Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Yang Kamu Ketahui Tentang Abbad bin Bisyr?

Anonymous 5 years ago

Abbad bin Bisyr bin Waqasy merupakan salah satu sahabat nabi Muhammad SAW. Bagaimana kisah dari sahabat Abbad bin Bisyr bin Waqasy ? Terimakasih banyak sebelumnya.

36

Abbad bin Bisyr bin Waqasy adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Aus keturunan Bani Asyahli. Beliau punya dua nama panggilan, yairu Abu Bisyr dan Abu al-Rabi. Ibn al-Atsir menuturkan dalam kitabnya bahwa ia masuk Islam di Madinah melalui Mush'ab bin Umair lebih dulu daripada Sa‘d bin Muaz dan Usaid bin Hudhain Abbad turut serta dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan peperangan lainnya bersama Rasulullah saw.

Abbad termasuk sahabat utama Rasulullah. Aisyah pernah berkata tentang dia,

“Ada tiga orang Anshar yang keutama mereka sebanding. Mereka semua dari Bani Abdul Asyhal, yaitu Sa‘d ibn Muaz, Usaid ibn Hudhair, dan Abbad ibn Bisyr.”

Itulah kesaksian Ummul Mukminin, wanita mulia yang selalu menjadi rujukan para ulama. Tindakan heroik Abbad dalam Perang Dzaturriqa sungguh tak terlupakan. Diriwayatkan dari sahabatnya sendiri, Ibn Yasar dari Uqail ibn Jabir bahwa Jabir ibn Abdullah al-Anshari berkata,

“Kami keluar bersama Rasulullah dari tempat perlindungan kami di kebun kurma dalam Perang Dzaturriqa. Dalam perang itu, seorang wanita musyrik terkena lemparan anak panah seorang muslim. Usai peperangan, dan setelah Rasulullah pulang ke markas, suami wanita musyrik itu datang dan melihat apa yang terjadi pada istrinya. Ia marah dan bersumpah akan membalas dendam hingga salah seorang sahabat Nabi saw. bersimbah darah. Diam-diam, ia mencari tahu di mana Nabi saw. menginap malam itu.

Saat Nabi saw. hendak masuk rumah, beliau bersabda, “Siapakah yang mau berjaga malam ini?” Amar ibn Yasar dan Abbad ibn Bisyr bangkit dan berkata, “Kami (siap berjaga), wahai Rasulullah.” “Berjagalah dekat gerbang Syi’ib.” Saat itu beliau dan para sahabat menginap di Syi’ib, di sebuah lembah. Kedua orang itu pun pergi menuju gerbang Syi’ib. Abbad bertanya, “Kau ingin aku berjaga di awal atau di akhir malam?” Amar menjawab, “Kau berjaga di awal malam, dan aku di akhir malam.” Kemudian Amar berbaring dan tertidur pulas. Abbad mendirikan shalat sunnah sambil berjaga. Ketika itulah suami wanita musyrik itu datang. Ketika melihat Abbad yang sedang shalat, lelaki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. la langsung melepaskan panah ke arah Abad dan tepat mengenai tubuhnya. Terkena panah tidak membuat Abbad membatalkan shalatnya. Ia hanya mencabut panah dan melanjutkan shalatnya. Lelaki itu kembali melemparkan panah. Dan Abbad tetap berdiri dalam shalatnya. Untuk ketiga kalinya lelaki itu meluncurkan panah, dan Abbad mencabut panah yang tertancap di tubuhnya, lalu ia rukuk, lantas sujud. Baru setelah selesai shalat Abbad membangunkan Ammar dan berkata, “Bangunlah, ada orang yang datang.” Ammar terkejut ketika melihat suami wanita musyrik itu berada di dekat mereka. Ketika melihat mereka berdua, lelaki itu tahu, mereka menjadi benteng hidup bagi Muhammad dan menjadikan diri mereka sebagai penebus sumpahnya. Amar kaget melihat sahabatnya Abbad berlumuran darah, “Subhanallah! Kenapa kau tidak membangunkanku saat pertama kali kau terkena panah?” Abbad menjawab, “Aku sedang membaca salah satu surat dan aku tidak mau memutuskan bacaanku sampai selesai. Saat beberapa anak panah menancap di tubuhku, aku pun menyelesaikan shalat membangunkanmu. Demi Allah, jika tidak karena tugas berjaga yang diperintahkan Rasulullah, niscaya jiwaku sudah lepas dari raga sebelum aku memutuskan menyelesaikan bacaanku.”

