Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kalimat Laa Ilaha Illallah mempunyai makan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah SWT.

Sebagaimana Firman-Nya,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ ٱلْبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa anna mā yad'ụna min dụnihil-bāṭilu wa annallāha huwal-'aliyyul-kabīr

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Luqman: 30)

La ilaha illalaha Malikul Haqqul Mubeen, Islamic calligraphy, Arabic  calligraphy, calligraphy, Thuluth calligraphy, Islamic wall art, Islamic  art, Islamic canvas art, Islamic canvas print, Islamic painting, Islamic  home decor, Islamic wall frames,

Laa ilaaha illa Allah, maknanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Ungkapan ini mencakup dua bagian; penafian dan penetapan. “Laa ilaaha” nafy terhadap segala bentuk sesembahan, dan “illa Allah” itsbat bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah. Redaksi dan gaya bahasa seperti ini dikenal dengan nama uslub al-Qashr, atau pembatasan.

Ungkapan “Laa ilaaha” menafikan segala sesuatu yang disembah selain Allah ta’ala, tiada ada sesuatu apapun dari itu semua yang pantas disembah. Kata “ilaaha” disebutkan dalam bentuk nakirah. Dalam kaedah bahasa Arab, apabila ada kata nakirah dalam konteks penafian maka ianya menunjukkan makna umum.

Penafian pada kata “Laa ilaaha” mencakup segala sesuatu yang mungkin ditujukan kepadanya ibadah dan penghambaan, dan segala yang bertindak kepadanya selain Allah. Adapun kata “illa Allah” menetapkan bahwa ibadah dan penghambaan itu hanya bagi Allah, tiada sekutu baginya. Allah lah satu – satunya Tuhan yang berhak untuk disembah, sebagainya hanya Dia-lah yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang menghidupkan, yang mematikan, dan lain sebagainya yang menunjukkan nilai rububiyah-Nya. Tiada satupun yang berhak berkongsi dengan Allah pada penciptaan makhluk, atau dalam bertindak pada sesuatu. Itu semua bagian dan keesaan uluhiyyah Allah, tidak berkongsi Dia dengan sesuatu apapun.

Setelah Allah berfirman:

“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang satu…”

Allah tegaskan setelahnya:

“Tiada Tuhan selain Dia, Dialah Tuhan yang Maha pengasih lagi maha penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Adapun hikmah di balik penekanan ini, karena mungkin saja terlintas di benak seseorang lintas pikiran syaithan, ia berkata: boleh jadi Tuhan kita satu, tetapi selain kita mereka juga memiliki Tuhan lainnya, karenanya Allah tegaskan “Tiada Tuhan selain Dia, Dialah Tuhan yang Maha pengasih lagi maha penyayang.”

Tauhid tidak akan terealisasi tanpa nafy dan itsbat. Hal ini diisyaratkan Allah dalam Firman-Nya:

“Tiada pemaksaan dalam beragama, telah jelas mana yang benar dan mana yang sesat. Siapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang teguh pada tali Allah yang kuat dan tidak putus, Dan Allah Maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Imam Ibn al-Qayyim dalam kitabnya “I’laam alMuwaqqi’in” (1/51) menjelaskan makna thaghut dengan:

“Segala apa yang melewati batas yang dilakukan hamba, baik dari yang disembah, dari yang diikuti, dari yang dipatuhi. Thaghut setiap kelompok adalah siapa yang mereka berhukum kepadanya selain Allah dan Rasul-Nya, atau mereka menyembahnya selain Allah, atau mereka mengikutinya tanpa tuntunan yang benar dari Allah, atau mereka mematuhinya dalam hal yang mereka tidak mengetahui bahwasanya itu kepatuhan kepada Allah. Inilah thaghut – thaghut di dunia.”

Untuk menjadikan ungkapan “Laa ilaaha illa Allah” benar, maka harus disertakan dengan menafikan ibadah dan penghambaan kepada selain Allah, atau kufur dengan apa yang disembah selain Allah, lalu kemudian menetapkan ibadah hanya kepada Allah satu – satunya. Inilah hakikat tauhid yang diseru oleh semua Nabi dan Rasul.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam alBukhari dan Muslim dari Abu Malik Thariq ibn Usaim al-Asja’i RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang mengatakan “Laa ilaaha illa Allah”, dan ia kufur kepada apa yang disembah selain Allah, maka diharamkan harta dan darahnya untuk dianiaya, dan pertanggung jawabannya kepada Allah.”

