Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Yang Kamu Ketahui Tentang Ibnu Abbas?

Anonymous 5 years ago

Ibnu Abbas sangat terkenal karena kecerdasannya sehingga dianggap sebagai ahli Tafsir umat Islam yang utama. Bagaimana biografi Ibnu Abbas ? Bagaimana kisah hidup dan cerita dari Ibnu Abbas ?

36

Ibnu Abbas mempunyai nama lengkap Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisyi al-Hasyimi, ia adalah putra paman Rasulullah SAW, yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Ibunya bernama Ummu Al-Fadhl Lubanah. Ia dilahirkan ketika Bani Hasyim berada di Syi'ib, tiga tahun sebelum hijrah. 1

Ia pernah diangkat menjadi gubernur Basrah pada masa Utsman bin Affan dan pada masa Ali bin Abu Thalib. Kemudian setelah masa terbunuhnya Ali, Ibnu Abbas mengangkat Abdullah bin al-Harits sebagai penggantinya.

Dalam perjalanan hidupnya, Ibnu Abbas banyak berdialog dengan Rasulullah SAW sekalipun ia masih muda, saat ia berumur sekitar 13-15 tahun Nabi SAW berpulang ke rahmatullah, artinya semasa hidup Nabi SAW ia masih sangat muda sekali.2 Meskipun demikian Ibnu Abbas adalah sosok sahabat yang memiliki ilmu yang luas, ahli fiqih, dan imam tafsir, oleh karena itu beliau mendapat beberapa gelar antara lain: Turjuman Al Quran (penafsiran al-Qur'an), Habrul Ummah (guru umat), dan Ra'isul Mufassirin (pemimpin para mufassir)3.

Karena ketika Rasulullah wafat, Ibnu Abbas belajar kepada para sahabat Rasul yang pertama tentang apa-apa yang tidak dipelajarinya dari Rasulullah secara langsung. Beliau selalu bertanya, maka setiap beliau mendengar seseorang yang mengetahui ilmu atau menghafalkan hadis, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang cerdas dan merasa tidak puas itu mendorongnya untuk meneliti apa yang didengarnya. Suatu saat beliau pernah bercerita mengenai dirinya, “jika aku ingin mengetahui tentang suatu masalah, aku akan bertanya kepada 30 sahabat”.4

Julukan-julukan tersebut di atas sebagai wujud pengakuan umat atas ilmunya yang melimpah-ruah, ijtihadnya yang agung, dan ma„rifatnya terhadap makna-makna yang terkandung di dalam al-Quran al-Karim di samping akhlaknya yang mulia. Hingga ia pun banyak dijadikan sandaran oleh para sahabat dalam tafsir maupun fatwa. Di antara sahabat yang mengakui kemampuan dan juga bersandar kepada Ibnu Abbas dalam bidang tafsir ini adalah Umar bin al-Khattab.

Ia meninggal di Thaif tahun 68 H. Jenazahnya dishalatkan oleh Muhammad bin al-Hanafiyah. Pada saat pemakaman jenazahnya, Muhammad bin al-Hanafiyah berkata, "Telah berpulang ulama umat ini untuk selama-lamanya".5

Kedudukan dan Keilmuan Ibnu Abbas

Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah mendapatkan tempat yang istimewa di kalangan para senior sahabat mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya, sebagai wujud dari doa Rasulullah untuknya. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas sendiri dijelaskan, nabi pernah merangkulnya dan berdoa,

"Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah."6

Manna al-Qathan juga menguraikan sebuah kisah Ibnu Abbas yang mendapat doa langsung dari Rasulullah, dia mengambil dari Mu'jam Al-Baghawi dan lainnya, dari Umar bin al-Khatthab, Beliau mendekati Ibnu Abbas dan berkata, sungguh saya telah melihat Rasulullah mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu, dan berdoa,

Ya Allah berilah ia pemahaman yang hebat dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.”7

Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, dia berkata, "Orang-orang Muhajirin pernah mendapati Umar lebih memuliakan Ibnu Abbas daripada mereka.8 Umar berkata,

"Pada hari ini akan aku tunjukkan betapa mulia kedudukannya yang tidak kalian ketahui", Umar kemudian bertanya kepada orang-orang muhajirin tentang tafsir surah an-Nashr

إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ

iżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-ḥ

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, (QS. An-Nashr [110]: 1).

Sebagian mereka lalu berkata, "Maksudnya Allah menyuruh Nabinya, apabila melihat orang-orang masuk Islam dengan berbondong-bondong, maka beliau hendaknya memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya.

