Doa merupakan bagian dari ibadah umat Islam kepada Allah SWT. Mengapa manusia harus berdoa kepada Allah SWT? Apa Manfaat yang manusia dapat ketika berdoa kepada ALlah SWT?
Menurut Syekh Sayyid Tantawi, manfaat doa adalah sebagai berikut:
Pertama, doa bertujuan untuk menunjukkan keagunggan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang lemah.
Seorang hamba yang berdoa pasti menyadari bahwa hanya Allah-lah yang bisa memberikan nikmat kepadanya, mewujudkan harapannya, dan menerima tobatnya. Allah berfirman
أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Am may yujībul-muḍṭarra iżā da'āhu wa yaksyifus-sū`a wa yaj'alukum khulafā`al-arḍ, a ilāhum ma'allāh, qalīlam mā tażakkarụn
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (Q.S. An-Naml 27/ 62)
Kedua, Berdoa membuat manusia merasa "malu" kepada Allah SWT.
Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa-doanya, tentu saja ia akan malu untuk menginginkan nikmat-nikmat-Nya. Bagi hamba Allah SWT, yang sudah berada dalam keimanan yang kuat, berdoa akan membuat ia lebih banyak lagi mensyukuri nikmat-Nya.
Ketiga, doa sebagai sarana pencarian ketenangan diri dan hati dari hiruk pikuk kehidupan dunia.
Sebagaimana diketahui bersama, pada hakikatnya, doa adalah ikhtiar manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Tuhannya. Jadi, hendaknya pada saat berdoa, seorang hamba haruslah bisa melepaskan segala hal yang bersifat duniawi untuk sementara dengan beralih menuju kekhidmantan dan kekusyukkan bermunajat ke hadirat sang pemilik Alam Semesta, Allah Azza wa jalla.
Saat berdoa, pada hakikatnya, seorang hamba sedang berkomunikasi langsung kepada penciptanya sehingga ia bisa mengadukan segala hal kepada Allah SWT, agar hatinya bisa tenang dan tenteram. Selain itu, beberapa manfaat yang akan kita dapat ketika kita berdoa, terlepas apakah permohonan kita dikabulkan atau tidak, adalah,
- Berdoa dapat meleyapkan rasa putus asa. Dengan berdoa seseorang akan termotivasi dalam menghadapi cobaan hidup dan bersikap positif menanggapi kegagalan, sebab Allah SWT yang jadi sandaran akan selalu membantunya bangkit.
- Berdoa membuat kondisi psikologis seseorang menjadi stabil. Berdoa dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menyembuhkan penyakit fisik maupun psikis. Ketekunan berdoa membuat seorang memiliki daya tahan tubuh yang baik karena dia selalu menatap kehidupan dengan pikiran jernih, dan tubuhnya tidak mudah lemah karena beban pikiran.
Itulah beberapa manfaat yang akan kita dapat ketika kita berdoa kepada Allah SWT. Semoga apa yang kita harapkan dalam doa kita dikabulkan oleh Allah SWT, aamiin.
Dahulu ada yang berpendapat bahwa doa tidak berguna. Mereka berkata:
“Kalau yang diharapkan oleh orang yang berdoa telah diketahui oleh Allah SWT, dengan pengetahuan-Nya, dan Allah SWT mengetahui bahwa harapan tersebut akan terjadi (atau tidak), maka apa gunanya doa?"
Ada lagi yang berkata,
"Sebenarnya segala sesuatu telah ditetapkan Allah dan tertulis Lauh al-Mahfuzh. Jika demikian apa gunanya doa?"
Jika diperhatikan di dalam al-Qur'an, paling tidak, ada dua hal yang mendorong manusia untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allah:
Pertama, sisi kebesaran dan keagungan Allah. Setiap agama meyakini Tuhan yang disembah itu mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, seperti kesempurnaan kekuasaannya atas alam raya, termasuk manusia. Manusia yang meyakini Tuhannya pasti membutuhkan-Nya sehingga menggantungkan diri kepada-Nya.
Kedua, sisi manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri gembira dan sedih, senang dan susah, takut, cemas, dan mengharap, sehingga ia membutuhkan sandaran dan pegangan dalam hidupnya. Kenyataan membuktikan bahwa bersandar kepada sesama makhluk seringkali tidak membuahkan hasil, karena itu mereka membutuhkan sandaran yang Maha kuat dan mutlak yang dapat memberikan bantuan dan bimbingan serta mampu menghilangkan rasa cemas, sehingga dapat memenuhi harapannya. Tidak ada yang mampu melakukan hal tersebut kecuali Allah swt.
