Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Yang Kamu Ketahui Tentang Abdullah bin Mas'ud ?

Anonymous 5 years ago

Abdullah bin Mas'ud merupakan salah satu sahabat nabi yang pertama-tama masuk Islam, sehingga termasuk kedalam golongan Assabiqunal Awwalun. Abdullah bin Mas'ud merupakan orang keenam yang masuk Islam setelah Nabi Muhammad SAW berdakwah di Mekah. Abdullah bin Mas'ud terkenal dengan sebutan sahabat yang bersahabat dengan sandal Nabi. Adakah informasi lainnya yang kamu ketahui tentang Abdullah bin Mas'ud ? Terimakasih.

49

Abdullah bin Mas'ud adalah sahabat Nabi yang berasal dari Bani Hadzili, yang bersekutu dengan Bani Zuhrah. Ayahnya bernama Mas'ud bin Ghafil bin Habib bin Syamakh. Ibunya bernama Ummu Abdi bint Abdi Wudd bin Sawa. Ia masuk Islam bersamaan dengan Said bin Zaid, suami Fatimah bint al-Khattab. Abdullah satu tahun lebih dahulu memeluk Islam daripada Umar.

Ia dipanggil dengan nama Abu Abdurrahman. Al-A'masy meriwayatkan dari al-Qasim bin Abdurrahman dari ayahnya bahwa Abdullah pernah berkata, “Aku pikir, saat itu, akulah orang keenam di muka bumi ini yang memeluk Islam. Belum ada muslim lainnya selain kami berenam.”

Berkaitan dengan keislaman Abdullah, Ibn Awanah meriwayatkan dari Ashim bin Bahdalah dari Zirr bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata, “Aku seorang budak menjelang usia balig dan terbiasa menggembalakan domba milik Uqbah bin Abu Mu'ith. Suatu hari, saat menggembala domba, datang Nabi saw. bersama Abu Bakar. Beliau bersabda, ‘Hai budak, apakah kau punya susu?’ Aku menjawab, ‘Punya, tetapi aku hanyalah penggembala.’ Beliau berkata, ‘Bawakan aku seekor domba yang belum dewasa (belum pupak).’ Aku membawakan seekor anak kambing, kemudian beliau mengusap puting susu kambing itu dan berdoa. Tak lama kemudian keluar air susu dari kambing yang masih muda itu. Abu Bakar menghampiri sambil membawa wadah lalu memerah susu kambing itu. Nabi saw. bersabda kepada Abu Bakar, ‘Minumlah!’ Abu Bakar pun meminumnya, menyusul kemudian Nabi saw. Setelah itu beliau berucap kepada puting susu kambing itu, ‘Menyusutlah!’ Puting kambing itu pun menyusut seperti semula. Aku mendatangi beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajari aku perkataan ini (Al-Quran).’ Rasulullah mengusap kepalaku dan bersabda, ‘Engkau budak yang terdidik.

Dalam riwayat lain Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah saw. aku menghafal 70 surah dan tak seorang pun yang menentang bacaanku.”

Setelah menyaksikan keajaiban yang terjadi ketika Nabi saw. mengusap puting kambing muda itu, Ibn Mas‘ud takjub dan muncul keyakinan bahwa laki-laki di hadapannya benar-benar seorang utusan Allah. Maka, tanpa keraguan ia mendekati Nabi saw. dan bersyahadat. Dialah orang pertama yang membacakan Al-Quran dengan suara keras di Makkah. Muhammad bin Ishaq menuturkan sebuah riwayat dari Yahya bin al-Zubair dari ayahnya bahwa orang yang pertama kali membacakan Al-Quran secara terang-terangan setelah Rasulullah saw. adalah Abdullah bin Mas'ud.

