Apa yang menjadi penyebab terkabulnya doa yang dipanjatkan manusia kepada Allah SWT ? Apakah ada tuntunan agar doa kita terkabul ? Terimakasih
Sebab-sebab Terkabulnya Do'a ada yang bersifat zhahir, ada pula yang bersifat batin.
1) Sebab-sebab zhahir: Didahului dengan amalan-amalan shalih, seperti: sedekah, wudhu, shalat, menghadap ke kiblat, mengangkat kedua tangan, memuji Allah SWT, berdo'a dengan menggunakan asma dan sifat Allah SWT yang sesuai dengan do'a yang dipanjatkan.
Jika berdo'a memohon surga, hendaknya berdo'a dengan memohon kebaikan dan rahmat-Nya, dan jika mendo'akan orang yang zalim agar celaka – misalnya- maka janganlah menggunakan asma Allah Ar-Rahman atau Al-Karim, tetapi menggunakan Al-Jabbar, Al-Qahhar .
Di antara sebab terkabulnya do'a, bershalawat kepada Nabi SAW, pada permulaan, pertengahan dan akhir do'a, mengakui segala dosa yang telah diperbuat, bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya, dan memanfaatkan waktu-waktu khusus yang memiliki keutamaan terkabulnya do'a pada saat tersebut.
Waktu-waktu khusus ini banyak sekali, di antaranya: Pada setiap hari dan malam, yaitu sepertiga malam terakhir ketika Allah SWT turun ke langit dunia, antara adzan dan iqamah, setelah wudhu, pada waktu sujud, sebelum salam dalam shalat, setelah selesai shalat fardhu, ketika khatam Al-Qur`an, ketika mendengar ayam berkokok, ketika dalam perjalanan, do'a orang yang terzhalimi, do'a orang yang dalam kesulitan, do'a seorang ayah untuk anaknya, do'a seorang mu'min untuk saudaranya yang mu'min tanpa sepengetahuannya, ketika menghadapi musuh di medan perang.
Pada setiap pekan: hari Jum'at, terutama pada saat-saat terakhirnya.
Pada bulan-bulan tertentu: bulan Ramadhan di saat berbuka dan sahur, malam Lailatul Qadar, dan hari Arafah.
Pada tempat-tempat yang mulia: di semua masjid, di Ka'bah terutama di Multazam, di maqam Ibrahim a'laihissalam, di atas Shafa dan Marwah, di Arafah, Muzdalifah dan Mina pada musim haji, ketika minum air zam-zam dll.
2) Sebab-sebab batin: Sebelum berdoa: dengan mendahulukan taubat yang benar, mengembalikan hak-hak orang, memperbaiki makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, hendaknya dari usaha yang halal, memperbanyak ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, menjaga diri dari perkara syubhat dan syahwat.
Ketika berdoa: Menghadirkan hati, harapan yang kuat, berserah diri kepada Allah SWT, merendahkan diri di haribaan-Nya, terus menerus meminta, menyerahkan segala urusan kepada- Nya, dan tidak berpaling sedikitpun kepada selain-Nya dan yakin akan terkabulnya doa.
Sumber : Tafseer.info, 2017, Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir : Dari Al Quran Al Karim Juz 28-30, hlm. 180
Beberapa syarat-syarat dikabulkannya doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT, merujuk pada At-Targhib fid Du'a', tahqiq: Falih Ash-Shaghir, hlm. 64-70; dan Syuruth Ad-Du'aa, hlm. 724-734, adalah sebagai berikut :
1. Mengikhlaskan ibadah dan niat kepada Allah SWT. Yaitu jika doa yang dipanjatkan terbebas dari syirik, riya', dan sum'ah. Juga terbebas dari hal-hal semacam meminta harta, meminta pangkat, anak, dan kesehatan yang hanya bertujuan untuk menyombongkan diri, pamer di hadapan manusia atau untuk memenuhi nafsu syahwatnya.
2. Sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW dalam berdoa. Yaitu, jika seseorang berdoa sesuai dengan syariat Allah SWT, dan berdoa hanya mengharap Wajah Allah Yang Mulia. Ia tidak memohon kecuali hanya kepada Allah SWT. Tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah SWT. Dan tidak menjadikan perantara-perantara saat berdoa atau bertawassul dengan para makhluk ketika berdoa.
3. Memperbanyak berbuat taat dan berupaya meninggalkan maksiat. Segera bertaubat dari maksiat yang dikerjakan, mengembalikan segala kezhaliman yang pernah dilakukan kepada manusia, bersungguh-sungguh dalam mensucikan diri dari segala dosa, menjauhi segala macam syubhat (hal-hal yang
meragukan), memperbanyak berdzikir kepada Allah, memperbanyak istight'ar, bergaul dengan orang-orang shalih dan lain sebagainya.
4. Percaya penuh kepada Allah SWT, disertai dengan keyakinan bahwa Allah SWT pasti mengabulkan doanya. Ditambah dengan kemauan keras, kesungguhan, kegigihan, dan tanpa putus asa dalam berdoa.
5. Berhati-hati dalam hal makan dan minum, selalu memilih makanan, minuman, dan pakaian yang halal.
6. Tidak meninggalkan amar ma'rut' nahi munkar. Juga tidak meninggalkan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan saat berdoa kepada Allah SWT.
7. Tidak meminta atau berdoa dengan hal-halyang diharamkan, seperti minta diberi khamr, memohon kepada Allah SWT untuk memutus tali silaturrahim, atau memohon kepada Allah SWT agar bisa berbuat zhalim kepada manusia.
8. Kehadiran hati, kekhusyu'an, dan pengharapan yang besar terhadap pahala dari Allah saat berdoa. Juga merasa sangat takut jika tertimpa siksa dari-Nya.
9. Tidak terburu-buru dengan terkabulnya doa. Sebagaimana orang yang menuntut hak dari orang lain. Sebab tidak ada seorang pun yang punya hak atas Allah SWT.
10. Menjaga sopan santun dan adab-adab saat berdoa. Meluruskan lisan saat membaca, sehingga doa-doa yang dilafalkannya keluar dengan bacaan yang benar. Juga tidak memanggil Allah SWT dengan ucapan-ucapan yang tak layak;
seperti mengucapkan, "Wahai Pencipta ular dan kalajengking." Dan diusahakan pada saat berdoa ini, seorang hamba menampakkan kerendahan dan kebutuhannya yang besar kepada Allah SWT. Hendaknya ia juga harus menjaga i'rob (susunan kata) saat berdoa, sehingga tidak merusak makna doa tersebut. Ia juga memohon kepada Allah dengan menyebut Nama-Nama-Nya yang mulia, seperti ucapan, "Ya Dzal Jalaali wal lkraam" dan mengucapkan dzikir-dzikir lain yang ada nama Allah Yang Agung.
Sumber : Ahmad Bin Abdullah Isa. (2003), Ensiklopedia Doa dan Wirid Shahih, eLBA, hlm. 54-56.