Antara nafy dan itsbat pada kalimat tauhid terdapat korelasi yang sifatnya lazim. Salah satu tidak akan sempurna tanpa yang lain. Siapa yang tidak ikhlas dalam tauhidnya ia musyrik. Siapa yang tidak jujur pada ucapannya ia munafiq. Orang yang ikhlas bertauhid ia ucapkan itsbat uluhiyyah kepada Allah dengan penuh keihlasan dan kejujuran. Tauhid inilah dasar Islam. Karenanya Ibrahim AS berkata dalam do’anya:

“Ya Tuhan kami, jadikanlah Kami orang – orang yang berserah diri hanya kepada-Mu, begitu pula dari keturunan Kami, umat yang hanya berserah diri kepadaMu.” (QS. Al-baqarah: 126)

Kunci dalam bertauhid yang sebenarnya adalah meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Karenanya, Allah berfirman:

“Dan Orang yang beriman mereka tidak berbuat syirik kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 59)

Meninggalkan syirik mencakup kesempurnaan tauhid, dan mengenal Allah dengan hakiki, mencintaiNya, menerima-Nya, dan berseru kepada-Nya. Inilah sempurnanya tauhid dan aktualisasi tauhid. Hal ini sejalan dengan firman Allah: ِّ

“Katakanlah, Aku diperintah untuk menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Hanya kepada-Nya aku berseru, dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Ar-Ra’ad: 36)

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Qurratu ayn al-Muwahhidin” (hlm 118), menggubah satu bayt syair:

“Hak Tuhan untuk disembah dengan perintah, bukan dengan hawa nafsu, karena yang demikian milik syaithan Tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Keduanya sebab keselamatan, dan sebaik – baiknya sebab. Tidak akan selamat dari murka Allah dan neraka-Nya kecuali yang tegak padanya dua hal pokok ini Dan manusia selain itu musyrik kepada Tuhannya atau melakukan bid’ah atau pada dua sifat tersebut.”

Allah adalah Tuhan yang haq, dan segala sesembahan selain-Nya adalah batil. Inilah pesan Allah dalam firman-Nya:

“Yang demikian itu sesungguhnya Allah adalah haq, sedangkan apa yang diseru selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)

Ayat di atas menjelaskan bahwa segala yang disembah selain Allah, mulai dari manusia, malaikat, jin, semua makhluk, itu semua sesembahan yang batil. Satu – satunya yang berhak disembah hanya Allah. Inilah rahasia di balik penolakan kaum musyrikin mengucapkan “Laa ilaaha illa Allah”, karena mereka menyadari jika mengucapkannya ucapan itu membatalkan segala sesembahan mereka yang batil.

Di saat Nabi meneyeru mereka mengucapkan kalimat tauhid, mereka berbalik berkata:

“Apakah Muhammad menjadikan Tuhan yang banyak menjadi Tuhan yang satu. Sungguh ini merupakan hal yang aneh.” (QS. Shaad: 5)

Dalam ayat lainnya, mereka juga mengatakan:

“Apakah Kita akan meninggalkan menyembah Tuhan Kita demi perkataan seorang penyair yang gila?” (QS. As-Shaaffaat: 36)

Di sisi lain, beribadah hanya kepada Allah mencakup segala bentuk ibadah, mulai dari terikatnya hai kepada Allah dengan penuh cinta (mahabbah) dan ketundukan (khudhu’), patuh hanya kepada-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya, mengesakan Allah dalam do’a, dalam rasa takut dan cinta, dalam bertawakkal, dalam bertaubat, dalam menyembelih, dalam bernazar, dalam bersujud. itu semua beragam jenis ibadah.

Karenanya, Rasulullah menyatakan dalam haditsnya:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan untuk masuk neraka siapa yang mengatakan “Laa ilaaha illa Allah”, ia melakukan itu semata mata demi Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam memahami hadits ini, ada beragam pandangan ulama terkaitnya. Ada yang menyatakan bahwa hadits ini mansukh, artinya tidak lagi berlaku. Ada pula yang mencoba mentakwilnya, bahwa maksudnya orang yang demikian tidak kekal dalam neraka, dan lain sebagainya. Namun yang perlu diingat, dalam hadits di atas Nabi tidak menjanjikan hal yang luar biasa di atas hanya sebatas dengan mengucapkan “Laa ilaaha illa Allah” semata, karena jika demikian para munafiqun pun dengan mudah mengucapkan kalimat yang sama, sedangkan mereka menjadi penghuni dasar neraka jahannam, tetapi harus disertai dengan “semata – mata karena Allah”. Untuk itu, harus ada ucapan hati sebagaimana ada ucapan lisan. Ucapan hati mencakup mengenal kalimat Tauhid, meyakini-Nya, mengetahui hakikat kandungan kalimat tersebut dari nafy dan itsbat. Setiap ucapan yang dijanjikan dalam Islam, mereka yang mengucapkannya akan mendapatkan pahala yang besar, harus dipahami bahwa perkataan yang dimaksud adalah perkataan yang sempurna, bukan sekedar perkataan lisan semata tetapi juga perkataan hati.

