Ketika seorang non muslim masuk kedalam Islam, apakah amal kebaikan dan keburukannya masih tetap dicatat ?
Barangsiapa menlakukan suatu keburukan pada masa kafirnya, kemudian beriman, namun terus-menerus berada dalam keburukannya, maka dia dihisab dan dibalas di akhirat sesuai dengan perbuatannya pada masa kafir dan Islamnya. Apabila ia bertobat dari hal tersebut maka gugurlah dosa-dosa pada masa kafirnya.
Barangsiapa mengerjakan suatu amal shalih pada masa kafirnya, kemudian beriman, maka ia akan dibalas di surga sesuai dengan perbuatannya, pada masa kafir dan Islamnya. Namun apabila ia tidak beriman, maka ia akan dibalas di dunia, dan amal shalihnya sama sekali tidak bermanfaat di akhirat.
Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, Ahmad bin Fath menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab bin Isa menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ali menceritakan kepada kami, Muslim bin Al Hajjaj menceritakan kepada kami, Muhammad bin Hathim bin Maimun dan Ibrahim bin Dinar -yang lafazhnya berasal darinya-, mereka berdua berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami -yaitu Ibnu Muhammad dari Ibnu Juraij, ia berkata: Ya'la bin Muslim memberitahukanku bahwa ia mendengar Said bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang musyrik banyak membunuh dan berzina. Suatu saat mereka menemui Rasulullah SAW, lalu berkata,
"Sungguh, apa yang engkau katakan dan serukan adalah sesuatu yang baik, seandainya engkau dapat memberitahu kami tentang amal perbuatan yang bisa menjadi penebus dosa-dosa kami (kaffarat)." Kemudian turun ayat, "(Yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaiikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Al Furqaan [25]: 68-70).
Berdasarkan ayat tersebut, Allah SWT tidak akan mengampuni perbuatan dosa kecuali dengan iman dan tobat yang disertai amal shalih.
Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Utsman bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Wa'il, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW,
"Wahai Rasulullah SAW, apakah perbuatan-perbuatan kami pada masa jahiliyah akan dibalas? Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang dari kalian berbuat kebajikan pada masa Islamnya, maka tidaklah dibalas segala keburukan yang diperbuatnya pada masa jahiliyahnya. Barangsiapa masih melakukan keburukan, maka ia akan dibalas sesuai perbuatan yang diperbuatnya pada masa jahiliyah dan Islamnya."
Diriwayatkan pula oleh Muslim, bahwa Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Waqi menceritakan kepada kami, dari A'masy, dari Abu Wa'il, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata:
Kami bertanya kepada Rasulullah SAW, "Apakah kami akan dibalas sesuai dengan perbuatan kami pada masa jahiliyah? Beliau bersabda, "Barangsiapa mengerjakan kebaikan pada masa keIslamannya, maka tidaklah dibalas segala keburukan yang diperbuatnya pada masa jahiliyah. Barangsiapa masih melakukan keburukan, maka ia akan dibalas sesuai dengan perbuatannya pada masa jahiliyah dan Islamnya."
Diriwayatkan pula oleh Muslim, bahwa Hasan Al Halwani menceritakan kepada kami, Ya'qub menceritakan kepada kami -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'ad-, Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih -yaitu Ibnu Kaisan- dari Ibnu Syihab, Urwah bin Zubair memberitahukan kepada kami, bahwa Hakim bin Hizam memberitahukannya, ia berkata kepada Rasulullah SAW,
"Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapat engkau terhadap perbuatan-perbuatan baik yang kulakukan pada masa jahiliyah, seperti bersedekah, memerdekakan budak, dan bersilaturrahim, apakah semuanya berpahala?" Rasulullah SAW lalu bersabda, "Engkau telah menjadi muslim (mendapatkan pahala) terhadap kebaikan yang telah engkau kerjakan pada masa jahiliyah."