Abbad tak pernah absen mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw. sampai beliau wafat. Ia pernah mendengar beliau bersabda di depan kaum Anshar,

“Wahai Anshar, kalian (bagaikan) pakaian dalam dan manusia bagaikan pakaian luar. Maka, jangan mengikuti orang-orang sebelum kalian.”

Pada saat itu, kaum Anshar ingin agar tidak ada lagi orang yang lari dari medan perang seperti yang terjadi saat Perang Uhud dan Hunain. Ucapan Rasulullah saw. itu menegaskan bahwa mereka adalah para penolong agama Allah dan RasulNya. Janji setia yang pernah mereka ucapkan di Aqabah benar-benar mereka tunaikan. Sedikit pun tak terlintas dalam benak mereka keinginan meninggalkan Rasulullah sampai beliau wafat menghadap Allah. Mereka teguh memegang janji yang pernah diucapkan meskipun beliau telah tiada. Satu bagian yang menarik dari perjalanan hidup Abbad adalah kebersamaannya dengan Muhammad bin Salamah, Abu Abbas bin Jabar, Abu Nailah, dan al-Harits bin Aus ketika mereka berebut membunuh Ka‘b bin al-Asyraf, seorang Yahudi yang sangar membenci dan memusuhi Nabi saw. serta kaum muslim.

Abbad membagi kehidupannya menjadi dua bagian, waktu malam ia gunakan untuk ibadah dan membaca Al-Quran, sedangkan siang harinya ia manfaatkan untuk berjihad melawan kaum kafir. Kebiasaannya membaca kalam Allah setiap malam sangat menarik hati setiap orang yang mendengarnya. Pada suatu malam, saat ia menunaikan tahajud di Masjid Nabi, suara bacaannya yang lembut terdengar hingga kamar Ummul Mukminin Aisyah r.a. Saat itu Rasulullah saw. berada di sana. Beliau bersabda kepada istrinya, “Ini suara Abbad bin Bisyar.” Aisyah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” “Ya Allah, ampunilah dia!” (menurut Ibn al-Atsir, “Ya Allah, kasihilah Abbad”).

Adakah sesuatu yang lebih diharapkan daripada ampunan dan rahmat Allah?! Dalam kitab Musnad Imam Ahmad, ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bahz bin Asad dari Hamad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa Usaid bin Hudhair dan Abbad bin Bisyr menemani Rasulullah saw pada suatu malam. Kemudian mereka keluar meninggalkan beliau. Tiba-tiba tongkat salah seorang dari mereka memancarkan cahaya terang sehingga mereka dapat berjalan diterangi cahaya itu. Saat keduanya berpisah, tongkat mereka masing-masing mengeluarkan cahaya.

Suatu malam menjelang Perang Yamamah Abbad bermimpi sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa Abbad ibn Bisyr berkata, “Hai Abu Said, aku bermimpi langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi. Aku menafsirkannya, insya Allah, sebagai kesyahidan.” Abu Said berkata, “Demi Allah, sungguh baik mimpimu Itu. Keesokan harinya Abbad bersama beberapa sahabat bergabung dalam pasukan Khalid ibn al-Walid untuk memerangi Musailamah al-Kazzab. Mimpi dan harapan Abbad menjadi kenyataan. Ia terbunuh sebagai syahid dalam peperangan itu. Sungguh mimpi orang bertakwa adalah kebenaran. Semoga Allah SWT merahmatinya.

Sumber : Muhammad Raji Hasan Kinas (Penerjemah; Nurhasan Humaedi, Banani Bahrui-Hasan, Dedi Slamet Riyadi), 2012, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi (Nafahat 'Athirah Sirah Shahabath Rasulillah Saw.), Penerbit Zaman.

