Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Bukti-bukti Adanya Allah SWT?

Anonymous 5 years ago

Allah adalah Yang Maha Wujud. Tetapi disisi lain, Allah SWT tidak dapat digambarkan dan tidak dapat dilihat oleh manusia. Lalu bagaimanakah ajaran Islam memberikan pemahaman akan keberadaan Allah SWT ?

26

Bagi kalangan ateis (orang yang tidak percaya adanya Allah SWT), mereka menuntut bukti wujud Allah swt dengan pembuktian material. Mereka ingin segera melihat-Nya di dunia ini.

Menurut ajaran Islam, Allah SWT sendiri tidak dapat dilihat melalui mata lahir manusia. Hal ini diceritakan dalam kisah Nabi Musa a.s. ketika pernah bermohon agar Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya. Menjawab permohonan nabi Musa as, Allah SWT berfirman,

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Wa lammā jā`a mụsā limīqātinā wa kallamahụ rabbuhụ qāla rabbi arinī anẓur ilaīk, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahụ fa saufa tarānī, fa lammā tajallā rabbuhụ lil-jabali ja'alahụ dakkaw wa kharra mụsā ṣa'iqā, fa lammā afāqa qāla sub-ḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu`minīn

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS. Al-A'raf [7]: 143).

Menurut Quraish Shihab, ada dua faktor yang menjadikan makhluk tidak dapat melihat sesuatu. Pertama, karena sesuatu yang akan dilihat terlalu kecil apalagi dalam kegelapan. Sebutir pasir lebih-lebih di malam yang kelam tidak mungkin ditemukanoleh seseorang. Namun kegagalan itu tidak berarti pasir yang dicari tidak ada wujudnya. Faktor kedua adalah karena sesuatu itu sangat terang. Bukankah kelelawar tidak dapat melihat di siang hari, karena sedemikian terangnya cahaya matahari dibanding dengan kemampuan matanya untuk melihat? Tetapi bila malam tiba, dengan mudah ia dapat melihat. Demikian pula manusia tidak sanggup menatap matahari dalam beberapa saat saja, bahkan sesaat setelah menatapnya ia akan menemukan kegelapan. Kalau demikian wajar jika mata kepalanya tak mampu melihat Tuhan pencipta matahari itu.1

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani,"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?" Beliau menjawab, "Bagaimanasaya menyembah yang tidak pernah saya lihat?" "Bagaimana anda melihat-Nya?" tanyanya kembali. Imam Ali menjawab,

"Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ..."Mata hati jauh lebih tajam dan dapat lebih meyakinkan daripada pandangan mata. Bukankah mata sering menipu kita? Kayu yang lurus terlihat bengkok di dalam sungai, bintang yang besar terlihat kecil dari kejauhan.2

Dalam kaitan dengan argumen-argumen dan bukti-bukti logika, kita dapat menyatakan bahwa tidak ada satu argumen yang dikemukakan oleh para filosof tentang wujud dan keesaan Tuhan yang tidak dikemukakan al-Quran. Yang berbeda bahwa kalimat-kalimat yang digunakan al-Quran sedemikian sederhana dan mudah ditangkap, berbeda dengan para filosof yang seringkali berbelit-belit.

Bukti-bukti yang dipaparkan di atas, dikemukakan oleh al-Quran dengan berbagai cara, baik tersurat maupun tersirat. Secara umum kita dapat membagi uraian al-Quran tentang bukti adanya Allah SWT dengan dua bagian pokok, yaitu : kenyataan wujud yang tampak dan rasa yang terdapat dalam jiwa manusia.

1. Kenyataan Wujud Yang Tampak

Dalam konteks ini al-Quran menggunakan seluruh wujud sebagai bukti, khususnya keberadaan alam raya ini dengan segala isinya. Berkali-kali manusia diperintahkan untuk berpikir  serta  berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak mungkin terwujud tanpa ada yang mewujudkannya.

Dalam uraian al-Quran tentangkenyataan wujud, dikemukakannya keindahan dan keserasian alam raya. Salah satu contohnya adalah Firman Allah SWT,

أَفَلَمْ يَنظُرُوٓا۟ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَٰهَا وَزَيَّنَّٰهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٍ

A fa lam yanẓurū ilas-samā`i fauqahum kaifa banaināhā wa zayyannāhā wa mā lahā min furụj

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? (QS Qaf [50]: 6)

وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَٰهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَٰسِىَ وَأَنۢبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ

Wal-arḍa madadnāhā wa alqainā fīhā rawāsiya wa ambatnā fīhā ming kulli zaujim bahīj

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, (QS Qaf [50]: 7)

Ayat serupa dapat ditemukan pada an-nahl (16): 68-69; al-jadsiyah (45) : 12-13; al-isra’ (17) :44; al-an’am (6) :97-98; at-taubah (9) : 122; at-thariq (86) : 5-7; al-ghatsiah (88) :7-20; shad (38) :29; muhamad (47) :24; an-nahl (16) ;17; az-zumar (39) : 9; adzriat (51) :47-49, dan lain-lain.

Dari ayat-ayat tersebut, terdapat kata-kata tafakkar, tafaqquh, nazar, tadabbar, tadhakkar, fahima, aqala, ulul albab, ulul al-‘ilm, ulul absar, dan ulun nuha agar manusia berpikir akan siapa yang menciptakan itu semua. Semua ayat tersebut berkaitan langsung dengan anjuran motivasi, bahkan perintah kepada manusia untuk menggunakan rasio. 3

2. Rasa Yang Terdapat Dalam Jiwa

Dalam konteks ini, al-Quran mengingatkan manusia

قُلْ أَرَءَيْتَكُمْ إِنْ أَتَىٰكُمْ عَذَابُ ٱللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ ٱلسَّاعَةُ أَغَيْرَ ٱللَّهِ تَدْعُونَ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

Qul a ra`aitakum in atākum 'ażābullāhi au atatkumus-sā'atu a gairallāhi tad'ụn, ing kuntum ṣādiqīn

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!" (QS. Al-An'am  [6]: 40)

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

Bal iyyāhu tad'ụna fa yaksyifu mā tad'ụna ilaihi in syā`a wa tansauna mā tusyrikụn

(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (QS. Al-An'am  [6]: 41)

Demikian al-Quran menggambarkan hati manusia. Karena itu sungguh tepat pandangan sementara filosof yang menyatakan bahwa manusia dapat dipastikan akan terus mengenal dari berhubungan dengan Tuhan sampai akhir zaman, walaupun ilmu pengetahuan membuktikan lawan dari hal tersebut. Ini selama tabiat kemanusiaan masih sama seperti sediakala, yakni memiliki naluri mengharap,cemas, dan takut, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut atau harapannya tidak lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak pernah akan putus.

Referensi :

1 M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat , cetakan XXIII, Bandung:Mizan, 1996, h. 15
2 M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Qur’an..., h. 15
3  W. Montgomery Watt, The influence of Islam on Modreveal Europe, (England Edinburg University, Press Ltd, 1994), h. 43 dan, C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, (terj. Yayasan Obor, Jakarta, 1991), h. 19-20