Allah SWT berfirrnan, "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) Sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu'. " (Qs. Al Anfaal [8]:38)
Rasulullah SAW bersabda kepada Amr bin Ash,
"Sesungguhnya keislaman menghapuskan keburukan seseorang yang terdahulu, dan sesungguhnya berhijrah (dari keburukan kepada kebaikan) menghapuskan perbuatan yang ia lakukan sebelumnya. Sesungguhnya berhaji menghapuskan keburukan yang telah dilakukan sebelumnya."
Pandangan kami, nash-nash tersebut tidak saling bertentangan, dan apabila saling bertentangan tentunya telah batal nash-nash tersebut. Begitu pun Al Qur'an tidak akan bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah. Allah SWT berfirman,
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" (Qs. An-Nisaa' [4]:2)
"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) Sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu. " (Qs. Al Anfaal [8]: 38).
Ayat itulah yang menjadi dasar pandangan kami, bahwa orang yang beriman kemudian berhenti mengerjakan dosa-dosa pada masa lalu, maka Allah SWT akan mengampuninya. Sedangkan orang yang tidak berhenti mengerjakan keburukan, maka Allah SWT tidak akan mengampuninya. Jadi, jelas batal alasan orang-orang yang menggunakan ayat tersebut dan mengatakan bahwa ketika orang telah berislam maka segala dosanya telah diampuni, walaupun ia masih berbuat kejahatan.
Adapun hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,
"Keislaman seseorang menghapuskan dosa-dosa sebelumnya," adalah benar dan merupakan pandangan madzhab kami, karena Islam adalah sebuah nama yang mencakup segala kebajikan serta ketaatan, dan bertobat dari mengerjakan kejahatan merupakan bagian dari ketaatan. Demikian pula sabda Rasulullah SAW tentang hijrah, karena hijrah merupakan bentuk tobat dari segala dosa. Berdasarkan hadits Nabi SAW, "Orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah."
Abdunahman bin Abdullah bin Khalid menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ahmad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yusuf Al Farbari menceritakan kepada kami, Al Bukhari menceritakan kepada kami, Adam2e -yaitu Ibnu Abu Iyasmenceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Abu Safar dan Ismail bin Abu Khalid, dari Sya'bi, dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Nabi Muhammad SAW, beliau
bersabda,
"Seorang muslim adalah (orang) yang orang muslim lainnya merasa aman dari lisan dan tangannya. Dan, orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari hal-hal yang dilarang Allah."
Abdullah bin yusuf menceritakan kepada kami, Ahmad bin Fath menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab bin Isa menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ali menceritakan kepada kami, Muslim bin Al Hajjah menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Syaibatr menceritakan kepada kami, Hafsh bin Iyas menceritakan kepada kami dari Daud3o dari Sya'bi, dari Masruq, dari Aisyah Ummul Mulcninin, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW; Sesungguhnya" Ibnu Jad'an pada masa jahiliyah suka menjaga silaturahim dan memberi makan para fakir miskin, apakah perbuatannya itu berpahala? Rasulullah SAW bersabda,
"Hal terebut tidak berguna baginya, karena dia sendiri tidak pernah berkata, Wahai Tuhanku, ampunilah dosa'dosaku pada Hari Kiamat kelak'."
Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, Ahmad bin Fath menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab bin Isa menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ali menceritakan kepada kami, Muslim menceritakan kepada kami, Zuhair bin Harb menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hamman bin Yahya menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah SW ttdak akan menzhalimi seorang mukmin yang melakukan kebajikan, maka kebajikannya akan dibalas di dunia dan di akhirat. Adapun orang kafir, mereka akan dibalas sesuai dengan perbuatan di dunia saja, adapun ketika di akhirat tidak ada sedikit pun balasan untuk kebaikan yang pernah ia lakukan."
Sumber : Ibnu Hazm (Penerjemah: Ahmad Rijali Kadir), 2007, Al Muhalla, Pustaka Azzam, Jilid 1, Hlm. 45-51