Abbad bin Bishr (597–632) adalah seorang sahabat nabi Muhammad SAW. Setelah nabi Muhammad SAW dan pengikutnya Hijrah dari Mekah, Abbad dan kaumnya memberi perlindungan kepada kaum Muslim yang datang ke kota mereka.

Abbad bin Bishr dikenal karena pengabdiannya pada ibadah, pengetahuan, dan keberaniannya dalam pertempuran. Dia terpesona oleh Al-Qur'an setelah pertama kali mendengarnya yang dibacakan oleh Musab ibn Umayr sebelum Hijrah. Saat itu Abbad berusia sekitar delapan belas tahun. Al-Qur'an memiliki tempat khusus di hatinya, dan ia menjadi terkenal karena bacaannya sehingga ia dikenal di antara para sahabat sebagai sahabat Al-Qur'an.

Latar Belakang Abbad bin Bishr

Abbad ibn Bishr berasal dari klan bani 'Abd al-Ash'al, cabang dari Banu Aws, klan imigran berasal dari Yaman yang turun dari Azd dan menetap di Yathrib (sebelum diubah namanya menjadi Madinah, sekitar tahun 300 M). Mereka bermigrasi dari tanah air mereka karena banjir besar di Yaman.

Pemukim Azdian Yathrib, yang terdiri dari Aws dan Banu Khazraj dikenal luas di Arab sebelum Islam sebagai orang-orang yang suka berperang dengan banyak pengalaman pertempuran penuh. Orang Madinah, yang terdiri dari Aws dan Khazraj, bersama dengan sekutu Yahudi mereka, Banu Nadir, Banu Qurayza, dan Banu Qaynuqa, terlibat dalam tahun-tahun yang penuh peperangan seperti pertempuran Sumair, pertempuran Banu Jahjaha, pertempuran hari Sararah, pertempuran Banu Wa'il ibn Zayd, pertempuran Zhufr-Malik, pertempuran Fari', pertempuran Hathib, pertempuran hari Rabi', pertempuran pertama Fijar di Yathrib (bukan perang Fijar antara Qays dengan Kinana di Mekah), pertempuran Ma'is, pertempuran Mudharras. dan pertempuran kedua Fijar di Yathrib.

Orang-orang Madinah juga sering melawan penjajah asing yang datang dari luar Hijaz, seperti Shapur II dari Kekaisaran Sasania dan peperangan melawan Kerajaan Himyarite, yang juga dikenal sebagai Dzul Adz'ar.

Namun, konflik yang paling mengerikan bagi Aws dan Khazraj adalah perang saudara yang disebut pertempuran Bu'ath, yang meninggalkan rasa pahit bagi kedua klan, dan menyebabkan mereka menjadi lelah berperang, karena tingkat kekerasan yang sangat tinggi, bahkan menurut standar mereka, dan pembantaian yang tidak perlu yang terjadi selama pertempuran itu.

Jadi, dalam rangka mencari perdamaian dan mencari arbitrase dari pihak ketiga, orang Yathrib kemudian berjanji setia kepada nabi Muhammad SAW, seorang Quraisy Mekah yang mengajarkan iman baru Islam selama ziarah Madinah ke Ka'bah. Karena nabi Muhammad SAW berhasil meyakinkan banyak tokoh Aws dan Khazraj, yang juga termasuk Abbad ibn Bishr yang secara pribadi diyakinkan oleh seorang Muhajirun bernama Mus'ab ibn Umayr tentang tujuannya pada keyakinan barunya, para pemimpin suku Aws dan Khazraj, khususnya Sa'd ibn Mu'adh, Usaid Bin Hudair, Saʽd ibn Ubadah, dan As'ad ibn Zurara setuju untuk memeluk Islam dan menunjuk Muhammad sebagai juru damai dan pemimpin de facto Madinah.

