Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Nabi Muhammad SAW datang dengan membawa Al Qur'an yang disampaikan kepada kita melalui proses periwayatan mutawatir yang sempuma. Beliau juga menantang kalangan yang telah menentangnya untuk membuat kitab yang serupa dengan Al Qur'an, namun mereka semua tidak mampu melakukannya. Selain itu beliau juga diberikan mukjizat membelah bulan.

Allah SWT berfirman,

"Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat) mereka berpaling dan berkata, '(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.' Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu ntereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran) Itulah suatu hikmat yang sempurna, akan tetapi peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka)." (Qs. Al Qamar [54]: 1-5)

Ratapan sedih pohon kurma terdengar oleh semua (para sahabat) yang hadir pada saat itu. Ia juga pernah mengajak orang-orang Yahudi untuk mengharapkan kematian jika mereka memang orang-orang yang benar. Kemudian ia menyampaikan bahwa mereka (orang-orang Yahudi) tidak pernah berharap mati, sehingga mereka semua tidak mampu mengharapkannya secara terbuka. Begitu pula orang-orang Nasrani, ketika ia mengajak mereka untuk bermubahalah (saling bersumpah atas kebenaran), mereka semua enggan melakukannya. Kedua bukti sejarah itu diabadikan di dalam nash (ayat) Al Qur'an.

Di dalam Al Qur'an juga disebutkan ketidakmampuan masyarakat Arab baik dari kalangan paling atas hingga paling bawah untuk membuat kitab yang serupa dengan Al Qur'an, mukjizat Nabi menyemburkan air dari sela-sela jari-jemarinya serta mengenyangkan ratusan orang dari segenggam gandum olahan, dan keberhasilan Nabi mengislamkan Raja Yaman, Bahrain, dan Oman tunduk kepada perintahnya untuk mengikuti seruan ayat-ayat-Nya. Bahkan mereka semua turun dari tahtanya secara sukarela bukan karena takut dan khawatir Nabi SAW akan mengambil tindakan militer serta bukan karena iming-iming yang dibuaikan kepada mereka. Tidak, bahkan Nabi sendiri fakir dan yatim.

Meskipun ketika itu ada segelintir orang yang mengaku sebagai nabi, seperti Raja Shan'a dan Yamamah, yang memiliki bala tentara yang terkuat dan wilayah kekuasaan yang sangat luas, akan tetapi tidak ada satu pun orang yang mau berpaling dan mendengar mereka selain kaumnya sendiri. Padahal, Nabi SAW saat itu tidak memiliki bala tentara yang kuat, wilayah kekuasaan yang luas, dan negeri yang paling jauh dari semua negeri para raja. Kemudian beliau mengajak semua raja dan ksatria yang menyesaki jazirah Arab -yakni dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan- untuk melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menghilangkan sikap angkuh, merendahkan hati, serta sabar memperbaiki jiwa dari semua perbuatan hina atau merasa tinggi diri. Padahal, ia tidak memiliki harta dan keluarga yang memadai untuk membantunya. Bahkan semua yang mendengar seruannya mengikutinya tanpa ada paksaan karena ayat-ayat yang mengetuk hati mereka. Selain itu, ia tidak pernah mencaplok satu negeri pun dengan menggunakan kekuatan dan kekerasan kecuali ketika terjadi peristiwa Khaibar dan penaklukkan kota Makkah.

Allah SWT berfirman,

"Wahai orang-orang beriman sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua. " (Qs. Al A'raaf [7]: 158)

"Wahai sekalian jin dan manusia. " (Qs. Al An'aam [6]: 130)

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur'an) lalu mereka berkata, 'sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang menakjubkan'." "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka akan menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. " (Qs. Al Jinn [72]:1-15)

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi." (Qs. Ali 'Imran [3]: 85)

Kesimpulannya, Allah SWT telah membatalkan pemberlakuan semua agama seiring dengan diturunkannya Islam dan telah menetapkan bagi semua penduduk bumi, baik jin maupun manusia untuk mengikuti syariat yang telah diturunkan-Nya, karena hanya syariat Islam yang diakui di sisi-Nya. Selain itu, Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi yang diutus
setelahnya.

Allah SWT berfirman,

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (Qs. Al Ahzaab [33]: 40)

Ahmad bin Muhammad bin Al Jasuur menceritakan kepada kami, Wahab bin Masarrah Faqiran menceritakan kepada kami, Muhammad bin Wadhdhah menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami, dari Al Mukhtar bin Fulful, dari Anas bin Al Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,

"Sesungguhnya kenabian dan risalah telah berakhir." (Mendengar itu) para sahabat menjadi gelisah. Beliau lalu bersabda, "Namun Mubasysyirat (pembawa kabar gembira) akan tetap ada. Ia adalah bagian dari kenabian."

Sumber : Ibnu Hazm (Penerjemah: Ahmad Rijali Kadir), 2007, Al Muhalla, Pustaka Azzam, Jilid 1, Hlm. 14-16.