Pada suatu hari, para sahabat Rasulullah saw. sedang berkumpul, lalu seseorang berkata, “Belum pernah diperdengarkan Al-Quran dengan suara keras kepada kaum Quraisy. Siapakah yang sanggup membacakannya kepada mereka?” Ibn Mas'ud berkata, “Aku siap.” Mereka berkata, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Kami ingin yang melakukannya adalah lelaki dewasa yang punya ikatan keluarga yang dapat membelanya jika orang Quraisy menyakitinya.” Ibn Mas'ud berkata tegas, “Biar aku saja. Allah SWT akan menjagaku.”

Keesokan harinya, saat waktu duha, Ibn Mas‘ud datang ke Masjidil haram, berdiri di dekat maqam, sementara kaum Quraisy sedang duduk berkumpul. Kemudian dengan suara lantang Ibn Mas‘ud membacakan ayat Al-Quran.

Orang Quraisy yang ada di dekatnya terkesiap, lalu sebagian mereka bertanya, “Apa yang diteriakkan anak Ummu Abdi itu?” Sebagian lain menjawab, “Ia meneriakkan bacaan yang diajarkan Muhammad.” Mendengar jawaban itu, orang Quraisy serentak berdiri lalu memukuli Ibn Mas‘ud hingga babak belur. Namun, Ibn Mas'ud tetap membacakan ayat-ayat Al-Quran hingga tenaganya benar-benar habis.

Setelah kaum Quraisy meninggalkannya dalam kadaan payah, Ibn Mas‘ud kembali menemui para sahabat. Mereka berkata, “Inilah yang kami khawatirkan!” Ibn Mas‘ud menjawab, “Tak ada musuh Allah yang lebih rendah dari mereka. Jika kalian mau, lakukanlah besok.” Mereka menjawab, “Cukup engkau saja. Kau telah memperdengarkan sesuatu yang tidak mereka sukai.”

Setelah Abdullah bin Mas'ud bersyadahat, Rasulullah saw. memintanya melayani keperluan beliau, “Kuizinkan engkau untuk mengurusi alat perangku dan melayaniku.” Sejak saat itu Abdullah bin Mas‘ud menjadi pelayan Nabi saw. yang bekerja dengan sangat tekun. Ia mengabdi kepada beliau dalam berbagai urusan, seperti memakaikan sandal, berjalan di belakang beliau, menutupi beliau ketika mandi, dan membangunkan beliau. Di kalangan para sahabar ia dikenal dengan sebutan shahib al-siwad wa al-siwak, penyedia alat perang dan siwak.

Ibn al-Atsir menuturkan bahwa Ibn Mas‘ud mengalami dua hijrah, yaitu ke Abisinia dan ke Madinah. la juga mengalami shalat menghadap ke dua kiblat.

Selain tekun melayani Nabi saw., Ibn Mas'ud tak pernah merasa gentar untuk terjun ke medan perang. la ikut berperang pada Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan tak ragu-ragu menyatakan sumpah setia pada peristiwa Baiat Ridwan. Setelah Nabi saw. wafat, ia pun bergabung dalam pasukan Muslim dalam ekspedisi Yarmuk.

Abdullah bin Mas‘ud termasuk di antara sepuluh sahabat yang dijamin surga oleh Rasulullah. la meriwayatkan banyak hadis dari Rasulullah. dan banyak pula sahabat Nabi saw. yang meriwayatkan hadis darinya, termasuk Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abu Musa, Imran bin Hasshin, Jabir, Ibn al-Zubair, Anas, Abu Said, Abu Hurairah r.a., dan lain-lain. Sementara, perawi dari golongan tabiin antara lain Alqamah, Abu Wail, al-Aswad, Masruq, Ubaidah, Qais bin Abu Hazim, dan lain-lain.

Ibn Jarir menuturkan riwayat dari Mughirah dari Abi Razin dari Ibn Mas‘ud bahwa Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Bacakan untukku surah al-Nisa.” la menjawab, “Haruskah kubacakan, padahal Al-Quran diturunkan kepadamu?” “Aku ingin mendengarnya dari orang selain aku.” Maka, Ibn Mas‘ud membacakannya sampai pada ayat:

Bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti) apabila Kami datangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.

