Abdullah bin Abu Bakar al-Shiddiq merupakan sahabat nabi dan juga merupakan anak dari Abu Bakar, Khalifah pertama umat Islam. Apa yang kamu ketahui tentang Abdullah bin Abu Bakar ? Terimakasih.
Abdullah bin Abu Bakar al-Shiddiq adalah putra sahabat terkenal yang sangat dikasihi Nabi saw., Abu Bakr al-Siddiq, lelaki dewasa pertama yang bersyahadat mengakui kenabian Muhammad saw. Ibunya bernama Qutailah bint Abdul Uzza yang melahirkan Abdullah dan Asma. Abdullah adalah seorang penyair yang lembut dan fasih. Ia menikahi Atikah bint Zaid, saudari Said bin Zaid yang termasuk kelompok sepuluh sahabat yang mendapat jaminan surga. Atikah juga dikenal sebagai penyair wanita yang kepandaian bahasanya tak kalah dari sang suami. Ia juga dikenal dengan kecantikannya sehingga Abdullah sangat mencintai dan mengasihinya.
Abdullah menjadi muslim yang saleh sejak menyatakan kesaksiannya di hadapan Rasulullah saw. Ia berjuang dan mengerahkan harta serta jiwa dan raganya demi keagungan Islam. Ketika Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah bersama ayahnya Abu Bakar al-Shiddiq, Abdullah membantu mereka dengan menyampaikan kabar tentang apa yang terjadi di Makkah kepada mereka.
Selama tiga hari nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar bersembunyi di gua Tsur sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah. Abu Ja'far al-Thabari menuturkan bahwa ketika mereka bersembunyi menghindari kejaran kaum Quraisy di gua Tsur, Abdullah bin Abu Bakr mendatangi mereka setiap malam menyampaikan berita tentang keadaan Makkah dan upaya yang dilakukan para pemuka Quraisy. Menjelang dini hari Abdullah baru kembali ke Makkah. Abdullah memang telah diperintah oleh ayahnya untuk mengabari apa yang terjadi di Makkah dan apa yang dilakukan kaum Quraisy kemudian melaporkannya kepada mereka di gua Tsur. Abu Bakr juga menyuruh Amir bin Fuhairah untuk menggembalakan domba miliknya di siang hari dan membawanya ke gua menjelang malam. Tugas lain dibebankan kepada saudarinya, Asma bint Abu Bakr, yaitu membawakan makanan untuk mereka. Berkat bantuan merekalah Rasulullah saw. dan Abu Bakar dapat bertahan tinggal selama tiga hari di gua itu.
Akhirnya, kaum Quraisy merasa bahwa mereka tak mungkin lagi mengejar Nabi saw. dan Abu Bakr r.a. Mereka menggelar sayembara demi memburu nabi Muhammad SAW; siapa saja yang dapat mengembalikan Muhammad ke Makkah akan mendapat hadiah berupa seratus ekor unta. Kabar penting itu tentu saja tak luput dari pengamatan Abdullah. Sore hari itu, ia bergegas pergi menuju gua Tsur untuk menyampaikan kabar itu kepada mereka. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Amir ibn Fuhairah menggembalakan domba majikannya dan di sore harinya ia mendatangi gus Tsur membawa domba milik Abu Bakar untuk diperah susunya dan disembelih. Setelah Abdullah tiba di gua, barulah Amir bin Fuhairah pulang ke Makkah sambil menggiring domba-dombanya untuk mengaburkan jejak kaki mereka.
Tak seorang pun dari penduduk Makkah yang mengetahui keberadaan mereka. Setelah Rasulullah saw. dan Abu Bakr menetap di Madinah, beliau mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi untuk menjemput dan memboyong istri beliau, Saudah bint Zam'ah dan putri-putri beliau ke Madinah. Abdullah bin Abu Bakr juga diutus untuk menjemput seluruh keluarganya, termasuk Ummu Ruman (ibunda Aisyah) dan Abdurrahman. Keberangkatan mereka ke Madinah ditemani oleh Thalhah bin Ubaidillah.
