Apakah ada kata-kata mutiara dari Ibnu Abbas ? Wasiat atau nasihat kepada umat Islam ? Terimakasih.
Ibnu Abbas adalah salah satu manusia pilihan yang mempunyai kesempatan untuk hidup bersama-sama (hidup satu rumah) dengan Nabi Muhammad SAW dalam waktu yang lama. Selain itu, Ibnu Abbas juga dikenal sebagai orang yang paling sering bertanya dan berdiskusi dengan sahabat-sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW.
Nasihat Yang Disampaikan Oleh Ibnu Abbas
Bahwa pernah ada seseorang yang bernama Jundub datang pada beliau dan berkata, "Berilah aku wasiat? Beliau lalu memberi wasiat dengan menuturkan,
"Aku wasiatkan padamu untuk mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, serta mengamalkan kandungannya, mengerjakan sholat, dan membayar zakat, maka sesungguhnya setiap kebajikan yang engkau kerjakan setelah melakukan itu semua maka akan diterima, terangkat naik kehadirat-Nya, dan sungguh engkau tidak menambah setiap harinya dari kebajikan melainkan terhitung amal sholeh.
Dan sholatlah bagaikan sholatnya orang yang akan pergi jauh yang tidak pernah kembali lagi, dan jadilah engkau di pagi hari seperti orang asing atau musafir karena sejatinya engkau adalah calon penghuni kubur, menangislah karena dosa-dosamu, dan bertaubatlah dari kesalahan yang engkau perbuat, jadikanlah dunia ini lebih ringan dari pada tali sendalmu, dan seakan-akan engkau telah pergi meninggalkanya dan sedang menghadap kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, ketahuilah tidak ada yang bermanfaat bagi semua yang engkau tinggalkan, melainkan amal sholehmu".
Sebagian ulama menyebutkan, Ibnu Abbas pernah memberi nasehat dengan beberapa kalimat yang lebih baik dari pada kuda yang banyak". Beliau juga pernah memberi nasehat,
"Janganlah engkau berbicara dengan perkara yang tidak penting bagimu sampai sekiranya engkau merasa yakin betul bisa membawa maslahat, janganlah mendebat orang-orang pandir, jangan pula mendebat orang yang sabar karena kesabarannya akan mengalahkanmu, sedang orang pandir maka akan melecehkanmu.
Jangan sekali-kali engkau menyebut (kejelekan) saudaramu bila dia sudah berpaling dari hadapanmu kecuali seperti apa yang engkau sukai darinya bila mana engkau telah berpaling dari hadapannya. Beramallah seperti amalan seseorang yang mengetahui kalau dirinya akan mendapat upah yang lebih baik, dan dimaafkan kesalahannya.
Pernah suatu ketika ada seseorang yang berkata padanya, "Wahai Ibnu Abbas, ini lebih baik dari sepuluh ribu". Maka Ibnu Abbas menjawab, "Sebuah kalimat yang lebih baik darinya sepuluh ribu". Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah mengatakan, "Perkara ma'ruf yang paling sempurna ialah yang segera dikerjakan, dianggap remeh dan menutupi (dari penglihatan orang), maksud ucapan beliau yaitu untuk bersegera ketika memberi sedekah, dan jadikan seakan-akan amalan yang sepele dihadapan orang yang dikasih, serta menutupi dari penglihatan mata orang banyak, jangan memamerkannya. Karena dengan menampakan akan membuka pintu riya', menyakiti hati orang yang diberi serta membikin malu dirinya".
Beliau juga pernah mengatakan,
"Manusia yang paling utama dimataku ialah teman dudukku, kalau seandainya aku mampu untuk menghalangi lalat menempel diwajahnya niscaya akan aku lakukan".
Beliau mengatakan,
"Tidaklah aku berpendapat bahwa setiap orang yang datang padaku untuk meminta kebutuhan kemudian aku mampu membantunya kecuali beberapa hal yang aku cukupkan pada Allah azza wa jalla. Yaitu orang yang memulai memberi salam padaku, atau memberi ruang didalam majelis, atau berdiri untuk memberi kesempatan duduk padaku, atau seseorang yang memberiku air minum ditengah kehausan, atau seorang mukmin yang mendo'akan diriku dikeheningan malam".
