Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Hadist-hadist Tentang Anjuran Ikut Bergembira Dan Mengucapkan “Selamat” Kepada Orang Yang Memperoleh Kebahagiaan?

Anonymous 5 years ago

Apa saja hadist-hadist nabi Muhammad SAW yang berbicara tentang anjuran agar kita ikut bergembira dan mengucapkan selamat kepada orang yang mendapatkan kebahagiaan?

20

Hadist-hadist Tentang Anjuran Ikut Bergembira Dan Mengucapkan “Selamat” Kepada Orang Yang Memperoleh Kebahagiaan


Dari Abu Ibrahim (Abu Muhammad/ Abu Mu’awiyah Abdullah bin Abu Aufa) , ia berkata : “Rasulullah SAW menyampaikan berita gembira kepada Khadijah, yaitu rumah yang terbuat dari mutiara di surga. Di dalamnya tidak ada keributan dan kesukaran.” (HR.Bukhari dan Muslim)


Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra., ia berkata : “Suatu hari, saya berwudhu di rumah, kemudian saya pergi dan berkata dalam hati : “Hari ini saya akan selalu mendampingi dan menyertai Rasulullah SAW” Ia terus ke masjid dan menanyakan Rasulullah SAW. Para sahabat menjawab : “Beliau ada di sana.” Abu Musa menuju arah yang ditunjukkan itu dan mencari-cari beliau sehingga menuju ke sumur Aris. Sesampainya disana, saya duduk di depan pintu menunggu sampai Rasulullah selesai hajat dan berwudhu. Setelah itu saya mendekati beliau, yang sedang duduk di tepi sumur dan menurunkan kedua kakinya ke sumur. Kemudian saya memberi salam kepada beliau, dan kambali ke depan pintu. Saya berkata dalam hati : “Hari ini saya benar-benar menjadi penjaga pintu Rasulullah SAW” Kemudian Abu Bakar ra. datang dan mengetuk pintu, saya bertanya : “Siapa ini?” Ia menjawab : “Abu Bakar.” Saya berkata : “Tunggu sebentar !” Saya mendatangi Rasulullah SAW dan berkata : “Wahai Rasulullah, Abu Bakar minta izin untuk masuk.” Beliau bersabda : “Izinkan dia untuk masuk dan gembirakanlah dengan surga.” Maka saya menyambut Abu Bakar dan berkata : “Silahkan masuk ! Rasulullah SAW menggembirakan kamu dengan surga.” Abu Bakar pun masuk dan duduk di sebelah kanan Nabi SAW sambil menurunkan kedua kakinya ke sumur sebagaimana yang diperbuat Rasulullah SAW Kemudian saya kembali ke pintu dan duduk sambil mengingat saudaraku yang sedang berwudhu dan akan menyusul saya. Saya berkata dalam hati : “Seandainya Allah menghendaki kebaikan pada Fulan, maka Allah juga menghendaki kebaikan kepada saudaranya, mudah-mudahan ia akan datang kemari.” Tiba-tiba ada seorang yang menggerakkan pintu, maka saya bertanya : “Siapa itu ?” Ia menjawab : “Umar bin Khaththab.” Saya menyuruhnya menunggu. Saya mendatangi Rasulullah SAW Setelah mengucapkan salam, saya berkata : “Umar minta izin untuk masuk.” Beliau bersabda : “Izinkan dia masuk dan gembirakanlah dia dengan surga.” Maka saya menyambut Umar dan berkata : “Silahkan masuk ! Rasulullah SAW menggembirakan kamu dengan surga.” Umar pun masuk dan duduk di sebelah kiri Rasulullah SAW di tepi sumur, serta menurunkan kedua kakinya ke sumur. Kemudian saya kembali ke pintu dan duduk sambil berkata dalam hati : “Seandainya Allah menghendaki kebaikan kepada Fulan, maka Allah juga menggerakkan hati saudaranya untuk datang kemari.:” Tiba-tiba datanglah seseorang dan menggerakkan pintu. Saya bertanya : “Siapa ini?” Ia menjawab : “Utsman bin Affan.” Saya menyuruh untuk menunggu. Saya mendatangi Nabi SAW dan memberitahu, bahwa Utsman minta izin untuk masuk. Maka beliau bersabda : “Izinkan dia masuk dan gembirakan ia dengan surga, tetapi ia nanti akan terkena musibah.” Maka saya menyambut Utsman dan berkata : “Silahkan masuk ! Rasulullah SAW menggembirakan kamu dengan surga, tetapi nanti kamu akan tertimpa suatu musibah.” Utsman pun masuk, tetapi tepi sumur itu sudah penuh. Sehingga ia duduk di depan mereka sebelah kiri.” Sa’id bin Al-Musayyab berkata : “Saya menakwilkannya (tempat duduk mereka) dengan kuburan mereka.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain ditambahkan : “Rasulullah SAW menyuruh saya untuk menjaga pintu. Ketika berita itu disampaikan kepada Utsman, ia memuji Allah Ta’ala dan berkata : “Hanya Allah-lah yang dapat dimintai pertolongan.”


