Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Sifat-sifat Malaikat Yang Dapat Manusia Tiru dan Teladani?

Anonymous 5 years ago

Malaikat termasuk makhluk yang dipuji oleh Allah SWT karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Apa saja sifat-sifat malaikat yang bisa kita jadikan teladan sehingga kita berusaha untuk menirunya ?

37

Sebagai hamba-hamba Allah SWT yang dimuliakan, malaikat memiliki sifat-sifat, baik sifat khalqiyah maupun sifat khuluqiyah yang sangat baik dihadapan Allah SWT.

Nilai-nilai sifat khalqiyah merupakan nilai-nilai sifat berupa bentuk atau wujud. Sedangkan nilai-nilai sifat khuluqiyah merupakan sifat-sifat kebaikan, seperti ketaatan dan kedisiplinan, pengendalian diri, dan tanggung jawab. Nilai-nilai sifat malaikat inilah yang perlu diyakini/diimani oleh setiap muslim, sekaligus sebagai sifat yang wajib diteladani dalam kehidupan sehari-hari.

1. Ketaatan dan Kedisiplinan

Sikap ketaatan dan kedisiplinan ini semestinya menjadi nilai panutan (qudwah) untuk diteladani oleh manusia. Seorang yang beriman kepada malaikat, dengan pendekatan spiritualnya, akan senantiasa meneladani sikap-sikap positif yang dicontohkan malaikat. Menurut Al-Andalusi (T.th., hlm. 312), malaikat pada umumnya memiliki karakter-karakter yang merupakan formulasi dari seluruh nilai-nilai keutamaan (fadhail), yaitu:

  • Malaikat memiliki kesempurnaan ilmu (al-ilm al-kamil).
  • Malaikat adalah makhluk yang memiliki kesempurnaan dalam hal penjagaan diri (iffah) dari nafsu. Karena itu mereka dijadikan simbolisasi dalam pengendalian diri dari godaan nafsu.
  • Malaikat adalah makhluk yang senantiasa, dan selamanya, menghindari maksiat kepada Allah SWT.

Selain itu, sifat taat/patuh malaikat kepada apa yang diperintahkan Allah Swt. juga ditunjukkan ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam as. yang ketika itu untuk pertama kalinya Allah Swt. menciptakan manusia, sebagaimana diungkap dalam QS. Al-A’raaf (7): 11.

وَلَقَدْ خَلَقْنَٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ

Wa laqad khalaqnākum ṡumma ṣawwarnākum ṡumma qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, lam yakum minas-sājidīn

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (QS. Al-A’raaf (7): 11)

Kepatuhan para malaikat kepada Allah SWT ini pun ditunjukkan dengan kehati-hatiannya dalam memberikan syafaat kepada manusia, yakni hanya kepada mereka yang diridlai Allah SWT.

Dengan memaknai bukti-bukti ketaatan malaikat kepada Allah SWT berdasarkan dalil-dalil tadi, aktualisasi dari keimanan kepada malaikat Allah dapat diterapkan pada:

  • Berbuat dan beramal sesuai dengan amal perbuatan mereka, dengan merealisasikan ketaatan kepada Allah dan sedapat mungkin meminimalkan kedurhakaan kepada-Nya.
  • Meyakini keberadaan mereka sebagai makhluk ghaib.
  • Berupaya menyesuaikan diri dengan sifat-sifat mereka dan menjadikan mereka sebagai idealisme dalam kesempurnaan ilmu dan kebaikan

Urgensi keteladanan kepada malaikat, dalam skala makro bertujuan membentuk manusia yang bermoral dan berakhlak malaikat (adamiymalakiy), dan tidak menjadi manusia yang bermoral dan berperilaku setan (adamiysyaithaniy).

2. Pengendalian Diri Dari Perilaku Negatif

Krisis moral yang paling utama yang melanda diri manusia secara umum sebenarnya adalah menipisnya keimanan kepada alam ghaib. Kondisi ini menyebabkan manusia lepas kendali, bebas nilai, dan berbuat seenaknya tanpa ada rasa bersalah. Kalaupun ada kendali, hal itu hanya sebatas pada nilai-nilai yang dibuat sendiri dan bersifat relatif (nisbi).

