Ihsan adalah tingkatan tertinggi didalam ajaran Islam. Lalu apa makna dari kata Ihsan itu sendiri ?
Secara lughawi (asal-usul kata, etimologi), ihsan adalah lawan kata dari isa’ah (berbuat kejelekan).1 Ihsan dari segi bahasa berasal dari kata Bahasa Arab ihsanan, yang tersusun dari huruf alif, ha, sin dan nun. Kata ini adalah masdar yang berasal dari lafadz ahsana- yuhsinu- ihsanan, yang sifatnya muta’addi (transitif) secara mandiri (bi nafsih) atau melibatkan unsur lain (bi ghairih). Kata ini memiliki arti kebaikan, membaguskan, lebih bermanfaat, lebih indah, kesenangan.2 Ihsan juga dapat diartikan sebagai memperbaiki atau menjadikan baik.3 Ihsan juga tetap dapat diartikan sebagai membaguskan ketika di ta‟diahkan kepada huruf jar ila atau huruf jar bi.4
Di dalam al-Qur'an, kata ihsan bersama dengan berbagai pembentukan kata dan derivasi (kata jadiannya) disebutkan secara berulang- ulang. Penyebutan tersebut terdapat sebanyak 211 kali. Berikut ini adalah daftar jumlah kata ihsan dengan berbagai derivasinya dalam al- Qur'an :
- ahsana terdapat 9 kali lafadz,
- ahsanu terdapat 34 kali lafadz,
- ahsin terdapat 1 kali lafadz,
- ihsanan terdapat 6 kali lafadz,
- ahsanin teradapat 6 kali lafadz,
- ahsanahu terdapat 1 kali lafadz,
- ahsanu terdapat 6 kali lafadz,
- ahsinu terdapat 1 kali lafadz,
- ahsantum terdapat 2 kali lafadz,
- biahsaniha terdapat 1 kali lafadz,
- tuhsinu terdapat 1 kali lafadz,
- muhsin terdapat 4 kali lafadz,
- muhsinun terdapat 1 kali lafadz,
- muhsinin terdapat 33 kali lafadz,
- yuhsinun terdapat 1 kali lafadz,
- hasuna terdapat1 kali lafadz,
- hasunat terdapat 2 kali lafadz,
- husn terdapat 7 kali lafadz,
- husnan terdapat 5 kali lafadz,
- husnuhunna terdapat 1 kali lafadz,
- hasanin terdapat 1 kali lafadz,
- hasanan terdapat 18 kali lafadz,
- hasanah terdapat 28 kali lafadz,
- hasanat terdapat 3 kali lafadz,
- husna terdapat 17 kali lafadz,
- husnayain terdapat 1 kali lafadz,
- hisan terdapat 2 kali lafadz,
- ihsan terdapat 6 kali lafadz,
- muhsinat terdapat 1 kali lafadz.5
Ihsan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah baik, derma dan sebagainya yang tidak diwajibkan.6 Seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya. Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.7
Dalam hadith dijelaskan makna ihsan yaitu tentang hadith Jibril yang menyebutkan tingkatan dalam agama:
Telah menceritakan kepadaku Ishaq dari Jarir dari Abu Hayyan dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada bersama kami, lalu datanglah seorang laki-laki dengan berjalan kaki, lantas bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah iman itu?" beliau menjawab: "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, para Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhir." Lalu ia bertanya lagi; Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?" Beliau menjawab: "Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan puasa di bulan Ramadlan." Kemudian ia bertanya lagi; "Wahai Muhammad, apakah Ihsan itu?" beliau menjawab: "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat- Nya sesungguhnya Dia melihatmu." Ia bertanya lagi, "Kapan hari kiamat datang?" beliau menjawab: "Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu dari orang yang bertanya, namun aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; 'Apabila Seorang budak perempuan melahirkan anak majikannya, di antara tandanya juga; "Orang yang bertelanjang kaki dan dada menjadi pemimpin manusia. Itulah diantara tanda-tandanya. Ada lima hal yang tidak dapat mengetahuinya kecuali Allah saja; Sesungguhnya Allahlah yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, kapan turunnya hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim-rahim ibu. Kemudian orang yang bertanya tadi pergi. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; 'Panggilkan orang itu! Maka para sahabat itu mencarinya untuk memanggilnya namun mereka tidak melihat sesuatu pun. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya itu Jibril, dia datang untuk mengajari manusia perkara agamanya.'8
Sebagaimana telah diungkapkan di atas, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati (tasdiq), Islam adalah ketundukan dan kepatuhan (taslim), dan ihsan adalah kebaikan terdalam (ahsan atau tahsin). Ketiga istilah ini adalah tiga hal yang berbeda namun saling terjalin erat. Iman merupakan sebentuk amal. Ia adalah amal yang paling utama, sedangkan Islam adalah ketundukan, baik dengan hati, dengan ucapan maupun dengan tindakan. Tingkat lanjutannya adalah ihsan, yaitu melakukan pembenaran dan ketundukan dengan kesadaran Lillahi Ta'ala tanpa ada unsur lain yang mempengaruhinya.9
Pendapat ini sesuai dengan pendapat Raghib al-Asfahani. Menurutnya, ihsan sederhananya berarti kebaikan. Ihsan itu lebih tinggi dari keadilan. Keadilan adalah keseimbangan antara memberi dan mengambil. Adapun ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit. Artinya, berbuat kebaikan dengan ukuran lebih dari yang telah dilakukan orang lain. Ihsan adalah satu sifat yang menjadikan pemiliknya memperlakukan pihak lain dengan baik meskipun pihak lain itu memperlakukannya dengan buruk. Karenanya, ihsan adalah sebuah kebaikan yang lahir dari kesadaran batin terdalam.