Ibn Mas'ud mengatakan, “Ketika bacaanku sampai pada ayat tersebut, aku melihat mata Rasulullah berkaca-kaca.”

Dalam hadis riwayar Sufyan al-Tsauri dari Abdul Malik bin Umair dari maula Ruba'i dari Ruba'i dari Khudzaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Dan berpeganglah kalian pada Ibn Ummu Abdi (Abdullah bin Mas'ud).”

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Yazid bahwa menemui Kudzaifah dan berkata, “Ceritakan kepada kami orang yang sangat dekat dengan Rasulullah, baik petunjuk maupun pelajarannya sehingga kami dapat belajar dan mendengar langsung darinya.” Khudzaifah menjawab, “Orang yang sangat dekat dengan Rasulullah saw., baik dalam petunjuk maupun pelajaran, dan selalu mengikuti beliau adalah Ibn Mas‘ud sehingga sebagian kami sering bersembunyi di rumahnya.”

Siapa pun yang tekun mempelajari sejarah para sahabat Nabi saw. pasti akan mengakui bahwa putra Ummu Abdi itu adalah orang yang gemar beribadah dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Zaid ibn Wahab berkata,

“Suatu hari aku duduk bersama Umar, tiba-tiba datang Ibn Mas'ud yang kemudian duduk di antara kami. Namun, karena tubuhnya kecil, seperti tertutupi para sahabat lain. Umar tertawa karenanya. Melihat Umar tertawa, Ibn Mas‘ud pun berdiri dan juga tertawa. Umar terus memandanginya kemudian berkata,

“Orang ini adalah wadah yang dipenuhi ilmu.”

Ubaidullah bin Abdullah berkata, “Ketika semua orang sudah ngantuk, Abdullah bin Mas'ud akan bangkit, kemudian bergumam (melafalkan zikir dan ayat Al-Quran) seperti suara lebah hingga datang waktu subuh.

Imam Tirmidzi menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ikutilah orang-orang sesudahku dari para sahabat Abu Bakr dan Umar, ambillah petunjuk seperti yang dilakukan Amar, dan berpeganglah kalian kepada Ibn Mas‘ud.”

Ketika Khalifah Umar r.a. mengirim walikota ke Kufah, Umar r.a. menulis surat kepada penduduknya, “Aku telah mengutus Amar bin Yasar sebagai pemimpin dan Abdullah bin Mas‘ud sebagai alim dan wazir. Mereka berdua adalah sahabat Rasulullah saw. yang pandai dan termasuk pahlawan Badar. Maka, ikuti mereka, dengarkan, dan taatilah perkataan mereka! Dan aku lebih mengutamakan Abdullah pada kalian atas diriku.”

Dalam hadis riwayat Mughirah dari Ummu Musa bahwa ia mendengar Ali bin Abu Thalib r.a. berkata,

“Nabi saw. telah memerintahkan Ibn Mas‘ud, kemudian ia naik ke atas pohon membawa sesuatu. Ketika melihat betisnya yang kecil, para sahabat tertawa. Rasulullah saw. bersabda, “Apa yang kalian tertawakan? Kaki Abdullah pasti lebih berat timbangannya kelak di hari dibanding gunung Uhud.”

Diriwayatkan dari Ibn Ishaq dari al-Aswad ibn Yazid bahwa ia mendengar Abu Musa berkata, “Aku dan saudaraku tiba di Yaman, lalu diperkenalkan kepadaku Abdullah bin Mas'ud yang merupakan Ahlul Bait Nabi saw. sejak ia dan ibunya masuk dalam (keluarga) Nabi.”

Ibn Katsir mengutip riwayat dalam Jami‘ al-Masanid wa al-Sunan dari Abu Zhabiyah bahwa suatu hari Abdullah bin Mas'ud sakit, kemudian datang Utsman bin Affan menjenguknya.

