Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Budaya corat-coret seragam saat kelulusan. Apakah bermakna penting?

Pasti kita tidak asing mendengar kegiatan coret mencoret seragam setelah kelulusan di Indonesia. Beberapa orang berpendapat jika hal ini dilakukan untuk "kenang-kenangan", dan masih banyak siswa dari beberapa sekolah yang masih melakukan kegiatan ini. Sementara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan sudah mengingatkan sekolah dan Dinas Pendidikan (Disdik) sejak lama agar siswa tidak melakukan aksi coret-coretan seragam saat hari pengumuman kelulusan. Apalagi aksi tak senonoh, Kemendikbud sudah mengantisipasi sejak jauh hari.

Bagaimana pendapat menurut teman-teman dengan kegiatan ini? Apakah wajar dan bermakna penting?

64

Sejujurnya saya juga tidak paham apa esensi dibalik tradisi corat-coret seragam saat kelulusan karena saya tidak menemui tradisi tersebut di sekolah saya. Terlebih lagi, mereka yang melakukan ini akan mengakhiri kegiatan perayaan dengan melakukan konvoi di jalan menggunakan sepeda motor bahkan ada yang tidak menggunakan helm dan mengganggu ketertiban lalu lintas. Padahal, ada banyak bentuk kegiatan berkesan lain yang bisa dilakukan bersama teman-teman, misalnya pergi bersama, foto bersama dan lain sebagainya. Seragam yang dicoret-coret pun sebenarnya bisa diberikan ke orang yang lebih membutuhkan.

Menurut saya ini adalah tindakan yang tidak penting. Hal buruk lebih banyak ditimbulkan daripada hal baiknya. Budaya ini hanya membuang waktu dan uang saja, tidak mencerminkan sosok seorang pelajar. Setelah coret-mencoretpun biasanya disertai konvoi yang hanya merisaukan orang lain, karena biasanya terkesan ugal-ugalan.

Menurut saya budaya corat coret ini sangat tidak sesuai dengan budaya di Indonesia. Ini merupakan bibit vandalisme yang dapat menganggu pribadi siswa-siswi. Pada mulanya mereka akan melakukan aksi corat-coret lalu berlanjut ke aksi anarkisme seperti melalukan konvoi yang dilakukan secara ugal-ugalan. Saya sebagai pribadi yang telah lulus SMA menganggap hal ini sangat tidak penting dan hanya merusak moral bangsa. Lebih baik bila baju mereka disumbangkan bagi orang yang tidak mampu daripada dicorat-coret seperti hal di atas.

Banyak orang berkata budaya coret-coret seragam saat kelulusan bukan suatu hal yang penting dan juga terlihat sangat tidak bermanfaat tapi hal ini akan terasa berbeda jika dilihat dari sudut pandang para pelajar yang sudah berhasil dan sukses dalam menyelesaikan pendidikannya (terlebih saat SMA). Dengan melakukan pesta coret-coret ini memberikan kesan yang sangat berbeda bagi mereka, sehingga mereka melakukan hal tersebut. dan dari yang sering kulihat setiap baju yang telah dicoret-coret, mereka akan menyimpan sebagai kenang-kenangan untuk mengenal momen bahagia tersebut.

Menurut saya pribadi, coret-coretan seragam saat hari kelulusan itu tidak penting, karena nantinya baju seragam yang kita coret itu jadi tidak dapat dipakai kembali, dan seringkali yang tadinya hanya coret-coret seragam malah berujung vandalisme, itu merupakan hal yang tidak baik karena merusak lingkungan. Jika kita menggati kegiatan coret-coret itu dengan hal yang bermanfaat itu pasti dapat lebih bermakna.

