Cukupkah kita hanya sekedar mempercayai bahwa nabi Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah SWT ? Apa yang bisa kita lakukan sebagai bukti kalau memang kita percaya bahwa nabi Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah SWT?
Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai bukti kalau memang kita percaya bahwa nabi Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah SWT adalah sebagai berikut,
1. Mentaati Nabi Muhammad SAW dalam setiap perkara yang beliau perintahkan.
Allah SWT memerintahkan kita untuk mentaati beliau dengan firman-Nya:
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
May yuṭi'ir-rasụla fa qad aṭā'allāh, wa man tawallā fa mā arsalnāka 'alaihim ḥafīẓā
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Q.S An-Nisa': 80)
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Qul ing kuntum tuḥibbụnallāha fattabi'ụnī yuḥbibkumullāhu wa yagfir lakum żunụbakum, wallāhu gafụrur raḥīm
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran: 31).
Masuknya seseorang ke dalam surga bergantung pada sejauh mana ketaatannya pada Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
"Semua umatku akan masuk surga kecuali mereka yang menolak". Para shahabat lalu bertanya: "Siapakah yang menolak wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Siapa saja mentaatiku maka ia masuk surga, dan siapa saja yang tidak taat kepadaku berarti dia telah menolak" (H.R. Bukhari).
Siapa saja mencintai Nabi SAW, maka ia harus mentaati beliau, karena ketaatan itu adalah buah dari kecintaan.
2. Mempercayai apa yang beliau sampaikan
Siapa yang mendustakan sesuatu yang telah shahih dari Nabi Muhammad SAW disebabkan oleh keinginan tertentu atau hawa nafsu maka dia telah mendustai Allah SWT dan rasul-Nya; karena Nabi SAW adalah orang yang terpelihara dari kesalahan dan bohong.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ
Wa mā yanṭiqu 'anil-hawā
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. (Q.S. An-Najm: 3)
3. Menjauhi apa yang beliau larang
Mulai dari dosa paling besar yaitu syirik, kemudian dosa-dosa besar, dan perbuatan maksiat, sampai kepada dosa-dosa kecil dan sesuatu yang makruh. Keimanan seorang muslim bertambah sesuai dengan kadar kecintaannya kepada Rasul.
Jika imannya bertambah, maka Allah SWT akan menjadikannya selalu mencintai perbuatan yang shalih, dan membuatnya benci kepada kekufuran, kefasiqan dan kemaksiatan
4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali sesuai dengan apa yang Allah SWT syariatkan melalui ucapan nabi-Nya
Segala ibadah pada prinsipnya adalah terlarang kecuali yang ada dasar perintahnya, maka tidak boleh beribadah kepada Allah SWT kecuali dengan ajaran yang datang dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:
“Siapa saja melaksanakan suatu amalan yang tidak ada dasar dari agama kita, maka amalan itu ditolak. (H.R. Muslim) artinya: Amalannya tidak diterima.
Catatan Penting:
Ketahuilah bahwa cinta kepada Nabi SAW adalah wajib, akan tetapi tidak cukup hanya dengan kecintaan semata, lebih dari itu beliau harus lebih anda cintai melebihi segala sesuatu termasuk diri anda sendiri. Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka ia akan mengutamakannya dan berusaha menirunya.
Orang yang benar cintanya pada nabi SAW yaitu orang yang tampak padanya tanda cinta tersebut pada dirinya. Yang pertama adalah iqtida’ (mengikuti jejak/tuntunan beliau) dan mempergunakan sunnah beliau, mengikuti perkataan dan perbuatan beliau, serta menjauhi larangan beliau dan beradab pada beliau baik di kala kesulitan maupun kemudahan, ketika semangat maupun dalam keadaan berat. Karena ketaatan dan ittiba’ (sikap mengikuti) adalah buah dari mahabbah (rasa cinta) dan tanpa keduanya cinta tidaklah benar.
Kecintaan pada nabi SAW memiliki tanda-tanda antara lain:
- Banyak menyebut dan bershalawat pada beliau. Barangsiapa yang menyukai sesuatu maka ia banyak menyebutnya.
- Rindu untuk bertemu dengan beliau. Orang yang mencintai, rindu untuk bertemu dengan orang yang ia cintai.
- Mengagungkan dan memuliakan beliau ketika nama beliau disebut.
Berkata Ishaq: “Para shahabat nabi SAW sepeninggal beliau tidak menyebut beliau kecuali dalam keadaan khusyu’, gemetar kulit-kulit mereka dan mereka menangis”. - Membenci dan memusuhi apa yang Rasulullah SAW benci dan musuhi serta menjauhi mereka yang menyelisihi sunnah/tuntunan beliau dan berbuat kebid’ahan baik dari kalangan ahli bid’ah maupun orang-orang munafik.
- Mencintai orang-orang yang dicintai oleh nabi SAW baik dari kalangan ahli bait (keluarga), istri-istri, para shahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan sebaliknya memusuhi dan membenci mereka yang dimusuhi dan di cela nabi SAW.
- Mensuritauladani akhlaqul karimah beliau, dimana beliau adalah manusia yang paling mulia, sampai ‘Aisyah berkata: “Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an”. Maksudnya beliau melazimkan diri beliau untuk tidak melakukan seauatu kecuali apa yang diperintahkan oleh Al-Qur’an. Beliau juga adalah manusia yang paling berani, terlebih lagi di saat dahsyatnya peperangan. Beliau adalah manusia yang paling mulia dan paling dermawan terutama di Bulan Ramadhan. Beliau adalah orang yang paling banyak nasehatnya terhadap makhluk. Beliau manusia yang paling lembut, beliau tidak pernah sama sekali membalas dendam karena dirinya. Namun demikian beliau adalah orang yang paling tegas dalam Hukum Allah. Beliau adalah orang yang paling tawadhu’ dan lebih pemalu dari wanita yang berada dalam pingitan. Beliau adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan paling pengasih terhadap makhluk ...dan masih banyak lagi.
Sumber : Tafseer.info, 2017, Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir : Dari Al Quran Al Karim Juz 28-30, hlm. 130-31