Utsman berkata, “Apa yang engkau rasakan: Ibn Mas‘ud menjawab, “Dosa-dosaku.” Apa yang engkau inginkan? Rahmat Tuhanku.” Maukah aku datangkan seorang tabib?’ Tabib malah membuatku semakin sakit. Maukah kuberi sesuatu? Aku tak membutuhkannya. Mungkin untuk putri-putrimu.” Apakah kau khawatir putri-putriku jatuh iniskin? Aku sering memerintahkan mereka untuk membaca surah al-Waqi’ah setiap malam dan aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa membaca surah al-Waqi'ah setiap malam maka ia takkan terkena kesusahan selamanya.”

Al-A‘msy meriwayatkan dari Hibbah bin Juwain bahwa suatu ketika Ali bin Abu Thalib duduk bersama beberapa Ibn Mas'ud dan para sahabat lain. Tiba-tiba beberapa sahabat berkata, “Kami belum pernah melihat orang yang lebih bagus perilakunya, lembut pengajarannya, lebih santun pergaulannya, dan yang lebih warak melebihi Ibn Mas‘ud.” Ali r.a. bertanya, “Demi Allah, apakah ucapanmu itu jujur dari dalam hatimu?” Mereka menjawab, “Benar sekali.” Ali r.a. berkata, “Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku mengatakan seperti yang mereka katakan, bahkan lebih baik dari itu.

Abdullah bin Mas'ud selalu menceritakan nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Ia pernah berkata, “Tidaklah sesuatu dalam Al-Quran diturunkan kecuali aku mengetahui tentang apakah ayat itu diturunkan. Tak ada seorang pun yang lebih memahami kitabullah selain aku. Jika ada orang yang pekerjaannya menggiring unta, tetapi ia lebih paham dibanding aku tentang kitabullah, pasti aku akan mendatanginya. Namun, aku bukanlah orang terbaik di antara kalian.”

Pada 32 Hijriah Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas‘ud) wafat pada usia 67 tahun. Ia wafat di Madinah dan dimakamkan pada malam hari di Baqi. Pada saat itu, Ibn al-Zubair ikut menyalati jenazahnya.

Semoga Allah SWT merahmatinya.

Sumber : Muhammad Raji Hasan Kinas (Penerjemah; Nurhasan Humaedi, Banani Bahrui-Hasan, Dedi Slamet Riyadi), 2012, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi (Nafahat 'Athirah Sirah Shahabath Rasulillah Saw.), Penerbit Zaman.

Abdullah bin Mas'ud  termasuk sahabat dari generasi pertama yang masuk Islam. Beliau masuk Islam pada awal-awal kedatangannya, lalu ikut bersama sahabat lainnya hijrah ke Habasyah serta Madinah, mengikuti peperangan Badr serta seluruh peristiwa penting lainnya. Dan menyertai Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau termasuk yang biasa menyiapkan air untuk bersuci serta sendalnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, juga siwak dan tempat duduknya. Beliau termasuk pemegang kunci rahasianya, dan menceritakan hadits dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah riwayat yang sangat banyak.

Setelah hijrah ke Madinah dirinya dipersaudarakan oleh Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sa'ad bin Mu'adz. Dan beliau pernah mengatakan tentang dirinya: 'Aku sudah pernah melihat semuanya. Dan aku nyatakan tidak ada dimuka bumi yang muslim selain kami'.

Beliau juga pernah menyatakan: 'Demi Allah, yang tidak ada ilah yang berhak untuk disembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Tidaklah ada surat dari al-Qur'an yang turun melainkan aku telah mengetahui dimana turunnya, tidak pula turun sebuah ayat dari al-Qur'an kecuali aku mengetahui tentang apa diturunkan. Dan kalau sekiranya aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui dariku dari kitab Allah Shubhanahu wata’alla pastilah akan aku datangi dimanapun tempatnya'.