Sebagai contoh, Rasulullah bersabda:

“Siapa yang mengatakan dalam sehari Subhanallah wa bihamdihi seratus kali, akan digugurkan darinya kesalahannya, atau diampuni baginya dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. al-Bukahri dan Muslim)

Artinya, siapa yang mengucapkan bacaan di atas, tetapi ia lalai akan maknanya, berpaling dari mentadabburinya, apa yang diucapkan lisan tidak sejalan dengan kata hati, iapun tidak paham dan mengerti kadar dan kedudukan ucapan tersebut, walaupun ia berharap pahala dari ucapan itu, berharap digugurkan kesalahan dan dosa. Suatu amalan dengan amalan lainnya tidak menjadi sebagian lebih dari yang lain semata – mata karena tampilan luar dan jumlahnya, tetapi yang menentukannya adalah apa yang tersembunyi dalam hati. Sebagai contoh, dua orang yang sama – sama sedang shalat. Boleh jadi tampilannya sama, jumlah raka’atnya sama, tetapi isi hati keduanya yang berbeda dapat menjadikan keutaamaan shalat salah satunya melebihi yang lain seumpama perbedaan antara langit dan bumi.

Renungkan bersama hadits yang dikenal diantara para pengkaji ilmu hadits dengan sebutan hadits bithaqah” hadits tentang kartu, seseorang dibangkitkan dari kuburnya, mempertanggung jawabkan amalannya, catatan kejahatannya ada 99. Masing masing catatan besarnya menutupi horizon pandangan. Di sisi lain kebaikannya hanya sebesar kartu kecil. Namun, beratnya kartu itu mampu mengalahkan catatan kejahatan yang jumlahnya 99, bahkan kebaikan yang isinya “Laa ilaaha illa Allah” mampu melenyapkan segala catatan keburukan tersebut, hingga akhirnya yang bersangkutan tidak jadi disiksa. Hadits ini diriwayatkan at-Tirmidzi dengan sanad yang shahih.

Setiap mereka yang bertauhid, maka bagi mereka kartu tersebut. Tetapi tidak sedikit yang bertauhid tetap harus masuk neraka terlebih dahulu karena dosanya di dunia. Akan tetapi rahasia yang menjadikan kartu orang tersebut dapat melenyapkan semua catatan amalan kesalahannya, adalah karena sesuatu yang ada pada hatinya tatkala ia mengucapkan kalimat tauhid tersebut. Kondisi yang hampir sama seperti dua orang. Salah satunya selalu mengingatmu, hatinya penuh kecintaan kepadamu. Sedangkan yang lainnya, berpaling darimu, lalai, dan disibukkan dengan lainnya. Mungkinkah jika keduanya mengingatmu, kadar ingatan itu sama? Atau tatkala engkau mengingat keduanya, apakah akan sama kadar rindumu bagi keduanya? Jadikan pada kondisi yang sama anakmu, isterimu, pasangan hidupmu, dan lainnya.

Coba resapi pula bagaimana kondisi hati seseorang yang dikisahkan telah membunuh 100 orang, namun ia menginginkan taubat. Ia terus mencari jalan agar dapat bertaubat dan kembali suci. Bagaimana kira – kira hakikat iman yang ada dalam hatinya? Iapun kemudian memutuskan berhijrah dan pindah ke lingkungan baru sesuai nasehat dari seseorang yang ia yakini ilmunya. Di momen tersebut, justru ajalnya tiba. Ia tepat berada di tengah – tengah dua tempat, lingkungan lama yang penuh dengan kisah kebejatannya di masa lalu, dan lingkungan baru yang soleh, yang menjadi harapannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, walaupun ia selama hidup belum pernah tiba sampai disana. Apa yang ada dalam hatinya dari hakikat keimanan itulah yang pada akhirnya menjadikan ia kemudian masuk ke dalam kelompok yang diterima taubatnya, dan diampuni dosanya.

Hampir mendekati dengan kedua potret kisah di atas, kisah lain tentang seorang wanita tuna susila, yang kehidupannya penuh dengan dosa zina, namun tatkala ia melihat seekor anjing kehausan, dan ia mengetahui betul bagaimana rasanya haus, dan iapun dapat membayangkan bagaimana tersiksanya nanti di akhirat kelak dalam neraka dalam kondisi kehausan. Wanita itu rela turun ke dalam sumur, mengambil air, lalu memberikan minuman kepada aning itu. Allah lalu mengampuni dosa wanita itu sesuai dengan kadar keimanannya yang mendorongnya mengasihi anjing tersebut. Hadits ini diriwayatnya Imam al-Bukhari dalam shahihnya.

Sumber : Hasballah Thaib dan Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib, 2019, Keutamaan Kalimat Tauhid Laa Ilaaha illa Allah, Universitas Dharmawangsa Press, hlm. 33-44.