Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang membuat kalian tidak mau membuka hati untuk orang lain?

KR Krisna Suzana 5 years ago

image|275x183

Hubungan spesial dengan lawan jenis tentunya hal yang selalu diinginkan oleh semua orang, apalagi para jomblo nih ya. Namun apakah semua hubungan spesial atau percintaan itu selalu baik? tentu tidak, bukan. Banyak sekali kejadian yang tidak mengenakkan dalam suatu hubungan yang bahkan sampai menjadi toxic relationship. Banyak sekali yang sampai trauma loh dengan hubungan seperti itu sampai-sampai tidak mau lagi membuka hati untuk orang lain ya karena takut hal tersebut terjadi lagi.

Kira-kira, menurut kalian kenapa sih orang gak mau buka hati lagi untuk yang lain? apakah kalian pernah mengalami hal itu?

156

Wahh, jadi ingin sedikit bercerita mengenai pengalamanku, aku pernah berada di situasi enggan membuka hati untuk siapapun yang bertujuan untuk menjadi pasanganku. Hal ini disebabkan karena adanya trust Issue atau masalah kepercayaan diri dengan ketakutan akan pengkhianatan, pengabaian, dan manipulasi yang ada pada diriku. Trust Issue ini menjadi faktor utama aku enggan memulai hubungan yang baru. Menganggap setiap orang akan menghianati pada waktunya atau pada akhirnya nanti. Selalu menaruh kecurigaan pada orang lain akan menyakiti, menjadi terlalu waspada, kemudian kepada setiap orang yang ditemui bersikap sangat berhati-hati dan curiga. Serta trust Issue yang ku alami diakibatkan dari luka dan peristiwa yang pernah terjadi di hubunganku yang sebelumnya. Adanya pengkhianatan, pengabaian, bahkan hampir terjadinya kekerasan pada hubunganku saat itu yang menjadikan kehidupan traumatis dalam diri.

Dan semua itu bisa diatasi dengan usaha yang keras dan proses yang memakan waktu yang tidak sebentar. Seperti mulai dengan merima risiko yang timbul karena kita belajar dan berusaha untuk memercayai orang lagi. Mulai membangun mindset bahwa tidak ada yang sempurna, dan kita juga bisa saja mengecewakan orang. Oleh karena itu, menempatkan kepercayaan pada seseorang tidak dapat disangkal akan menyebabkan dikecewakan di beberapa titik atau lainnya. Jadi utamakan belajar untuk percaya dan menerima.

Kalau aku pribadi, alasan tidak ingin membuka hati yaitu karna prinsip. Prinsip tidak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum waktunya. Karna, sebelum menanamkan prinsip ini, tentunya aku udah pernanh terjebak dalam hubungan yang menurutku sangat tidak worth it dan menyakitkan hehe. Jadi, alasan keduanya yaitu trauma dan menganggap semua hubungan yang dibangun di waktu yang salah, pasti ujungnya sama yaitu perpisahan. Meskipun kita tahu people come and go , tapi untuk membangun kepercayaan lagi itu sangat sulit. Jadi, daripada membuang wkatu untuk orang yang salah, lebih baik berusaha memperbaiki diri, meyayangi diri sendiri, dan mencoba untuk percaya bahwa setiap manusia itu hidup berpasang, tinggal menunggu waktu dan membentuk "jodoh" tersebut agar sesuai dengan yang diharapka.

[quote="dwikemegah, post:3, topic:160965"]
alasan tidak ingin membuka hati yaitu karna prinsip . Prinsip tidak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum waktunya.
[/quote]

Saya juga memiliki prinsip untuk tidak membuka hati dulu. Karena saya mempunyai tujuan untuk menempuh pendidikan dulu dan saya ingin berkarier dulu. Tidak ingin terlalu memikirkan masalah" percintaan seperti itu. Karena saya lihat sendiri dan banyak sekali di media sosial mereka yang terkena toxic relationship dan mengambil trauma bahkan sampai depresi. Dalam hubungan pastinya ada cekcok atau apapun itu masalahnya pasti ada pertengkaran. Untuk memikirkan masa depannya saja sudah pusing apalagi harus memikirkan hubungan yang belum pasti menjadi masa depan.

Tentu aku sendiri pernah mengalaminya dan sampai sekarang. Alasannya simpel, masih pengen fokus ke diri sendiri, beruntung alasannya bukan trauma.

Sampai sekarang, aku merasa belum membutuhkan orang atau pendamping spesial, karena merasa cukup dengan diri sendiri, teman dan keluarga. Buat aku fokus sama diri sendiri itu lebih penting dari apapun, termasuk nyari orang spesial atau masalah percintaan. Dibandingkan membuka hati buat orang lain, aku masih kesulitan untuk membuka hati, terbuka sama orang disekitarku, termasuk keluarga. Makanya, aku lebih pengen memperbaiki dulu yang terdekat, dibandingkan yang diluar. Tapi menurutku ini bukan berarti tidak mau membuka hati untuk orang lain, dari awal juga tidak pernah menutup hati sih, lebih ke tidak memikirkan dan bukan menjadi hal yang prioritas dan urgent banget.