Umar berkata,

"Wahai Ibnu Abbas, jelaskan!"

kemudian Ibnu Abbas berkata,

"Allah memberitahukan kepada beliau kapan beliau akan meninggal. Atau itu merupakan salah satu tanda tentang kematianmu, maka bertasbihlah dengan memuji nama tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.9

Umar membenarkan penafsiran Ibnu Abbas.

Selain dapat doa khusus dari Rasulullah, Ibnu Abbas juga termasuk salah satu diantara sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi. Urutan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis adalah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Jabir, Abdullah bin Abbas, Anas bin Mali, dan Aisyah. Tercatat 1660 hadis yang diriwayatkan dari Nabi.10

Diantara sekian banyak sahabat termasuk diantaranya para khulafa al-Rasyidin, Aisyah dan istri-istri nabi yang lainnya, yang dalam penilaian kaum muslimin menjadi hujjah sanad yang terkuat dan signifikan adalah beliau Ibnu Abbas, putra dari paman Rasulullah dan putra kakek (tertua) dari keluarga besar Abbasiyah.11

Dalam bidang tafsir, Ibnu Abbas merupakan peletak dasar dari teori penafsiran yang banyak mengilhami model-model penafsiran era berikutnya. Pemikirannya diyakini sebagai salah satu model penafsiran yang paling akurat, baik bagi kalangan "Mufassir   bii   al- ma'tsur" maupun kalangan "Mufassir bii al-ra'yi. Bahkan secara tradisional beliau dipercaya sebagai salah seorang tokoh yang telah berhasil menanamkan embrio Hermeneutika al-Qur'an.12

Selain ahli dalam bidang tafsir beliau juga dikenal sangat ahli di bidang ilmu waris (faraid) selain Zaid bin Tsabit, Ali, Umar, Ibnu Mas'ud dan Mu'ad bin Jabbal. Hanya saja Abdullah bin Abbas tidak pernah terlibat dalam politik, tidak pernah menjadi khalifah, sehingga pendapat-pendapatnya dalam bidang waris tidak eksis sebagaimana Umar bin Khatthab yang pernah menjadi Khalifah yang mempunyai wewenang dalam memutuskan sengketa.13

Referensi :

1 Manna Al-Qaththan, Mabahist fi Ulumul Qur'an, terj, Ainur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Ulum Al-Qur‟an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, th. 2006, hlm. 473
2Muhammad Husain ad-Dhahabi. 2005. Tafsir wa Al-Mufassirun. Juz I.  Kairo. Darul Hadis. hlm. 61.
3 Mannan al-Qattan, hlm. 474
4Khalid, Muhammad Khalid, Man Around the Messenger, terj, M. Arfi Hatim: Para Sahabat yangAkrab Dalam Kehidupan Rasulullah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000, hlm. 581
5Muhammas Sa‟id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, terj. Khoirul Amru Harahap, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007, hlm. 115
6Manna al-Qaththan, hlm. 474
7Ibid
8 Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad, Nuzhatul Fudhala' Tahdzib siyar a'lam an-nubala, terj, Munir Abidin: Ringkasan Siyar A'lam An-Nubala, Jakarta: Pustaka Azzam, 2011, hlm. 642
9Ibid
10 Muhammad Sa'id Mursi, hlm. 115
11 Ignaz Goldziher, Madzahib al-Tafsir al-Islami, terj: M. Alaika Salamullah, dkk, Madzhab Tafsir Dari Klasik Hingga Moderen, Yogyakarta: eLSAQ Press, cet III, 2006, hlm. 88
12 Khairunnas Jamal, "Abdullah Ibnu Abbas Dan Pengaruh Pemikirannya dalam Perkembangan penafsiran Al Qur'an"
13 Abd. Salam, Pengembangan Makna Walad Pada Ayat Kewarisan Dalam Yurisprudensi.

Abdullah bin Abbas merupakan sahabat nabi Muhammad SAW yang mempunyai julukan Lautan Ilmu. Abdullah bin Abbas berasal dari suku Quraisy, keturunan Bani Hasyim. Ayahnya bernama Abbas bin Abdul Muthalib. Ibunya bernama Lubabah al-Kubra bint al-Harits bin Hazn alHilaliyah. Ayahnya merupakan paman Rasulullah saw. dan kakak sepupu Khalid bin al-Walid. Ia dijuluki Habrul Ummah wa Tarjuman Al-Quran, tinta umat dan penerjemah Al-Quran. Ia juga mendapat gelar al-Bahru alias Sang Lautan karena keluasan ilmunya.