Beliau juga pernah mengkisahkan tentang dirinya: "Demi Allah, aku telah mengambil langsung dari mulut Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (belajar langsung) tujuh puluh lebih surat dalam al-Qur'an. Demi Allah, para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa diriku adalah orang yang paling paham tentang kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla sedangkan aku bukanlah orang terbaik diantara mereka".

Sesungguhnya, tanpa dipungkiri beliau adalah Imam yang penuh dengan lautan ilmu, orang yang paling fakih dari umat ini, beliau bernama Abdullah bin Mas'ud bin Ghaafil al-Hudzali al-Makki al-Muhajiri yang berayah Abu Abdurahman, serumpun dari Bani Zahrah. Beliau seseorang yang berpostur tubuh pendek lagi kurus, berkulit agak hitam. Disebutkan oleh adz-Dzahabi: 'Beliau terhitung dalam barisan para jenius yang sangat cerdas dikalangan paraulama sahabat, dirinya sangat banyak sekali meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam'.

Keutamaan Abdullah bin Mas'ud 

Dalam hal keutamaan Abdullah bin Mas'ud, telah datang penjelasan dari hadits Nabawi yang menerangkan akan keutamaan serta kedudukan beliau dalam hadits-hadits yang sangat banyak. Diantarannya ialah:

Pertama: Hadits yang dibawakan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan:

"Aku datang bersama saudaraku dari Yaman ke kota Madinah lalu tinggal disana beberapa lama, dan tidaklah kami melihat Ibnu Mas'ud dan ibunya melainkan kami mengira bahwa mereka berdua termasuk dari keluarga Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan seringnya mereka keluar masuk kedalam rumah beliau serta acap menyertainya". HR Bukhari no: 3763. Muslim no: 2460.

Kedua: Seperti yang dikeluarkan oleh Bukhari dari haditsnya Abdurahman bin Yazid radhiyallahu 'anhu, dirinya mengkisahkan:

"Kami pernah bertanya kepada Hudzaifah tentang seseorang yang paling mendekati serta menetapi petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai kiranya kami bisa mengambil ilmu darinya. Maka beliau menjawab: "Tidak ada yang lebih aku ketahui ada orang yang sangat dekat dan menetapi serta menerapkan dengan petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dari pada Ibnu Ummu Abdu". HR Bukhari no: 3762.

Ketiga: Sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu al-Ahwash radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan:

"Aku pernah menyaksikan Abu Musa dan Abu Mas'ud tatkala anak Abu Mas'ud meninggal keduanya saling mengatakan pada yang lain, apakah engkau melihat ada seseorang yang semisal dengannya? Maka beliau mengatakan: 'Sesungguhnya ucapanmu itu, ia adalah orang yang menutupi kita bila kita hadir dan menyaksikan dengan kebaikan bila kita tidak ada". HR Muslim no: 2461.

Keempat: Masih riwayat yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Alqomah, beliau menceritakan: "Aku masuk ke negeri Syam lalu masuk masjidnya dan melakukan sholat dua raka'at. Kemudian aku berdo'a: "Ya Allah, mudahkanlah aku bertemu dengan teman duduk yang baik". Disana aku melihat ada seorang tua yang mendatangiku tatkala sudah dekat maka aku berkata dalam hati; 'Semoga ini do'a tadi yang aku panjatkan, Allah telah kabulkan'.

Ketika sudah berada dihadapanku, dia bertanya: 'Darimana engkau berasal? Dari Kufah, jawabku. Dirinya lantas mengatakan: 'Bukankah ada ditengah-tengah kalian pemilik dua sendal, sajadah, serta tempat bersuci. Bukankah ada ditengah-tengah kalian seseorang yang telah terjaga dari setan, bukankah ada ditengah- tengah kalian seorang pemegang kunci rahasia yang tidak diketahui oleh lainnya. Bagaimana dengan bacaan Ibnu Ummu Abdu, firman Allah ta'ala:

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)". (QS al-Lail: 1).

Aku pun menirukan bacaannya tadi.

