Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang anda ketahui tentang kisah nabi Idris as ?

Anonymous 4 years ago

Masih jarang diceritakan terkait dengan kisah nabi Idris as. Apa yang anda ketahui tentang kisah nabi Idris as ? Terimakasih banyak ya

56

Memang masih sedikt sekali kisah nabi Idris yang kita ketahui. Di dalam Al-Qur'an namanya hanya dua kali disebutkan dengan keterangan pendek, dalam Surah Maryam/19: 56 dan Surah al-Anbiya’/21: 85. Dalam 21: 85-86 ia disejajarkan dengan Ismail dan Zulkifli, yang dilukiskan sebagai orang yang sabar dan tabah, dan dimasukkan ke dalam rahmat Allah sebagai orang yang saleh:

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh. (al-Anbiya’/21: 85-86)

Dalam Surah Maryam (19: 56-57) disebutkan, bahwa Allah telah mengangkatnya hingga mencapai martabat kenabian dan kedekatannya kepada-Nya, di surga. Di dalam hadis Bukhari-Muslim tentang mikraj, Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam melihat Idris di langit yang keempat. Demikian para mufasir dan beberapa buku riwayat menyebutkan, diangkat dalam pengertian rohani dan jasmani. Hanya itu yang dapat ditafsirkan secara garis besar.

Pengertian diangkat ini rupanya berbeda dengan ayat dalam Alkitab, bahwa Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi dan Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun, hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah (Kejadian 5: 22-24), yang memberi kesan hanya dalam pengertian fisik.

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur ’an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (Maryam/19: 56-57).

Ia mendapat kedudukan dan martabat yang tinggi dalam hidupnya, tetapi baik Idris atau siapa pun mereka tidak sampai diangkat ke tingkat ketuhanan, dan mereka tidak keluar dari batas sifat mereka sebagai manusia biasa, disertai adanya kelebihan dalam sifat dan watak, dan sebagian ada yang mendapat wahyu. Tetapi para nabi juga dapat berbuat salah, tetapi kesalahan kecil yang hanya sekali terjadi, tidak akan terulang, dan tidak pula dalam arti kabā’ir. Allah telah memuji Idris sebagai orang yang mencintai kebenaran, dan tulus hati disertai ketabahan dan kesabaran. Di kalangan penulis Muslimin ia biasanya disamakan dengan Enokh (Hanokh), yang terdapat dalam Perjanjian Lama, demikian juga di kalangan para mufasir.

Al-Qasimi menyebutkan bahwa bahwa nabi Idris ialah Ilyas seperti dalam as-sāffāt/37: 123, yang dalam Taurat disebut Elia, atau Elijah. Perlu ditambahkan, bahwa cerita Elyas (Elijah, yang dalam bahasa Ibrani artinya “Tuhan adalah Yehovah,” dalam terjemahan Yunani Elias) ini cukup panjang, seperti yang terdapat dalam kitab Raja-raja I, dan Raja-raja II, Perjanjian Lama. Dalam cerita ini disebutkan, bahwa Elia mendapat gelar “yang paling agung dan paling romatik yang pernah dilahirkan di Israel.” Elia orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead. Penampilan yang menonjol ialah pada rambutnya yang panjang dan lebat, berjumbai sampai ke punggung, memakai korset dari kulit, sering memakai mantel atau jubah dari kulit domba, sering muncul tiba-tiba di tempat-tempat tertentu, dan sebagainya.

Dalam beberapa bagian dalam Perjanjian Lama hanya dikatakan, seperti ulasan Abdulah Yusuf Ali atas Surah as-sāffāt/37: 123, bahwa Ilyas sama dengan Elijah, hidup pada masa kekuasaan Ahab (896-874 P.M.) dan Ahaziah (874-872 P.M.), raja-raja kerajaan (bagian utara) Israil atau Samaria. Dia seorang nabi gurun sahara, seperti Yahya,—tak seperti Nabi kita yang ikut mengambil bagian, mengatur dan membimbing segala persoalan umatnya. Ahab dan Ahaziah terlibat dalam penyembahan kepada Ba'l [Baal], penyembahan kepada dewa matahari di Suria.

Penyembahan itu termasuk juga penyembahan kepada segala kekuatan alam dan kekuatan penyuburan, seperti penyembahan Hindu pada Lingam, dan sering mengarah pada penyimpangan-penyimpangan. Raja Ahab kawin dengan Putri Sidon, Jezebel, seorang perempuan durjana yang telah membawa suaminya untuk meninggalkan Allah dan memuja Ba'l. Perbuatan dosa Ahab, demikian juga Ahaziah dicela oleh lyas dan dia sendiri menyingkir untuk menyelamatkan hidupnya. Akhirnya, menurut Perjanjian Lama (Kitab Raja-raja 2. 11) ia diangkat ke langit dalam angin badai dengan kereta berapi setelah ia meninggalkan jubahnya di tangan Elisa sang nabi.”