Manusia hanya mempertimbangkan adanya pujian atau celaan dari manusia lain di sekitarnya, tanpa mempertimbangkan apakah perilakunya itu baik atau buruk. Oleh karenanya, agama mengajarkan agar manusia dapat terdidik untuk berbuat ikhlas dan secara internal mengendalikan diri dari perbuatan buruk, baik yang dilakukan secara terang-terangan ataupun sembunyi- sembunyi.

Terkait dengan pengendalian diri ini, menurut Al-Mubarakfuri (Harisah, 2004, hlm. 82) terdapat dua pengaruh besar terhadap hati manusia, yaitu pengaruh negatif setan dan pengaruh positif malaikat. Setan berupaya mempengaruhi dan menggoda hati manusia untuk berbuat kejahatan serta mengingkari kebenaran- kebenaran agama. Adapun malaikat, ia senantiasa mengimbangi pengaruh negatif tersebut dan mengalihkannya kepada kebaikan dan penerimaan kebenaran- kebenaran agama. Seperti halnya yang diungkap dalam QS. Huud (11): 73.

قَالُوٓا۟ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۖ رَحْمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيْكُمْ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ ۚ إِنَّهُۥ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

Qālū a ta'jabīna min amrillāhi raḥmatullāhi wa barakātuhụ 'alaikum ahlal-baīt, innahụ ḥamīdum majīd

Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah". (QS. Huud (11): 73)

Dari ayat ini tampak jelas bahwa malaikat pada hakikatnya senantiasa melakukan proses pendidikan sepanjang hidup (long-life education) kepada manusia, yaitu dengan mengarahkan dan memberikan stimulasi pada sisi-sisi kebaikan dalam hati manusia. Dengan demikian, orang yang beriman merasakan adanya tuntunan dan kontrol melekat pada diri mereka, yang pada hakikatnya berasal dari bisikan-bisikan (llham) malaikat.

3. Rasa Tanggung Jawab

Konsep pendidikan Islam menempatkan nilai responsibilitas/rasa tanggung jawab (syu'urbil mas'uliyyah) sebagai dasar sistem pendidikan rohaniah, dengan dasar bahwa kesadaran akan adanya tanggung jawab yang tertanam dalam hati nurani manusia memberikan pengaruh penting dalam pembinaan pribadi individu dan masyarakat. Islam mendidik umatnya dengan menanamkan keyakinan bahwa setiap perbuatan dan ucapan manusia diketahui oleh Allah SWT, dan mereka akan bertanggung jawab atas segala hal tersebut.

Dalam konsep keimanan kepada malaikat, diyakini adanya malaikat yang mendatangi dan menanyai setiap manusia dalam kubur. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban mereka atas apa yang mereka perbuat selama di dunia, sebgaimana difirmankan Allah Swt. dalam QS. Az-Zalzalah (99): 6.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ ٱلنَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا۟ أَعْمَٰلَهُمْ

Yauma`iżiy yaṣdurun-nāsu asytātal liyurau a'mālahum

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, (QS. Az-Zalzalah (99): 6)

Keimanan ini mengandung nilai yang dapat dijadikan dasar dalam menanamkan rasa tanggung jawab atas segala tindakan mereka, sekaligus memberikan indoktrinasi bahwa setiap perbuatan, baik dan buruk, pasti mendapat ganjaran. Dan balasan itu merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh setiap manusia. Dengan demikian, hal itu memberikan harapan bahwa pembentukan manusia yang beriman dan bertakwa, yang diwarnai oleh moral keimanan, bukanlah suatu idealisme yang mustahil terwujud.

4. Mensucikan Pujian Kepada Allah Swt.

Para malaikat senantiasa mensucikan pujian kepada Allah Swt. sebagai Rabb mereka dan memohon ampunan bagi manusia yang berada di bumi. Mereka adalah mahluk yang paling ikhlas terhadap Bani Adam (Al-Fauzan, 2010. hlm. 33). Sifat malaikat yang selalu mensucikan pujian kepada Allah Swt. ini terungkap dalam QS. Ali Imran (3): 18.

