Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Budaya corat-coret seragam saat kelulusan. Apakah bermakna penting?

Pasti kita tidak asing mendengar kegiatan coret mencoret seragam setelah kelulusan di Indonesia. Beberapa orang berpendapat jika hal ini dilakukan untuk "kenang-kenangan", dan masih banyak siswa dari beberapa sekolah yang masih melakukan kegiatan ini. Sementara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan sudah mengingatkan sekolah dan Dinas Pendidikan (Disdik) sejak lama agar siswa tidak melakukan aksi coret-coretan seragam saat hari pengumuman kelulusan. Apalagi aksi tak senonoh, Kemendikbud sudah mengantisipasi sejak jauh hari.

Bagaimana pendapat menurut teman-teman dengan kegiatan ini? Apakah wajar dan bermakna penting?

63

Menurut saya pribadi, coret-coretan seragam saat hari kelulusan itu tidak penting, karena nantinya baju seragam yang kita coret itu jadi tidak dapat dipakai kembali, dan seringkali yang tadinya hanya coret-coret seragam malah berujung vandalisme, itu merupakan hal yang tidak baik karena merusak lingkungan. Jika kita menggati kegiatan coret-coret itu dengan hal yang bermanfaat itu pasti dapat lebih bermakna.

Banyak orang berkata budaya coret-coret seragam saat kelulusan bukan suatu hal yang penting dan juga terlihat sangat tidak bermanfaat tapi hal ini akan terasa berbeda jika dilihat dari sudut pandang para pelajar yang sudah berhasil dan sukses dalam menyelesaikan pendidikannya (terlebih saat SMA). Dengan melakukan pesta coret-coret ini memberikan kesan yang sangat berbeda bagi mereka, sehingga mereka melakukan hal tersebut. dan dari yang sering kulihat setiap baju yang telah dicoret-coret, mereka akan menyimpan sebagai kenang-kenangan untuk mengenal momen bahagia tersebut.

Menurut saya budaya corat coret ini sangat tidak sesuai dengan budaya di Indonesia. Ini merupakan bibit vandalisme yang dapat menganggu pribadi siswa-siswi. Pada mulanya mereka akan melakukan aksi corat-coret lalu berlanjut ke aksi anarkisme seperti melalukan konvoi yang dilakukan secara ugal-ugalan. Saya sebagai pribadi yang telah lulus SMA menganggap hal ini sangat tidak penting dan hanya merusak moral bangsa. Lebih baik bila baju mereka disumbangkan bagi orang yang tidak mampu daripada dicorat-coret seperti hal di atas.

Menurut saya ini adalah tindakan yang tidak penting. Hal buruk lebih banyak ditimbulkan daripada hal baiknya. Budaya ini hanya membuang waktu dan uang saja, tidak mencerminkan sosok seorang pelajar. Setelah coret-mencoretpun biasanya disertai konvoi yang hanya merisaukan orang lain, karena biasanya terkesan ugal-ugalan.

Sejujurnya saya juga tidak paham apa esensi dibalik tradisi corat-coret seragam saat kelulusan karena saya tidak menemui tradisi tersebut di sekolah saya. Terlebih lagi, mereka yang melakukan ini akan mengakhiri kegiatan perayaan dengan melakukan konvoi di jalan menggunakan sepeda motor bahkan ada yang tidak menggunakan helm dan mengganggu ketertiban lalu lintas. Padahal, ada banyak bentuk kegiatan berkesan lain yang bisa dilakukan bersama teman-teman, misalnya pergi bersama, foto bersama dan lain sebagainya. Seragam yang dicoret-coret pun sebenarnya bisa diberikan ke orang yang lebih membutuhkan.