Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Jenis-jenis Ajaran Tasawuf ?

Anonymous 5 years ago

Apakah tasawuf memiliki berbagai macam ajaran ? Apabila iya, apa saja jenis-jenis tasawuf yang ada ?

31

Sebelum membahas tentang jenis-jenis tasawuf, sedikit kita bahas terkait dengan sejarahnya terlebih dahulu.

Tasawuf muncul bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Karena pada hakikatnya ajaran tasawuf seluruhnya mencontoh prilaku dan kepribadian Rasulullah. Kemudian prilaku dan kepribadian itu diteruskan dan diwarisi oleh para sahabat Rasulullah seperti Abu Bakar As-Shiddiq r,a sebagai sosok yang tawadhdhu; taat beribadah. Umar bin Khatab r,a yang dikenal sebagai sosok khalifah yang adil, amanah, bijaksana dan sederhana. Utsman bin Affan r,a yang terkenal dengan kedermawanan, rajin beribadah dan gemar membaca Al-Quran. Sahabat Ali bin Abi Thalib, yang cinta akan ilmu, hidup sederhana dan taat beribadah.

Selain keempat sahabat tersebut, banyak sahabat Rasul yang dijadikan rujukan dalam kehidupan ruhani seperti Hudzaifah bin Yaman, Bahlul bin Zuaib Kahmas al-Hilali, Abu al- Darda; mereka disebut ahl al-suffah. Dan perkembangan selanjutnya, tasawuf ditandai dengan munculnya Zahid terkemuka, yaitu Hasan al-Bashri, juga seorang Zahid wanita yaitu Robi'ah al-Adawiyyah. Pada priode ini tasawuf memiliki asketisme.

Perkembangan selanjutnya, pada abad ke 3 dan ke 4 tasawuf mencapai kematangan. Ditandai dengan penghayatan batin kedekatan dengan Allah SWT yang semakin mendalam. Seperti tokoh Dzu al-Nun dengan konsep ma'rifah, Abu Yazid al-Bustami dengan konsep fana, baqa’ dan ittihadnya, juga Husain ibn al-Hallaj dengan konsep hululnya.

Pada priode ini, setelah kematian al Hallaj yang tragis digantung karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam mengakibatkan kesan tasawuf menjadi tidak baik. Kemudian muncul sosok Abu Hami al-Ghazali. Pada perkembangannya, al-Ghazali menghidupkan kembali tasawuf dengan menselaraskannya dengan ahl al-sunnah wa al-jama’ah, sehingga tasawuf diterima oleh mayoritas umat Islam.

Dalam hal ini tasawuf yang dikemukakan oleh al-Ghazali berkembang menjadi dua yaitu tasawuf akhlaqi yang fokus kepada penyucian jiwa dengan melalui tiga tahapan, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli. Dan kedua tasawuf amali yang berkonotasi dengan thariqat.

1. Tasawuf Akhlaki

 Tasawuf akhlaki adalah ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan dan kesucia jiwa, yang diformulasikan pada pengaturan sikap mental dan kedisiplinan tingkah laku yang ketat guna menncapai kebahagiaan yang optimal.

Tasawuf akhlaki diwakili oleh tokoh sufi dari abad ke-3 dan ke-4 H, Imam al-Ghazali dan para pemimpin tarekat yang mengikutinya. Kedalaman tasawuf al-Ghazali sangat member pengaruh besar dalam khazanah ketasawufan di dunia Islam.

Dalam langkah pendidikan mental, yang pertama harus dilakukan seseorang adalah menguasai penyebab utama permasalahannya, yaitu hawa nafsu. Menurut al-Ghazali, tidak terkontrolnya hawa nafsu yang ingin mengecap kenikmatan duniawi adalah sumber utama dari kerusakan akhlak. Sehingga metode para sufi dalam hal ini adalah menanamkan rasa benci kepada kehidupan duniawi, melepaskan kesenangan duniawi untuk mencintai Tuhan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa esensi mencintai Tuhan adalah melawan hawa nafsu.