Abdullah bin Abbas lahir ketika Rasulullah dan seluruh Bani Hasyim diboikot oleh kaum Quraisy. Ibnu Abbas kecil dibawa kepada Nabi saw. dan beliau memberkahinya dengan ludah beliau. Itu terjadi tiga tahun sebelum Hijrah. Imam al-Hakim mengutip sebuah riwayat dalam kitab al Mustadrak bahwa Ibnu Abbas pernah dua kali melihat malaikat Jibril di sisi Nabi saw. Imam Tirmidzi juga menuturkan riwayat dari Bundar dan Mahmud bin Gahilan dari Abu Muhammad dari Sufyan dari Laits dari Abu Jahdham dari Ibnu Abbas bahwa ia pernah me lihat malaikat Jibril dua kali dan dua kali pula Nabi saw. mendoakannya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Muhammad Basyar dari Abdul Wahab al-Tsaqafi dari Khalid al-Hadza dari Ikrimah dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw. memeluknya dan beliau berdoa, “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.”

Ibnu Abbas telah meriwayatkan hadis Nabi saw. dari Umar, Ali, Abu Dzar, Muaz bin Jabal. Sementara, Abdullah ibn Umar meriwayatkan hadis darinya, juga Anas bin Malik, putranya Ali bin Abdullah bin Abbas, saudaranya Katsir bin Abbas, Abu Umamah bin Sahal bin Hanif, Abu ai-Thufail, serta kedua budaknya Ikrimah dan Kuraib, Abu Ma’bad Nafidz, Atha ibn Abu Rabah, Mujahid dan Ibnu Mulaikah, Said bin al-Musayab, al-Qasim ibn Muhammad, Amr ibn Dinar, Ubaid bin Umair, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, Muhammad bin Ka‘b, Sulaiman bin Yasar, Urwah bin al-Zubair, Thawus, Abu al Dhuha, Wahab bin Munabbih, dan banyak lagi golongan sahaat maupun tabiin yang meriwayatkan hadis darinya.

Hanasy al-Qana’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika ia berada di belakang Rasulullah saw. kemudian beliau bersabda,

“Hai anak muda, aku akan mengajarkan beberapa kalimat: peliharalah Allah maka Dia akan memeliharamu; peliharalah Allah maka akan kautemukan Dia di hadapanmu; jika kau meminta, mintalah kepada Allah; dan jika kau memohon pertolongan, memohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka takkan dapat memberi manfaat apa pun kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Jika mereka berkumpul untuk memberimu mudarat maka mereka takkan bisa memberi mudarat apa pun kecuali sesuatu yang telah Allah tuliskan atasmu. Pena-pena reiah diangkat dan cataran-caratan telah mengering.”

Sungguh agung ilmu yang engkau miliki, wahai Rasulullah. Betapa luas ilmu Allah yang telah engkau berikan kepada para sahabatmu. Menurut Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, Ibnu Abbas memiliki keistimewaan yang sulit ditandingi oleh kebanyakan manusia. la memiliki keunggulan dalam banyak hal. Misalnya, ia memiliki ilmu yang lebih dahulu ia ketahui dibanding orang lain; ia memiliki pemikiran dan pemahaman yang luas; ia pun dikenal sebagai alim yang santun dan lemah lembut; nasab keturunannya pun berasa dari golongan yang mulia. Ia juga sangat dermawan. Ubaidillah mengatakan, “Belum pernah aku melihat orang yang lebih mengetahui dan lebih memahami hadis Nabi saw. dibanding Ibnu Abbas. Bahkan, pada masa Abu Bakr r.a., Umar r.a., maupun Utsman r.a., tak ada seorang pun yang pemahamannya tentang hadis Nabi saw. melampaui dirinya. Juga tak ada orang yang mengunggulinya dalam pengetahuan tentang syair, bahasa Arab, tafsir Al-Quran, atau pun ilmu hisab dan faraid. Selain itu, tak ada seorang pun yang pendapatnya lebih tepat dalam suatu masalah dibanding pendapat Ibnu Abbas. Dalam sehari ia bisa duduk berlama-lama di majelis membicarakan fikih, di hari yang lain ia membicarakan takwil. Ia pun fasih bicara tentang strategi perang, apalagi tentang syair dan bahasa Arab. Setiap kali seorang alim duduk di hadapannya, ia akan menundukkan kepala menghormatinya. Dan setiap kali seseorang menanyakan suatu masalah, ia akan merasa puas karena Ibn Abbas dapat memberinya jawaban yang memuaskan.