Allah menyatakan dalam ayat Al Quran,
يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۚ وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ
Yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laīl, wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara kulluy yajrī li`ajalim musammā, żālikumullāhu rabbukum lahul-mulk, wallażīna tad'ụna min dụnihī mā yamlikụna ming qiṭmīr
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (QS. Fathir [35] : 13)
إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا۟ دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا۟ مَا ٱسْتَجَابُوا۟ لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
In tad'ụhum lā yasma'ụ du'ā`akum, walau sami'ụ mastajābụ lakum, wa yaumal-qiyāmati yakfurụna bisyirkikum, wa lā yunabbi`uka miṡlu khabīr
Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir [35] 14)
Alexis Carrel, seorang ahli bedah Perancis (1873-1941) dan peraih hadiah Nobel dalam bidang kedokteran, memiliki pengalaman dalam mengobati pasiennya dan kemudian dia mengatakan bahwa
“banyak di antara mereka memperoleh kesembuhan dengan jalan berdoa”. Menurutnya, do’a adalah sesuatu gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia, karena pada saat itu, jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.”1
Dengan demikian, manusia sebagai makhluk yang memiliki kelemahan dan kekurangan, tidak dapat menyelesaikan semua per- soalan tanpa bantuan yang lain. Sebagai makhluk yang memiliki keyakinan bahwa ada yang lebih ampuh untuk dapat memberikan bantuan, itulah Tuhan, tentunya dia harus senantiasa membuka jalan untuk berkomunikasi yang intim dan intensif dengan Sang Maha Pencipta dalam bentuk permohonan (do’a), sekalipun hal itu tidak segera tercapai, tetapi komunikasi dengan do’a itu tetap memberikan nuansa yang optimis.
Nabi menyebutkan dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh al-Turmuzi, Ibn Majah dan Abu Daud, berasal dari al Nu'man bin Basyar,2 bahwa do’a itu adalah ibadah yang mempunyai arti bahwa do’a bukan hanya semata-mata memohon bantuan/pertolongan Allah dalam rangka keluar dari problema yang dihadapi, akan tetapi dalam konteks ini sebagai sesuatu kebutuhan dalam rangkaian ibadah.
Nurcholis Majid menyebutkan bahwa do’a dalam artian seruan kepada Allah itu merupakan titik sentral pertumbuhan kesadaran ketuhanan.3 Jadi nilai utama do’a itu tetap terjadinya komunikasi pribadi yang intim dan intensif dengan Allah, dan ini sendiri merupakan suatu hal yang tidak terkira harganya bagi rasa bahagia dan aman sentosa.4
Paling tidak doa dapat memberikan ketenangan batin si pendoa karena dia telah hidup dalam harapan.
Dalam al-Qur’an secara jelas menyebutkan perlunya manusia mendekatkan diri kepada-Nya :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Wa qāla rabbukumud'ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna 'an 'ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al Mu'min [40] : 60)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT memberikan harapan dan warning kepada manusia, yaitu adanya harapan do’a hamba itu dikabulkan dan ganjaran neraka bagi orang yang menyombongkan diri. Bahkan Allah sangat mengecam orang yang sudah menggap dirinya sudah mapan sehingga tidak merasa perlu dengan permohonan bantuan dari Allah, seperti firman Allah SWT,
كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ
Kallā innal-insāna layaṭgā
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (QS. Al-Alaq : 6)
أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ
Ar ra`āhustagnā
Karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. Al-Alaq : 7)
Yang menjadi persoalan adalah apakah ketika hamba berdoa, Allah SWT langsung mengabulkannya atau tidak?
Para ulama mengatakan bahwa paling tidak, pengabulan do’a itu terlaksana dalam tiga bentuk :
Pertama, dikabulkan do’a seseorang sesuai dengan permintaannya,
Kedua, dikabulkan dengan menggantikannya dengan sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat
Ketiga, ditangguhkan pada hari kemudian untuk diberi ganjaran.
Yang terpenting dalam pengabulan do’a itu, syarat-syarat do’a yang dikabulkan adalah dengan ketulusan dan keyakinan. Sebab –seperti yang ditulis oleh Ibn Kasir- iblis yang bergelimang dalam dosa pun diterima do’anya ketika ia bermo-hon untuk dipanjangkan umurnya.
Di sisi lain, manusia memiliki watak dan naluri untuk mewujudkan keinginannya secara cepat dan tergesa-gesa, sehingga tidak jarang manusia ketika mendapatkan kesusahan selalu merintih dan berdo’a kepada Allah SWT dengan tulus. Namun sebaliknya, bila keadaan itu sudah stabil, tubuh telah sehat, rezki berlimpah ruah dan tidak ada lagi perma-salahan yang berarti dalam hidupnya, maka manusia cenderung lalai dan lupa Tuhannya dan kurang mensyukuri nikmat Allah.
Seperti Firman Allah SWT,
وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَٰنَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِىَ مَا كَانَ يَدْعُوٓا۟ إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ
Wa iżā massal-insāna ḍurrun da'ā rabbahụ munīban ilaihi ṡumma iżā khawwalahụ ni'matam min-hu nasiya mā kāna yad'ū ilaihi ming qablu wa ja'ala lillāhi andādal liyuḍilla 'an sabīlih, qul tamatta' bikufrika qalīlan innaka min aṣ-ḥābin-nār
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka". (QS. az Zumar : 8)
وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَٰنَ ٱلضُّرُّ دَعَانَا لِجَنۢبِهِۦٓ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَآئِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُۥ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَآ إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Wa iżā massal-insānaḍ-ḍurru da'ānā lijambihī au qā'idan au qā`imā, fa lammā kasyafnā 'an-hu ḍurrahụ marra ka`al lam yad'unā ilā ḍurrim massah, każālika zuyyina lil-musrifīna mā kānụ ya'malụn
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus : 12)
فَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَٰنَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَٰهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍۭ ۚ بَلْ هِىَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Fa iżā massal-insāna ḍurrun da'ānā ṡumma iżā khawwalnāhu ni'matam minnā qāla innamā ụtītuhụ 'alā 'ilm, bal hiya fitnatuw wa lākinna akṡarahum lā ya'lamụn
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (QS. az-Zumar : 49)
وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا۟ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
Wa iżā massan-nāsa ḍurrun da'au rabbahum munībīna ilaihi ṡumma iżā ażāqahum min-hu raḥmatan iżā farīqum min-hum birabbihim yusyrikụn
Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, (QS. ar-Rum: 33)
Jadi, ketika kita berdoa kepada Allah SWT, sejatinya yang terpenting adalah doa itu sendiri, bukan hasilnya. Hasil adalah urusan manusia, sedangkan tugas manusia adalah berusaha sebaik mungkin dan berdoa kepada Allah Swt.
Referensi :
1 M. Quraish Shihab, Wawasana al-Qur’an tentang Zikir dan Do’a, (Cet. I, Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 181.
2 Abd al-Qadir Ahmad Atha, Hadzâ Halâl wa Harâm, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1405 H/1985 M), h. 100
3 Nurcholis Majid, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansinya Doktrin Islam dalam Sejarah, (Cet. I; Jakarta: Paramdina, 1995), h. 200.
4 Ibid., h. 201
Seluruh makhluk berhajat kepada Allah dan membutuhkan apa yang ada di sisiNya, sedang Allah Maha Kaya tidak memerlukan mereka. Allah SWT telah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berdo'a.
Allah SWT berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Wa qāla rabbukumud'ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna 'an 'ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al-Mu`min: 60) maksudnya: dari berdo'a kepada-Ku.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Siapa tidak memohon kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya." (H.R Ibnu Majah)
Allah senang dengan permintaan hamba kepada-Nya, dan mencintai mereka yang terus menerus meminta-Nya, serta mendekatkan mereka kepada-Nya. Para sahabat Nabi telah menghayati hal ini, maka tak seorang pun dari mereka meremehkan sesuatu untuk memohon kepada Allah, dan mereka tidak menengadahkan permintaan mereka kepada seorangpun dari makhluk-Nya.
Ini dikarenakan kecintaan dan kedekatan mereka kepada Rabb mereka, dan karena kedekatan Allah kepada mereka, sebagai pengamalan firman-Nya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Wa iżā sa`alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb, ujību da'watad-dā'i iżā da'āni falyastajībụ lī walyu`minụ bī la'allahum yarsyudụn
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Do'a mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah SWT. Ia merupakan amalan yang paling mulia menurut Allah, serta dapat menolak takdir. Do'a seorang muslim tentu saja dikabulkan, jika sebab-sebab terkabulnya do'a terpenuhi dan tidak ada hal-hal yang menghalanginya.
Orang yang berdo'a akan diberi salah satu dari hal-hal yang disebutkan Rasulullah SAW dalam sabda beliau:
"Tidaklah seorang muslim berdo'a dengan do'a yang tidak mengandung dosa dan pemutusan tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: akan segera dikabulkan do'anya, atau Allah akan menjadikannya tabungan (pahala) di akhirat kelak, atau dengan do'a itu Allah akan menjauhkannya dari kejelekan yang setara dengan do'anya" Mereka berkata: "Kalau begitu kami akan memperbanyak (do'a)? Nabi menjawab: "(Apa yang dimiliki) Allah lebih banyak." (HR. Ahmad)
Pada dasarnya, do'a ada dua macam, yaitu : 1) Doa Ibadah, seperti shalat dan puasa. 2) Do'a permintaan & permohonan.
Sumber : Tafseer.info, 2017, Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir : Dari Al Quran Al Karim Juz 28-30, hlm. 179