Berdasarkan pengalam saya pribadi, akan sulit bagi saya untuk membuka hati ketika saya sudah pernah mengalami kekecewaan. Perasaan kecewa ini tak jarang disebabkan oleh pengalaman buruk masa lalu, yang kemudian membuat saya trauma untuk membuka hati kepada orang lain. Saya pernah berada diposisi itu, dan sayapun memerlukan waktu yang cukup lama hingga akhirnya saya berani membuka hati saya untuk orang lain. Namun tentunya akan banyak pembelajaran yang bisa kita petik ketika kita dihadapkan kepada suatu situasi yang sulit. Tentunya kita tidak boleh stuck berlama-lama di dalam situasi itu dan harus melanjutkan hidup dengan mencoba membuka hati untuk orang lain.

Pastinya alasan setiap orang gak mau buka hati lagi beda-beda yaa, ada yang didasari rasa ketakutan, kekecewaan, atau bahkan karena sudah nyaman dengan diri sendiri. Aku juga sedang mengalami fase ini sih hehe. Aku merasa masih sangat nyaman dengan diri aku sendiri dan masih pengen kenal diri aku lebih dalam lagi. Aku juga merasa *relate* banget sama pendapat ini :

[quote="dwikemegah, post:3, topic:160965"]
untuk membangun [kepercayaan](https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-kepercayaan-atau-trust/120083) lagi itu sangat sulit.
[/quote]

Buat aku, bangun kepercayaan sama diri sendiri aja tuh susah banget dan butuh waktu, apalagi sama orang baru. Intinya aku masih nikmatin banget waktu kesendirian ini. Walaupun kadang kepikiran untuk coba buka hati lagi tapi aku gak mau maksa selama aku merasa belum siap.

Aku setuju dengan pendapat temen-temen di atas, dimana orang pastinya memiliki alasan yang berbeda-beda untuk memutuskan tidak mau membuka hatinya untuk orang lain. Untuk aku sendiri, aku lagi males, belum tertarik, dan masi senang di fase ini, dimana masi ingin, nyaman, dan happy dengan diri sendiri. Dan aku gamau memaksakan diri aku untuk membuka hati kepada orang lain, sedangkan deep inside aku belum mau atau belum siap untuk masuk ke dalam fase tersebut. Karena aku pernah melakukan itu, dan berujung menyesal karena itu capek-capekin diri sendiri, membohongi diri sendiri, dan pastinya juga hurt others feelings and heart. Jadi, daripada nyakitin perasaan orang lain karena belum tau dengan perasaan diri sendiri, aku lebh pilih untuk sendiri dan fokus sama diri sendiri dulu.

MENURUT PENGALAMAN SAYA TERKAIT " APA YANG MEMBUAT KALIAN TIDAK MAU MEMBUKA HATI UNTUK ORANG LAIN"?

gambar|540x270

1. Menjadi rentan bisa sangat menakutkan.

“Sensitivitas dan upaya untuk menghindari kerentanan emosional sering dikaitkan dengan kesulitan mengekspresikan emosi," kata Cilona. Silva juga menawarkan wawasannya, dengan mengatakan, “Rasa takut akan kerentanan pada akhirnya adalah rasa takut akan penolakan atau pengabaian. Anda telah disakiti sebelumnya, jadi Anda berusaha menghindari disakiti lagi. ” Menempatkan diri di luar sana bisa menjadi hal yang cukup menakutkan secara umum. Jika Anda pernah memiliki pengalaman buruk di masa lalu, mungkin akan lebih sulit bagi Anda untuk membuka diri kepada orang-orang di sekitar Anda.

2. Mengungkapkan perasaan bukanlah reaksi yang tidak biasa.

Kita hidup di dunia di mana marah tentang hal-hal kadang-kadang dapat dianggap sebagai tanda kelemahan. Silva menjelaskan bahwa mengesampingkan perasaan Anda sebagai "Kesempurnaan Emosional." "Di mana Anda berpikir Anda harus selalu rasional dan mengendalikan emosi Anda sehingga Anda tidak terlihat lemah dan rentan." Ini bisa sangat sulit mengesampingkan perasaan dan tidak menunjukkannya kepada orang-orang di sekitar Anda.