Ibnu Abbas sangat teiiti. la selalu memeriksa secara saksama apa pun yang diriwayatkan arau didengarnya, terlebih lagi jika riwayat itu datang dari Rasulullah saw. Pernah, suatu hari, Ibnu Abbas menemui seorang sahabat unruk menanyakan sesuaru, tetapi saat ia datang, sahabat itu sedang berbicara pada seseorang. Ibnu Abbas melilitkan surbannya di kepala dan duduk menunggu di depan pintu rumah sahabat itu. Tak lama berselang, angin bertiup cukup kencang menerbangkan debu yang mengotori pakaiannya. Ketika sahabat itu keluar rumah, ia melihat Ibnu Abbas berada di depan pintu rumahnya. Sahabat itu bertanya, “Wahai putra paman Rasulullah, apa maksud kedatanganmu di sini? Mengapa engkau tidak mengutus seseorang agar aku datang menemuimu.” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, akulah yang seharusnya mendatangimu, bukan engkau yang mendatangiku.”

Ibnu Abbas menyadari, orang alim harus didatangi, bukan sebaliknya. Dan saat itu, dialah yang punya keperluan kepada sahabat tersebut. Riwayat itu menegaskan perilaku Ibnu Abbas yang sangat rendah hati. la tidak pernah merasa sombong dengan ilmu yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Suatu hari ia pernah ditanya, “Hai Ibnu Abbas, di manakah posisi keilmuanmu dibanding ilmu anak pamanmu (maksudnya Ali ibn Abu Thalib)?” Ibnu Abbas menjawab, “(Ilmuku dibanding ilmu Ali) Bagaikan tetes air hujan yang jatuh ke samudra.” Sungguh tepat ucapannya itu. la benar-benar memahami kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri. Ucapannya itu menegaskan bahwa Ali ibn Abu Thalib jauh lebih berilmu dibanding dirinya. Di sisi Iain, ucapannya itu menunjukkan sifat tawaduknya. Umar ibn al-Khattab r.a. sendiri mengagumi keluasan ilmu dan pengetahuannya. Bahkan, Umar r.a. menjuluki Ibnu Abbas sebagai pemuda-sepuh (Fata al-Kuhl). Umar r.a. sering meminta pandangan Ibnu Abbas kerika menghadapi suatu masalah.

Jika Ibn Abbas sedang membaca Al-Quran dan ia memahami satu perkara yang belum dipahami orang lain, ia akan berkata, “Aku membaca salah satu ayat dari kitab Allah. Aku ingin semua orang mengerti sebagaimana aku memahaminya.” Ucapan seperti ini hanya akan keluar dari mulut orang yang benar-benar alim dan jujur. Dalam kesempatan lain, Ibnu Abbas berkata, “Jika aku mendengar seorang pemimpin umat Islam memerintah dengan adil dan bijaksana, aku merasa sangat senang. Aku akan mendoakannya, dan aku tak perlu mengkritiknya. Dan jika aku mendengar hujan turun di tanah kaum muslim, aku pun merasa senang, dan aku sendiri tidak punya hewan ternak untuk digembalakan di sana.” Artinya, Ibnu Abbas sangat senang jika semua orang mendapat kebaikan.

Rasulullah saw. pernah mendoakannya, “Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam masalah agama dan ajarkan kepadanya takwil (tafsir).” Ia pergi menunaikan ibadah haji ketika rumah Khalifah Utsman r.a. dikepung. Ketika di ujung usianya mengalami kebutaan, Ibnu Abbas berkata, “Jika Allah mengambil cahaya-Nya dari kedua mataku maka sesungguhnya pada lisan dan hatiku masih ada cahaya. Hatiku cerdas dan pandai berpikir serta bersih dari tipudaya. Mulutku pun tajam bagaikan pedang.”

Ibnu Abbas wafat pada usia 70 tahun. Saat jenazahnya akan dikuburkan, Ibnu al-Hanafiyah berkata, “Demi Allah, pada hari ini telah wafat tinta umat ini.” Semoga Allah merahmatinya.

Sumber : Muhammad Raji Hasan Kinas (Penerjemah; Nurhasan Humaedi, Banani Bahrui-Hasan, Dedi Slamet Riyadi), 2012, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi (Nafahat 'Athirah Sirah Shahabath Rasulillah Saw.), Penerbit Zaman.