Kepustakaan berbahasa Arab menyebutkan Idris anak Yared anak Mahalaleel anak Ginan (Kenan) anak Inusy (Enos) anak Syeê (Set) anak Adam. Silsilah ini mungkin sekali disalin dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama (Kejadian, 4: 17, dan 5: 1-32) Henokh (Idris), anak Kain (Qabil) anak Adam. Nama Idris dalam literatur berbahasa Arab biasanya dianggap sama dengan Enoch (Henokh dalam terjemahan bahasa Indonesia). Dalam Surat Yudas 14, 15 Perjanjian Baru, dikatakan, bahwa Henokh adalah “turunan ketujuh dari Adam,” dan kakek Nabi Nuh. “Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh” dan seterusnya (Kej. 4: 18). Dalam Kej. 5: 22-24: “ Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, dan Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” Juga dalam Surat kepada orang Ibrani 11: 5 dalam Perjanjian Baru: “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.”

Di kalangan Ahli Kitab juga nama tokoh ini cukup rumit (jika kita setuju, bahwa Idris itu adalah Henokh (Enoch). Encyclopedia Britannica menyimpulkan bahwa sebabnya terjadi demikian, karena Henokh telah menjadi sasaran kepustakaan apokrifa yang melimpah, terutama pada periode Yudaisme Helenistik (abad ke-3 Pra-Masehi sampai abad ke-3 Masehi). Cerita tentang Henokkh ini sudah banyak tercampur dengan mitologi Babilonia.

Yang demikian ini juga agaknya yang lebih mendorong kalangan orientalis dahulu dengan kebiasannya membuat penafsiran dengan caranya sendiri, dengan mencari hal-hal yang aneh-aneh, sampai-sampai ada yang berpendapat bahwa Nabi Ibrahim tak pernah ada, itu hanya ciptaan orang Yahudi. Apalagi terhadap Idris atau Henokh yang sudah lebih tua. Mereka berpendapat bahwa Henokh atau Idris ini sejak lama telah menjadi teka-teki dan menganggapnya tokoh yang misterius. Baru setelah kemudian Nöldeke mengungkapkan, bahwa barangkali orang ini adalah Andreas yang telah diangkat ke tempat yang tinggi. Andreas tidak lebih adalah juru masak Iskandar (Zulkarnain). Ia telah diberi kehidupan yang kekal. Anehnya, ada juga di antara pengarang Muslimin yang terpengaruh oleh pendapat, bahwa Andreas ialah Ukhnukh (Henokh), yang termaktub dalam Taurat!

Kembali kepada beberapa tafsir Al-Qur'an. Sering kita baca bahwa kata “idris” konon katanya dari etimologi dars dalam bahasa Arab, yang berarti“ studi, pembelajaran, belajar,” maka ia diberi nama Idris karena banyaknya belajar, seperti dalam tafsir Baidawi di antaranya. Dia juga konon orang pertama yang menulis dengan pena, menggunakan senjata, ahli obat-obatan, membuat kain, menjahit dan memakai pakaian berjahit, dari sebelumnya yang hanya memakai kulit binatang. Katanya ia suka memperhatikan perbintangan dan ilmu berhitung. Dia katanya yang pertama menunggang kuda, berjihad di jalan Allah melawan cucu-cucu Kenan yang merusak. Dari segi kenabian dia adalah yang pertama menerima wahyu yang dibawa Jibril, dan Allah telah mewahyukan 30 naskah (sahifah) kepadanya, dan perantaraan Malaikat Maut ia memohon kepada Allah agar kematiannya ditunda lalu dikabulkan, dan ia dinaikkan di sayap malaikat, terbang dan ditempatkan di tempat matahari terbit, dan sebagainya. Hal-hal semacam itu biasa diuraikan panjang lebar oleh sebagian penulis sejarah dan beberapa mufasir, klasik dan modern, tanpa disertai sumber dan data yang jelas dan autentik. Mungkin juga karena pengaruh buku-buku lama.

`Arā’is al-Mājalis (Qasasul Anbiyā’), kitab riwayat para nabi dan sejarah penciptaan bumi dan langit seperti yang ditulis oleh Abū Ishāq as-Sa`labi (wafat tahun 1035), dan cerita tentang para nabi, yang semuanya itu lebih mirip mitologi dan dongeng daripada sejarah yang sebenarnya.

Seperti kita ketahui, pada dasarnya Al-Qur'an tidak merinci kisah penciptaan langit serta benda-benda angkasa dan penciptaan bumi serta segala isinya, kisah para nabi dan seterusnya. Segala keterangan tentang kenabian dan kerasulan, memang tidak diuraikan secara terinci, karena Al-Qur'an bukan buku sejarah. Semua itu disajikan hanya sebagai peringatan tentang masa lalu, dan untuk dijadikan pelajaran. Hikmah yang terdapat di dalamnya diserahkan kepada mereka yang mau berpikir dan merenungkannya, ulul albāb. Di antara para nabi itu “ada yang Kami kisahkan kepadamu, dan ada pula yang tidak Kami kisahkan kepadamu ” (40: 78).