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan". (QS al-Lail: 1-3).

 Orang tersebut lalu menambahkan: 'Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surat ini dari bibirnya kepada dia secara langsung". Mereka lalu mengulang-ulang kalimat tersebut sampai-sampai mereka seakan-akan mengusirku untuk pulang ke negeriku". HR Bukhari no: 3760. Muslim no: 824.

Kelima: Beliau termasuk ulamanya para sahabat serta pengajar al- Qur'an mereka. Hal tersebut, sebagaimana yang diterangkan oleh sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu. Bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

"Ambillah oleh kalian al-Qur'an dari empat orang, Ibnu Ummu Abdu –Beliau memulai dengannya-, Mu'adz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, dan Salim mantan sahaya Hudzaifah". HR Bukhari no: 3760. Muslim no: 2464.

Keenam: Dirinya telah mengumpulkan ilmu yang sangat banyak dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebab mulazamahnya beliau bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dijelaskan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Bukhari dari haditsnya, beliau menceritakan tentang dirinya: 'Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata padaku:

"Engkau meminta izin padaku supaya diangkat tabir, supaya dirimu bisa mendengar ilmu yang banyak sampai kiranya aku cegah". HR Bukhari no: 2169.

Ketujuh: Dan yang menunjukan tentang keilmuan beliau serta amanahnya didalam menjaga ilmu, ialah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad didalam musnadnyadari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan:

"Aku biasa bekerja mengembala kambing milik Uqbah bin Abu Mu'ith, pada suatu ketika Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakar lewat ditempatku, maka beliau berkata padaku: 'Wahai anak kecil, apakah engkau punya susu? Aku jawab: 'Ia, aku punya tapi bukan milikku'. Beliau bertanya kembali: 'Apakah ada kambing yang akan dikawinkan? Maka aku datangkan seekor kambing betina, kemudian beliau mengusap pentil susunya yang tiba-tiba keluar air susunya, selanjutnya beliau memerasnya dan menaruh disebuah bejana, kemudian meminumnya, dan mengasih lebihnya pada Abu Bakar, kemudian mengatakan pada kelenjar susu: 'Keringlah'. Tiba-tiba air susunya menjadi kering seperti semula. Kemudian aku mendekati beliau sambil mengatakan: 'Ya Rasulallah, ajarilah aku ucapan seperti tadi'. Maka beliau mengusap kepalaku sembari mengatakan: 'Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya engkau anak kecil yang gemar belajar". HR Ahmad 6/82 no: 3598.

Adalah Umar radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan tentang beliau: 'Beliau tak ubahnya bejana yang banyak menampung ilmu'. Beliau mengatakan seperti itu karena melihat umurnya yang masih kecil namun bersamaan dengan itu dia adalah orang yang paling tahu tentang ilmu dikalangan para sahabat.

Kedepalan: Adalah para sahabat merasa takjub dengan betisnya yang kurus, akan tetapi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang kedudukan betisnya tersebut disisi Allah azza wa jalla. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan:

"Aku pernah mengambil kayu siwak (beliau adalah orang yang betisnya kecil), maka angin meniup bajuku sehingga menyingkap betisku, sehingga hal itu menjadikan para sahabat mentertawakannya. Melihat itu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berada disitu membelanya sembari mengatakan: "Kenapa kalian tertawa? Mereka menjawab: 'Wahai Nabi Allah, lihat pada betisnya yang kecil itu'. Beliau mengatakan: "Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan -Nya, sungguh kedua betisnya itu lebih berat timbangannya dari pada gunung Uhud". HR Ahmad 7/99 no: 3991.

Kesembilan: Beliau adalah orang yang do'anya mustajabah. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, darinya beliau menceritakan:

"Aku pernah berada didalam masjid sambil berdo'a, kemudian Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid dan dirinya masih berdo'a, dan mengatakan padanya: 'Mintalah pasti Allah akan memberimu'. Sedangkan do'a yang dipanjatkan ialah: "Ya Allah, aku memohon padaMu iman yang tidak menjadikan diriku berpaling, dan nikmat yang tidak sirna, serta bisa menemani NabiMu dikamar tertinggi disurga kelak, surga nan kekal". HR Ahmad 6/346 no: 3797.