Ihsan adalah perwujudan keinginan berbuat lebih baik atas apa yang orang lain lakukan. Akan tetapi ihsan tampaknya lebih baik dicukupkan untuk kehidupan antar individu saja. Untuk hidup bermasyarakat, keadilan lebih diutamakan. Imam Ali bin Abi Thalib berkata,
“Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) ialah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”.
Jika hal ini menjadi aturan kehidupan bermasyarakat, masyarakat tidak akan seimbang. Itulah sebabnya Nabi Muhammad menolak memberikan maaf kepada seorang pencuri setelah diajukan ke pengadilan walaupun pemilik harta telah memaafkannya.10
Al-Maraghi memberikan gambaran ihsan sebagai bentuk perbuatan baik seseorang yang dilakukan dengan sesempurna mungkin. Demikian pula dengan pemikiran Thanthawi Jauhariy yang juga meletakkan ihsan sebagai salah satu dari pilar agama yang mencakup cabang iman. Dalam persepsi Thanthawi Jauhariy, hanya dengan melibatkan cabang-cabang iman, barulah ibadah seseorang kepada Allah dapat mengantarkannya sehingga ia sampai melihat Nya. Cabang-cabang iman ini berjumlah 60 macam. Cabang iman tertinggi adalah kalimat tayyibat dan yang paling rendah adalah menjauhkan sesuatu yang membahayakan (semacam duri) dari jalan. Cabang iman ini bisa juga dianggap sebagai wujud perbuatan baik seseorang sebagai bentuk ibadah kepada Allah.11
Luasnya cakupan cabang iman ini juga menunjukkan bahwa ihsan sesungguhnya mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Aspek ini dapat secara lahiriah maupun batiniah dan dapat pula berhubungan dengan duniawiah dan ukhrawiah yang satu sama lainnya saling terkait. Dalam aktualisasinya, ihsan harus dilakukan secara terpadu, serasi dan simultan di antara cabang-cabang iman tersebut demi mencapai tingkat kesempurnaan diri yang bermutu.
Masih menurut Thanthawi Jauhariy, ihsan menjadi semacam ruh dalam setiap kebajikan. Suatu kebajikan yang dilakukan tanpa ruh ibarat badan tanpa nyawa. Ini karena inti ihsan yang terletak pada ka annaka tarahu fa in lam takun tarah fa innahu yaraka. Selain itu, ihsan pun juga merupakan puncak kebajikan suatu amal.12
Selain itu, pengertian ini pun juga sangat dekat dengan apa yang dipahami oleh M. Quraish Shihab. Bahkan, dalam bukunya Tafsir al- Mishbah, ia menyatakan bahwa makna kata ihsan lebih luas dari sekedar pengertian “memberi nikmat atau nafkah”. Makna ihsan pun dikatakan lebih luas dari sekadar dari kandungan makna “adil”, karena adil diartikan sebagai “memperlakukan orang lain sama dengan perlakukannya kepada orang lain.” Sedangkan pengertian ihsan dikatakan sebagai memberi lebih banyak daripada yang harus diberikan dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya diambil.13
Menurut A. Mujab Mahali ihsan berarti ibadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, kekhusyu‟an, dan mengkonsetrasikan diri untuk berbakti kepada Nya. Tiga hal itulah yang menjadi dasar fondamen berdiri tegaknya ajaran Allah di permukaan bumi. Demikian juga harus dipelihara adab kesopanan, hati, dan anggota badan dalam beribadah kepada Allah.14
Menurut Ali Amran, ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah. sebab, ihsan menjadikan sosok yang mendapatkan kemuliaan dari Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah.15
Danial Zaidan Abidin berpendapat bahwa ihsan adalah amalan hati yang halus, tetapi pada waktu yang sama tidak mengabaikan amalan yang lahir. Ihsan dapat dianggap sebagai ukuran kualitas yang tertinggi di sisi Allah. Segala percakapan dan tindak tanduk yang dilakukan oleh setiap individu akan dinilai berdasarkan tuntunan ini.16
Rif'at Syauqi Nawawi berpendapat bahwa ihsan adalah segala usaha atau upaya seorang mukmin untuk membaikkan amalnya seraya ia merasa dan meyakini Allah. melihat dirinya saat melakukan perbuatan tersebut.17 Pada dasarnya ihsan lebih banyak merujuk pada apa-apa yang dilakukan manusia. Secara umum, ihsan adalah suatu perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia, demi untuk Allah.
