Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenikmatan Seperti Apa Yang Wanita Dapat Di Surga?

Anonymous 5 years ago

Pertanyaan ini sering muncul dalam keseharian, bahkan pertanyaan ini sering menjadi dasar hujatan orang non muslim kepada muslim, dengan tuduhan bahwa kenimatan surga yang digambarkan di Al Quran hanya diperuntukkan bagi laki-laki saja, terutama dengan adanya bidadari-bidadari surga.

Benarkah demikian ? Lalu bagaimana kenikmatan surga dari sudut pandang wanita?

43

Dari beragam ayat al-Qur’an dan hadits Nabi, "terlihat" bahwa ganjaran kenikmatan yang akan diberikan cenderung ditujukan kepada kaum pria, sedangkan kenikmatan untuk kaum wanita tidak dijelaskan dengan gamblang.

Dengan kata lain, ada tuduhan bahwa terdapat ketidak seimbangan dalam penjelasan ganjaran yang akan didapat antara pria dan wanita.

Mengomentari hal itu, Quraish Shihab menjelaskan bahwa al-Qur’an dan sunah Nabi menggunakan istilah-istilah gender yang sangat istimewa dan unik yang mencakup pria dan wanita. Ia memberikan contoh kata azwaj, yang biasanya diterjemahkan oleh orang Indonesia dengan arti istri-istri, adalah terjemahan yang keliru. Menurutnya kata azwaj adalah bentuk plural dari kata zauj yang memiliki arti pasangan. Dengan demikin janji Allah SWT kepada para penghuni surga akan ganjaran azwaj muthahharah mencakup untuk lelaki dan perempuan.

Sedangkan kata muthahharah selain memiliki arti suci dari haid yang hanya dialami oleh kaum hawa kata tersebut juga mencakup arti suci dan bersih dari segala dosa dan noda, termasuk kesucian hati dan pikiran.

Demikian juga dengan istilah hūr‘ain, yang oleh kebanyakan orang Indonesia diartikan bidadari. Istilah tersebut adalah kata majemuk yang berdiri dari kata hur dan ‘ain.

Kata hur adalah bentuk plural dari kata haura dan ahwar. Kata haura merujuk kepada jenis feminim, sedangkan kata ahwar adalah maskulin. Artinya kata hur adalah merupakan bentuk plural dari dua kata ini, merupakan kata netral kelamin, bisa digunakan untuk menunjukkan lelaki ataupun perempuan. Oleh sebab itu, dari penjelasan di atas, istilah hur‘ain tidak tepat kalau diartikan bidadari.

Lebih jauh ia menerangkan bahwa kata hur diambil dari kata dasar yang berarti tampaknya sedikit keputihan pada mata disela kehitamannya (artinya, yang putih pada mata sangat putih, dan yang hitam pun sangat hitam), atau kata tersebut bisa juga diartikan bulat, namun sebaliknya bisa juga diartikan sipit.

Kata ‘ain adalah bentuk plural dari kata ‘aina yang menunjukan feminim dan ‘ain yang menunjukkan maskulin. Arti kedua kata tersebut adalah bermata besar dan indah. Jadi, kata hur ‘ain yang merupakan kata netral kelamin, jika diartikan secara leterlek berarti seseorang (baik lelaki atau perempuan) yang bermata lebar atau sipit. Dialah yang menjadi pasangan di surga.

Sedangkan kalau diartikan secara majazi, kata tersebut berarti seseorang yang sipit matanya dalam arti kecil, sehingga dia tidak melihat kecuali kepada pasangannya. Dan akata-kata tersebut bisa juga diartikan dengan orang yang lebar matanya sehingga selalu terbuka dan memandang penuh perhatian kepada pasangannya itu.

Dari uraian di atas, Quraish menyimpulkan bahwa al-Qur’an sengaja memilih kata majemuk untuk mengakomodasi segala selera keindahan, ghirah, dan kecemburuan dan perhatian yang penuh. Artinya, bagi mereka yang memiliki selera kepada yang bermata sipit, mereka akan mendapatkannya, pada kata tersebut, demikian pula dengan mereka yang senang dengan yang bernata lebar dan bulat, juga akan mendapatkannya pada kata itu. Sedangkan dalam artian majazi, mereka yang pencemburu, akan mendapatkan pasangan yang sipit, yaitu pasangan yang tidak akan melihat orang lain kecuali padanya.

Hal yang demikian itu sesuai dengan apa yang Allah SWT firmankan

نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِىٓ أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Naḥnu auliyā`ukum fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah, wa lakum fīhā mā tasytahī anfusukum wa lakum fīhā mā tadda'ụn

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS. Fushilat [41]:31)

Menurut Tafsir as Sa'id, “didalamnya kamu memperoleh,” maksudnya, di surga “apa yang kamu inginkan,” sudah dipersiapkan dan dihidangkan “dan memperoleh pula di dalmnya apa yang kamu minta,” maksudnya, apa saja yang kamu minta dari segala yang digandrungi oleh keinginan kalian dan kalian cari dari berbagai kelezatan dan hal-hal yang merangsang yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan belum pernah terlintas di dalam hati seorang manusia.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa apapun yang diinginkan oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, akan dipenuhi oleh Allah SWT. Jadi sangat tidak beralasan tuduhan-tuduhan bahwa surganya umat Islam hanya diperuntukkan bagi laki-laki saja, atau dengan kata lain hanya dinikmati oleh laki-laki saja.

Sumber : M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian: Kematian, Surga dan Ayat-ayat Tahlil, (Jakarta: Lentera Hati, 2001), h. 162-165