Kata-kata Mutiara Abdullah bin Mas'ud 

Beliau pernah mengatakan:

'Ada dua perkara baik yang dibenci oleh manusia, kematian dan kefakiran. Kalau sekiranya dia fakir lalu bisa bersabar maka itu baik baginya, dan jika dirinya dikarunia kekayaan sesungguhnya dia bisa banyak berinfak, karena sejatinya pada tiap dua keadaan tadi ada haknya Allah yang wajib ditunaikan". 

Diantara ucapannya adalah apabila beliau duduk dia mengatakan:

"Sesungguhnya kalian berlalu bersama hari-hari, siang dan malam. Sedangkan ajal semakin mendekatinya, dan amalan telah tercatat rapi, dan kematian datang dengan tiba-tiba. Barangsiapa menanam kebaikan dikhawatirkan dirinya akan semakin merindukan hasilnya, sedang siapa yang menanam keburukan ditakutkan dirinya akan menuai penyesalan. Dan bagi setiap orang yang menanam pasti dirinya akan memetik hasilnya sesuai dengan tanamannya, tidak mungkin amalnya mendahului keengganannya untuk beramal tidak pula semangatnya mendahului takdirnya, maka barangsiapa dikasih kebaikan, Allah Shubhanahu wa ta’alla lah yang memberinya, dan siapa yang meminta dijaga dari kejelekan maka - Dia yang menjaganya, orang yang bertakwa akan menjadipemimpin, dan orang yang fakih akan memimpin, sedang duduk bersama mereka akan menambah kebaikan". 

Beliau juga pernah mengatakan:

"Barangsiapa menginginkan akhirat dirinya harus menjadi orang yang sabar di dunia, dan siapa yang menginginkan dunia maka dirinya akan menjadi orang yang sengsara diakhirat, duhai kaum, carilah negeri yang kekal dengan negeri yang akan engkau tinggalkan".

Beliau mengatakan:

"Sesungguhnya aku paling benci melihat seseorang yang banyak waktu luang namun tidak ada amalan, baik untuk akhirat maupun dunia".

Tatkala beliau sakit, maka Utsam menjenguknya dan menanyakan keadaan sambil berkata:

"Apa yang sekarang engkau takutkan? Dosa-dosaku, jawabnya. Utsman bertanya kembali: 'Dan apa yang paling engkau harapkan? Rahmat Rabbku, jawabnya. Bagaimana kalau kiranya aku panggilkan dokter, tawar Utsman. Dirinya menjawab: 'Dokter itu akan menjadikan diriku bertambah sakit'. Apakah engkau butuh sesuatu, tanya Utsman. Aku tidak membutuhkan apa-apa, jawabnya lagi".

Kematian Abdullah bin Mas'ud

Al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan: 'Disebutkan oleh Bukhari dalam Tarikhnya dengan sanad yang shahih dari haditsnya Ibnu Dhohir, dirinya menceritakan: "Telah sampai berita kematian Abdullah bin Mas'ud ditelinga Abu Darda, maka beliau mengatakan:

'Tidak ada peninggalan umat yang semisal dengannya sepeninggal beliau".

Ubaidullah bin Abdullah mengatakan:

"Beliau meninggal di Madinah dan dikubur dipemakaman Baqi' pada tahun tiga puluh dua hijriyah".

Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla meridhoi Abdullah bin Mas'ud, dan membalasnya atas kebaikannya pada Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan, serta mengumpulkan kita bersama beliau dikampung pemuliaan -Nya, bersama para Nabi, Shidiqin, Syuhada serta Sholihin, dan mereka adalah sebaik-baik teman.

Sumber : Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Biografi Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu.