Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Siapakah anak nabi Ibrahim as yang akan disembelih, Ismail atau Ishak ?

Anonymous 4 years ago

Sampai saat ini masih sering terjadi perdebatan diantara Yahudi, Kristen dan Islam terkait dengan siapakah yang rencananya akan disembelih oleh nabi Ibrahim as, Ismail atau Ishak ? Kalau menurut ulama Islam, siapakah yang disembelih, Ismail atau Ishak ?

44

Di dalam Al-Qur'an nama anak yang lahir dan yang disembelih tidak disebutkan. Pendapat kalangan ulama dan mufasir masih mendua, mengenai siapa anak laki-laki itu, Ismail atau Ishak? Akibatnya pertanyaan ini akan berlanjut sampai pada peristiwa penyembelihan, siapa yang disembelih, karena juga Al-Qur'an tidak menyebutkan nama anak yang disembelih.

Dalam Surah as-sāffāt (37: 101-113) disebutkan—dan ini memerlukan ulasan yang agak panjang—,bahwa ketika anak itu sudah mencapai usia siap bekerja, (diperkirakan umurnya 13-14 tahun), Ibrahim berkata:

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “ Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. ” (102).

Maka ketika keduanya telah berserah diri (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah)” (103).

Lalu Kami panggil dia, “ Wahai Ibrahim! (104).

Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu ” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105).

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106).

Dan Kami tebus dia (anak itu) dengan seekor sembelihan yang besar (107).

Dan Kami abadikan untuk dia (Ibrahim pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (108).

“ Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” (109).

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (110).

Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman (111).

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (112).

Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan   keduanya, ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri (113).

Tingkat mimpi seorang nabi sudah sama dengan wahyu. Tetapi yang kemudian menjadi masalah di kalangan ulama dan para mufasir, ialah anak Ibrahim yang mana yang disembelih untuk kurban itu, Ismail atau Ishak, dan di mana? Beberapa pendapat pernah dikemukakan orang: di Mekah atau di dekat Mekah atau di Mina dan sekitarnya.

Kembali pada ayat-ayat di atas, pada ayat terakhir itu, “ keberkahan kepadanya dan kepada Ishak,” “kepadanya” tak dapat diragukan tentu mengacu kepada yang disembelih… dan berita gembira tentang Ishak jelas disampaikan setelah penuturan tentang peristiwa penyembelihan kurban itu. Dengan demikian jelas Ishak bukanlah anak yang karenanya Allah menguji Ibrahim dengan penyembelihan itu. Didasarkan pada analogi dari berbagai peristiwa dan keterangan yang terdapat dalam Alkitab maupun Al-Qur'an, pendapat yang kuat mengatakan bahwa adz-dzabih, yang disembelih atau kurban itu adalah Ismail, dan karenanya orang menjulukinya Abul Fida’, Bapa Kurban.

Peloubet’s Bible Dictionary menulis, bahwa Ismail adalah anak pertama Ibrahim. Wensinck, Orientalis Belanda kenamaan itu, juga berpendapat, bahwa Ismail adalah anak yang sudah disiapkan untuk disembelih sebagai kurban, seperti dalam artikel yang ditulisnya dalam Dā’iratul-Ma`ārif al-Islāmiyah (Encyclopedia of Islam).

Seperti sudah disebutkan di bagian lain dalam Tafsir ini, jika kita akan mengacu pada Perjanjian Lama, maka terlihat, bahwa pihak Yahudi ingin mempertentangkan kedua cabang keturunan Ibrahim ini, dengan selalu berusaha mengangkat dan mengagungkan cabang keluarga garis Ishak sebagai bapa Bani Israil, dan mengabaikan cabang keluarga keturunan Ismail, leluhur orang Arab Musta`ribah. Karenanya, Yahudi mengatakan, bahwa kurban itu adalah Ishak. Untuk menentukan siapa sebenarnya yang terpilih sebagai kurban, baik juga kita lihat apa yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Kitab Kejadian 22 menyebutkan:

“1. Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."

2. Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

3.Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

4. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangannya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

5. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."

6. Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

7. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"

8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

11. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."

12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."

13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

14 Dan Abraham menamai tempat itu, "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."” Anak tunggal dalam ayat di atas tentulah Ismail, karena ketika Ismail lahir umur Ibrahim 86 tahun, “Abraham berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya” (Kej. 16:16).

Seperti tersebut di dalam Alkitab, Ishak lahir ketika Ibrahim berumur 100 tahun: Kej. 21: 5, “Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.” Sedang dalam Kej. 22: 2 di atas dikatakan: “"Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Kalau dikatakan Ismail lahir ketika Ibrahim berumur 86 tahun dan disusul kemudian dengan kelahiran Ishak ketika umur Ibrahim sudah 100 tahun seperti dalam Kitab Kejadian di atas, jelas Ismail lebih tua 14 tahun dari Ishak. Hal ini diperkuat lagi dengan sikap Sarah yang baru menyapih anaknya itu, mengadukan Hagar kepada Ibrahim dan meminta Ibrahim mengusir Hagar waktu ia melihat Ismail sedang bermain dengan anaknya Ishak. (Kej. 21: 8-10). Anak yang baru disapih bermain dengan Ismail, berarti Ismail sudah lebih besar.

"Tanah Moria" di atas juga masih memerlukan penjelasan, sebab dalam Kitab Imamat 3:1 disebutkan gunung Moria itu di Yerusalem: “Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu.” Yang jelas, dan yang ada hubungannya dengan anak Ibrahim yang bernama Ismail, ialah bukit Safa dan Marwah di Mekah.