Dalam bertasawuf seseorang pada tahap awal diharuskam melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat untuk menekan hawa nafsunya. Dalam tasawuf akhlaki, sistem pembinaan akhlak meliputi takhalli, tahalli, dan tajalli.

Takhalli

Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, adapun sifat-sifat tercela itu antara lain: hasad, haqb, su'udzon, takabur, ujub, riya, suma'bukhul, hubbul mal, fahur, ghadab, ghibah, namimah, khidzir, khiana.

Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dari maksiat lahir dan maksiat batin. Takhalli juga berarti mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan dunia.

Membersihkan diri dari sifat-sifat tercela oleh kaum sufi dipandang penting, karena sifat ini merupakan najis maknawi (najasah ma’nawiyah) yang dapat menghalangi untuk dekat dengan Allah SWT sebagaimana halnya najis dzat (najasah dzatiyah) yang menjadi sebab seseorang tidak sah beribadah kepada Allah.

Tahalli

Tahalli merupakan suatu upaya menghiasi diri dengan akhlak-akhlak terpuji. Tahapan ini dilakukan setelah melakukan pengosongan diri dari sifat-sifat tercela. Pada tahap tahalli, kaum sufi berusaha agar setiap gerak perilaku selalu sesuai dengan tuntunan agama, baik kewajiban yang bersifat lahiriah, seperti kewajiban yang bersifat formal yaitu shalat, puasa dan haji, maupun batiniah seperti iman, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT.

Tajali

Tajali merupakan istilah tasawuf yang berarti "penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas." Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.

Konsep tajali beranjak dari pandangan bahwa Allah Swt dalam kesendirian-Nya (sebelum ada alam) ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Karena itu, dijadikan-Nya alam ini. Dengan demikian, alam ini merupakan cermin bagi Allah Swt. Ketika Ia ingin melihat diri-Nya, Ia melihat pada alam. Dalam versi lain diterangkan bahwa Tuhan berkehendak untuk diketahui, maka Ia pun menampakkan Diri-Nya dalam bentuk tajali.

2. Tasawuf Amali

Tasawuf amali merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah. Tasawuf amali  berkonotasi dengan tharekat, yang didalamnya memilih aturan prinsip dan sistem khusus. Dalam tasawuf amali terdapat 4 (empat) fase yang akan dilewati, yaitu :

1. Syariat

Syariat diartikan sebagai kualitas amalan lahir-formal yang sudah diletakkan dalam ajaran agama melalui Al-Quran dan sunnah. Menurut kaum sufi, syariat merupakan amalan-amalan yang difardukkan dalam agama yang dikenal rukun islam dan segala hal yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadist.

Seseorang yang ingin memasuki dunia tasawuf harus terlebih dahulu menguasai aspek-aspek syariat dan harus terus mengamalkannya, baik yang wajib maupun yang sunnat.

At-Thusi dalam Al-Luma mengatakan, syariat adalah suatu ilmu yang mengandung dua pengertia yaitu riwayah dan hiroyah yang berisikan amalan-amalan lahir dan batin. Apabila syariat diartikan sebagai riwayah, maka yang dimaksud adalah ilmu teoritis tentang segala macam hukum sebagaimana terurai dalam ilmu figih atau ilmu lahiriah. Sedangkan syariat dalam kondisi diroyah adalah makna batiniah dari ilmu lahiriah atau makna hakiki (hakikat) dari ilmu fikih. Syariat dalam konotasi diroyah ini lebih dikenal dengan sebutan ilmu tasawuf.

Dalam perkembangan selanjutnya, apabila disebut syarah maka yang mereka maksudkan adalah hukum-hukum formal atau amalan lahiriah yang berkaitan dengan anggota jasmaniah manusia, sedangkan syariat sebagai figh dan syariat tasawuf tidak dapat dipisahkan karena yang pertama adalah sebagai wadahnya dan yang kedua sebagai isinya, seorang salik tidak mungkin memperoleh ilmu batin tanpa mengamalkan secra sempurna amalan lahiriahnya.