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW bersama dengan Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat yang lain, tiba-tiba Rasulullah SAW berdiri dan meninggalkan kami. Kami menunggu beliau, tetapi tak kunjung kembali. Kami khawatir dan cemas kalau-kalau ada sesuatu yang menimpa diri beliau, maka kami semua berdiri dan sayalah orang pertama yang merasa cemas. Kemudian saya keluar dan mencari Rasulullah SAW. Ketika sampai pada pagar tembok seorang sahabat Anshar dari Bani Najjar, saya mencari-cari pintu tetapi tidak menemukannya., hanya ada sebuah parit yang masuk ke balik tembok yang menghubungkan dengan sumur yang berada di luar. Saya menerobosnya, sehingga dapat masuk dan menjumpai Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda : “Wahai Abu Hurairah.” Saya menjawab : “Ya, wahai Rasulullah SAW ?” Beliau bertanya : “Ada apa ?” Saya menjawab : “Tadi engkau berada di tengah-tengah kami kemudian engkau berdiri dan meninggalkan kami, kami khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang menimpamu. Kami semua merasa cemas. Oleh karena itu, saya datang ke pagar tembok ini dan menerobosnya seperti kijang. Sesungguhnya di balik tembok ini banyak orang yang menunggu.” Beliau bersabda : “Wahai Abu Hurairah, sambil memberikan kedua sandalnya kepadaku, pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. Siapa saja yang kamu jumpai di balik tembok ini yang bersaksi dengan sepenuh hati, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, maka gembirakanlah ia dengan surga . . .” (HR.Muslim)


Dari Abu Syumasah, ia berkata: “Menjelang wafatnya ‘Amr bin Al-‘Ash ra., kami mengunjunginya. Waktu itu ia sedang menangis tersedu-sedu dan memalingkan mukanya ke arah dinding, sehingga puteranya berkata: ‘Wahai ayahku, bukankah Rasulullah SAW, pernah menyampaikan berita gembira kepadamu dengan ini, bukankah Rasulullah SAW, pernah menyampaikan berita gembira dengan itu?” Kemudian ‘Amr memandang anaknya dan berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik yang kami persiapkan adalah suatu persaksian, bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Saya telah mengalami tiga zaman. Pertama, saya pernah membenci Rasulullah SAW. Barangkali tidak ada seorang pun yang membencinya melebihi aku. Waktu itu tidak ada yang aku inginkan kecuali membunuh beliau. Seandainya saya meninggal pada waktu itu, aku pasti termasuk ahli neraka. Kedua, ketika Allah memasukkan Islam di hatiku, kemudian saya mendatangi Nabi SAW, dan berkata: “Ulurkanlah tangan kananmu, karena saya akan berbaiat (berjanji setia) kepadamu.” Setelah beliau mengulurkan tangan kanannya, saya menariknya. Beliau bertanya: “Ada apa wahai ‘Amr?” Saya menjawab: “Saya ingin mengajukan syarat.” Beliau bertanya: “Syarat apakah yang kamu maksud?” Saya menginginkan diampuni dosa saya.” Beliau bersabda: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa Isalm itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, hijrah itu menghapus kan dosa-dosa sebelumnya, demikian pula dengan haji, juga menghapuskan dosa-dosa sebelumnya?” Pada waktu itu, tidak ada seorangpun yang saya cintai melebihi cinta saya kepada Rasulullah SAW, dan tidak ada orang yang lebih mulia dihadapan saya melebihi beliau, sehingga saya tidak mampu untuk memandang beliau dengan kedua mata, karena saya sangat mengagungkannya. Sekiranya saya diminta untuk menerangkan sifat-sifat beliau, niscaya saya tidak mampu untuk menerangkannya, karena saya tidak memandang beliau dengan kedua mata saya. Seandainya waktu itu meninggal, niscaya besarlah harapan saya termasuk ahli surga. Ketiga, ketika memegang beberapa jabatan, saya sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya keadaan diri saya. Oleh karena itu, apabila saya meninggal, janganlah diiringi dengan tangisan dan api. Apabila kamu mengubur saya, maka cepat-cepat timbunilah dengan tanah, kemudian berdirilah kalian di sekitar kuburku kira-kira selama tukang jagal menyembelih dan membagi-bagikan dagingnya, sehingga saya merasa senang dengan adanya kalian, sambil saya berpikir apa yang harus saya jawabkan kapada utusan Tuhanku.” (HR. Muslim)


Sumber : Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin (Taman Orang-orang Shalih).