perintah dan keinginan orang tua. Sehingga, kontrol yang sangat ketat terhadap tingkah laku anak, anak kurang mendapatkan kepercayaan dari orang tua, anak sering dihukum, apabila anak mendapat prestasi jarang diberi pujian atau hadiah.

  2. Pola Asuh Demokratis, ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak ,anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Sedikit memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutamayang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri .Anak diberi kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya sehinggaa sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri.

  3. Pola Asuh Permisif, yaitu bentuk pola asuh yang membiarkan anak bertindak sesuai
    dengan keinginannya, orang tua tidak memberikan hukuman dan pengendalian. Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, orang tua tidak pernah memberikan aturan dan pengarahan kepada anak, sehingga anak akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri walaupun terkadang bertentangan dengan norma sosial.

Jadi, menurut saya dengan pola asuh yang otoriter telah dijelaskan diatas bahwa dapat dapat menyebabkan seorang anak menjadi pendiam, malu berargumen, susah bersosialisasi dikarenakan kurangnya keperacayaan mereka terhadap orang lain.

Pernah sih, cuma kayaknya berdoa semoga gak keulang lagi sih, karena itu menurutku bisa ngerugiin diri sendiri, mana tau kan kalau orang yang ingin masuk itu orang yang baik untuk kita berbeda dengan yang sebelumnya? yuk bisa yuk.

Konon katanya, cinta adalah perasaan yang mewarnai dunia dan membuat hidup jadi lebih bermakna untuk dijalani, dan tentunya perasaan ini pun tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Setiap individu pasti memiliki kisah cintanya masing masing yang penuh lika liku, ada yang berakhir bahagia di bahtera pernikahan, namun tak sedikit yang berakhir teramat menyakitkan di tengah jalan sehingga membuat seseorang enggan untuk membuka kembali hatinya untuk orang lain. Merasakan sakit hati yang teramat dalam bisa dibilang menjadi salah satu alasan yang membuat seseorang enggan membuka hatinya kembali. Trauma dan teringat kegagalan pada kisah cinta sebelumnya yang terus menghantui membuatnya jadi demikian. Atau bahkan, kenangan indah bersama mantan masih saja terus terbayang sehingga membuat seseorang gagal move on dan akhirnya enggan membuka hatinya lagi. Kemudian, alasan fokus pada karir juga terkadang menjadi alasan seseorang enggan membuka hatinya. Mereka cenderung mementingkan karir dan ingin mencapai kesuksesan secepat mungkin, sehingga untuk jatuh cinta dan membuka hati saja tidak ada waktu. Kemudian, mungkin belum menemukan seseorang yang cocok dan yang bisa membuat seseorang membuka hatinya lagi, atau lebih singkatnya belum ada yang menarik. Ya memang, menutup atau membukanya hati merupakan hak setiap individu dan tidak dipaksakan sesuai kehendak pribadi.

Kalau menurut saya, banyak alasan yang menjadikan orang tidak ingin membuka hatinya untuk orang lain, salah satunya karena trauma, ingin fokus kepada diri sendiri, ataupun memiliki prinsip hidup nya masing-masing. Kalau saya sendiri saya tidak yakin dengan diri sendiri apakah saya membuka hati atau tidaknya kepada orang lain. Karena saya merasa enjoy ketika sendiri, dan saya tidak pernah merasakan kekecewaan yang sampai membuat saya trauma. Tetapi meskipun begitu tidak masalah juga bagi saya ketika ingin berkenalan dengan orang lain atau ingin mencoba dekat dengan orang lain.

Menurut saya pasti hal yang membuat diri tidak mau lagi membuka hati untuk orang lain adalah karena rasa trauma dari masa lalu. Namun selain itu juga mungkin ada alasan yang lain, tapi hal yang biasa terjadi adalah karena masa lalu. Akibat trauma tersebut, banyak orang yang ingin fokus pada diri sendiri sheingga mereka enggan untuk membuka hati.

Untuk aku sendiri, membuka hati itu sulit. Dan sebenarnya bukan melulu soal hubungan spesial, tapi juga untuk hubungan apa pun itu secara umum. Membuka hati sama dengan being vulnerable, sama dengan kita membiarkan orang lain untuk "membaca" kita dari cerita-cerita kita. Aku pribadi sih kurang suka buka-bukaan, bahkan kepada seseorang yang kenal sudah jauh bertahun-tahun. Dan bukannya suudzon, tapi terkadang kita memang harus berhati-hati hendak cerita ke siapa. Kita tidak pernah tahu pendengar kita adalah tipe orang seperti apa, apakah dia bisa jaga rahasia, apakah dia judgemental atau tidak, dan lain-lain. Menurutku, memang banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum membuka hati. Terdengar ribet memang, ibaratnya seperti, "Ah, mau buka hati dan cerita saja kok pakai babibu."

Tapi bukannya kita memang harus selalu hati-hati, ya?

Saya pernah mengalami toxic relationship. Menurut saya sangat wajar jika seseorang yang pernah terjebak pada situasi tersebut mengalami trauma sehingga tidak membuka hati lagi pada orang lain. Ketika kita sudah terjebak pada hubungan tidak sehat, itu akan mempengaruhi kesehatan mental kita bahkan juga bisa mengurangi kepercayaan kita terhadap orang lain. Ini bisa menjadi trauma berat ataupun ringan. Pastinya setiap orang tidak akan mau mengalami hal buruk dengan orang yang disayang, jika itu terjadi akan menjadi kenangan buruk yang tidak akan pernah terlupakan. Hubungan yang tidak sehat menurut saya juga ada tingkatannya. Tidak sehat secara verbal (berkata kasar, mengejek, atau hal serupa), tidak sehat secara nonverbal (sudah main fisik), dan ada juga yang keduanya. Jika sudah terjadi pada tahap yang parah untuk akan menjadi pukulan telak yang bahkan mungkin harus disembuh oleh seorang profesional. So, buat kamu pintar-pintar dalam memilih pasangan ya! Jangan mudah percaya kata-kata manis, kita harus menilai dari tindakannya juga dan jangan terlalu menaruh perasaan besar terhadap manusia atau kamu akan merasa kecewa nantinya.

Kalo saya pribadi tidak ingin menjalin hubungan dengan orang lain karena saya memiliki prinsip fokus pada kuliah dulu setelah selesai dan kerja baru fokus ke pasangan, saya merasa kalo sekarang menjalin hubungan itu dapat menggangu fokus saya terhadap kuliah. Dulu pernah mencoba dan hasilnya mengganggu proses belajar, selain itu karena trauma dengan masalalu.