Abdullah tak pernah ketinggalan shalat berjamaah bersama Rasulullah. ketika datang seruan jihad, ia langsung mempersiapkan diri dan berangkat bersama beliau. Ia sama sekali tak pernah absen dari setiap peperangan. Namun, seiring perjalanan waktu, sikap dan perilakunya berubah. Ia lebih jarang shalat berjamaah di masjid dan jarang ikut berjihad. Keadaan ini tentu membuat ayahnya bertanya-tanya dan berusaha mencari tahu penyebabnya. Ternyata, penyebab perubahan itu adalah rasa cinta yang berlebihan kepada istrinya, Atikah sampai-sampai ia tak bisa meninggalkannya. Sebagai ayah, tentu Abu Bakr sangat khawatir menyaksikan keadaan putranya yang mengabaikan agama demi seorang wanita. Maka, ia meminta Abdullah menceraikan Atikah. Sungguh permintaan yang sangat berat dijalankan oleh Abdullah, karena ia sangat mencintai Atikah. Namun, Abdullah adalah anak yang berbakti dan mengasihi orangtuanya. Ia tak mau menentang keinginan atau perintah ayahnya. Dengan sangat terpaksa dan berat hati ia menceraikan Atikah. Abu Bakr merasa lega. Pikirnya, setelah bercerai perilaku Abdullah akan kembali seperti semula. Abu Bakar sama sekali tidak tahu bahwa perceraian itu membuat Abdullah terpukul. Akhirnya, perasaan itu menimbulkan gejolak amarah. Abdullah tidak dapat lagi menahan amarah, dan ia gambarkan perasaannya lewat lantunan syair:
Duhai Atikah, aku tak dapat melupakanmu meski sekejap,
Bulan pun tak mampu lukiskan rasa yang menggantung ini
Duhai Atikah, siang dan malam hatiku selalu terpaut padamu
Meskipun rasa itu tak terungkapkan, bersembunyi dalam hati
Tak pernah kulihat orang yang menderita pedih karena rindu
Seperti diriku, memutuskanmu dirimu yang tanpa dosa dan salah
Kau pemilik segala kebaikan dan keindahan yang tak terlukiskan
Aku merindumu dan kuungkapkan cintaku meskipun terbalut malu
Saat sedang bertahajud di rumah, Abu Bakar mendengar ungkapan perasaan yang diucapkan Abdullah. Abu Bakar merasa kasihan melihat penderitaan batin putranya itu. Ia pun sadar, putranya tak kuasa menanggung beban batin semacam itu. Rupanya perceraian tidak membawa kebaikan bagi Abdullah, dan ia tak dapat melupakan Atikah. Karena itulah Abu Bakar mengizinkan Abdullah untuk rujuk kepada Atikah. Ketika mendengar perkataan ayahnya yang mengizinkannya rujuk, Abdullah langsung berujar gembira, “Saksikanlah, aku telah merujuknya.”
Saking senangnya Abdullah memanggil budaknya yang bernama Ayman dan berkata, “Pergilah, sampaikan kabar gembira ini."
Duhai Atikah, kau telah diceraikan tanpa keraguan
Kini kudatangi engkau kembali, juga tanpa keraguan
Begitulah ketentuan Allah, setiap orang kembali dan pergi dalam setiap perjumpaan kutemukan cinta dan perbedaan
Kemudian Abdullah menghadiahkan sebuah kebun setelah Atikah bersedia berjanji tidak akan menikah dengan siapa pun setelahnya. Akhirnya, suami-istri itu pun hidup tenteram dan damai. Hari-hari mereka dipenuhi keindahan cinta. Tidak lama kemudian, datang seruan jihad ke Taif. Abdullah tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan ia pun berangkat bersama pasukan muslim. Dalam perang tersebut ia terluka akibat anak panah musuh hingga ia jatuh tersungkur. Luka-lukanya belum juga sembuh meski terus diobati. Akhirnya, ia wafat kurang lebih 40 hari setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.
Bait-bait syair yang diucapkannya diabadikan sang istri tercinta:
Aku kehilangan manusia terbaik, setelah Nabi dan Abu Bakar
Pada dua bersahabat itu tak kutemukan kekurangan sedikit jua
Kedua mataku tak henti berderai menangisimu kepergianmu
Dan kulit tubuhku pun belum lagi bersih dari tanah dan debu
Tapi Atikah tak dapat memenuhi janjinya. Setelah Abdullah wafat, ia menikah lagi, yaitu dengan Umar bin al-Khattab, kemudian dengan Zubair bin al-Awwam, dan terakhir dengan Husain bin Ali. Mereka semua wafat sebagai syuhada. Semoga Allah merahmati mereka semua.
Sumber : Muhammad Raji Hasan Kinas (Penerjemah; Nurhasan Humaedi, Banani Bahrui-Hasan, Dedi Slamet Riyadi), 2012, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi (Nafahat 'Athirah Sirah Shahabath Rasulillah Saw.), Penerbit Zaman.