3. Orang yang dengan alexithymia mungkin berharap siapa pun yang dekat dengan mereka dapat memahami perasaannya.

Orang yang tidak mengungkapkan perasaannya mungkin secara ajaib ingin Anda menyadari bahwa mereka marah dan memperbaiki keadaan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka ingin diakui, tetapi mereka mungkin berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan ketika mereka merasakannya.

kalau aku ga mau membuka hati untuk orang lain karena mau fokus ke pengembangan diri aku dulu. karena semasa SMA aku ga bisa mengembangkan minat bakatku dengan baik dan benar karena bucin. karena udah dapat pengalaman menjalin relationship dan itu berakhir dengan kurang menyenangkan maka aku putuskan untuk tidak menjalin hubungan kembali sebelum aku meraih semua yang aku inginkan di masa produktifku.
Juga aku tipe perempuan yang kalo udah punya pasangan tuh rotasiku hanya ke pasangan ku aja. makanya untuk sekarang aku lebih milih untuk menikmati masa muda dengan kegiatan yang membangun diri aku, membuat banyak relasi yang positif, berprestasi atau pun yang lainnya sebelum aku menjalin hubungan.
sejauh ini tidak ada trauma yang aku alami karena menjalin relationship dengan laki-laki tapi kalau lihat berita perepmpuan yang dibunuh atau dibakar oleh pasangan atau mantannya juga mengurung niatku untuk menjalin hubungan. tapi itu juga dipengaruhi dengan siapa kita menjalin hubungan. melihat kembali kepada latar belakang orang yang akan kita percayai itu penting agar tidak ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi seperti kasus-kasus yang terjadi.

Jawabannya, lelah. Selama 5 tahun kebelakang, saya pribadi mengalami lika-liku percintaan atau lebih tepatnya terjebak dalam dunia per-bucin-an wkwk. Memang awalnya kita merasa senang karena ada "teman" yang mau menemani kapanpun dan kemanapun, dan pasti kaum perempuan pun merasakan bahwa kita merasa ada yang menjaga walaupun tidak 24/7 berada disamping kita. Namun seiring berjalannya waktu, badai pasti datang, perdebatan pun hampir setiap hari, atau yang lebih tragisnya ketika kepercayaan sudah "dikhianati", namun terkadang cinta itu buta, sampai kita tidak menyadarinya karena sudah terlanjur jatuh terlalu dalam. Seringkali saya mempertahankan hubungan yang padahal harusnya tidak perlu dipertahankan lagi, karena yang dirasakan adalah ujung-ujungnya sakit hati walaupun dengan orang yang berbeda, tetap saja sering melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya setelah hampir 2 tahun terlepas dari keterikatan itu, selama waktu berjalan saya benar-benar sadar bahwa ini keputusan yang tepat untuk rehat dari relationship dan menunggu waktu yang tepat saja. Sudah cukup lelah untuk merasakan sakit hati lagi, dan sekarang saya menjadi jarang merasa sedih, jarang menangisi hal yang tidak penting, dan tentunya lebih produktif!

Sebelumnya aku pernah mengalami hal itu. Sulit membuka hati untuk orang lain karena beberapa hal buruk di masa lalu yang akhirnya menjadi luka yang sulit diobati, hingga menimbulkan trauma tersendiri. Bagi yang pernah merasakan pasti tau kalau untuk menghilangkan rasa trauma ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, khususnya yang sebelumnya berada di hubungan toxic relationship hingga mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Wah itu rasanya gaenak banget. Apalagi aku dulu sempat mengalami trust issue karena seseorang yang aku percaya. Trust issue yang aku alami ini secara tidak sadar akan merugikan orang lain, sebab orang yang memang benar-benar baik mungkin juga tidak akan bisa dipercaya dengan mudah. Perasaan trust issue inilah yang membuat aku sulit untuk membuka hati kepada orang lain pada saat itu. Tetapi positifnya, aku jadi jauh lebih hati-hati untuk percaya kepada orang lain.

Menurutku ada banyak alasan bagi seseorang yang memutuskan untuk tidak mau membuka hati kepada orang lain. Alasan-alasan tersebut dapat berupa pengalaman buruk di masa lalu, sulit untuk percaya dengan orang lain, trauma yang tak kunjung sembuh, takut, ingin fokus pada diri sendiri, dan banyak alasan lainnya.

Begitupun aku yang dulu merasa sulit membuka hati untuk orang lain, pada akhirnya aku memutuskan untuk fokus mengembangkan diriku sendiri. Ketika aku fokus untuk diriku sendiri, aku merasa jauh lebih baik karena aku dapat melakukan hal apapun yang aku mau dan yang aku suka. Tidak hanya itu, aku pun mengikuti banyak kegiatan pada sebuah organisasi yang membuat relasi pertemananku semakin luas. Sehingga, seiring berjalannya waktu, rasa trauma dan trust issue yang aku alami perlahan pulih dengan sendirinya hingga aku merasa siap untuk membuka hati pada orang lain.