Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Keistimewaan Yang Dimiliki oleh Abu Bakar as Shiddiq?

Anonymous 5 years ago

Abu Bakar as Shiddiq adalah sahabat nabi Muhammad saw yang istimewa. Apa saja keistimewaan Abu Bakar as Shiddiq sehingga beliau bisa menjadi salah satu sahabat nabi yang istimewa?

29

Abu Bakar al-Shiddiq merupakan sahabat yang senantiasa menemani dakwah Rasulullah SAW., baik dalam suka ataupun duka. Ia rela berkorban dengan harta dan jiwa yang ia miliki untuk mendukung dan menyebarkan risalah dakwah. Pengorbanan yang ia berikan tidak akan akan bisa dilupakan sejarah. Sehingga dengan demikian Abu Bakar al-Shiddiq memiliki tempat yang khusus di hati Rasulullah SAW. dalam bentangan sejarah Islam.

Ketulusannya dalam menyebarkan agama Allah SWT. dan keteguhannya dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam menyeru manusia kepada kebaikan menjadikan kedudukannya lebih istimewa di antara sahabat yang lain. Di antara keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Bakar al-Shiddiq antara lain:

1. Abu Bakar al-Shiddid diabadikan dalam al-Qur’an

Pengorbanan Abu Bakar al-Shiddiq dalam menyokong dakwah Rasulullah SAW mendapat apresiasi yang besar dan mulia dari Allah SWT. Sehingga dengan demikian, penghormatan Allah SWT terhadapnya diukirkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an, di antaranya:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Illā tanṣurụhu fa qad naṣarahullāhu iż akhrajahullażīna kafarụ ṡāniyaṡnaini iż humā fil-gāri iż yaqụlu liṣāḥibihī lā taḥzan innallāha ma'anā, fa anzalallāhu sakīnatahụ 'alaihi wa ayyadahụ bijunụdil lam tarauhā wa ja'ala kalimatallażīna kafarus-suflā, wa kalimatullāhi hiyal-'ulyā, wallāhu 'azīzun ḥakīm

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Taubah: 40)

Telah menjadi konsensus di kalangan ulama dan juga pakar tafsir bahwa yang dimaksud dengan “temannya” dalam ayat di atas adalah Abu Bakar al- Shiddiq. Sebab tidak mungkin ada seorangpun yang ada bersama Rasulullah SAW ketika bersembunyi di gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah untuk berlindung dari kejaran orang-orang Quraisy melainkan Abu bakar al- Shiddiq. Sebab ialah yang senantiasa mendampingi Rasulullah SAW dalam dakwahnya baik suka ataupun duka. 

Dalam ayat lain Allah SWT. juga mengapresiasi pengorbanan Abu Bakar al-Shiddiq. Penghargaan ini diberikan oleh Allah SWT. kepada Abu Bakar al- Shiddiq ketika ia membebaskan Bilal bin Rabbah dari tuannya. Orang-orang Quraisy ketika itu berkomentar, “Kenapa Abu Bakar membebaskan seorang budak yang tidak bermanfaat baginya.”

Pernyataan ini kemudian dibalas oleh Allah SWT dalam firmannya:

وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ

Wa mā li`aḥadin 'indahụ min ni'matin tujzā

Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, (QS. Al-Lail: 19)

إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ

Illabtigā`a waj-hi rabbihil-a'lā

Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. (QS. Al-Lail: 20)

وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

Wa lasaufa yarḍā

Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS. Al-Lail: 21)  

2. Abu Bakar al-Shiddiq adalah Orang Pertama Yang Masuk Surga

Abu Bakar al-Shiddiq merupakan manusia pertama yang masuk surga dari umat Rasulullah SAW. Hal ini diterangkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud sebagai berikut:

“Dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Jibril mendatangiku dan mengajakku untuk melihat pintu surga yang akan dimasuki oleh umatku nanti. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku berharap ketika ia datang aku bersamamu sehingga akupun bisa melihat pintu surga.” Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya engkau Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk surga dari umatku.” (HR. Abu Daud)

3. Abu Bakar al-Shiddiq adalah Orang Yang Senantiasa Bersegera Untuk Kebaikan

Abu Bakar al-Shiddiq merupakan sahabat Rasulullah SAW yang senantiasa bersegera untuk melakukan kebaikan, bahkan ketika para sahabat yang lain tidak melakukannnya. Hal ini terbukti ketika Rasulullah SAW mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa orang sahabatnya dan yang menjawab selalu Abu Bakar al-Shiddiq. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapakan di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian berkata, “Siapakah di antara kalian pada hari ini mengiringi jenazah?” Abu Bakar kembali menjawab, “Saya.” Rasulullah SAW kemudian kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali menjawb, “Saya.” Rasulullah pun juga kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”Abu Bakar menjawab, “Saya.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Tidaklah terkumpul perbuatan ini pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR Muslim)

4. Abu Bakar al-Shiddiq adalah Sahabat Yang Paling Dicintai oleh Rasulullah SAW

Abu Bakar al-Shiddiq merupakan sahabat yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Hal ini tampak dalam sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang sahabat kepadanya. Dalam sebuah riwayat diceritakan,

“Dari Anas Ra. Ia berkata bahwa ada yang bertanya kepada Rasululah SAW, “Wahai Rasulullah siapakah yang paling engkau cintai dari manusia?” Rasulullah SAW berkata, “Aisyah.” Mereka berkata, “Maksud kami dari kalangan laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar al-Shiddiq).” (HR. Ibnu Majah)