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Syahidallāhu annahụ lā ilāha illā huwa wal-malā`ikatu wa ulul-'ilmi qā`imam bil-qisṭ, lā ilāha illā huwal-'azīzul-ḥakīm

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran (3): 18)

Ayat tersebut menegaskan bahwa malaikat senantiasa mengagungkan Allah Swt. dengan memegang teguh pernyataan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang menegakkan keadilan, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

5. Senantiasa Mengajak Kepada Kebajikan

Malaikat sebagai utusan Allah SWT yang selalu taat kepada-Nya, senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan. Mereka akan selalu mengingatkan manusia dengan berbagai cara agar manusia tetap berada di jalan kebenaran yang haq seizin Allah SWT, termasuk dengan cara menyampaikan/menimpakan adzab Allah kepada mereka yang dzalim seperti kisah kaum Nabi Lut as. sebagaimana diungkap dalam firman Allah Swt. dalam QS. Huud (11): 81.

قَالُوا۟ يَٰلُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن يَصِلُوٓا۟ إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ ٱلَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ إِلَّا ٱمْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا مَآ أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ ٱلصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ ٱلصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Qālụ yā lụṭu innā rusulu rabbika lay yaṣilū ilaika fa asri bi`ahlika biqiṭ'im minal-laili wa lā yaltafit mingkum aḥadun illamra`atak, innahụ muṣībuhā mā aṣābahum, inna mau'idahumuṣ-ṣub-h, a laisaṣ-ṣub-ḥu biqarīb

Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?". (QS. Huud (11): 81)

 Pada ayat tersebut, malaikat memberikan peringatan kepada penduduk Sodom (kaum Nabi Luth as.) atas kedzalimannya untuk menyelamatkan orang-orang yang taat kepada Allah dengan menimpakan adzab atas perintah Allah SWT.

Bahkan, para malaikat itu senantiasa berdo’a memohonkan ampunan kepada Allah bagi manusia agar manusia selalu berada di jalan kebajikan, seperti diungkap dalam firman Allah Swt.

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Huwallażī yuṣallī 'alaikum wa malā`ikatuhụ liyukhrijakum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wa kāna bil-mu`minīna raḥīmā

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Qs. Al-Ahzab (33): 43).

6. Senantiasa Berdzikir dan Mengagungkan Allah SWT

Malaikat adalah makhluk yang paling taat dan sangat dimuliakan. Mereka tidak pernah dan tidak akan pernah sedikitpun ingkar kepada Allah SWT. Selamanya, mereka senantiasa berdzikir dan memuji keagungan Allah. Hal ini diungkap dalam firman-firman Allah Swt. seperti dalam QS. Al-Anbiyaa’ (21): 19.

وَلَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِندَهُۥ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ

Wa lahụ man fis-samāwāti wal-arḍ, wa man 'indahụ lā yastakbirụna 'an 'ibādatihī wa lā yastaḥsirụn

Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. (QS. Al-Anbiyaa’ (21): 19)

Kapanpun, para malaikat ini tidak pernah berhenti bertasbih kepada Allah Swt. tanpa merasakan jemu dan bosan, sebagaimana diungkap dalam QS. Fushshilat (41): 38.

فَإِنِ ٱسْتَكْبَرُوا۟ فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْـَٔمُونَ

Fa inistakbarụ fallażīna 'inda rabbika yusabbiḥụna lahụ bil-laili wan-nahāri wa hum lā yas`amụn

Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. (QS. Fushshilat (41): 38)

Begitu pula dalam setiap ucapannya, malaikat senantiasa mengagungkan Allah SWT, seperti diungkap dalam QS. Saba’ (34): 41.

قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِم ۖ بَلْ كَانُوا۟ يَعْبُدُونَ ٱلْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُم بِهِم مُّؤْمِنُونَ

Qālụ sub-ḥānaka anta waliyyunā min dụnihim, bal kānụ ya'budụnal-jinna akṡaruhum bihim mu`minụn

Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu". (QS. Saba’ (34): 41)

Referensi :

[1] Al-Andalusi, A.J. (T.th.) Syu’ab al-Iman. Beirut: Dar al-Qutub al-Ilmiyah.
[2] Harisah, A. (2004) Keberimanan Kepada Malaikat dalam Perpektif Pendidikan Islam. Kependidikan Islam. Vol. 2(1). hlm. 73-84.
[3] Al-Fauzan, S.S. (2010) Iman kepada Malaikat dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Umat. Alih bahasa: Ummu Abdillah al-Buthoniyah. Maktabah Raudhah al-Muhibbin.