Dalam waktu singkat, Abbad dan orang-orang Madinah lainnya setuju untuk memberikan perlindungan bagi kaum Muslim Mekah yang telah dianiaya oleh kaum musyrik Quraisy. Selain itu, mereka juga setuju untuk mengubah nama kota mereka dari Yathrib menjadi Madinah, karena Yathrib memiliki konotasi yang buruk dalam bahasa Arab.

Abbad bin Bisyr bin Waqasy adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Aus keturunan Bani Asyahli. la punya dua nama panggilan, yairu Abu Bisyr dan Abu al-Rabi. Ibn al-Atsir menuturkan dalam kitabnya bahwa ia masuk Islam di Madinah melalui Mush'ab ibn Umair lebih dulu daripada Sa‘d ibn Muaz dan Usaid ibn Hudhain.

Gambar Silsilah Bani Aus

Abbad turut serta dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan peperangan lainnya bersama Rasulullah saw. Abbad termasuk sahabat utama Rasulullah. Aisyah pernah berkata tentang dia,

“Ada tiga orang Anshar yang keutama mereka sebanding. Mereka semua dari Bani Abdul Asyhal, yaitu Sa‘d ibn Muaz, Usaid ibn Hudhair, dan Abbad ibn Bisyr.”

Itulah kesaksian Ummul Mukminin, wanita mulia yang selalu menjadi rujukan para ulama. Tindakan heroik Abbad dalam Perang Dzaturriqa sungguh tak terlupakan. Diriwayatkan dari sahabatnya sendiri, Ibn Yasar dari Uqail ibn Jabir bahwa Jabir ibn Abdullah al-Anshari berkata,

“Kami keluar bersama Rasulullah dari tempat perilndungan kami di kebun kurma dalam Perang Dzaturriqa. Dalam perang itu, seorang wanita musyrik terkena lemparan anak panah seorang muslim. Usai peperangan, dan setelah Rasulullah pulang ke markas, suami wanita musyrik itu datang dan melihat apa yang terjadi pada istrinya. Ia marah dan bersumpah akan membalas dendam hingga salah seorang sahabat Nabi saw. bersimbah darah. Diam-diam, ia mencari tahu di mana Nabi saw. menginap malam itu. Saat Nabi saw. hendak masuk rumah, beliau bersabda,

“Siapakah yang mau berjaga malam ini?”

Amar ibn Yasar dan Abbad ibn Bisyr bangkit dan berkata,

“Kami (siap berjaga), wahai Rasulullah.”

“Berjagalah dekat gerbang Syi’ib.”

Saat itu beliau dan para sahabat menginap di Syi’ib, di sebuah lembah. Kedua orang itu pun pergi menuju gerbang Syi’ib. Abbad bertanya,

“Kau ingin aku berjaga di awal atau di akhir malam?”

Amar menjawab, “Kau berjaga di awal malam, dan aku di akhir malam.”

Kemudian Amar berbaring dan tertidur pulas. Abbad mendirikan shalat sunnah sambil berjaga. Ketika itulah suami wanita musyrik itu datang. Ketika melihat Abbad yang sedang shalat, lelaki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. la langsung melepaskan panah ke arah Abad dan tepat mengenai tubuhnya. Terkena panah tidak membuat Abbad membatalkan shalatnya. Ia hanya mencabut panah dan melanjutkan shalatnya. Lelaki itu kembali melemparkan panah. Dan Abbad tetap berdiri dalam shalatnya. Untuk ketiga kalinya lelaki itu meluncurkan panah, dan Abbad mencabut panah yang tertancap di tubuhnya, lalu ia rukuk, lantas sujud. Baru setelah selesai shalat Abbad membangunkan Ammar dan berkata,

“Bangunlah, ada orang yang datang.”

Ammar terkejut ketika melihat suami wanita musyrik itu berada di dekat mereka. Ketika melihat mereka berdua, lelaki itu tahu, mereka menjadi benteng hidup bagi Muhammad dan menjadikan diri mereka sebagai penebus sumpahnya. Amar kaget melihat sahabatnya Abbad berlumiiran darah,

“Subhanallah! Kenapa kau tidak membangunkanku saat pertama kali kau terkena panah?”

