Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa Umat Islam Shalat Menghadap Kabah ?

Anonymous 5 years ago

Pertanyaan ini sering dijadikan alasan pembenar (tuduhan) bagi umat non muslim bahwa umat Islam menyembah berhala (yaitu Kabah).

30

Menghadap Ka’bah bukan berati menyembahnya, seorang muslim ketika beribadah kepada Allah SWT semata-mata mengikuti perintah-Nya. Awalnya umat Islam berkiblat di masjidil aqsa kemudian saat Allah SWT memerintahkan mereka untuk berkiblat di Ka’bah. Mereka pun mendengat dan taat.

Allah SWT telah memerintahkan demikian dalam firman-Nya:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Qad narā taqalluba waj-hika fis-samā`, fa lanuwalliyannaka qiblatan tarḍāhā fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa ḥaiṡu mā kuntum fa wallụ wujụhakum syaṭrah, wa innallażīna ụtul-kitāba laya'lamụna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, wa mallāhu bigāfilin 'ammā ya'malụn

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. al-Baqarah 144)

Ka'bah Bukanlah Tuhan.

Ka’bah adalah bangunan yang terletak di dalam masjidil Ka’bah dipilih Allah sebagai kiblat, agar saat semua kaum Muslimin beribadah menghadap ke satu arah. Salah satu hik- mahnya adalah menyatukan kaum Muslimin sedu- nia.

Di salah satu bagian Ka’bah terdapat batu hitam yang menjadi pelengkap bangunan tersebut, namanya “hajar aswad.” Batu itu tak lain bagian bersejarah dari pembangunan Ka’bah sejak zaman Nabi Ibrahim.

Sahabat Nabi yang terkenal, Umar bin Khothob berkata, “Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mencelakakan (bila tidak disembah) dan tidak pula memberi manfaat (bila disembah). Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Pada zaman Nabi, orang berdiri di atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Saat inipun, bila hendak mengganti kain penutup ka’bah, orang akan naik di Mana ada orang yang berdiri di atas sesembahannya?

Sumber : Siti Sholihah dkk, 2020, Tanya Jawab Agama, Navida Media, hlm. 13-17