Abdullah bin Buraidah berkata,
"Pernah suatu ketika ada orang yang mencaci maki Ibnu Abbas, maka beliau berkata, "Sesungguhnya engkau benar-benar telah mencaciku dan mencaci tiga perkara. Sesungguhnya aku mengetahui ada sebuah ayat dari kitab Allah yang aku sangat berharap sekiranya manusia mengetahuinya seperti apa yang aku pahami. Bisa saja aku adukan perkara ini ke meja hakim dari hakimnya kaum muslimin agar menghukumi secara adil, lalu aku keluar dari mejanya dengan kebahagian (karena memenangkan kasus), namun, aku tidak akan mengadukan kepadanya selama-lamanya. Dan terakhir, kalau sekiranya aku mendengar hujan telah menimpa suatu negeri dari negerinya kaum muslimin melainkan diriku turut berbahagia, sedang diriku tidak mempunyai seekor binatang ternak pun di negeri mereka".
Al-Waqidi mengatakan,
"Ada seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman Allah tabaraka wa ta'ala:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya". (QS al-Anbiyaa': 30)
Beliau menjawab,
"Dahulu langit adalah suatu benda yang padu tidak menurunkan hujan, demikian pula bumi adalah benda satu yang tidak menumbuhkan tanaman, kemudian dipisahkan sehingga yang satu menurunkan hujan dan yang satu menumbuhkan tanaman".
Dan beliau terkena musibah (buta) pada salah satu matanya, yang mengakibatkan badannya menjadi kurus, dan tatkala satu lagi matanya terkena musibah maka baru kembali lagi daging beliau, demikian dikatakan tentang beliau pada sebagian buku-buku sirah. Beliau sendiri yang mengkisahkan,
"Aku tertimpa musibah (kebutaan pada mata) seperti apa yang kalian lihat sekarang ini, pada awalnya aku sangat berharap untuk sembuh, namun, tatkala keduanya terkena musibah, hatiku menjadi tenang".
Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa mata beliau terkena air, maka ditawarkan pada beliau,
"Bagaimana kalau kami ambil air tersebut dari matamu, tapi menyebabkan anda tidak bisa sholat selama tujuh hari?"
Beliau menjawab,
"Jangan, karena orang yang meninggalkan sholat sedang ia mampu untuk mengerjakan, dirinya akan bertemu kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam keadaan murka pada pelaku nya."
Dalam salah satu redaksi disebutkan,
"Bahwa ditawarkan pada beliau, "Kami hilangkan air ini dari matamu dengan syarat engkau selama lima hari tidak bisa sholat melainkan bersandar pada tongkat? Dalam redaksi lain, "Kecuali dengan berisyarat? Maka beliau menjawab, "Tidak, demi Allah walaupun hanya aku tinggalkan satu raka'at, karena sesungguhnya orang yang meninggalkan satu sholat saja dengan sengaja, dirinya akan bertemu dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam keadaan murka kepadanya".
Al-Madaini pernah melantunkan sebuah bait syair kepada Ibnu Abbas tatkala dirinya tertimpa kebutaan:
Biarpun Allah telah mengambil cahaya kedua mataku
Tapi dalam pendengaran dan lidahku masih bercahaya
Hatiku penuh dengan hikmah dan akalku tidak terkotori
Dan lidahku menebas bagaikan pedang yang tajam
Maka tatkala sampai pada tahun enam puluh delapan Abdullah bin Abbas meninggal dunia di Thaif, dan Muhammad bin al-Hanafiyah yang menyolati jenazah beliau. Dia berkata, "Pada hari ini telah meninggal dunia lautan ilmu".
Diriwayatkan oleh at- Thabarani didalam Mu'jamul Kabir dengan sanadnya sampai pada Sa'id bin Jubair, berkata, "Ibnu Abbas meninggal dunia di Thaif. Lalu datang seekor burung yang belum pernah terlihat sebelumnya masuk kedalam kuburnya, kemudian tidak terlihat keluar kembali. Dan ketika beliau di kubur terdengar ada orang yang membaca ayat ini dari arah dalam kuburnya dan tidak ada seorangpun yang mengenali siapa yang membacanya:
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ
yā ayyatuhan-nafsul-muṭma`innah Hai jiwa yang tenang. (QS al-Fajr: 27)
ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
Irji'ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (QS al-Fajr: 28)
فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى
fadkhulī fī 'ibādī Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, (QS al-Fajr: 29)
وَٱدْخُلِى جَنَّتِى
wadkhulī jannatī masuklah ke dalam surga-Ku. (QS al-Fajr: 30)
Imam Dzahabi mengomentari, "Dan kisah ini mutawatir".
Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan, "Dan beliau ketika meninggal berumur tujuh puluh dua tahun, semoga Allah meridhoi Ibnu Abbas, dan memberi balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengumpulkan kita pada negeri pemuliaan bersama para nabi, shidiqin dan syuhada karena mereka adalah sebaik-baik teman".