Abbad menjawab, “Aku sedang membaca salah satu surat dan aku tak mau memutuskan bacaanku sampai selesai. Saat beberapa anak panah menancap di tubuhku, aku pun menyelesaikan shalat membangunkanmu. Demi Allah, jika tidak karena tugas berjaga yang diperintahkan Rasulullah, niscaya jiwaku sudah lepas dari raga sebelum aku memutuskan menyelesaikan bacaanku.”

Gambar. Pemandangan Kota Madinah

Abbad tak pernah absen mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw. sampai beliau wafat. Ia pernah mendengar beliau bersabda di depan kaum Anshar,

“Wahai Anshar, kalian (bagaikan) pakaian dalam dan manusia bagaikan pakaian luar. Maka, jangan mengikuti orang-orang sebelum kalian.”

Pada saat itu, kaum Anshar ingin agar tidak ada lagi orang yang lari dari medan perang seperti yang terjadi saat Perang Uhud dan Hunain. Ucapan Rasulullah saw. itu menegaskan bahwa mereka adalah para penolong agama Allah dan RasulNya. Janji setia yang pernah mereka ucapkan di Aqabah benarbenar mereka tunaikan. Sedikit pun tak terlintas dalam benak mereka keinginan meninggalkan Rasulullah sampai beliau wafat menghadap Allah. Mereka teguh memegang janji yang pernah diucapkan meskipun beliau telah tiada.

Satu bagian yang menarik dari perjalanan hidup Abbad adalah kebersamaannya dengan Muhammad ibn Salamah, Abu Abbas ibn Jabar, Abu Nailah, dan al-Harits ibn Aus ketika mereka berebut membunuh Ka‘b ibn al-Asyraf, seorang Yahudi yang sangat membenci dan memusuhi Nabi saw. serta kaum muslim.

Abbad membagi kehidupannya menjadi dua bagian, waktu malam ia gunakan untuk ibadah dan membaca Al-Quran, sedangkan siang harinya ia manfaatkan untuk berjihad melawan kaum kafir. Kebiasaannya membaca kalam Allah setiap malam sangat menarik hati setiap orang yang mendengarnya. Pada suatu malam, saat ia menunaikan tahajud di Masjid Nabi, suara bacaannya yang lembut terdengar hingga kamar Ummul Mukminin Aisyah r.a. Saat itu Rasulullah saw. berada di sana. Beliau bersabda kepada istrinya,

“Ini suara Abbad ibn Bisyar.”

Aisyah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.”

“Ya Allah, ampunilah dia!” (menurut Ibn al-Atsir, “Ya Allah, kasihilah Abbad”).

Adakah sesuatu yang lebih diharapkan daripada ampunan dan rahmat Allah?! Dalam kitab Musnad Imam Ahmad, ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bahz ibn Asad dari Hamad ibn Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa Usaid ibn Hudhair dan Abbad ibn Bisyr menemani Rasulullah saw. pada suatu malam. Kemudian mereka keluar meninggalkan beliau. Tiba-tiba tongkat salah seorang dari mereka memancarkan cahaya terang sehingga mereka dapat berjalan diterangi cahaya itu. Saat keduanya berpisah, tongkat mereka masing-masing mengeluarkan cahaya. Suatu malam menjelang Perang Yamamah Abbad bermimpi sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa Abbad ibn Bisyr berkata,

“Hai Abu Said, aku bermimpi langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi. Aku menafsirkannya, insya Allah, sebagai kesyahidan.”

Abu Said berkata,

“Demi Allah, sungguh baik mimpimu itu."

Keesokan harinya Abbad bersama beberapa sahabat bergabung dalam pasukan Khalid ibn al-Walid untuk memerangi Musailamah al-Kazzab. Mimpi dan harapan Abbad menjadi kenyataan. Ia terbunuh sebagai syahid dalam peperangan itu. Sungguh mimpi orang bertakwa adalah kebenaran. Semoga Allah merahmatinya.

Sumber : Muhammad Raji Hasan Kinas, 2012, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, Penerbit Zaman, hlm. 27-31.