Menurutku kegiatan ini tidak penting, banyak siswa yang setelah pengumuman dirinya lulus akan corat-coret dengan pilox, berfoto ria, dan konvoi ramai-ramai di jalan untuk menunjukkan bahwa dirinya telah lulus dari sekolah menengah. Menurut aku pribadi ini benar-benar sangat tidak penting dan sangat disayangkan, karena apa? bagaimana mungkin aku akan mencoret-coret hasil kerjaku selama menempuh pendidikan menengah, rasanya sangat tidak etis terhadap diriku sendiri. Selain itu, setelah kita lulus dari sekolah menengah, bukannya bebannya kita sudah sirna dari berbagai pelajaran, malah yang ada beban semakin bertambah. Datangnya pilihan akan menempuh perkuliahan atau memilih bekerja, semua itu memiliki beban yang lebih besar diabnding hanya duduk mengerjakan soal matematika di kelas. Kegiatan ini juga tidak jarang menyusahkan berbagai pihak seperti polisi hingga pengguna jalan lainnya ketika mereka sedang berkonvoi. Kegiatan ini juga menunjukkan seberapa dewasa kita akan pola pikir yang telah dibangun.

Menurutku budaya corat-coret ini tidak penting bahkan seharusnya dilarang atau tidak dilakukan. Dibandingkan dengan mencoret-coret seragam, lebih baik mengadakan syukuran untuk merayakan kelulusan. Selain itu, seragam (terutama yang masih layak) dapat diberikan lagi kepada yang membutuhkan, ataupun kepada adik kelas untuk menambah 'stok' seragam. Kalaupun untuk "kenang-kenagan" kenangan apa yang diperlukan? Kenangan memori bisa dilakukan dengan membuat kegiatan yang bermanfaat dan menumbuhkan rasa suka cita yang jauh dari artian foya-foya; kenangan scr fisik? Bukanlah dengan berfoto-foto sudah cukup? bisa jg membuat kesan pesan dalam bentuk surat, ataupun tukar kado.

Kegiatan ini sepertinya sudah menjadi tradisi bagi pelajar yang sudah lulus dari tahun ke tahun. Tetapi, menurut saya tindak coret mencoret seragam setelah kelulusan itu tidak penting. Karena kegiatan ini terkadang juga megundang aksi-aksi yang memicu keributan, atau membuat jalan raya menjadi macet karena banyaknya pelajar yang turun dalam kegiatan ini. Maka dari itu saya setuju bahwa Kemdikbud ataupun pihak sekolah saat ini melarang keras aksi ini demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat semuanya. Selain itu, seragam pun juga dapat dimanfaatkan untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan diluar sana untuk mereka bersekolah nantinya.

Corat-coret seragam telah menjadi tradisi wajib yang masih dilakukan oleh beberapa siswa SMA di seluruh Indonesia. Dari pengamatan saya, corat-coret seragam biasanya terjadi di hari terakhir UN tingkat SMA. Di sisi lain, ada yang beranggapan jika corat-coret seragam merupakan cara untuk mengekspresikan kesenangan mereka akan berakhirnya UN dan masa SMA mereka. Tentunya, tradisi ini tidak memiliki makna penting di dalamnya dan ada banyak cara untuk mengekspresikan kesengan dengan berakhirnya UN dan masa SMA, seperti nongkrong atau mungkin makan bersama teman-teman.

Dalam hegemoni kelulusan, seringkali disertai corat coret seragam. Corat coret seragam memang hal yang gak penting sama sekali dan terkesan negatif. Seharusnya seragam yang bisa dibilang masih layak itu masih bisa dipergunakan adik atau disumbangkan kepada yang membutuhkan. Aksi corat coret seragam seringkali diiringi dengan aksi konvoi dan “geber-geber” motor yang mengganggu ketertiban masyarakat. Belum lagi potensi gesekan dengan sekolah lain yang berujung tawuran dll. Namun, corat coret seragam sendiri sudah menjadi tradisi sejak dulu sebagai penanda kelulusan. Memang kegiatan yang tidak berguna dan tidak penting sama sekali. Tapi ketika dilaksanakan akan tercipta rasa puas yang luar biasa haha. Apalagi dilakukan bersama teman teman yang telah bersama dengan kita selama 3 tahun, tentu ada perasaan haru juga pastinya. Setelah bersama 3 tahun, akan ada saat dimana semua terpisah dengan jarak dan waktu. Kemudian dibuat cinematic video dengan backsound masa SMA ciptaan Angle 9 Band. Vibes haru nya semakin memuncak wkwk.