Meski lebih erat dengan perbuatan manusia, namun ada juga perbuatan ihsan yang dilaksanakan oleh Allah seperti yang diungkapkan oleh Thanthawi Jauhariy. Menurut Thanthawi Jauhariy, ihsan dapat dibagi menjadi ihsan Allah (ihsan yang dilakukan oleh Allah) dan ihsan manusia (ihsan yang dilakukan oleh manusia). Lebih lanjut, ia menawarkan pembagian ihsan dalam dua jenis.
Pertama, Ihsan al- shina’ah wa al- A’mal, yang melingkupi kebaikan Allah berupa penciptaan makhluk Nya, seperti tertera di bawah ini:
ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ مِن طِينٍ
Allażī aḥsana kulla syai`in khalaqahụ wa bada`a khalqal-insāni min ṭīn Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. ( QS. As Sajdah : 7).
Kedua, Ihsan al- Tha'ah, berupa ihsan yang dilakukan manusia dengan merealisasikan kepatuhan terhadap Allah, berupa menciptakan nilai tambah dan melaksanakan ketaatan. Ihsan yang kedua ini seperti dengan berbuat baik kepada sesama manusia, dan berupaya menyempurnakan kepatuhan secara maksimal, semisal dengan konsentrasi hati saat melaksanakan shalat (ritual) dan ikhlas ketika bersedekah. Selain itu, perbedaan dalam memahami pengertian ihsan ini juga dapat dilihat dari dua unsur pokok, yakni Pertama, keluasan wilayah cakupannya. Kedua, keoptimalan serta kesinambungan dalam pelaksanaannya. Kedua unsur tersebut melekat pada ihsan.18
Referensi :
1 Ibn al- Manzur, Lisan al- ‘Arabi (Beirut: Dar al- Turath al- ‘Arabi, 1992), 258.
2 Al- Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, 1997), 160.
3 A.W. Munawwir, Kamus al- Munawwir Arab- Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 265.
4 Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdhar, Kamus Kontemporer Arab- Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1996), 43.
5 Muhammad Fuad Abd al- Baqi, Mu’jam al- Mufahras li Alfaz} al- Qur’an (Kairo: Darul Hadith, TT), 248-251.
6 http://kbbi.web.id/ihsan.
7 Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali al-Yamani al-Wushobi al-Abdali, Al- Qaoulul Mufid (Penjelasan Tentang Tauhid) (Sleman: Darul „Ilmi, 2005), 99.
8 Imam Bukhari, Sahih} Bukhori Kitab Tafsir al-Qur’an Bab Surat Luqman Ayat 34 Vol 6 (Beirut: Dar Ibn Tuq al- Najah}, 1422 H.), 115.
9 Taofik Yusmansyah, Akidah dan Akhlak Jilid 1 (TK: Grafindo Media Pratama, 2008), 13-14.
10 Al- Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufrodat li Alfaz al-Qur’an (Beirut: Dar al- Fikr, TT), 236.
11 Thanthawi Jauhariy, Al- Jawahir Fi al-Qur’an al-Karim (Beirut: Dar Ihya al- Turath al-‘Arabi, 1991), 187.
12 Ibid.
13 Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al- Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 1995), 731.
14 A. Mujab Mahali, Insan Kamil dalam Kaca Pandang Rasulullah (Yogyakarta: BPFE, 1986), 68.
15 Ali Amran, Konsep Adil dan Ihsan Menurut Aqidah, Ibadah, dan Akhlaq Vol. VI (TK: Hikmah, 2012), 108.
16 Danial Zainal Abidin, Tips-tips Cemerlang dari al-Qur’an (Jakarta Selatan: Hikmah, 2008), 140.
17 Rif'at Syauqi, Kepribadian Qur’ani…, 155-156.
18 Thanthawi Jauhariy, Al- Jawahir Fi…, 186.