2. Thariqah

Dalam melaksanakan amalan lahiriah harus berdasarkan sistem yang telah ditetapkan agama dan dilakukan hanya karena pengabdian kepada Allah SWT.Hanya karena dorongan cinta kepada Allah SWT. Serta karena hanya ingin berjumpa dengan-Nya perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah SWT. Itulah yang mereka maksudkan dengan thariqat, yaitu pelaksanaan-pelaksanaan syariat secara simultan dalam 2 (dua) pengertian diatas atau amalan lahir yang disertai dengan amalan batin.

Menurut sufi, kehidupan di alam ini penuh dengan rahasia. Rahasia itu tertutup oleh dinding-dinding. Diantara dinding-dinding itu ialah hawa nafsu, keinginan, kemewahan hidup duniawi. Rahasia itu mungkin terbuka dan dinding (hijab) itu mungkin tersingkap dan kita dapat melihat atau merasakan langsung asal kita mau menempuh jalannya.

Untuk tujuan itu, maka disusunlah aturan-aturan yang bersifat batiniah melaksanakan ketentuan- ketentuan lahiriah agar dapat mengantarkan salik ketujuan perjalanan, yaitu menemukan hakikat. Aturan-aturan itu diformasikan dalam tahapan demi tahapan dan merasakan situasi kewajiban yang khas, formasi ini kemudian dikenal sebagai Al-Maqomat dan Al-Ahwal.

Keseluruhan rangkaian amalan lahiriah dan latihan batiniah itulah yang dimaksud dengan tasawuf amali yaitu macam-macam amalan yang terbaik serta tatacara beramal yang paling sempurna.

3. Hakikat

Dalam pengertian istilah ini Al-Qusairi mengatakan, apabila syariat berkonotasi kepada konsistersi seorang hamba Allah SWT, maka hakikat adalah kemampuan seseorang dan merasakan dan melihat kehadiran Allah SWT. Di dalam syariat itu, setiap amalan akhir yang tidak diisi hakikat menjadi tidak ada artinya. Hakikat berarti inti sesuatu.

Dalam dunia sufi, hakikat diartikan sebagai aspek batin dari syariat, sehingga dikatakan hakikat adalah aspek yang paling dalam dari setiap amal, inti dan rahasia dari syariat yang merupakan tujuan perjalanan salik.

Nampak hakikat berkonotasi kualitas ilmu batin, yaitu sedalam apa yang diselami dan dirasakan makna batiniah dalam diri setiap ajaran agama. Pengertian ini mempertegas tentang adanya ikatan yang tak terpisahkan antara syariat dan hakikat yang diramu dalam formasi yangketat sesuai dengan norma-norma thariqat.

Dengan sampainya seorang salik pada kualitas ilmu hakikat, berarti telah ada didalam dirinya kualitas ilmu hakikat, sehingga ia dapat merasakan "kehadiran" Allah SWT dalam setiap gerak dan denyut nadinya, pada situasi yang demikian ia telah memasuki gerbang Al-Ma’rifah.

4. Ma'rifat

Ma'rifat berarti pengetahuan atau pengenalan. Sedangkan dalam istilah tasawuf ma'rifah adalah pengenalan yang langsung tentang Tuhan yang diproleh melalui hati sanubari sebagai nikmat langsung dari ilmu hakikat. Nampak ma'rifah lebih mengacu kepada tingkatan kondisi mental, sedangkan hakikat mengarah kepada kualitas pengetahuan dan pengalaman.

Kualitas pengetahuan itu sedemikian sempurna dan terang sehingga jiwanya merasa menyatu dengan yang diketahuinya itu, untuk mencapai kualitas tertinggi itu, seseorang kandidat sufi harus melakukan serial latihan keras dan sunggu-sungguh yang disebut sebagai tasawuf amali, sedangkan serial amalan itu disebut Al-Maqomat atau jenjang menuju kehadirat Allah SWT.