5. Abu Bakar al-Shiddiq adalah Mufti Pada Masa Rasulullah SAW

Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, setidaknnya ada 14 (empat belas) orang sahabat yang dipercaya oleh Rasulullah SAW bisa memberikan fatwa kepada umat. Akan tetapi dari ke-14 orang tersebut hanya Abu Bakar al-Shiddiq yang dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk memberikan fatwa ketika bersamanya. Sedangkan yang lain hanya boleh memberikan fatwa ketika tidak bersama Rasulullah SAW, seperti Mu`az bin Jabal yang di utus ke Yaman dan sebagainya. Kepercayaan Rasulullah SAW terhadap Abu Bakar al-Shiddiq dalam memberikan fatwa diceritakan dalam sebuah riwayat,

“Dari Abu Qatadah Ra. Ia berkata bahwa suatu ketika kami keluar bersama Rasulullah SAW pada perang Hunain. Lalu kami bertemu dengan musuh sedangkan tentara muslim masih dalam perjlanan. Saya melihat satu orang tentara dari orang musrik mengalahkan satu orang tentara dari muslim. Saya berpaling dan mendatangi tentara kafir tersebut dari belakang dan menebas lehernya. Ia kemudian menghadap kepadaku dan merangkulku dengan erat dan akupun merasakan bahwa ia akan mati. Ia kemudian mati dan terlepaslah pegangannya dariku. Aku kemudian menemui Umar dan berkata, apa yang sebenarnya yang terjadi. Umar menjawab “amrullah” (urusan Allah) setelah itu orang pulang dan nabi pun duduk dan berkata, “Siapa yang telah membunuh (seorang musuh) maka ia harus mendatangkan saksi dan baginya rampasannya.” Saya kemduaian berdiri dan berkata, “Siapa yang bersaksi terhadap saya.?” Dan kemudian saya duduk, nabipun kembali berkata, “Siapa yang telah membunuh (seorang musuh) maka ia harus mendatangkan saksi dan baginya rampasannya.”Saya kemduaian berdiri dan berkata, “Siapa yang bersaksi terhadap saya.?” Saya kemudian saya duduk dan nabipun berkata perkataan yang sama untuk ketiga kalinya. Seorang laki-laki berkata “benar wahai Rasulullah” (bahwa Ibnu Qatadah telah membunuhnya) dan rampasannya kemudian untuk saya begitu juga dengan tanahnya. Abu Bakar al-Shiddiq kemudian berkata, “Tidak demi Allah, jika seorang berperang karena Allah dan Rasulnya barulah diberikan rampasannya.” Rasulullah kemudian berkata, “benar.” (apa yang disampaikan oleh Abu Bakar al- Shiddiq.” (HR. Al-Bukhary).

6. Abu Bakar al-Shiddiq adalah Orang Kepercayaan Rasulullah SAW

Abu Bakar al-Shiddiq adalah sahabat yang sangat menjaga rahasia Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Dari Ibnu Syihab ia berkata bahwa Salim bin Abudllah memberitakan kepadanya dari apa yang ia dengar dari Abdullah bin Umar bahwa Umar bin Khattab menceritakan kepadanya (Abdullah bin Umamr) apa yang terjadi ketika Hafshah binti Umar ditinggal mati oleh Khunais bin Hudzafah al-Sahmy yang meninggal di Madinah. Umar bin Khattab berkata, “Saya mendatangi Utsman bin Affan dan menawarkan Hafshah. Ustman pun menjawab saya akan pertimbangkan. Setetelah berselang beberapa hari iapun datang dan berkata bahwa iat tidak mau menikah dengannya (Hafshah). Umar kembali berkata, “Saya kemudian menemui Abu Bakar dan berkata, jika engkau mau saya akan nikahkan kamu dengan Hafshah binti Umar.” Abu bakar diam dan tidak menjawab dengan satu kata apapun. Saya mengira ia lebih mau menikah dengan Hafshsah dari pada Utsman. Beberapa haripun berselang ia kemudian dipinang oleh Rasulullah SAW dan dinikahinya. Abu Bakar kemudian menemuiku dan berkata, “Mungkin engkau merasa kesal ketika engkau menawarkan Hafshah untuk saya nikahi dan kemudian saya tidak menjawab dengan satu katapun.” Umar menjawab, “Benar.” Abu Bakar berkata, Sesungguhnya aku tidak berhasrat untuk menolak tawaranmu hanya saja ketika itu aku tahu bahwa Rasulullah SAW juga telah menyebutkan keinginannya (untuk menikahi Hafshah). Tidak mungkin saya kemudian akan membukakan rahasia Rasulullah SAW meskipun ia tidak melarngnya.” (HR. Al-Bukhary)

7. Abu Bakar al-Shiddiq adalah Sahabat Yang Sangat Tawadhu

Meskipun sebagai seorang sahabat yang berpunya dari segi harta, Abu Bakar al-Shiddiq tidak membiasakan dirinya hidup dalam kemewahan dan kesombongan. Akan tetapi sebaliknya, ia lebih suka hidup dalam penuh ketawadhuan dan kesederhanaan. Hal ini terlihat dalam sebuah riwayat,

“Dari Abdullah bin Umar Ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda , “Siapa yang memanjangkan pakainnya untuk bermewah-mewahan maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Abu Bakar kemudian berkata, “Sesungguhnya pakaian saya kepanjangan kecuali saya memotongnya.” Rasulullah SAW kemudian menjawab, “(Wahai Abu Bakar) kamu berbuat demikian bukanlah untuk bermewah- mewahan.” (HR. Al-Bukhary)

Referensi :
1 Abu Daud Sulaiman bin al-Asy`ats al-Sijistany al-Azdy, Sunan Abi Daud, (Beirut: Dar Ibnu Hazam, 1997), Jilid 5, hlm. 30